Ketika buk Tien mati, Suhato sudah tidak punya kekutan. Anunya sudah layu
,jadi dia tidak kawin lagi.
----- Pesan yang Diteruskan ----- Dari: ajeg [email protected] [GELORA45]
<[email protected]>Kepada: GELORA45 <[email protected]>Terkirim:
Jumat, 14 Desember 2018 05.40.29 GMT+1Judul: Re: [GELORA45] Soal Antipoligami,
Aidit Jauh Lebih Dulu Ketimbang Grace Natalie
Alur yang logis untuk sampai pada kesimpulan:
Soekarno yang anti-imperialis didongkel Aidit yang
antek imperialis. Hhhaaaaa.........
--- SADAR@... wrote:
Lho, ... sebenarnya yang anti poligami itu bu Tien atau Suharto nya sendiri???
Bukankah setelah bu Tien meninggal, Suharto tidak kawin lagi? Ooouh, jadi
sebetulnya Suharto itulah pengikut setia Aidit! Dan, ... oleh karenanya AIDIT
memberi kepercayaan penuh pada jenderal SUHARTO untuk memimpin aksi yg dikenal
dengan G30S itu!!! Hehehee, ...
Ronggo Gmail 於 14/12/2018 8:45 寫道:
Ibu Tien Suharto juga anti poligami, berarti dia pengikut Aidit,
HAHAHAHAHA.......................
upaya memparalelkan aidit dg grace kah ????????
On Fri, Dec 14, 2018 at 4:33 AM Jonathan Goeij wrote:
Soal Antipoligami, Aidit Jauh Lebih Dulu Ketimbang Grace Natalie
D.N. Aidit; 1958. Wikicommon/Rudi Ulmer
Oleh: Fadrik Aziz Firdausi - 13 Desember 2018 Dibaca Normal 2 menit Tak
ingin citra partai tercoreng, PKI menjatuhkan sanksi tegas kepada semua anggota
yang berpoligami dan main perempuan. tirto.id - Dalam pidato akhir tahun
berkepala “Keadilan untuk Semua, Keadilan untuk Perempuan Indonesia”, Ketua
Umum PSI Grace Natalie menyatakan partainya tak akan pernah mendukung praktik
poligami. Menurutnya, di tengah berbagai kemajuan yang dicapai Indonesia, masih
banyak perempuan yang mengalami ketidakadilan.
Grace menyitir riset LBH Apik tentang poligami yang menyimpulkan bahwa pada
umumnya praktik poligami menyebabkan ketidakadilan. Poligami jadi muasal
ketimpangan posisi kaum perempuan dan penelantaran anak-anak.
“Karena itu, PSI tidak akan pernah mendukung poligami. Tidak akan ada kader,
pengurus, anggota legislatif dari partai ini yang boleh mempraktikkan
poligami,” katanya dalam forum Festival 11 di Jatim Expo International Surabaya
pada Selasa (11/12/2018).
PSI, lanjut Grace, percaya bahwa perjuangan keadilan dan penghapusan
diskriminasi harus dimulai dari keluarga. Karenanya, Grace berjanji jika lolos
masuk parlemen pada Pemilu 2019 nanti, PSI akan memperjuangkan diberlakukannya
larangan poligami bagi pejabat publik di ranah eksekutif, legislatif,
yudikatif, dan aparatur sipil negara.
“Kami akan memperjuangkan revisi atas Undang-undang no. 1 tahun 1974, yang
memperbolehkan poligami,” ungkapnya tegas.
Aidit Tolak Poligami
Pidato ketua umum partai yang mantan presenter itu mengingatkan kembali pada
pidato Ketua Umum PKI D.N. Aidit pada 28 September 1965. Kebetulan, dua-duanya
sama menyinggung soal poligami.
Kala itu, Aidit berpidato dalam rangka ulang tahun organ sayap mahasiswa PKI,
Central Gerakan Mahasiswa Indonesia (CGMI), yang juga dihadiri Presiden
Sukarno. Di satu bagian Aidit seakan-akan menyindir sang penyambung lidah
rakyat Indonesia itu.
"Indonesia belum mencapai kemajuan dan kemakmuran. Negara ini memang tidak
akan bisa maju kalau diurus oleh pemimpin yang mempunyai empat atau malahan
lima orang istri!" teriak Aidit.
Pidato itu kontan bikin hadirin tersentak. Semua tahu belaka bahwa Sukarno
berpoligami. Meski tak menyinggung nama, tentu saja kata-kata Aidit itu mudah
diterka arahnya.
"Kasar sekali, pernyataan Aidit itu kasar sekali," kata mantan Wakil Komandan
Resimen Cakrabirawa Maulwi Saelan sebagaimana dikutip laman merdeka.com.
Tak ada yang menduga ketua partai yang jadi sekutu dekat rezim Sukarno itu
akan berkata demikian. Selama Sukarno jadi kepala negara, PKI tak pernah
menyindir soal poligami sang presiden. Pun demikian dengan Gerwani, organ
perempuan yang berafiliasi dengan PKI, yang diketahui menentang poligami.
"Tidak ada. Dikembalikan masing-masing saja. Hanya memang kenapa wanita mau
dipoligami. Kan yang rugi wanita," kata mantan pengurus Gerwani Jawa Timur
bernama Lestari sebagaimana dikutip merdeka.com.
Aidit adalah pria berwawasan dan pandai menyenangkan orang. Meski demikian, ia
tak lantas jadi punya hubungan luas dengan perempuan. Fransisca Fanggidaej,
satu-satunya kawan perempuan yang dekat dengan Aidit, mengatakan bahwa Aidit
dan sastrawan Utuy Tatang Sontani pernah bersaing mencuri hati seorang anggota
DPR bernama Ismiyati.
Tapi, nyatanya itu hanya persaingan bohongan. Ketika Ismiyati menikah dengan
pria lain Aidit maupun Utuy santai-santai saja. “Keduanya sebatas mengagumi
kecantikan. Tapi tidak tahu kalau Utuy, karena dia suka mengejar perempuan,”
kata Fransisca, yang juga anggota parlemen dari PKI, seperti dikutip Tempo
edisi 1 Oktober 2007.
Selain kisah ini, tak pernah Aidit terlibat hubungan dengan perempuan manapun.
Ia dikenal setia pada istrinya dan sangat antipoligami dan antiperselingkuhan.
Bahkan, di masa kepemimpinannya, prinsip pribadi itu hampir-hampir jadi garis
partai yang tak boleh dilanggar kader.
Banyak anggota partai yang kena sanksi karena ketahuan memiliki hubungan tak
patut dengan perempuan lain, apalagi istri orang. Hal-hal macam itu tentu bisa
bikin citra partai tercoreng. Karenanya PKI sangat ketat soal ini dan tak ada
kompromi, termasuk kepada kalangan elite PKI.
Salah satu yang kena adalah A.S. Dharta. Buku Lekra dan Geger 1965 (2014)
mencatat, sekretaris umum Lekra dan anggota DPR ini langsung dipecat ketika
ketahuan berselingkuh. Kabar pemecatannya bahkan diumumkan di koran PKI Harian
Rakjat (hlm. 22-23).
Kader lain yang kedapatan kena kasus serupa adalah pelukis S. Sudjojono.
Ketika Sudjojono menjadi anggota DPR dari PKI, hubungannya dengan penyanyi
seriosa benama Rose ketahuan. Kala itu Sudjojono masih beristri Mia Bustam dan
Rose pun masih bersuami.
Dalam autobiografinya, Cerita tentang Saya dan Orang-orang Sekitar Saya
(2017), Sudjojono berkisah bahwa ia dapat tekanan dari partai usai hubungan itu
terbongkar. Ia diminta mengakhiri hubungan tersebut dan hendak dimutasi ke DPRD
Yogyakarta. Dasar keras kepala, Sudjojono menolak. Ia sudah kadung mencintai
Rose.
Aidit sampai turun tangan bicara kepada Sudjojono. Tapi, Sudjojono bergeming
dan paksaan itu bikin ia kian jengah dengan kehidupan politik di partai. Ia
lebih memilih untuk keluar saja dari PKI dan kepengurusan Lekra.
“Saya minta keluar dan mereka boleh mengumumkan: Saya dipecat. Itu terjadi
tahun 1958, saya keluar dari partai, dari parlemen, dan dari Lekra,” tulis
Sudjojono (hlm. 104).
Afair Njoto
Sanksi karena terlibat afair dengan perempuan juga dijatuhkan kepada Njoto,
orang ketiga di CC PKI dan kawan dekat Aidit. Pada 1965, menjelang geger G30S,
Njoto dikabarkan menjalin hubungan tak resmi dengan seorang penerjemah Uni
Soviet bernama Rita..
Rita adalah penerjemah yang menemani Njoto ketika berkunjung ke Uni Soviet..
Rita juga digosipkan akrab dengan beberapa mahasiswa Indonesia di Uni Soviet.
Suatu kali seorang mahasiswa menemukan surat-surat Njoto kepada Rita. Dari
situlah gosip hubungan Njoto-Rita berembus sampai ke Politbiro PKI.
Gosip ini berkembang bersamaan dengan simpang-siur hubungan Aidit dan Njoto
yang tak lagi guyub. Njoto dianggap terlalu pro-Uni Soviet, sementara Aidit
lebih sreg dengan garis komunisme Cina.
Entah musabab mana yang benar, yang jelas Njoto akhirnya dihadapkan pada
sidang partai. PKI tak ingin citranya tercoreng.
Dalam buku Njoto: Peniup Saksofon di Tengah Prahara (2010) yang dieditori Arif
Zulkifli dan Bagja Hidayat disebutkan, “Keputusan partai tetap harus
dijatuhkan. Njoto diskorsing dan semua jabatannya di partai dipreteli. Ia juga
dituding terlalu dekat dekat dengan Sukarno bahkan mengadopsi ideologinya,
ketimbang bersetia pada ideologi PKI yang mengusung Marxisme-Leninisme” (hlm.
34).
Baca juga artikel terkait SEJARAH INDONESIA atau tulisan menarik lainnya
Fadrik Aziz Firdausi
(tirto.id - Politik)
Penulis: Fadrik Aziz Firdausi
Editor: Ivan Aulia Ahsan
| | 不含病毒。www.avg.com |