Nenek dalam tempurung yang selalu berbelit-belit dalam imajinasi dlm
tempurungnya sendiri! Mudah dan sederhana saja kok, ... prinsip yang
mutlak harus dipegang dalam ber-HUTANG adalah BISA TIDAK menggunakan
HUTANG itu untuk TEGAK BERDIRI SENDIRI! Kemajuan dan kemakmuran rakyat
banyak dinegeri sendiri! Jangan mau terima "bantuan" yang mengikat dan
MERUGIKAN diri-sendiri dari manapun dan dari siapapun! Selalu tenggelam
dalam penghisapan, esploitation de l'homme par l'homme, ... begitu
TAKUTnya semua bantuan "HUTANG" ASING, jadi momok yang mutlak harus
di-TOLAK!
Tidak mau dan berani memilih setiap hutang yang ditawarkan, BERANI
menggunakan BANTUAN, pinjaman modal untuk percepat dirinya maju dan
makmur, begitu yang dilakukan dan dijalankan Deng dan setelah
berlangsung 40 tahun NAMPAK JELAS KEBERHASILANnya! Darimana saja bantuan
itu, termasuk dari IMF-BankDunia yg dihujat habis-habisan oleh nenek yg
satu ini, yg selalu dibilang mencekik leher rakyat! RRT pandai menerima
BANTUAN, HUTANG-HUTANG itu untuk perkuat diri-sendiri, bisa TEGAK
BERDIRI sendiri! Menjadikan Tiongkok MAJU dan menjadi saingan berat AS!
Hahahaa, ...
Kemarin saya baca satu tulisan menarik, itu pulau dekat India, ada yang
bilang RRT bangun pangkalan militer, kepulauan Maldives yang tercekik
HUTANG RRT itu. Setelah beberapa bulan yl. presiden yg pro India menang
dan berkuasa, keluarkan pernyataan "akan batalkan perjanjian kerjasama
dengan RRT!", media banyak bersorak HABISlah pengaruh RRT di Maldives,
dan kemudian diikuti berita India menawarkan mengambil oper HUTANG
sebesar US$1 Milyar, dengan syarat "Menjauhi RRT!", dan kembali
memperkenankan pangkalan militer India di kepulauan Maldives itu! Namun
demikian, akhirnya menlu. Maldives tgl. 27 kemarin ini dengan tandas
menyatakan, "Hubungan kami dan mendapatkan bantuan dari RRT sudah
berlangsung lebih 50 tahun, kami Maldives akan meneruskan kerjasama
dengan RRT!"
Keputusan JIIITUUUU! Mengapa hutang itu harus bersyarat sesuai kehendak
pemberi-hutang, dijadikan budak??? Tiongkok membangun jembatan dan
bandara disitu untuk kembangkan usaha parawisata, ... satu kehidupan
santai dinegara kepulauan nan indah permai! HUTANG RRT itu sesuai
perjanjian kan bisa diangsur sesuai kemampuan pemerintah Maldives
membayarnya, tidak mengikat dan keharusan TUNDUK mengikuti kehendak RRT!
TIDAK spt India yg katanya hendak mengambil oper HUTANG RRT itu tapi
harus "menjauhi RRT!" Bagaimana bisa?
Lha, pemasukan pemerintah Maldives itu dari kehadiran turis disitu, ...
dalam 8 tahun terakhir ini, jumlah turis RRT menduduki No.1, ditahun
2017 sudah mencapai lebih 300ribu orang, sedang No.2. turis Jerman hanya
90ribu orang saja! Pemasukan turis ternyata merupakan 30% GDP Maldives,
.... apa jadinya kalau hubungan dengan RRT jadi tegang? Bagi yang bisa
bhs. Tionghoa bisa ikuti tulisan tsb. selengkapnya di link:
http://gelora45.com/news2/GuanCha_20181129_2.pdf
Tatiana Lukman [email protected] [GELORA45] 於 29/11/2018 21:38 寫道:
Pertama, pendapat anda itu bertolak dari seseorang yang berdiri
bersama dan membela kaum pemodal. Tiap pemodal sudah tentu akan selalu
cari untung sebesar mungkin, bukan? Itu logis dari segi kaum
kapitalis, kaum pemodal. Orang-orang yang mengkritik dan menghujat
Tiongkok kapitalis-imperialis adalah orang-orang yang menentang MODAL,
menentang PENGHISAPAN DAN PENINDASAN YANG DILAKUKAN KAUM PEMODAL. Kami
ingin sebuah masyarakat yang adil dan makmur bagi rakyat jelata, bagi
99% penduduk dunia. Seperti yang diinginkan bung Karno dulu,
sosialisme a la Indonesia yang menentang exploitation de l'homme par
l'homme. Nah, titik tolak ini harus anda pahami dulu. Pendapat kita
akan selalu bertolak belakang karena titik tolak kita juga bertolak
belakang.
Kedua, soal proyek yang dibiayai asing. Sudah tentu yang paling
bersalah dan bodoh adalah pemerintah lokal!! Anda betul, tidak ada
paksaan!! Oleh kare na itu, kalau anda mengikuti postingan saya,
gerakan rakyat di mana-mana , termasuk di tanah air, selalu berjuang
menentang pemerintah lokal yang mengkhianati kepentingan rakyatnya
dengan menggadaikan kekayaan alam milik rakyat dan menjual kedaulatan
bangsa. Mengapa Gerakan Rakyat Menentang IMF dan Bank Dunia
menyelenggarakan konferensi internasional tandingan di Bali bulan
Oktober yang lalu? Untuk memberi ruang kepada kekautan rakyat sedunia
mendiskusikan alternatif pembangunan yang tidak bergantung kepada IMF,
Bank Dunia atau lembaga-lembaga keuangan imperialis lainnya. Kami
menentang mitos yang terus dipertahankan kaum imperialis bahwa
negeri-negeri terbelakang memerlukan "bantuan" modal asing untuk
membangun negerinya. Sejak Suharto naik tahta sampai sekarang, 53
tahun, Indonesia selalu terbuka dan menyambut modal asing, mengapa
kemiskinan tidak pernah tuntas, mengapa pengangguran terus mendorong
orang mencari rejeki di luar negeri, mengapa kesenjangan antara miskin
dan kaya ter us menganga, mengapa Indonesia tidak punya industri
nasional, industri yang ada hanyalah outsourcing dari
perusahaan-perusahan besar asing? Tahu apa yang dikatakan almarhum
Prof. Wertheim dalam salah satu bukunya tentang Dunia Ketiga?? Isinya
kurang lebih sbb: Kaum imperialis tidak ingin negeri-negeri dunia
ketiga meniru apa yang mereka kerjakan ketika mereka membangun
kapitalisme. Mereka bilang, jangan meniru kami, tapi kerjakan apa yang
kami perintahkan!!! Semua mereka menerapkan PROTEKSIONISME untuk
melindungi perkembangan ekonomi nasional. Tapi sekarang, mereka
mempropagandakan PASAR BEBAS, GLOBALISASI, menuntut kepada
negeri-negeri dunia ketiga membuka pasarnya supaya produk dan modal
bisa masuk dan BERSAING DENGAN BEBAS...Karena dunia sudah kebanjiran
produk dan juga modal!! Mereka butuh pasar untuk produk yang sudah
berlimpah-limpah dan ruang untuk modal di mana bisa didapatkan
keuntungan maksimum!!! bukankah itu yang dilakukan Jokowi???
Menyerahkan sampai 54 sektor kehidupan ekonomi nasional kepada asing????
Prof. Sison juga menulis, "rezim pengkhianat Duterte yang bodoh"!!!
Jadi pertama-tama yang berdosa adalah rezim lokal. Kami membelejeti
politik dagang dan penanaman modal Tiongkok untuk membuka mata orang
banyak supaya mengerti bahwa modal Tiongkok TIDAK lebih baik atau
menguntungkan dari pada modal kaum kapitalis negeri lain, walaupun
pemimpinnya bermerk "komunis" dan "sosialis"!!! Wong, namanya MODAL,
TIDAK PUNYA KEBANGSAAN!! SEMUA MODAL BERTUJUAN MENCARI UNTUNG
SEMAKSIMUM MUNGKIN DENGAN SEGALA CARA. Adalah penipuan bla--bla mereka
yang bilang "untuk kemajuan bersama"; "untuk kemenangan bersama",
"sama-sama menguntungkan"!! Masih sangat banyak sekali orang yang
tertipu oleh sepak terjang Tiongkok kapitalis-imperialis!!
On Wednesday, November 28, 2018, 10:12:20 PM GMT+1, [email protected]
[GELORA45] <[email protected]> wrote:
Per-tama2 ttg proyek dari luar negeri dari Tkk, Jepang, Eropa tidak
ada paksaan, bisa memilih mana yg paling tidak merugikan. Atau kalau
tidak mau ada proyek dari luar negeri, ya bisa saja..
Kedua, inflasi adalah kira2 paling sedikit 2.5% setahunnya, ya masuk
akal sehat kalau biaya bunga harus lebih tinggi dari 2.5%. Selain itu
ada resiko, financial system "ambruk", uang yg dipinjamkan bisa tidak
ada harganya apalagi uang pinjaman dalam jangka panjang, misal 10-30
tahun...
Jadi kesalahan, jangan ditumpahkan yg membikin proyek, wong tidak ada
paksaan dan bisa negosiasi. Kalau tidak setuju, ya jangan mengambil
proyeknya. As simple as that.
---In [email protected], <jetaimemucho1@...> wrote :
Mengapa Pinjaman Tiongkok menjadi tak terbayar?
Oleh: Jose Maria Sison
Kepala Konsultan Politik NDFP
21 November 2018
Bukan hanya biaya bunga 2% hingga 6% yang membuat pinjaman Tiongkok
untuk proyek infrastruktur akhirnya terlalu memberatkan dan tidak
dapat dibayar.
Yang lebih penting lagi adalah harga terlalu mahal dari berbagai
bagian dan aspek dari proyek-proyek itu yang membuat pinjaman ini tak
terbayar kembali.
Perusahaan-perusahaan konstruksi Tiongkok bisa dengan seenak perutnya
sendiri menetapkan harga mahal semuanya: desain, jasa teknik,
penggunaan peralatan, pasokan bahan konstruksi, kontrak tenaga kerja
Tiongkok, dan sebagainya.
Harga terlalu mahal membawa bunga tersembunyi yang jauh lebih besar
pada pinjaman. Penetapan harga yang mahal sekali memungkin-kan
pembayaran kepada para pejabat rezim dan itu terwujud dalam amortisasi
pembayaran utang pokok dan bunganya yang tak terbayar.
Apa yang dilakukan kaum imperialis Tiongkok serupa dengan penipuan
yang dilakukan sosial imperialis Soviet terhadap Tiongkok sosialis
pada paruh kedua tahun 1950-an.
Pembiayaan proyek-proyek Uni Soviet di Tiongkok sama sekali tidak
dikenakan bunga tetapi harga yang terlalu mahal memberi keuntungan
jauh lebih besar daripada beban bunga yang dinyatakan secara terbuka.
Dalam kontrak dengan bank-bank dan perusahaan konstruksi Tiongkok, ada
ketentuan untuk mengubah utang yang belum dibayar menjadi ekuitas
Tiongkok serta pengambilalihan struktur yang telah dibangun oleh
perusahaan Tiongkok.
Ini terpapar dengan jelas di Sri Lanka, Pakistan, Maladewa, Kenya dan
tempat lain. Mahatir Mohamad, perdana menteri Malaysia, telah secara
terbuka memperingatkan terhadap operasi rentenir Tiongkok.
Selalu haus akan sumber daya alam untuk memberi makan kepada
industrinya, Tiongkok juga terkenal karena mengambil sumber daya alam
negeri-negeri kliennya yang terbelit hutang sebagai jaminan.
Maka itu, rezim Duterte terang-terangan menjadi pengkhianat karena
secara praktis menukar hak kedaulatan Filipina atas Laut Filipina
Barat dan minyak serta gas senilai sekitar 60 miliar dolar AS dan
sumber daya lainnya dengan pinjaman beberapa miliar dolar dengan bunga
tinggi untuk proyek-proyek infrastruktur yang terlalu mahal. Ini
adalah pertukaran yang tidak adil.
Dengan mengijinkan Tiongkok menjadi mitra dan rekan pemilik usaha
bersama untuk mengeksplorasi dan mengeksploitasi sumber daya energi di
Laut Filipina Barat, Filipina dibuat bungkam dan menyerahkan hak
kedaulatannya. Ini telah memungkinkan perusahaan Tiongkok
mengeksplorasi dan mengeksploitasi minyak , gas dan sumber daya
lainnya, memonopoli penemuan eksplorasi dan akuntansi biaya, serta
hasil eksplorasi dan eksploitasi.
Di bawah rezim pengkhianat Duterte yang bodoh, Filipina tunduk pada
persyaratan Tiongkok untuk melepaskan hak kedaulatan dan warisan alam,
tidak hanya dengan jatuh dalam perangkap utang yang curang tetapi juga
dengan menerima ketentuan hukum dan politik bahwa perjanjian ekonomi,
perdagangan dan pinjaman diatur dan ditafsirkan sesuai dengan
undang-undang Tiongkok ; perselisihan dengan Filipina mengenai
ketentuan kontrak harus diselesaikan melalui arbitrase Komisi
Arbitrase Ekonomi dan Perdagangan Internasional Tiongkok.
Perangkap utang Tiongkok cukup untuk mengubah Filipina menjadi koloni
utang Tiongkok. Tetapi akumulasi utang Filipina dari kreditor
bilateral dan multilateral tradisionalnya (AS, Jepang, Bank Dunia, IMF
dan sebagainya) akan secara otomatis meningkat sebagai akibat dari
pengetatan kuantitatif (peningkatan suku bunga) yang telah dimulai
oleh Bank Federal AS untuk mengatasi utang publik AS yang sudah
berlebihan selama periode pelonggaran kuantitatif (rezim suku bunga
rendah).
Satu-satunya sebab Duterte dan kroni-kroninya masuk ke dalam jebakan
utang Tiongkok dan tindakan pengkhianatan menyerahkan hak kedaulatan
dan warisan nasional ke Tiongkok adalah karena mereka mendapatkan
keuntungan pribadi dari saham kontrak dan komisi sebagai perantara
transaksi dan tampaknya hadiah sudah mereka terima di muka dalam
bentuk pinjaman dan akomodasi yang diberikan oleh bank dan perusahaan
Tiongkok kepada Dennis Uy, agen pentolan Duterte.
---
此電子郵件已由 AVG 檢查病毒。
http://www.avg.com