Ya jelas masyumi itu beda dgn PKI, PNI, NU dll. Wong nama partai nya saja sudah 
beda.

Hanya saja orang2 didalam partai itu sendiri yg ada persamaan2 dan 
perbedaan2nya.

Boleh ngomongin orangnya yg memang berbeda atau sama, tetapi yg gak boleh itu 
adalah membawa2 atribut dan atau predikat seseorang itu mis: agama, ideologi, 
ras, suku dll.

 

Kalau memang dibawa2 ya harus terima kalo disebut rasis.

 

Nesare

 

 

From: [email protected] <[email protected]> 
Sent: Saturday, November 24, 2018 10:34 AM
To: [email protected]; Yahoogroups <[email protected]>; Gol 
<[email protected]>; Harry Singgih <[email protected]>; Lingkar Sitompul 
<[email protected]>; Oman Romana <[email protected]>; Daeng 
<[email protected]>; Harsono Sutedjo <[email protected]>; Sie Tik Tan 
<[email protected]>; Mitri <[email protected]>; Billy Gunadi 
<[email protected]>; [email protected]; Sahala Silalahi 
<[email protected]>; Tjoa <[email protected]>; Andreas Sungkono 
<[email protected]>; Farida Ishaja <[email protected]>; Nunu Nugroho 
<[email protected]>; Rachmat Hadi-Soetjipto <[email protected]>; WIN 
DJOYO <[email protected]>; Everistus Kayep <[email protected]>; 
ChanCT <[email protected]>
Subject: Re: [GELORA45] Setelah Pesta Usai

 

  

Tanya saja kepada Nesare mengapa saya mempostingkan artikel "Setelah Pesta 
Usai". Si Chan terus-terusan memperlihatkan dirinya goblok tapi sok tahu. Dia 
tidak tahu isi perdebatan antara saya dengan Nesare yang berhubungan dengan 
tokoh Masyumi, terus mau ikut-ikut nimbrung tanpa tahu masalahnya. Sekarang 
menuduh orang, berdarah dingin,  salah tidak mau ngaku, permusuhan 
horizantal???? Gila banget orang ini!!! busyeeet....busyeeet!!! Dasar orang 
yang sudah tidak waras lagi, kebingungan, kehilangan akal untuk cari 
argumentasi untuk nyerang orang lain, akhirnya serampangan!!!

 

On Saturday, November 24, 2018, 12:56:31 AM GMT+1, ChanCT 
<[email protected] <mailto:[email protected]> > wrote: 

 

 

Waaaduuuuh, ... ini nenek dalam tempurung sudah TIDAK BEDAnya dengan Soeharto 
yang BERDARAH-DINGIN, sudah BERBUAT SALAH tidak mau ngaku! Lalu berusaha keras 
buktikan yang terjadi PERMUSUHAN HORISONTAL, pembantaian yang terjadi di 
dilakukan semua warga, semua umat Agama bangkit membunuhi komunis, ...

Jadi, ... semua email nenek yg satu ini harus dikaitkan dengan diskusinya 
bersama Nesare? Lalu orang disuruh mengikuti diskusinya itu secara 
keseluruhan??? Ada-ada saja! Lah, jelas email tsb. tidak menyertakan 
pembicaraan bersama Nesare, kok. Tapi hanya tulisan yang berjudul "Setelah 
Pesta Usai".

Dasar nenek serampangan, ... yang selalu menyasar dan menyerang semua orang 
yang dianggap berbeda dengan dirinya sendiri! Tanpa bisa memilah-milah siapa 
yang harus dijadikan MUSUH-UTAMA dan memusatkan tenaga menggempurnya lebih 
dahulu, ... 

 

 

Tatiana Lukman 於 23/11/2018 22:52 寫道:

Baca saya rangkaian diskusi saya dengan Nesare!!! Kok maunya dijelaskan, 
emangnya saya kelebihan waktu?? Dan tanya otakmu sendiri, kok bisa sampai 
menginterpretasi seolah-olah saya mau menyeret-nyeret atau menyerang agama 
dalam soal pembantaian??

 

On Friday, November 23, 2018, 3:46:54 PM GMT+1, ChanCT  
<mailto:[email protected]> <[email protected]> wrote: 

 

 

Coba jelaskan apa maksud kalimat ini: 
Tapi masih ada orang yang tak percaya akan peran orang-orang Islam, termasuk 
Masyumi, dalam pembantaian. Sebetulnya bukan saja orang Islam, tapi juga orang 
dari agama lain, kristen dan Hindu. 

kalau bukian menepuk dada paling YAKIN/PERCAYA orang-orang ISLAM, termasuk 
MASYUMI dalam pembantaian!? tapi juga Kristen dan Hindu!


Kenapa harus mengangkat AGAMA nya dengan menyeret/mengangkat Kristen dan Hindu? 
Apakah orang-orang yg terlibat pembantaian komunis itu bisa mewakili Agama yang 
dianutnya??? Tidak adakah umat Islam, bahkan Haji-Haji yang berani membela dan 
melindungi komunis? Begitu juga dengan umat Kristen, Katholik dan Hindu, ...??? 
Menyerang sana sini secara SERAMPANGAN, semua Agama dihajarm seperti jagoan 
gebuk sana-sini begitu heeiiibaatnya??? Betul-betul seperti NENEK 
berteriak-teriak dari dalam tempurung setelah bermimpi dikejar setan!

 

 

Tatiana Lukman 於 23/11/2018 21:48 寫道:

Ada yang bisa kasih pencerahan kepada si Chan ini tentang tingkah laku Masyumi 
dalam jaman Sukarno dulu? Dan mengapa Masyumi dilarang oleh Sukarno? Ngatain 
orang lain dalam tempurung, tapi terus-terusan membelejeti dirinya sendiri  
"buta huruf" dalam banyak hal, termasuk sejarah Indonesia. Menyamakan NU dengan 
Masyumi adalah penghinaan terhadap para pemimpin NU, seperti Gus Dur, yang 
tidak anti-komunis dan tidak menginginkan Indonesia menjadi negara Islam!!! 

Kedua, bikin komentar yang asal jeplak terhadap masalah yang berhubungan dengan 
diskusi saya dengan Nesare. Sudah dibuktikan beberapa kali kemampuan si Chan 
untuk baca dan menginterpretasi apa yang dibaca dalam bahasa Indonesia, memang 
hanya setingkat antek kaum revisionis Tkk!!!

 

On Friday, November 16, 2018, 1:23:54 AM GMT+1, ChanCT  
<mailto:[email protected]> <[email protected]> wrote: 

 

 

Ini nenek dalam tempurung apa maksudnya, menepuk dada orang yg paling meyakini 
orang2 Masyumi membantai komunis dan Soekarnois??? Lha, Gus Dur saja sudah 
berani terang-terangan menyatakan banyak tokoh/anggota Ansor terlibat dalam 
pembantaian komunis. Lalu? 

Kenapa harus mengangkat AGAMA nya dengan menyeret/mengangkat Kristen dan Hindu? 
Apakah orang-orang yg terlibat pembantaian komunis itu bisa mewakili Agama yang 
dianutnya??? Tidak adakah umat Islam, bahkan Haji-Haji yang berani membela dan 
melindungi komunis? Begitu juga dengan umat Kristen, Katholik dan Hindu, ...??? 

Ini nenek aktivis SONTOLOYO! Bisanya berkoar-koar menyasar dan menyerang 
serampangan, ... jelas Masyumi tahun 60 sudah dibubarkan. Keterlibatan mantan 
tokoh Masyumi yang ANTI-Komunis dalam membantai di tahun 66-67 tidak ada yang 
meragukan, SUDAH PASTI dan nampak jelas berlanjut sampai SEKARANG ini! Bukankah 
PKS, ... termasuk HTI yg baru dibubarkan itu jelmaan Masyumi dan sementara 
orang menyatakan mereka sudah berhasil menyusup ke NU juga?

 

 

Tatiana Lukman [email protected] <mailto:[email protected]>  
[GELORA45] 於 15/11/2018 21:09 寫道:

  

Saya pernah bilang tokoh komunis pernah duduk bersama dengan tokoh kanan 
reaksioner ngopi atau makan sate, tidak menghilangkan kenyataan bahwa pada saat 
perjuangan kelas menajam dan meletus, orang-orang Masyumi tidak ragu-ragu untuk 
turut membantai tidak saja orang komunis tapi juga orang-orang progresif 
pendukung politik BK. Tapi masih ada orang yang tak percaya akan peran 
orang-orang Islam, termasuk Masyumi, dalam pembantaian. Sebetulnya bukan saja 
orang Islam, tapi juga orang dari agama lain, kristen dan Hindu. Nah, dalam 
tulisan di bawah ini jelas bicara tentang peran orang-orang Masyumi dalam 
menghabisi orang-orang kom dan progresif lainnya.

 


 


Setelah Pesta Usai


Digunakan untuk menghabisi orang-orang komunis, nasib Islam politik di awal 
Orde Baru tak menentu.


 <https://historia.id/@hendi.j97> Hendi Jo

7 Mar 2018, 01:01

 

 

 

AWAL 1966. Malam belum sepenuhnya selesai, ketika lima anggota Kesatuan Aksi 
Pengganyangan Gerakan September Tigapuluh (KAP Gestapu) mendatangi rumah S. 
Herman di bilangan Sukabumi. Sebagai bekas serdadu yang memilih aktif di NU 
(Nahdlatul Ulama), dini hari itu, Herman “terpilih” untuk pergi ke Jampang 
Kulon, suatu wilayah yang terletak di pelosok Sukabumi, Jawa Barat.

“Saya diajak ke sana guna 'mengamankan' orang-orang PKI (Partai Komunis 
Indonesia),” ujar lelaki 90 tahun tersebut.

Di Jampang Kulon, Herman dan kawan-kawan memburu para anggota PKI hingga ke 
hutan-hutan. Namun, berbeda dengan di Jawa Tengah dan Jawa Timur, di Jawa Barat 
perburuan itu tidak lantas menjadi ajang pembantaian massal. Pendekatan 
persuasif sangat diutamakan oleh aparat di sana.

“Sesuai arahan Pak Adjie (Panglima Kodam Siliwangi), mereka yang tertangkap 
kami perlakukan secara baik-baik, untuk kemudian kami serahkan ke aparat,” 
kenang Herman.

Operasi perburuan tersebut berlangsung hingga sekitar empat bulan dalam tahun 
1966. Herman tidak ingat berapa ratus orang komunis yang berhasil ditangkap. 
Dia juga tidak tahu bagaimana nasib mereka usai diserahkan kepada aparat. 
“Katanya mereka dibuang ke Pulau Buru sama pemerintah,” ungkap kakek dari lima 
cucu itu.

Aliansi Simbiotik

Pasca insiden Gerakan 30 September 1965, pihak tentara (baca: Angkatan Darat) 
mencari celah untuk menghantam langsung rival utamanya: PKI. Menurut Ulf 
Sundhaussen dalam Road to Power: Indonesian Military Politics 1945-1967, salah 
satu cara yang dilakukan oleh mereka adalah merangkul kekuatan-kekuatan Islam 
yang di era rezim Sukarno ternafikan secara politis.

Gayung bersambut. Sebagai pihak yang kerap bermasalah dengan PKI dan menunggu 
waktu tepat untuk menghajar musuh bebuyutannya tersebut, kelompok-kelompok 
Islam menyambut baik rangkulan tentara. Pada 5 Oktober 1965, secara resmi 
Pengurus Besar NU mengeluarkan pernyataan sikap untuk melawan Gestapu.

“PBNU menyerukan kepada seluruh umat Islam dan segenap kekuatan revolusiener 
lainnya untuk memberikan bantuan sepenuhnya kepada Angkatan Bersenjata Republik 
Indonesia (ABRI),” demikian seperti dikutip oleh H. Abdul Mun’im DZ dalam 
Benturan NU-PKI 1948-1965.

Aliansi simbiotik antara tentara dengan kelompok-kelompok Islam menghasilkan 
gerakan sporadis pengganyangan PKI di seluruh Indonesia. Bahkan bukan hanya 
sebagai “pendamping”, bersama grup-grup antikomunis lainnya dari kalangan Hindu 
(di Bali) dan Katolik serta sayap kanan di kubu kaum nasionalis, mereka 
terlibat aktif secara langsung menjadi “tangan tentara” untuk menghancurkan PKI.

“Anasir-anasir KAP Gestapu, terutama organisasi massa berorientasi kepada 
Masyumi, serta aktivis muda dari NU, harus dianggap termasuk kelompok ini,” 
tulis Ulf, pengamat sejarah militer Indonesia asal Australia tersebut.

Selain KAP Gestapu (salah satu pendirinya adalah Subchan ZE, tokoh muda NU), 
tentara juga mendukung keberadaan KOKAM (Komando Kesiapsiagaan Angkatan Muda 
Muhammadiyah) dan Kesatuan Komando Jihad Ummat Islam pimpinan Abdul Qadir 
Djaelani, tokoh Pelajar Islam Indonesia (PII). “Kesatuan-kesatuan aksi ini 
menghimpun hampir semua potensi politik antikomunis di Indonesia,” tulis Arief 
Mudatsir Mandan dalam Napak Tilas Pengabdian Idham Chalid.

Untuk mengganyang PKI, kekuatan-kekuatan Islam betul-betul tertumpu kepada 
dukungan militer. Bukan hanya dukungan perlindungan, namun juga penyediaan 
senjata dan pelatihan militer seperti yang mereka lakukan kepada sejumlah tokoh 
KAP Gestapu dan sejumlah koordinator lapangan aktivis mahasiswa-mahasiswa 
Islam. Menurut Busyro Moqqodas dalam Hegemoni Rezim Intelijen, sejumlah aksi 
umat Islam di Jakarta, Bekasi, Tangerang dan Banten juga mendapat sokongan AD.

“Buktinya, waktu Kesatuan Komando Jihad Ummat Islam mengadakan apel akbar di 
Jakarta pada 12 Februari 1967, Komandan Resimen Para Komando Angkatan Darat 
(RPKAD) Kolonel Sawo Edhie Wibowo datang dan membuat pidato dukungan,” ujar 
Busyro.

Singkat cerita, “pesta pengganyangan” kaum komunis oleh militer yang 
bekerjasama dengan kelompok agama dan nasionalis sayap kanan berlangsung 
sukses. Bukan saja berhasil melenyapkan eksistensi partai komunis terbesar 
ketiga di dunia itu, tapi juga menerbitkan Orde Baru, sebuah rezim militer yang 
didukung oleh Amerika Serikat dan dunia Barat pada 12 Maret 1967.

“Dan tak ada seorang pun yang bisa menafikan bahwa umat Islam memerankan 
peranan yang sangat besar sebagai salah satu komponen penegak Orde Baru yang 
utama,” ungkap Afan Gaffar dalam sebuah artikel berjudul “Islam dan Politik 
dalam Era Orde Baru," Jurnal Ulumul Qur’an, edisi Mei 1993.

Dibalas Air Tuba

Usai Presiden Sukarno lengser, kekuatan-kekuatan Islam politik mulai menggeliat 
kembali. Anasir-anasir Masyumi yang di era Demokrasi Terpimpin sempat tiarap, 
aktif melakukan konsolidasi politik. Rehabilitasi Masyumi diajukan oleh Prawoto 
Mangkusasmito (Ketua Umum Masyumi saat dibubarkan oleh Presiden Sukarno pada 17 
Agustus 1960) kepada pemerintah Orde Baru.

Alih-alih mengabulkan, jasa-jasa kalangan Islam politik seolah dibalas dengan 
air tuba: pengajuan ditolak Presiden Soeharto. “Jalan menuju pewujudan kembali 
Masyumi sebagai partai politik mengalami situasi berliku dan berujung kepada 
ditolaknya upaya rehabilitasi itu,” ungkap Abdul Qadir Djaelani, salah satu 
aktivis Islam saat itu.

Siasat baru lantas dilancarkan. Pada akhir 1967, eks onderbouw Masyumi 
membentuk partai baru bernama Partai Muslimin Indonesia (Parmusi) dan 
mengajukan izinnya kepada pemerintah. Kali ini pemerintah Orde Baru merestui 
dengan mengeluarkan Surat Keputusan No. 7 tahun 1968 tertanggal 20 Februari 
1968. “Djarnawi Hadikusomo dari Muhammadiyah diangkat sebagai ketua umumnya,” 
tulis Solihin Salam dalam Sejarah Parmusi.

Masalah muncul kembali usai Parmusi melangsungkan muktamarnya yang pertama pada 
2-7 November 1968: Muhammad Roem ditolak oleh pemerintah sebagai ketua umum 
terpilih. “Soeharto tak mau mensahkannya,” tulis Abdul Qadir Djaelani dalam 
Peran Ulama dan Santri dalam Perjuangan di Indonesia..

Parmusi tidak bisa berbuat banyak. Jalan kompromi pun ditempuh: jabatan ketua 
tetap dipegang Djarnawi Hadikusumo dengan harapan roda politik partai tetap 
berjalan. Namun, lagi-lagi tawaran kompromi itu tak diindahkan. Justru pada 
Februari 1970, Menteri Dalam Negeri Amir Machmud membuat keputusan melarang 
sekitar 2500 eks anggota Masyumi untuk ikut andil dalam Pemilihan Umum 1971. 
Alasannya, iktikad baik mereka kepada pemerintah sangat diragukan. Demikian 
menurut berita yang dilansir Kantor Berita Antara pada 16 Februari 1970.

Di tengah situasi panas tersebut, pemerintah tetiba “memecat” Djarnawi dan 
menggantinya dengan MHS. Mintarja lewat suatu rekayasa yang melibatkan grup 
Operasi Khusus (Opsus) Ali Moertopo (via duet John Naro-Imran Kadir). Menurut 
Afan Gaffar, pemerintah kesulitan untuk menerima Djarnawi karena dia dianggap 
memiliki pendirian politik yang “keras” dan tidak akomodatif terhadap 
kepentingan pemerintah.

Bukan hanya kepada Masyumi, kebijakan tentara (baca: pemerintah Orde Baru) pun 
mulai “keras” terhadap NU. Sejak dilangsungkannya Seminar Angkatan Darat pada 
1966 di Bandung, tentara memiliki pandangan tegas bahwa sebuah organisasi 
keagamaan dengan basis massa besar akan menjadi suatu ancaman politis.

“NU dipandang sebagai hal yang membahayakan apabila dibiarkan tumbuh menjadi 
sebuah kekuatan politik,” tulis Arief Mudatsir Mandan.

Nasib buruk juga melanda partai Islam tua yang peran politiknya sebenarnya 
sudah mulai mengecil: Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII). Laiknya Parmusi, 
kepemimpinan PSII pun tak lepas “diobok-obok” grup Opsus via Syarifuddin 
Harahap yang berhasil menyingkirkan kepemimpinan H. Ch. Ibrahim.

Pemilihan Umum 1971 semakin memperlebar jurang pemisah antara pemerintah Orde 
Baru dengan kelompok-kelompok Islam. Upaya-upaya sistematis dari pemerintah dan 
tentara untuk memenangkan Golongan Karya (Golkar) menjadikan peran politik 
kelompok Islam dan nasionalis terpinggirkan secara prima. Keculasan politik 
yang terpapar dalam Pemilu 1971 menjadikan kalangan Islam kecewa.

Bahkan, Subchan ZE pernah mempunyai gagasan akan mengadukan pelaksanaan Pemilu 
1971 dengan korban-korban yang dialami oleh warga NU kepada Perserikatan 
Bangsa-Bangsa dan Amnesti Internasional. Namun niat tersebut diurungkan. 
Sebagai gantinya: “Rois Aam NU KH A. Wahab Chasbullah di depan Muktamar NU 
ke-25 pada Desember 1971 mengisyaratkan bahwa tak ada gunanya lagi NU menjadi 
partai politik,” ujar Arief.

Rival Negara

Babak belur di Pemilu 1971 menjadikan kekuatan Islam politik tak bisa 
mengkoordinasikan diri secara maksimal. Menjelang Pemilu 1977, mereka harus 
kembali “menyerah” ketika pada 5 Januari 1973, pemerintah Orde Baru memaksa 
Parmusi, NU, PSII dan Partai Perti (Persatuan Tarbiyah Islamiyah) berfusi dalam 
PPP (Partai Persatuan Pembangunan).

Menurut Abdul Qadir Djailani, fusi itu dilaksanakan atas nama kestabilan 
politik. “Padahal tujuan sebenarnya adalah untuk mempermudah kontrol politik 
terhadap kekuatan Islam,” ujar Abdul Qadir.

Penyederhanaan partai-partai politik Islam dalam PPP diikuti oleh upaya 
deislamisasi. Sebagai contoh pemerintah memerintahkan partai politik hasil fusi 
itu untuk tidak lagi menggunakan lambang Ka’bah, nama “Partai Persatuan Islam” 
dan Islam sebagai asas ideologi partai. Soal ini sempat membuat KH. Bisri 
Syansuri (Rois Aam PPP) berang dan menyampaikan protes langsung kepada Presiden 
Soeharto.

“Tetapi tak berhasil karena Soeharto tetap pada kebijakannya untuk menetapkan 
Pancasila sebagai satu-satunya asas bagi partai politik mana pun,” tulis Arief 
Mudatsir.

Pemilihan Umum 1977 berlangsung lancar. Seperti sudah diprediksi semua 
kalangan, Golkar sebagai representasi pemerintah memperoleh kemenangan mutlak 
di parlemen: 238 kursi ditambah dengan 100 kursi dari fraksi ABRI yang diangkat 
secara sepihak oleh pemerintah sendiri. PPP sendiri hanya mendapat 99 kursi 
lebih besar dibanding kursi yang didapat PDI (Partai Demokrasi Indonesia) yakni 
29 kursi.

Namun, kemenangan itu tidak menjadikan posisi Islam politik sebagai rival 
negara jadi berhenti. Sidang Umum MPR 1978, pemerintah Orde Baru memasukan 
Aliran Kepercayaan dan Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4) dalam 
Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN). Secara tegas, dinyatakan dalam P4 ini 
bahwa “Pancasila adalah jiwa dan pandangan hidup bangsa Indonesia yang sakti.”

Ketetapan MPR No. 11/1978 diprotes oleh kalangan Islam sebagai upaya 
mengkerdilkan peran politik mereka. Pada 20 Maret 1978, di Jakarta terjadi 
demonstrasi menentang ketetapan itu dan berakhir dengan ditangkapnya ratusan 
aktivis Islam oleh pihak militer.

Sementara itu, seiring upaya deislamisasi di tingkat kehidupan politik formil, 
pemerintah (lagi-lagi lewat kekuatan intelijen) terus berusaha melukiskan citra 
Islam sebagai kekuatan teror lewat berbagai gerakan-gerakan radikal seperti 
Komando Jihad dan gerakan Jamaah Imran. Kebijakan represif ini bahkan berimbas 
kepada kehidupan berislam di kampus-kampus dan sekolah-sekolah. Salah satunya 
adalah pelarangan mengenakan jilbab bagi siswi-siswi Islam di berbagai sekolah.




 

 

 

 


 
<http://www.avg.com/email-signature?utm_medium=email&utm_source=link&utm_campaign=sig-email&utm_content=emailclient>
 

不含病毒。 
<http://www.avg.com/email-signature?utm_medium=email&utm_source=link&utm_campaign=sig-email&utm_content=emailclient>
 www.avg.com 

 

 



Kirim email ke