Tapi ikatan yang wajib.
Am 28 Nov 2018 21:12:09 +0000 schrieb "[email protected] [GELORA45]" <[email protected]>: > Per-tama2 ttg proyek dari luar negeri dari Tkk, Jepang, Eropa tidak > ada paksaan, bisa memilih mana yg paling tidak merugikan. Atau kalau > tidak mau ada proyek dari luar negeri, ya bisa saja.. > > Kedua, inflasi adalah kira2 paling sedikit 2.5% setahunnya, ya masuk > akal sehat kalau biaya bunga harus lebih tinggi dari 2.5%. Selain > itu ada resiko, financial system "ambruk", uang yg dipinjamkan bisa > tidak ada harganya apalagi uang pinjaman dalam jangka panjang, misal > 10-30 tahun... > > Jadi kesalahan, jangan ditumpahkan yg membikin proyek, wong tidak > ada paksaan dan bisa negosiasi. Kalau tidak setuju, ya jangan > mengambil proyeknya. As simple as that. > > ---In [email protected], <jetaimemucho1@...> wrote : > > Mengapa Pinjaman Tiongkok menjadi tak terbayar? > Oleh: Jose Maria Sison > Kepala Konsultan Politik NDFP > 21 November 2018 > > Bukan hanya biaya bunga 2% hingga 6% yang membuat pinjaman Tiongkok > untuk proyek infrastruktur akhirnya terlalu memberatkan dan tidak > dapat dibayar. Yang lebih penting lagi adalah harga terlalu mahal > dari berbagai bagian dan aspek dari proyek-proyek itu yang membuat > pinjaman ini tak terbayar kembali. Perusahaan-perusahaan konstruksi > Tiongkok bisa dengan seenak perutnya sendiri menetapkan harga mahal > semuanya: desain, jasa teknik, penggunaan peralatan, pasokan bahan > konstruksi, kontrak tenaga kerja Tiongkok, dan sebagainya. Harga > terlalu mahal membawa bunga tersembunyi yang jauh lebih besar pada > pinjaman. Penetapan harga yang mahal sekali memungkin-kan pembayaran > kepada para pejabat rezim dan itu terwujud dalam amortisasi > pembayaran utang pokok dan bunganya yang tak terbayar. Apa yang > dilakukan kaum imperialis Tiongkok serupa dengan penipuan yang > dilakukan sosial imperialis Soviet terhadap Tiongkok sosialis pada > paruh kedua tahun 1950-an. Pembiayaan proyek-proyek Uni Soviet di > Tiongkok sama sekali tidak dikenakan bunga tetapi harga yang terlalu > mahal memberi keuntungan jauh lebih besar daripada beban bunga yang > dinyatakan secara terbuka. Dalam kontrak dengan bank-bank dan > perusahaan konstruksi Tiongkok, ada ketentuan untuk mengubah utang > yang belum dibayar menjadi ekuitas Tiongkok serta pengambilalihan > struktur yang telah dibangun oleh perusahaan Tiongkok. Ini terpapar > dengan jelas di Sri Lanka, Pakistan, Maladewa, Kenya dan tempat lain. > Mahatir Mohamad, perdana menteri Malaysia, telah secara terbuka > memperingatkan terhadap operasi rentenir Tiongkok. Selalu haus akan > sumber daya alam untuk memberi makan kepada industrinya, Tiongkok > juga terkenal karena mengambil sumber daya alam negeri-negeri > kliennya yang terbelit hutang sebagai jaminan. Maka itu, rezim > Duterte terang-terangan menjadi pengkhianat karena secara praktis > menukar hak kedaulatan Filipina atas Laut Filipina Barat dan minyak > serta gas senilai sekitar 60 miliar dolar AS dan sumber daya lainnya > dengan pinjaman beberapa miliar dolar dengan bunga tinggi untuk > proyek-proyek infrastruktur yang terlalu mahal. Ini adalah > pertukaran yang tidak adil. Dengan mengijinkan Tiongkok menjadi mitra > dan rekan pemilik usaha bersama untuk mengeksplorasi dan > mengeksploitasi sumber daya energi di Laut Filipina Barat, Filipina > dibuat bungkam dan menyerahkan hak kedaulatannya. Ini telah > memungkinkan perusahaan Tiongkok mengeksplorasi dan mengeksploitasi > minyak , gas dan sumber daya lainnya, memonopoli penemuan eksplorasi > dan akuntansi biaya, serta hasil eksplorasi dan eksploitasi. Di > bawah rezim pengkhianat Duterte yang bodoh, Filipina tunduk pada > persyaratan Tiongkok untuk melepaskan hak kedaulatan dan warisan > alam, tidak hanya dengan jatuh dalam perangkap utang yang curang > tetapi juga dengan menerima ketentuan hukum dan politik bahwa > perjanjian ekonomi, perdagangan dan pinjaman diatur dan ditafsirkan > sesuai dengan undang-undang Tiongkok ; perselisihan dengan Filipina > mengenai ketentuan kontrak harus diselesaikan melalui arbitrase > Komisi Arbitrase Ekonomi dan Perdagangan Internasional Tiongkok. > Perangkap utang Tiongkok cukup untuk mengubah Filipina menjadi > koloni utang Tiongkok. Tetapi akumulasi utang Filipina dari kreditor > bilateral dan multilateral tradisionalnya (AS, Jepang, Bank Dunia, > IMF dan sebagainya) akan secara otomatis meningkat sebagai akibat > dari pengetatan kuantitatif (peningkatan suku bunga) yang telah > dimulai oleh Bank Federal AS untuk mengatasi utang publik AS yang > sudah berlebihan selama periode pelonggaran kuantitatif (rezim suku > bunga rendah). Satu-satunya sebab Duterte dan kroni-kroninya masuk ke > dalam jebakan utang Tiongkok dan tindakan pengkhianatan menyerahkan > hak kedaulatan dan warisan nasional ke Tiongkok adalah karena mereka > mendapatkan keuntungan pribadi dari saham kontrak dan komisi sebagai > perantara transaksi dan tampaknya hadiah sudah mereka terima di muka > dalam bentuk pinjaman dan akomodasi yang diberikan oleh bank dan > perusahaan Tiongkok kepada Dennis Uy, agen pentolan Duterte. > > > >
