Yang LOGIS itu apanya??? Karier Xi meroket pesat setelah ditunjang
"bantuan" taipan Liem Sioe Liong??? Atau justru disinilah NAMPAK JELAS
perbedaan Xi dengan Suharto! Xi pandai gunakan "bantuan" konglomerat
untuk pembangunan ekonomi nasional dan meningkatkan kesejahteraan RAKYAT
banyak, sedang Suharto hanya untuk gendutkan perut sendiri dengan
kroni-kroninya saja, ...!
Jangan salahkan konglomerat nya saja, tapi tetap ujung tombak itu
ditujukan pada kepala negaranya! Bisa gunakan dan jinakkan konglomerat
atau justru ditunggangi konglomerat, ...
Tatiana Lukman [email protected] [GELORA45] 於 9/2/2019 2:10 寫道:
Ya logislah!!!
On Friday, February 8, 2019, 7:03:45 PM GMT+1, Jonathan Goeij
[email protected] [GELORA45] <[email protected]> wrote:
Foto tahun 1991, Xi muda mengunjungi taipan terbesar Asia Tenggara
Liem Sioe Liong di Indonesia. Tidak berapa lama kemudian Liem
membangun Yuanghong Investment Zone di Fuqing Fukkien yang merupakan
investasi luar negeri terbesar saat itu. Setelah itu karier Xi meroket
pesat, terakhir sebagai Presiden Tiongkok.
Inline image
---In [email protected], <ajegilelu@...> wrote :
Paling lucu setiap menyentuh soal oligarki semacam ini bisa muncul
reaksi tak terduga yaitu semburan "anti-Cinaǃ anti-toleransiǃ" sambil
nampang ikut perayaan imlek segala, hahahaha pengalihan isu yang cetek
tapi dibesar-besarkan media. Gilanya lagi, ngomong soal BLBI pun sudah
cukup dijadikan bukti keanticinaan seseorang. Padahal para
"pembela Cina" itu (sebutlah begitu) tidak ada yang peduli ketika Ahok
diseret ke pengadilan.
--- jetaimemucho1@... wrote:
Sekedar mengingatkan saja....tapi masih ada yang terus ngotot Jokowi
tidak didukung Oligarki!!
Taipan di balik Jokowi: Salim Group Terus Moncer
Submitted by redaksi2 on Kamis, 26 Mar 2015 - 00:10
alt
KONFRONTASI-Perihal dukungan pengusaha – pengusaha besar dibalik
Jokowi ini sudah menjadi rahasia umum. Sejumlah pengusaha besar yang
diketahui berada di belakang Jokowi adalah Anthony Salim, James Riady,
Robert Budi Hartono dan Edward Soeryadjaya. Dukungan para pengusaha
besar ini pada bukanlah “gratis”, berikut kepentingan cukong – cukong
Jokowi bila dirinya terpilih menjadi Presiden. Dalam artikel ini saya
akan membahas lebih mendalam mengenai Sang cukong terbesar, Anthony Salim.
Anthony Salim adalah pemilik PT Indofood yang memonopoli pangsa pasar
sejumlah produk pangan seperti gandum. Nilai impor gandum saat ini
sangat besar, sekitar 80 persennya dikuasai oleh Indofood. Sejatinya
monopoli pangan seperti sudah tidak diperbolehkan dan di atur dalam
undang – undang. Namun impor gandum ini dipertahankan karena harganya
lebih murah padahal Indonesia bisa menanam gandum sendiri. Karena
punya kuasa atas impor gandum tersebut, pengusaha yang lain tidak bisa
melakukan produksi pangan sejenis. Selain itu, Di BCA pun kini Anthony
Salim memiliki saham sebesar 1,76 persen. Namun, Anthony masih
mempertahankan PT Indofood Sukses Makmur dan PT Bogasari Flour Millsn
sebagai tombak bisnisnya. Bisnis taipan Tionghoa terus moncer,
sementara pribumi kian keteter. Teranyar, Antony Salim terus membenahi
bisnis Grup Salim. Salim tetap ingin dihormati oleh para pelaku bisnis
di Asia.
Liem Sioe Liong alias Sudono Salim boleh mati, tapi tidak dengan
bisnisnya. Di tangan Antony Salim, puteranya, Grup Salim terus
berbenah setelah sempat mengalami kemunduran akibat krisis ekonomi
1998. Penambahan sahamnya dari 20% menjadi 30% di Bank Ina dan aksi
korporasi yang lain, menandakan kebangkitan itu.
Sebelum krisis, Group Salim merupakan konglomerat terbesar di
Indonesia dengan aset mencapai US$ 10 miliar. Majalah /Forbes/ bahkan
pernah menobatkan Sudomo Salim alias Liem Sioe Liong, pendiri Grup
Salim, sebagai Orang Terkaya di Asia Tenggara.
Krisis 1998 memang telah merontokkan beberapa perusahaan kebanggaan
Grup Salim. Sebut saja Bank Centra Asia (BCA). Bank swasta terbesar di
Indonesia ini hampir kolaps gara-gara masyarakat, yang panik melihat
penutupan belasan bank oleh pemerintah, beramai-ramai menarik
tabungannya. Antrean panjang mengular di tiap pojok anjungan tunai BCA
di seluruh Indonesia. BCA pun terjerat kredit macet raksasa milik
nasabahnya, termasuk yang dikucurkan ke grup sendiri.
Untuk menyelamatkan permodalan BCA, pemerintah mengucurkan dana
Bantuan Likuiditas Bank Indonesia senilai Rp 52 triliun. Sebagai
gantinya, Salim harus menyerahkan 108 perusahaannya ke Badan
Penyehatan Perbankan Nasional selaku wakil pemerintah.
Dari sinilah, satu per satu "permata" Salim lepas. Salim tak lagi
menjadi pemilik mayoritas di sejumlah perusahaan yang dulu menjadi
tambang uangnya. Sebut saja PT Indocement Tunggal Prakarsa dan PT
Indomobil Sukses Internasional. Yang paling menyakitkan, Salim harus
kehilangan BCA, yang hampir sepenuhnya jatuh ke tangan Grup Djarum dan
Farallon Capital (Amerika Serikat).
Namun Antony tetap mempertahankan PT Indofood Sukses Makmur dan PT
Bogasari Flour Mills.
Di tengah kontroversi yang tak pernah reda, Salim akhirnya mengantongi
surat keterangan lunas dari pemerintah Megawati Soekarnoputri pada
Maret 2004. Berbekal itu, Anthony pun perlahan-lahan kembali tampil ke
panggung bisnis nasional.
Hanya selang tiga bulan, Anthony mengambil alih kendali PT Indofood
Sukses Makmur dari tangan Eva Riyanti Hutapea. Ia muncul di hadapan
wartawan dan pemegang saham dengan sejumlah rencana besar untuk
menggenjot kinerja produsen mi instan terbesar di dunia ini. Termasuk
melebarkan sayap ke mancanegara, dengan mencatatkan saham anak
perusahaannya di bidang kelapa sawit dan minyak goreng, PT Salim
Ivomas Pratama, di Singapura.
Untuk mendongkrak penjualan Indofood, Antony menggandeng Nestle S..A.
Keduanya sepakat untuk memperlebar pangsa pasar Indofood dan Nestle.
/Deal /bisnis antara dua kerajaan makanan dan minuman ini berujung
pada pendirian PT Nestle Indofood Citarasa Indonesia. Perusahaan
berstatus PMA ini menyedot dana Rp 50 miliar, dengan masing-masing
pihak menyetor 50%.
Anthony percaya reputasi yang dimiliki kedua perusahaan setidaknya
bisa mendongkrak nilai tambah bagi masyarakat dan pemegang saham.
Perusahaan tersebut akan bergerak di bidang manufaktur, penjualan,
pemasaran, dan distribusi produk kuliner. Mulai April 2005, pada botol
kecap merek Piring Lombok sudah ditemukan “cap” perusahaan patungan
tersebut.
Ke depan, Indofood masih akan memberi lisensi penggunaan merek produk
kuliner kepada Nestle-Indofood. Indofood sendiri memiliki kekuatan
pada profil produksi rendah biaya, jangkauan distribusi yang luas, dan
kecepatan menjangkau konsumen melalui anak perusahaannya, PT
Indosentra Pelangi, yang menjadi pemain utama di bidang industri bumbu
penyedap makanan.
Sementara itu, Nestle bergerak di bidang produksi dan penjualan
berbagai produk makanan dan minuman, termasuk mi instan dan bumbu
penyedap makanan di seluruh dunia. Kekuatan perusahaan asal Swiss itu
ada pada riset dan pengembangan yang kuat dalam memproduksi makanan
dan nutrisi.
Sejak empat tahun lalu PT Indofood Sukses Makmur memiliki anak usaha
bernama PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. Perusahaan terakhir ini
adalah penggabungan empat perusahaan di bawah bisnis Grup Salim.
Empat perusahaan itu adalah PT Indosentra Pelangi, PT Gizindo
Primanusantara, PT Indobiskuit Mandiri Makmur, dan PT Ciptakemas
Abadi. Proses penggabungan empat perusahaan itu mulai dilakukan sejak
September 2009 dan tuntas 17 Maret 2010.
Perusahaan-perusahaan yang bergabung tersebut bubar demi hukum, tanpa
dilakukan likuidasi lebih dahulu. Penggabungan perusahaan ke dalam
Indofood CBP itu dilakukan melalui metode penyatuan kepentingan
(/pooling of interest/) sesuai standar akuntasi keuangan dan ketentuan
hukum yang berlaku.
Salim juga kembali membangun bisnis gula, setelah Sugar Group miliknya
di Lampung beralih tangan ke Gunawan Jusuf, bos Grup Makindo, yang
membelinya dari Badan Penyehatan Perbankan Nasional. Tiga pabrik gula
dibangunnya di Ogan Komering Ulu, Muara Enim, dan Musi Banyuasin,
Sumatera Selatan.
Semua ini memberikan sinyal bahwa setelah krisis, Salim kembali
mengarahkan fokus bisnisnya ke industri makanan dan produk konsumen.
Inilah satu dari tiga sektor bisnis yang sejak awal menjadi bisnis
inti Grup Salim. Kalaupun sebelum krisis Salim menggarap sektor lain
seperti pertambangan dan elektronik, itu karena tuntutan membantu
program pemerintah menggenjot sektor ekspor dan menyediakan lapangan
pekerjaan.
Dengan fokus seperti ini, gurita bisnis Salim, yang semula tersebar
dalam 12 /lini,/ mengkerut. Kalaupun di dalam negeri bisnisnya
menciut, aset Salim di luar negeri dikabarkan justru membengkak.
Di luar negeri, bisnis Salim pun kian berkibar lewat bendera First
Pacific, yang merambah pasar Filipina, Thailand, Hongkong, dan China.
Antony juga melebarkan sayap bisnisnya ke India sejak tiga tahun lalu.
Ia berniat menyulap kawasan Benggala Barat menjadi kawasan industri
maju dengan nilai investasi US$ 10 miliar.
Dengan sederet langkah besar itu, Salim tetap menjadi /magnet/ bagi
para pelaku bisnis di Asia. Tapi anehnya, nama Antony tidak masuk
dalam daftar 22 orang terkaya Indonesia tahun 2015 versi Majalah
/Forbes/. Padahal, tahun lalu namanya masuk dalam lima besar. Apa yang
terjadi? Apakah kekayaannya menguap? /Wallahu a’lam./
---
此電子郵件已由 AVG 檢查病毒。
http://www.avg.com