Ibu Tien Suharto juga anti poligami, berarti dia pengikut Aidit,
HAHAHAHAHA.......................
upaya memparalelkan aidit dg grace kah ????????
.
On Fri, Dec 14, 2018 at 4:33 AM Jonathan Goeij [email protected]
<mailto:[email protected]> [GELORA45] <[email protected]
<mailto:[email protected]>> wrote:
Soal Antipoligami, Aidit Jauh Lebih Dulu Ketimbang Grace Natalie
<https://tirto.id/soal-antipoligami-aidit-jauh-lebih-dulu-ketimbang-grace-natalie-dbLs>
D.N. Aidit; 1958. Wikicommon/Rudi Ulmer
<https://tirto.id/soal-antipoligami-aidit-jauh-lebih-dulu-ketimbang-grace-natalie-dbLs>
D.N. Aidit; 1958. Wikicommon/Rudi Ulmer
Oleh: Fadrik Aziz Firdausi - 13 Desember 2018
Dibaca Normal 2 menit
/Tak ingin citra partai tercoreng, PKI menjatuhkan sanksi tegas
kepada semua anggota yang berpoligami dan main perempuan./
tirto.id <https://tirto.id/> - Dalam pidato akhir tahun berkepala
“Keadilan untuk Semua, Keadilan untuk Perempuan Indonesia”, Ketua
Umum PSI Grace Natalie menyatakan partainya tak akan pernah
mendukung praktik poligami. Menurutnya, di tengah berbagai
kemajuan yang dicapai Indonesia, masih banyak perempuan yang
mengalami ketidakadilan.
Grace menyitir riset LBH Apik tentang poligami yang menyimpulkan
bahwa pada umumnya praktik poligami menyebabkan ketidakadilan.
Poligami jadi muasal ketimpangan posisi kaum perempuan dan
penelantaran anak-anak.
“Karena itu, PSI tidak akan pernah mendukung poligami. Tidak akan
ada kader, pengurus, anggota legislatif dari partai ini yang boleh
mempraktikkan poligami,” katanya
<https://www.youtube.com/watch?v=BQjxnc9O26c&feature=youtu.be&a=> dalam
forum Festival 11 di Jatim Expo International Surabaya pada Selasa
(11/12/2018).
PSI, lanjut Grace, percaya bahwa perjuangan keadilan dan
penghapusan diskriminasi harus dimulai dari keluarga. Karenanya,
Grace berjanji jika lolos masuk parlemen pada Pemilu 2019 nanti,
PSI akan memperjuangkan diberlakukannya larangan poligami bagi
pejabat publik di ranah eksekutif, legislatif, yudikatif, dan
aparatur sipil negara.
“Kami akan memperjuangkan revisi atas Undang-undang no. 1 tahun
1974, yang memperbolehkan poligami,” ungkapnya tegas.
Aidit Tolak Poligami
Pidato ketua umum partai yang mantan presenter itu mengingatkan
kembali pada pidato Ketua Umum PKI D.N. Aidit pada 28 September
1965. Kebetulan, dua-duanya sama menyinggung soal poligami.
Kala itu, Aidit berpidato dalam rangka ulang tahun organ sayap
mahasiswa PKI, Central Gerakan Mahasiswa Indonesia (CGMI), yang
juga dihadiri Presiden Sukarno. Di satu bagian Aidit seakan-akan
menyindir sang penyambung lidah rakyat Indonesia itu.
"Indonesia belum mencapai kemajuan dan kemakmuran. Negara ini
memang tidak akan bisa maju kalau diurus oleh pemimpin yang
mempunyai empat atau malahan lima orang istri!" teriak Aidit.
Pidato itu kontan bikin hadirin tersentak. Semua tahu belaka bahwa
Sukarno berpoligami. Meski tak menyinggung nama, tentu saja
kata-kata Aidit itu mudah diterka arahnya.
"Kasar sekali, pernyataan Aidit itu kasar sekali," kata mantan
Wakil Komandan Resimen Cakrabirawa Maulwi Saelan sebagaimana
dikutip laman /merdeka.com
<https://www.merdeka.com/peristiwa/ketua-pki-sebut-indonesia-salah-urus-gara-gara-presiden-poligami.html>/.
Tak ada yang menduga ketua partai yang jadi sekutu dekat rezim
Sukarno itu akan berkata demikian. Selama Sukarno jadi kepala
negara, PKI tak pernah menyindir soal poligami sang presiden. Pun
demikian dengan Gerwani, organ perempuan yang berafiliasi dengan
PKI, yang diketahui menentang poligami.
"Tidak ada. Dikembalikan masing-masing saja. Hanya memang kenapa
wanita mau dipoligami. Kan yang rugi wanita," kata mantan pengurus
Gerwani Jawa Timur bernama Lestari sebagaimana dikutip
/merdeka.com/
<https://www.merdeka.com/peristiwa/dilema-gerwani-hadapi-poligami-soekarno.html>.
Aidit adalah pria berwawasan dan pandai menyenangkan orang. Meski
demikian, ia tak lantas jadi punya hubungan luas dengan perempuan.
Fransisca Fanggidaej, satu-satunya kawan perempuan yang dekat
dengan Aidit, mengatakan bahwa Aidit dan sastrawan Utuy Tatang
Sontani pernah bersaing mencuri hati seorang anggota DPR bernama
Ismiyati.
Tapi, nyatanya itu hanya persaingan bohongan. Ketika Ismiyati
menikah dengan pria lain Aidit maupun Utuy santai-santai saja.
“Keduanya sebatas mengagumi kecantikan. Tapi tidak tahu kalau
Utuy, karena dia suka mengejar perempuan,” kata Fransisca, yang
juga anggota parlemen dari PKI, seperti dikutip /Tempo/ edisi 1
Oktober 2007.
Selain kisah ini, tak pernah Aidit terlibat hubungan dengan
perempuan manapun. Ia dikenal setia pada istrinya dan sangat
antipoligami dan antiperselingkuhan. Bahkan, di masa
kepemimpinannya, prinsip pribadi itu hampir-hampir jadi garis
partai yang tak boleh dilanggar kader.
Banyak anggota partai yang kena sanksi karena ketahuan memiliki
hubungan tak patut dengan perempuan lain, apalagi istri orang.
Hal-hal macam itu tentu bisa bikin citra partai tercoreng.
Karenanya PKI sangat ketat soal ini dan tak ada kompromi, termasuk
kepada kalangan elite PKI.
Salah satu yang kena adalah A.S. Dharta. Buku /Lekra dan Geger
1965 /(2014) mencatat, sekretaris umum Lekra dan anggota DPR ini
langsung dipecat ketika ketahuan berselingkuh. Kabar pemecatannya
bahkan diumumkan di koran PKI /Harian Rakjat /(hlm. 22-23).
Kader lain yang kedapatan kena kasus serupa adalah pelukis S.
Sudjojono. Ketika Sudjojono menjadi anggota DPR dari PKI,
hubungannya dengan penyanyi seriosa benama Rose ketahuan. Kala itu
Sudjojono masih beristri Mia Bustam dan Rose pun masih bersuami.
Dalam autobiografinya, /Cerita tentang Saya dan Orang-orang
Sekitar Saya/ (2017), Sudjojono berkisah bahwa ia dapat tekanan
dari partai usai hubungan itu terbongkar. Ia diminta mengakhiri
hubungan tersebut dan hendak dimutasi ke DPRD Yogyakarta. Dasar
keras kepala, Sudjojono menolak. Ia sudah kadung mencintai Rose.
Aidit sampai turun tangan bicara kepada Sudjojono. Tapi, Sudjojono
bergeming dan paksaan itu bikin ia kian jengah dengan kehidupan
politik di partai. Ia lebih memilih untuk keluar saja dari PKI dan
kepengurusan Lekra.
“Saya minta keluar dan mereka boleh mengumumkan: Saya dipecat. Itu
terjadi tahun 1958, saya keluar dari partai, dari parlemen, dan
dari Lekra,” tulis Sudjojono (hlm. 104).
infografik poligami hukum negara
Afair Njoto
Sanksi karena terlibat afair dengan perempuan juga dijatuhkan
kepada Njoto, orang ketiga di CC PKI dan kawan dekat Aidit. Pada
1965, menjelang geger G30S, Njoto dikabarkan menjalin hubungan tak
resmi dengan seorang penerjemah Uni Soviet bernama Rita..
Rita adalah penerjemah yang menemani Njoto ketika berkunjung ke
Uni Soviet. Rita juga digosipkan akrab dengan beberapa mahasiswa
Indonesia di Uni Soviet. Suatu kali seorang mahasiswa menemukan
surat-surat Njoto kepada Rita. Dari situlah gosip hubungan
Njoto-Rita berembus sampai ke Politbiro PKI.
Gosip ini berkembang bersamaan dengan simpang-siur hubungan Aidit
dan Njoto yang tak lagi guyub. Njoto dianggap terlalu pro-Uni
Soviet, sementara Aidit lebih sreg dengan garis komunisme Cina.
Entah musabab mana yang benar, yang jelas Njoto akhirnya
dihadapkan pada sidang partai. PKI tak ingin citranya tercoreng.
Dalam buku /Njoto: Peniup Saksofon di Tengah Prahara /(2010) yang
dieditori Arif Zulkifli dan Bagja Hidayat disebutkan, “Keputusan
partai tetap harus dijatuhkan. Njoto diskorsing dan semua
jabatannya di partai dipreteli. Ia juga dituding terlalu dekat
dekat dengan Sukarno bahkan mengadopsi ideologinya, ketimbang
bersetia pada ideologi PKI yang mengusung Marxisme-Leninisme”
(hlm. 34).
Baca juga artikel terkait SEJARAH INDONESIA
<https://tirto.id/q/sejarah-indonesia-dwA?utm_source=internal&utm_medium=lowkeyword>
atau
tulisan menarik lainnya Fadrik Aziz Firdausi
<https://tirto.id/author/fadrikazizfirdausi?utm_source=internal&utm_medium=topauthor>
(tirto.id <http://tirto.id> - Politik)
Penulis: Fadrik Aziz Firdausi
Editor: Ivan Aulia Ahsan