Tokoh pluralis ini mengatakan, sejak Indonesia merdeka pada 17 Agustus 1945, 
masalah pluralisme sudah selesai dengan penghapusan tujuh kata dalam sila 
pertama Piagam Jakarta, yang kemudian menjadi Pancasila. Tujuh kata itu 
".....dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya".

 
 "Jadi, kalau hari ini ada yang membawa-bawa lagi ke syariat itu. Menurut saya, 
mereka tidak mengerti sejarah," ujar dia.
 ...
 Adik Gus Dur Anggap Tes Baca Al Quran bagi Capres Tidaklah Urgen 
https://nasional.tempo.co/read/1160591/adik-gus-dur-anggap-tes-baca-al-quran-bagi-capres-tidaklah-urgen/full&view=ok
 
 Reporter:  Dewi Nurita
 Editor:  Rina Widiastuti
Selasa, 1 Januari 2019 14:44 WIB
 

 https://statik.tempo.co/data/2011/11/03/id_95596/95596_620.jpg
 Lily Wahid. TEMPO/Imam Sukamto
 TEMPO.CO, Jakarta - Adik kandung Gus Dur, Lily Chodidjah Wahid alias Lily 
Wahid menilai, tes baca Al Quran https://www.tempo.co/tag/tes-baca-al-quran 
untuk pasangan calon presiden dan calon wakil presiden yang akan berlaga di 
pemilihan presiden 2019, tidaklah urgen. "Saya menganggap hal itu tidak urgen," 
ujar Lily di kediaman Ma'ruf Amin di Jakarta pada Senin, 31 Desember 2018.
 Baca: Soal Tes Baca Al Quran untuk Capres, Amien Rais: Itu Lucu Sekali 
https://nasional.tempo.co/read/1160576/soal-tes-baca-al-quran-untuk-capres-amien-rais-itu-lucu-sekali/full&view=ok
 Menurut dia, kaum muslim yang waras pikirannya dan memiliki perhatian terhadap 
agama, otomatis akan memilih pemimpin yang bisa menjadi panutan dalam 
keislaman. "Jadi enggak usah dibawa-bawa Al Quran lah. Seperti halnya kalimat 
tauhid, sebaiknya enggak usah dijadikan bendera. Laa ilaaha illallah itu 
tempatnya di hati, bukan di mana-mana," ujar dia.
 
 Tokoh pluralis ini mengatakan, sejak Indonesia merdeka pada 17 Agustus 1945, 
masalah pluralisme sudah selesai dengan penghapusan tujuh kata dalam sila 
pertama Piagam Jakarta, yang kemudian menjadi Pancasila. Tujuh kata itu 
".....dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya".
 "Jadi, kalau hari ini ada yang membawa-bawa lagi ke syariat itu. Menurut saya, 
mereka tidak mengerti sejarah," ujar dia.
 Usul diadakan tes baca Al Quran itu disampaikan oleh Ikatan Dai Aceh beberapa 
waktu lalu. Ketua Dewan Pimpinan Ikatan Dai Aceh, Tgk Marsyuddin Ishak 
mengatakan, hal tersebut untuk mengakhiri polemik keislaman capres dan cawapres.
 
 Baca juga: Kata Adik Gus Dur soal Orang-orang NU di Kubu Prabowo 
https://pilpres.tempo.co/read/1160392/kata-adik-gus-dur-soal-orang-orang-nu-di-kubu-prabowo
 Sekretaris Tim Kampanye Nasional Jokowi-Ma'ruf Hasto Kristiyanto mengatakan, 
tes baca Al Quran tak perlu dilakukan. Hasto mengaku paham bagaimana masyarakat 
Aceh mendambakan sosok pemimpin yang agamis. Kendati demikian, menurut ia, 
pemimpin agamis yang ideal itu tercermin dari tindakan. “Agamis itu diukur dari 
tindakan, bukan dari klaim,” kata dia, kemarin.
 Juru debat Badan Pemenangan Nasional Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Sodik 
Mudjahid juga menganggap tak perlu ada ujian membaca Al Quran. Yang lebih 
penting, kata dia, pemahaman para calon pemimpin itu terhadap Al Quran, serta 
kitab-kitab suci lain.
 
 "Kemampuan membaca Al Quran bukan syarat, tapi sebagai advantage saja, 
sehingga tes baca tulis tidak perlu dilakukan," kata Sodik melalui keterangan 
tertulis, Ahad, 30 Desember 2018.

Kirim email ke