Tanya saja kepada Nesare mengapa saya mempostingkan artikel "Setelah Pesta 
Usai". Si Chan terus-terusan memperlihatkan dirinya goblok tapi sok tahu. Dia 
tidak tahu isi perdebatan antara saya dengan Nesare yang berhubungan dengan 
tokoh Masyumi, terus mau ikut-ikut nimbrung tanpa tahu masalahnya. Sekarang 
menuduh orang, berdarah dingin,  salah tidak mau ngaku, permusuhan 
horizantal???? Gila banget orang ini!!! busyeeet....busyeeet!!! Dasar orang 
yang sudah tidak waras lagi, kebingungan, kehilangan akal untuk cari 
argumentasi untuk nyerang orang lain, akhirnya serampangan!!!
    On Saturday, November 24, 2018, 12:56:31 AM GMT+1, ChanCT 
<[email protected]> wrote:  
 
  
Waaaduuuuh, ... ini nenek dalam tempurung sudah TIDAK BEDAnya dengan Soeharto 
yang BERDARAH-DINGIN, sudah BERBUAT SALAH tidak mau ngaku! Lalu berusaha keras 
buktikan yang terjadi PERMUSUHAN HORISONTAL, pembantaian yang terjadi di 
dilakukan semua warga, semua umat Agama bangkit membunuhi komunis, ...
 
Jadi, ... semua email nenek yg satu ini harus dikaitkan dengan diskusinya 
bersama Nesare? Lalu orang disuruh mengikuti diskusinya itu secara 
keseluruhan??? Ada-ada saja! Lah, jelas email tsb. tidak menyertakan 
pembicaraan bersama Nesare, kok. Tapi hanya tulisan yang berjudul "Setelah 
Pesta Usai".
 
Dasar nenek serampangan, ... yang selalu menyasar dan menyerang semua orang 
yang dianggap berbeda dengan dirinya sendiri! Tanpa bisa memilah-milah siapa 
yang harus dijadikan MUSUH-UTAMA dan memusatkan tenaga menggempurnya lebih 
dahulu, ... 
 
 

 
 
 Tatiana Lukman 於 23/11/2018 22:52 寫道:
  
 
 Baca saya rangkaian diskusi saya dengan Nesare!!! Kok maunya dijelaskan, 
emangnya saya kelebihan waktu?? Dan tanya otakmu sendiri, kok bisa sampai 
menginterpretasi seolah-olah saya mau menyeret-nyeret atau menyerang agama 
dalam soal pembantaian?? 
      On Friday, November 23, 2018, 3:46:54 PM GMT+1, ChanCT 
<[email protected]> wrote:  
  
     
Coba jelaskan apa maksud kalimat ini: 
  Tapi masih ada orang yang tak percaya akan peran orang-orang Islam, termasuk 
Masyumi, dalam pembantaian. Sebetulnya  bukan saja orang Islam, tapi juga orang 
dari agama lain, kristen dan Hindu. 
 
kalau bukian menepuk dada paling YAKIN/PERCAYA orang-orang ISLAM, termasuk 
MASYUMI dalam pembantaian!? tapi juga Kristen dan Hindu!
 

 Kenapa harus mengangkat AGAMA nya dengan menyeret/mengangkat Kristen dan 
Hindu? Apakah orang-orang yg terlibat pembantaian komunis itu bisa mewakili 
Agama yang dianutnya??? Tidak adakah umat Islam, bahkan Haji-Haji yang  berani 
membela dan melindungi komunis? Begitu juga dengan umat Kristen, Katholik dan 
Hindu, ...??? Menyerang sana sini secara SERAMPANGAN, semua Agama dihajarm 
seperti jagoan gebuk sana-sini begitu heeiiibaatnya??? Betul-betul  seperti 
NENEK berteriak-teriak dari dalam tempurung setelah bermimpi dikejar setan!
 
 

 
 
 Tatiana Lukman 於 23/11/2018 21:48 寫道:
  
 
     Ada yang bisa kasih pencerahan kepada si Chan ini tentang tingkah laku 
Masyumi dalam jaman Sukarno dulu? Dan  mengapa Masyumi dilarang oleh Sukarno? 
Ngatain orang lain dalam tempurung, tapi terus-terusan membelejeti dirinya 
sendiri  "buta huruf" dalam banyak hal, termasuk sejarah Indonesia.. Menyamakan 
NU dengan Masyumi adalah penghinaan terhadap para pemimpin NU, seperti Gus Dur, 
yang tidak anti-komunis dan tidak menginginkan Indonesia menjadi negara 
Islam!!!  Kedua, bikin komentar yang asal jeplak terhadap masalah yang 
berhubungan dengan diskusi saya dengan Nesare. Sudah dibuktikan beberapa kali 
kemampuan si Chan untuk baca dan menginterpretasi apa yang dibaca dalam bahasa 
Indonesia, memang hanya setingkat antek kaum revisionis Tkk!!! 
      On Friday, November 16, 2018, 1:23:54 AM GMT+1, ChanCT 
<[email protected]> wrote:  
  
     
Ini nenek dalam tempurung apa maksudnya, menepuk dada orang yg paling meyakini 
orang2 Masyumi  membantai komunis dan Soekarnois??? Lha, Gus Dur saja sudah 
berani terang-terangan menyatakan banyak tokoh/anggota Ansor terlibat dalam 
pembantaian komunis. Lalu? 
 
 
Kenapa harus mengangkat AGAMA nya dengan menyeret/mengangkat Kristen dan Hindu? 
Apakah orang-orang yg terlibat  pembantaian komunis itu bisa mewakili Agama 
yang dianutnya??? Tidak adakah umat Islam, bahkan Haji-Haji yang berani membela 
dan melindungi komunis? Begitu juga dengan umat Kristen,  Katholik dan Hindu, 
...??? 
 
 
Ini nenek aktivis SONTOLOYO! Bisanya berkoar-koar menyasar dan menyerang 
serampangan, ... jelas  Masyumi tahun 60 sudah dibubarkan. Keterlibatan mantan 
tokoh Masyumi yang ANTI-Komunis dalam membantai di tahun 66-67 tidak ada yang 
meragukan, SUDAH PASTI dan nampak jelas berlanjut  sampai SEKARANG ini! 
Bukankah PKS, ... termasuk HTI yg baru dibubarkan itu jelmaan Masyumi dan 
sementara orang menyatakan mereka sudah berhasil menyusup ke NU juga?
 

 
 
 Tatiana Lukman [email protected] [GELORA45] 於 15/11/2018 21:09 寫道:
  
 
           
 
 
Saya pernah bilang tokoh komunis pernah duduk bersama dengan  tokoh kanan 
reaksioner ngopi atau makan sate, tidak menghilangkan kenyataan  bahwa pada 
saat perjuangan kelas menajam dan meletus,  orang-orang Masyumi tidak ragu-ragu 
untuk turut membantai tidak saja orang  komunis tapi juga orang-orang progresif 
pendukung politik BK. Tapi masih ada orang yang tak percaya akan peran  
orang-orang Islam, termasuk Masyumi, dalam pembantaian. Sebetulnya bukan saja 
orang  Islam, tapi juga orang dari agama lain, kristen dan Hindu. Nah, dalam 
tulisan di bawah ini jelas bicara tentang peran orang-orang  Masyumi dalam 
menghabisi orang-orang kom dan progresif lainnya.
 
 

 
 
Setelah Pesta Usai
   
Digunakan untuk menghabisi orang-orang komunis, nasib Islam politik  di awal 
Orde Baru tak menentu.
  Hendi Jo   7 Mar 2018, 01:01  
  
 
  
  
     
AWAL 1966. Malam belum sepenuhnya selesai, ketika lima anggota  Kesatuan Aksi 
Pengganyangan Gerakan September Tigapuluh (KAP Gestapu) mendatangi rumah S. 
Herman di bilangan Sukabumi. Sebagai bekas  serdadu yang memilih aktif di NU 
(Nahdlatul Ulama), dini hari itu, Herman  “terpilih” untuk pergi ke Jampang 
Kulon, suatu wilayah yang terletak di pelosok Sukabumi, Jawa Barat.
 
“Saya diajak ke sana guna 'mengamankan' orang-orang  PKI (Partai Komunis 
Indonesia),” ujar lelaki 90 tahun tersebut.
 
Di Jampang Kulon, Herman dan kawan-kawan memburu para  anggota PKI hingga ke 
hutan-hutan. Namun, berbeda dengan di Jawa Tengah dan  Jawa Timur, di Jawa 
Barat perburuan itu tidak lantas menjadi ajang pembantaian massal. Pendekatan 
persuasif sangat diutamakan oleh  aparat di sana.
 
“Sesuai arahan Pak Adjie (Panglima Kodam Siliwangi), mereka  yang tertangkap 
kami perlakukan secara baik-baik, untuk kemudian kami serahkan  ke aparat,” 
kenang Herman.
 
Operasi perburuan tersebut berlangsung hingga sekitar  empat bulan dalam tahun 
1966. Herman tidak ingat berapa ratus orang komunis  yang berhasil ditangkap. 
Dia juga tidak tahu bagaimana nasib mereka usai diserahkan kepada aparat. 
“Katanya mereka dibuang ke Pulau Buru  sama pemerintah,” ungkap kakek dari lima 
cucu itu.
 
Aliansi Simbiotik
 
Pasca insiden Gerakan 30 September 1965, pihak tentara (baca:  Angkatan Darat) 
mencari celah untuk menghantam langsung rival utamanya:  PKI. Menurut Ulf 
Sundhaussen dalam Road to Power: Indonesian Military Politics 1945-1967, salah 
satu cara yang dilakukan oleh mereka adalah  merangkul kekuatan-kekuatan Islam 
yang di era rezim Sukarno ternafikan secara  politis.
 
Gayung bersambut. Sebagai pihak yang kerap bermasalah dengan  PKI dan menunggu 
waktu tepat untuk menghajar musuh bebuyutannya tersebut,  kelompok-kelompok 
Islam menyambut baik rangkulan tentara. Pada 5 Oktober 1965, secara resmi 
Pengurus Besar NU mengeluarkan  pernyataan sikap untuk melawan Gestapu.
 
“PBNU menyerukan kepada seluruh umat Islam dan segenap kekuatan  revolusiener 
lainnya untuk memberikan bantuan sepenuhnya kepada Angkatan  Bersenjata 
Republik Indonesia (ABRI),” demikian seperti dikutip oleh H.. Abdul Mun’im DZ 
dalam Benturan NU-PKI 1948-1965.
 
Aliansi simbiotik antara tentara dengan kelompok-kelompok Islam  menghasilkan 
gerakan sporadis pengganyangan PKI di seluruh Indonesia. Bahkan bukan hanya 
sebagai “pendamping”, bersama grup-grup antikomunis lainnya dari kalangan Hindu 
(di Bali) dan Katolik serta  sayap kanan di kubu kaum nasionalis, mereka 
terlibat aktif secara langsung menjadi “tangan tentara” untuk menghancurkan PKI.
 
“Anasir-anasir KAP Gestapu, terutama organisasi massa berorientasi kepada  
Masyumi, serta aktivis muda dari NU, harus dianggap termasuk kelompok  ini,” 
tulis Ulf, pengamat sejarah militer Indonesia asal Australia tersebut.
 
Selain KAP Gestapu (salah satu pendirinya adalah Subchan ZE, tokoh  muda NU), 
tentara juga mendukung keberadaan KOKAM (Komando Kesiapsiagaan Angkatan Muda 
Muhammadiyah) dan Kesatuan Komando Jihad  Ummat Islam pimpinan Abdul Qadir 
Djaelani, tokoh Pelajar Islam Indonesia  (PII). “Kesatuan-kesatuan aksi ini 
menghimpun hampir semua potensi politik antikomunis di Indonesia,” tulis Arief 
Mudatsir Mandan  dalam Napak Tilas Pengabdian Idham Chalid.
 
Untuk mengganyang PKI, kekuatan-kekuatan Islam betul-betul tertumpu kepada  
dukungan militer. Bukan hanya dukungan perlindungan, namun juga penyediaan 
senjata dan pelatihan militer seperti yang mereka  lakukan kepada sejumlah 
tokoh KAP Gestapu dan sejumlah koordinator  lapangan aktivis 
mahasiswa-mahasiswa Islam. Menurut Busyro Moqqodas dalam Hegemoni Rezim 
Intelijen, sejumlah aksi umat Islam di Jakarta, Bekasi, Tangerang dan Banten  
juga mendapat sokongan AD.
 
“Buktinya, waktu Kesatuan Komando Jihad Ummat Islam mengadakan apel akbar  di 
Jakarta pada 12 Februari 1967, Komandan Resimen Para Komando Angkatan Darat 
(RPKAD) Kolonel Sawo Edhie Wibowo datang dan membuat  pidato dukungan,” ujar 
Busyro.
 
Singkat cerita, “pesta pengganyangan” kaum komunis oleh militer yang  
bekerjasama dengan kelompok agama dan nasionalis sayap kanan berlangsung 
sukses. Bukan saja berhasil melenyapkan eksistensi  partai komunis terbesar 
ketiga di dunia itu, tapi juga menerbitkan Orde Baru,  sebuah rezim militer 
yang didukung oleh Amerika Serikat dan dunia Barat pada 12 Maret 1967.
 
“Dan tak ada seorang pun yang bisa menafikan bahwa umat Islam  memerankan 
peranan yang sangat besar sebagai salah satu komponen penegak Orde Baru yang 
utama,” ungkap Afan Gaffar dalam sebuah  artikel berjudul “Islam dan Politik 
dalam Era Orde Baru," Jurnal Ulumul Qur’an, edisi Mei 1993.
 
Dibalas Air Tuba
 
Usai Presiden Sukarno lengser, kekuatan-kekuatan Islam  politik mulai 
menggeliat kembali. Anasir-anasir Masyumi yang di era Demokrasi Terpimpin 
sempat  tiarap, aktif melakukan konsolidasi politik. Rehabilitasi Masyumi  
diajukan oleh Prawoto Mangkusasmito (Ketua Umum  Masyumi saat dibubarkan oleh 
Presiden Sukarno pada 17 Agustus 1960) kepada  pemerintah Orde Baru.
 
Alih-alih mengabulkan, jasa-jasa kalangan Islam politik  seolah dibalas dengan 
air tuba: pengajuan ditolak Presiden Soeharto. “Jalan  menuju pewujudan kembali 
Masyumi sebagai partai politik mengalami situasi berliku dan berujung kepada 
ditolaknya upaya  rehabilitasi itu,” ungkap Abdul Qadir Djaelani, salah satu 
aktivis Islam saat itu.
 
Siasat baru lantas dilancarkan. Pada akhir 1967, eks onderbouw Masyumi 
membentuk partai baru bernama Partai Muslimin  Indonesia (Parmusi) dan 
mengajukan izinnya kepada pemerintah. Kali ini  pemerintah Orde Baru merestui 
dengan mengeluarkan Surat Keputusan No. 7 tahun 1968 tertanggal 20 Februari 
1968. “Djarnawi Hadikusomo  dari Muhammadiyah diangkat sebagai ketua umumnya,” 
tulis Solihin Salam dalam Sejarah Parmusi.
 
Masalah muncul kembali usai Parmusi melangsungkan muktamarnya  yang pertama 
pada 2-7 November 1968: Muhammad Roem ditolak oleh pemerintah  sebagai ketua 
umum terpilih. “Soeharto tak mau mensahkannya,” tulis Abdul Qadir Djaelani 
dalam Peran Ulama dan Santri dalam Perjuangan di Indonesia.
 
Parmusi tidak bisa berbuat banyak. Jalan kompromi pun ditempuh:  jabatan ketua 
tetap dipegang Djarnawi Hadikusumo dengan harapan roda politik partai tetap 
berjalan. Namun, lagi-lagi tawaran kompromi  itu tak diindahkan. Justru pada 
Februari 1970, Menteri Dalam Negeri Amir Machmud  membuat keputusan melarang 
sekitar 2500 eks anggota  Masyumi untuk ikut andil dalam Pemilihan Umum 1971. 
Alasannya, iktikad baik  mereka kepada pemerintah sangat diragukan. Demikian 
menurut berita yang dilansir Kantor Berita Antara pada 16 Februari 1970.
 
Di tengah situasi panas tersebut, pemerintah tetiba  “memecat” Djarnawi dan 
menggantinya dengan MHS. Mintarja lewat suatu  rekayasa yang melibatkan grup 
Operasi Khusus (Opsus) Ali Moertopo (via duet John Naro-Imran Kadir). Menurut 
Afan Gaffar, pemerintah  kesulitan untuk menerima Djarnawi karena dia dianggap 
memiliki pendirian politik yang “keras” dan tidak akomodatif terhadap  
kepentingan pemerintah.
 
Bukan hanya kepada Masyumi, kebijakan tentara (baca:  pemerintah Orde Baru) pun 
mulai “keras” terhadap NU. Sejak dilangsungkannya  Seminar Angkatan Darat pada 
1966 di Bandung, tentara memiliki pandangan tegas bahwa sebuah organisasi 
keagamaan dengan basis massa  besar akan menjadi suatu ancaman politis.
 
“NU dipandang sebagai hal yang membahayakan apabila  dibiarkan tumbuh menjadi 
sebuah kekuatan politik,” tulis Arief Mudatsir Mandan.
 
Nasib buruk juga melanda partai Islam tua yang peran  politiknya sebenarnya 
sudah mulai mengecil: Partai Syarikat Islam Indonesia  (PSII). Laiknya Parmusi, 
kepemimpinan PSII pun tak lepas “diobok-obok” grup Opsus via Syarifuddin 
Harahap yang berhasil  menyingkirkan kepemimpinan H. Ch.. Ibrahim.
 
Pemilihan Umum 1971 semakin memperlebar jurang pemisah  antara pemerintah Orde 
Baru dengan kelompok-kelompok Islam. Upaya-upaya  sistematis dari pemerintah 
dan tentara untuk memenangkan Golongan Karya (Golkar) menjadikan peran politik 
kelompok Islam dan  nasionalis terpinggirkan secara prima. Keculasan politik 
yang terpapar dalam Pemilu 1971 menjadikan kalangan  Islam kecewa.
 
Bahkan, Subchan ZE pernah mempunyai gagasan akan mengadukan pelaksanaan  Pemilu 
1971 dengan korban-korban yang dialami oleh warga NU kepada  Perserikatan 
Bangsa-Bangsa dan Amnesti Internasional.  Namun niat tersebut diurungkan. 
Sebagai gantinya: “Rois Aam NU KH A.  Wahab Chasbullah di depan Muktamar NU 
ke-25 pada Desember 1971 mengisyaratkan bahwa tak ada gunanya lagi NU menjadi 
partai politik,”  ujar Arief.
 
Rival Negara
 
Babak belur di Pemilu 1971 menjadikan kekuatan Islam politik tak  bisa 
mengkoordinasikan diri secara maksimal. Menjelang Pemilu 1977, mereka harus 
kembali “menyerah” ketika pada 5 Januari 1973,  pemerintah Orde Baru memaksa 
Parmusi, NU, PSII dan Partai Perti (Persatuan Tarbiyah  Islamiyah) berfusi 
dalam PPP (Partai Persatuan Pembangunan).
 
Menurut Abdul Qadir Djailani, fusi itu dilaksanakan atas nama  kestabilan 
politik. “Padahal tujuan sebenarnya adalah untuk mempermudah kontrol politik 
terhadap kekuatan Islam,” ujar Abdul Qadir.
 
Penyederhanaan partai-partai politik Islam dalam PPP diikuti oleh upaya  
deislamisasi. Sebagai contoh pemerintah memerintahkan partai politik hasil fusi 
itu untuk tidak lagi menggunakan lambang Ka’bah,  nama “Partai Persatuan Islam” 
dan Islam sebagai asas ideologi partai. Soal  ini sempat membuat KH. Bisri 
Syansuri (Rois Aam PPP)  berang dan menyampaikan protes langsung kepada 
Presiden Soeharto.
 
“Tetapi tak berhasil karena Soeharto tetap pada kebijakannya  untuk menetapkan 
Pancasila sebagai satu-satunya asas bagi partai politik mana  pun,” tulis Arief 
Mudatsir.
 
Pemilihan Umum 1977 berlangsung lancar. Seperti sudah  diprediksi semua 
kalangan, Golkar sebagai representasi pemerintah memperoleh  kemenangan mutlak 
di parlemen: 238 kursi ditambah dengan 100 kursi dari fraksi ABRI yang diangkat 
secara sepihak oleh pemerintah  sendiri. PPP sendiri hanya mendapat 99 kursi 
lebih besar dibanding kursi yang didapat PDI (Partai Demokrasi Indonesia) yakni 
 29 kursi.
 
Namun, kemenangan itu tidak menjadikan posisi Islam  politik sebagai rival 
negara jadi berhenti. Sidang Umum MPR 1978, pemerintah Orde  Baru memasukan 
Aliran Kepercayaan dan Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4) dalam 
Garis-Garis Besar Haluan  Negara (GBHN). Secara tegas, dinyatakan dalam P4 ini 
bahwa “Pancasila adalah jiwa dan pandangan hidup bangsa Indonesia yang sakti.”
 
Ketetapan MPR No. 11/1978 diprotes oleh kalangan Islam sebagai  upaya 
mengkerdilkan peran politik mereka. Pada 20 Maret 1978, di Jakarta  terjadi 
demonstrasi menentang ketetapan itu dan berakhir dengan ditangkapnya ratusan 
aktivis Islam oleh pihak militer.
 
Sementara itu, seiring upaya deislamisasi di tingkat  kehidupan politik formil, 
pemerintah (lagi-lagi lewat kekuatan intelijen) terus  berusaha melukiskan 
citra Islam sebagai kekuatan teror lewat berbagai gerakan-gerakan radikal 
seperti Komando Jihad dan  gerakan Jamaah Imran. Kebijakan represif ini bahkan 
berimbas kepada  kehidupan berislam di kampus-kampus dan sekolah-sekolah. Salah 
satunya adalah pelarangan mengenakan jilbab bagi  siswi-siswi Islam di berbagai 
sekolah.
  
  
 
 
     #yiv6848779575 -- #yiv6848779575ygrp-mkp {border:1px solid 
#d8d8d8;font-family:Arial;margin:10px 0;padding:0 10px;}#yiv6848779575 
#yiv6848779575ygrp-mkp hr {border:1px solid #d8d8d8;}#yiv6848779575 
#yiv6848779575ygrp-mkp #yiv6848779575hd 
{color:#628c2a;font-size:85%;font-weight:700;line-height:122%;margin:10px 
0;}#yiv6848779575 #yiv6848779575ygrp-mkp #yiv6848779575ads 
{margin-bottom:10px;}#yiv6848779575 #yiv6848779575ygrp-mkp .yiv6848779575ad 
{padding:0 0;}#yiv6848779575 #yiv6848779575ygrp-mkp .yiv6848779575ad p 
{margin:0;}#yiv6848779575 #yiv6848779575ygrp-mkp .yiv6848779575ad a 
{color:#0000ff;text-decoration:none;}#yiv6848779575 #yiv6848779575ygrp-sponsor 
#yiv6848779575ygrp-lc {font-family:Arial;}#yiv6848779575 
#yiv6848779575ygrp-sponsor #yiv6848779575ygrp-lc #yiv6848779575hd {margin:10px 
0px;font-weight:700;font-size:78%;line-height:122%;}#yiv6848779575 
#yiv6848779575ygrp-sponsor #yiv6848779575ygrp-lc .yiv6848779575ad 
{margin-bottom:10px;padding:0 0;}#yiv6848779575 #yiv6848779575actions 
{font-family:Verdana;font-size:11px;padding:10px 0;}#yiv6848779575 
#yiv6848779575activity 
{background-color:#e0ecee;float:left;font-family:Verdana;font-size:10px;padding:10px;}#yiv6848779575
 #yiv6848779575activity span {font-weight:700;}#yiv6848779575 
#yiv6848779575activity span:first-child 
{text-transform:uppercase;}#yiv6848779575 #yiv6848779575activity span a 
{color:#5085b6;text-decoration:none;}#yiv6848779575 #yiv6848779575activity span 
span {color:#ff7900;}#yiv6848779575 #yiv6848779575activity span 
.yiv6848779575underline {text-decoration:underline;}#yiv6848779575 
.yiv6848779575attach 
{clear:both;display:table;font-family:Arial;font-size:12px;padding:10px 
0;width:400px;}#yiv6848779575 .yiv6848779575attach div a 
{text-decoration:none;}#yiv6848779575 .yiv6848779575attach img 
{border:none;padding-right:5px;}#yiv6848779575 .yiv6848779575attach label 
{display:block;margin-bottom:5px;}#yiv6848779575 .yiv6848779575attach label a 
{text-decoration:none;}#yiv6848779575 blockquote {margin:0 0 0 
4px;}#yiv6848779575 .yiv6848779575bold 
{font-family:Arial;font-size:13px;font-weight:700;}#yiv6848779575 
.yiv6848779575bold a {text-decoration:none;}#yiv6848779575 dd.yiv6848779575last 
p a {font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv6848779575 dd.yiv6848779575last p 
span {margin-right:10px;font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv6848779575 
dd.yiv6848779575last p span.yiv6848779575yshortcuts 
{margin-right:0;}#yiv6848779575 div.yiv6848779575attach-table div div a 
{text-decoration:none;}#yiv6848779575 div.yiv6848779575attach-table 
{width:400px;}#yiv6848779575 div.yiv6848779575file-title a, #yiv6848779575 
div.yiv6848779575file-title a:active, #yiv6848779575 
div.yiv6848779575file-title a:hover, #yiv6848779575 div.yiv6848779575file-title 
a:visited {text-decoration:none;}#yiv6848779575 div.yiv6848779575photo-title a, 
#yiv6848779575 div.yiv6848779575photo-title a:active, #yiv6848779575 
div.yiv6848779575photo-title a:hover, #yiv6848779575 
div.yiv6848779575photo-title a:visited {text-decoration:none;}#yiv6848779575 
div#yiv6848779575ygrp-mlmsg #yiv6848779575ygrp-msg p a 
span.yiv6848779575yshortcuts 
{font-family:Verdana;font-size:10px;font-weight:normal;}#yiv6848779575 
.yiv6848779575green {color:#628c2a;}#yiv6848779575 .yiv6848779575MsoNormal 
{margin:0 0 0 0;}#yiv6848779575 o {font-size:0;}#yiv6848779575 
#yiv6848779575photos div {float:left;width:72px;}#yiv6848779575 
#yiv6848779575photos div div {border:1px solid 
#666666;min-height:62px;overflow:hidden;width:62px;}#yiv6848779575 
#yiv6848779575photos div label 
{color:#666666;font-size:10px;overflow:hidden;text-align:center;white-space:nowrap;width:64px;}#yiv6848779575
 #yiv6848779575reco-category {font-size:77%;}#yiv6848779575 
#yiv6848779575reco-desc {font-size:77%;}#yiv6848779575 .yiv6848779575replbq 
{margin:4px;}#yiv6848779575 #yiv6848779575ygrp-actbar div a:first-child 
{margin-right:2px;padding-right:5px;}#yiv6848779575 #yiv6848779575ygrp-mlmsg 
{font-size:13px;font-family:Arial, helvetica, clean, sans-serif;}#yiv6848779575 
#yiv6848779575ygrp-mlmsg table {font-size:inherit;font:100%;}#yiv6848779575 
#yiv6848779575ygrp-mlmsg select, #yiv6848779575 input, #yiv6848779575 textarea 
{font:99% Arial, Helvetica, clean, sans-serif;}#yiv6848779575 
#yiv6848779575ygrp-mlmsg pre, #yiv6848779575 code {font:115% 
monospace;}#yiv6848779575 #yiv6848779575ygrp-mlmsg * 
{line-height:1.22em;}#yiv6848779575 #yiv6848779575ygrp-mlmsg #yiv6848779575logo 
{padding-bottom:10px;}#yiv6848779575 #yiv6848779575ygrp-msg p a 
{font-family:Verdana;}#yiv6848779575 #yiv6848779575ygrp-msg 
p#yiv6848779575attach-count span {color:#1E66AE;font-weight:700;}#yiv6848779575 
#yiv6848779575ygrp-reco #yiv6848779575reco-head 
{color:#ff7900;font-weight:700;}#yiv6848779575 #yiv6848779575ygrp-reco 
{margin-bottom:20px;padding:0px;}#yiv6848779575 #yiv6848779575ygrp-sponsor 
#yiv6848779575ov li a {font-size:130%;text-decoration:none;}#yiv6848779575 
#yiv6848779575ygrp-sponsor #yiv6848779575ov li 
{font-size:77%;list-style-type:square;padding:6px 0;}#yiv6848779575 
#yiv6848779575ygrp-sponsor #yiv6848779575ov ul {margin:0;padding:0 0 0 
8px;}#yiv6848779575 #yiv6848779575ygrp-text 
{font-family:Georgia;}#yiv6848779575 #yiv6848779575ygrp-text p {margin:0 0 1em 
0;}#yiv6848779575 #yiv6848779575ygrp-text tt {font-size:120%;}#yiv6848779575 
#yiv6848779575ygrp-vital ul li:last-child {border-right:none 
!important;}#yiv6848779575  
 
 
|  | 不含病毒。www.avg.com  |

        
       
   

Kirim email ke