Hahahaa, ... ini nenek dalam tempurung masih terus ngigau dari mimpi
"Indah"nya saja! Dikira kehidupan jaman kapitalisme yang harus dilalui
entah sampai kapan ini bisa saja dilompati begitu saja, boleh-boleh saja
main basmi kapitalis-kapitalis, ... dan tanpa disadari itulah salah satu
kesalahan fatal Lenin-Stalin yang akibatkan PKUS ambruk dengan
sendirinya selang 70-an tahun!
Nenek yg satu ini tidak juga SADAR, bahwa setelah proletariat berhasil
merebut kekuasaan, masih TETAP HARUS perkenankan kapitalis hidup, ikut
meneruskan perkembangan ekonomi nasional maju lebih cepat dan membantu
meningkatkan kemakmuran rakyat banyak! BELUM TIBA waktu kapitalis
dibasmi! Tanpa disadari, bahwa PETANI masih TETAP lebih 60% di
masyarakat Tiongkok sampai sekarang ini, sekalipun sudah banyak pabrik
industri dibangun! Jadi, memang tetap harus berani menggunakan
kapitalis-kapitalis itu ikut mengembangkan industri-industri yang
dibutuhkan dan seiiring dengan perkembangan industri yang terjadi
perbesar dan perkuat BARISAN PROLETARIAT yang menjadi sandaran kekuatan
dan merupakan barisan pelopor sosialisme itu, ... Pemerintah yang
berkuasa cukup gunakan, kendalikan dan jinakkan saja kapitalis-kapitalis
itu untuk percepat kesejahteraan masyarakat!
Dan kenyataan itulah yang terjadi di Tiongkok! Hanya nenek dalam
tempurung ini saja yang masih mengira masyarakat Tiongkok masih sangat,
sangat miskinnya spt ditahun 60-an, ... BURUH seringkali dituntut kerja
bakti lebih 12 jam dan TANPA BAYARAN, lho! Menjadi lebih kasihan,
kehidupan buruh-buruh ketika itu yang sudah sangat-sangat minim, tapi
TIDAK ADA upah lembur yang ketika itu dituduh "rangsang materiil
borjuis", "menghina kesadaran klas buruh", ... pemikiran ekstrim kiri!
Saya juga tidak perlu menyangkal mungkin saja di pabrik yg diusahakan
kapitalis-nakal masih terjadi pemerasan berlebih terhadap buruh2nya,
bekerja sampai lebih 12 jam/hari, ... TAPI, mayoritas MUTLAK tentu TIDAK
BEGITU! Bagaimana juga harus berani melihat hampir 1,4 milyar RAKYAT
Tiongkok sudah berhasil lolos dari kehidupan miskin, ... sedang
menikmati kehidupan yg cukup sejahtera! Begitulah kita semua bisa
melihat begitu buuuaaanyak turis-Tiongkok membanjir didunia pariwisata!
Pada 2018, Tiongkok telah menjadi negara sumber wisata terbesar bagi
Indonesia, sekitar 2 juta turis Tiongkok berjalan-jalan ke negara seribu
pulau. Menteri Pariwisata Indonesia Arief Yahya menyatakan, konsumsi
perkapita turis Tiongkok tercatat US$1.100, ada sumber devisa yang
mantap bagi Indonesia. Menurut statistik Inggris, pada 2017, konsumsi
wisatawan Tiongkok di negerinya secara akumulatif tercatat lebih dari
US$ 900 juta, naik 35% dari pada satu tahun sebelumnya.
Tatiana Lukman [email protected] [GELORA45] 於 9/2/2019 13:36 寫道:
Pikiran orang remo nggak ada bedanya dengan kapitalis atau fasis, pada
hakekatnya. Sama-sama pengkhianat rakyat, sama-sama saudaranya para
konglomerat... Terus berkaok-kaok untuk "mensejahterakan rakyat"
dengan jalan mengengkuk-ngengkuk kaum buruhnya yang harus kerja 12 jam
sehari, 6 hari seminggu, dengan kondisi kerja sangat buruk, tak punya
kebebasan berpendapat apalagi membentuk SB yang sejati membela
kepentingan buruh!!! Yang percaya ocehen orang remo ya orang-orang
remo juga!!!!
On Saturday, February 9, 2019, 5:37:54 AM GMT+1,
[email protected] [GELORA45] <[email protected]> wrote:
keduanya saudara kembar
Image result for liem sioe liong soeharto
---In [email protected], <ajegilelu@....> wrote :
Bukannya LSL takluk sama Soeharto?
Asyiiikk... Sekarang mari alamatkan ke kepala negara,
hek..hek...
--- SADAR@... wrote:
Yang LOGIS itu apanya??? Karier Xi meroket pesat setelah ditunjang
"bantuan" taipan Liem Sioe Liong??? Atau justru disinilah NAMPAK JELAS
perbedaan Xi dengan Suharto! Xi pandai gunakan "bantuan" konglomerat
untuk pembangunan ekonomi nasional dan meningkatkan kesejahteraan
RAKYAT banyak, sedang Suharto hanya untuk gendutkan perut sendiri
dengan kroni-kroninya saja, ...!
Jangan salahkan konglomerat nya saja, tapi tetap ujung tombak itu
ditujukan pada kepala negaranya! Bisa gunakan dan jinakkan konglomerat
atau justru ditunggangi konglomerat, ...
Tatiana Lukman 於 9/2/2019 2:10 寫道:
Ya logislah!!!
On Friday, February 8, 2019, 7:03:45 PM GMT+1, Jonathan Goeij wrote:
Foto tahun 1991, Xi muda mengunjungi taipan terbesar Asia Tenggara
Liem Sioe Liong di Indonesia. Tidak berapa lama kemudian Liem
membangun Yuanghong Investment Zone di Fuqing Fukkien yang merupakan
investasi luar negeri terbesar saat itu. Setelah itu karier Xi meroket
pesat, terakhir sebagai Presiden Tiongkok.
Inline image
--- ajegilelu@... <mailto:ajegilelu@...> wrote :
Paling lucu setiap menyentuh soal oligarki semacam ini bisa muncul
reaksi tak terduga yaitu semburan "anti-Cinaǃ anti-toleransiǃ" sambil
nampang ikut perayaan imlek segala, hahahaha pengalihan isu yang cetek
tapi dibesar-besarkan media. Gilanya lagi, ngomong soal BLBI pun sudah
cukup dijadikan bukti keanticinaan seseorang. Padahal para
"pembela Cina" itu (sebutlah begitu) tidak ada yang peduli ketika Ahok
diseret ke pengadilan.
--- jetaimemucho1@... wrote:
Sekedar mengingatkan saja....tapi masih ada yang terus ngotot Jokowi
tidak didukung Oligarki!!
Taipan di balik Jokowi: Salim Group Terus Moncer
Submitted by redaksi2 on Kamis, 26 Mar 2015 - 00:10
alt
KONFRONTASI-Perihal dukungan pengusaha – pengusaha besar dibalik
Jokowi ini sudah menjadi rahasia umum. Sejumlah pengusaha besar yang
diketahui berada di belakang Jokowi adalah Anthony Salim, James Riady,
Robert Budi Hartono dan Edward Soeryadjaya. Dukungan para pengusaha
besar ini pada bukanlah “gratis”, berikut kepentingan cukong – cukong
Jokowi bila dirinya terpilih menjadi Presiden. Dalam artikel ini saya
akan membahas lebih mendalam mengenai Sang cukong terbesar, Anthony Salim.
Anthony Salim adalah pemilik PT Indofood yang memonopoli pangsa pasar
sejumlah produk pangan seperti gandum. Nilai impor gandum saat ini
sangat besar, sekitar 80 persennya dikuasai oleh Indofood. Sejatinya
monopoli pangan seperti sudah tidak diperbolehkan dan di atur dalam
undang – undang. Namun impor gandum ini dipertahankan karena harganya
lebih murah padahal Indonesia bisa menanam gandum sendiri. Karena
punya kuasa atas impor gandum tersebut, pengusaha yang lain tidak bisa
melakukan produksi pangan sejenis. Selain itu, Di BCA pun kini Anthony
Salim memiliki saham sebesar 1,76 persen. Namun, Anthony masih
mempertahankan PT Indofood Sukses Makmur dan PT Bogasari Flour Millsn
sebagai tombak bisnisnya. Bisnis taipan Tionghoa terus moncer,
sementara pribumi kian keteter. Teranyar, Antony Salim terus membenahi
bisnis Grup Salim. Salim tetap ingin dihormati oleh para pelaku bisnis
di Asia.
Liem Sioe Liong alias Sudono Salim boleh mati, tapi tidak dengan
bisnisnya. Di tangan Antony Salim, puteranya, Grup Salim terus
berbenah setelah sempat mengalami kemunduran akibat krisis ekonomi
1998. Penambahan sahamnya dari 20% menjadi 30% di Bank Ina dan aksi
korporasi yang lain, menandakan kebangkitan itu.
Sebelum krisis, Group Salim merupakan konglomerat terbesar di
Indonesia dengan aset mencapai US$ 10 miliar. Majalah /Forbes/ bahkan
pernah menobatkan Sudomo Salim alias Liem Sioe Liong, pendiri Grup
Salim, sebagai Orang Terkaya di Asia Tenggara.
Krisis 1998 memang telah merontokkan beberapa perusahaan kebanggaan
Grup Salim. Sebut saja Bank Centra Asia (BCA). Bank swasta terbesar di
Indonesia ini hampir kolaps gara-gara masyarakat, yang panik melihat
penutupan belasan bank oleh pemerintah, beramai-ramai menarik
tabungannya. Antrean panjang mengular di tiap pojok anjungan tunai BCA
di seluruh Indonesia. BCA pun terjerat kredit macet raksasa milik
nasabahnya, termasuk yang dikucurkan ke grup sendiri.
Untuk menyelamatkan permodalan BCA, pemerintah mengucurkan dana
Bantuan Likuiditas Bank Indonesia senilai Rp 52 triliun. Sebagai
gantinya, Salim harus menyerahkan 108 perusahaannya ke Badan
Penyehatan Perbankan Nasional selaku wakil pemerintah.
Dari sinilah, satu per satu "permata" Salim lepas. Salim tak lagi
menjadi pemilik mayoritas di sejumlah perusahaan yang dulu menjadi
tambang uangnya. Sebut saja PT Indocement Tunggal Prakarsa dan PT
Indomobil Sukses Internasional. Yang paling menyakitkan, Salim harus
kehilangan BCA, yang hampir sepenuhnya jatuh ke tangan Grup Djarum dan
Farallon Capital (Amerika Serikat).
Namun Antony tetap mempertahankan PT Indofood Sukses Makmur dan PT
Bogasari Flour Mills.
Di tengah kontroversi yang tak pernah reda, Salim akhirnya mengantongi
surat keterangan lunas dari pemerintah Megawati Soekarnoputri pada
Maret 2004. Berbekal itu, Anthony pun perlahan-lahan kembali tampil ke
panggung bisnis nasional.
Hanya selang tiga bulan, Anthony mengambil alih kendali PT Indofood
Sukses Makmur dari tangan Eva Riyanti Hutapea. Ia muncul di hadapan
wartawan dan pemegang saham dengan sejumlah rencana besar untuk
menggenjot kinerja produsen mi instan terbesar di dunia ini. Termasuk
melebarkan sayap ke mancanegara, dengan mencatatkan saham anak
perusahaannya di bidang kelapa sawit dan minyak goreng, PT Salim
Ivomas Pratama, di Singapura.
Untuk mendongkrak penjualan Indofood, Antony menggandeng Nestle S..A.
Keduanya sepakat untuk memperlebar pangsa pasar Indofood dan Nestle.
/Deal /bisnis antara dua kerajaan makanan dan minuman ini berujung
pada pendirian PT Nestle Indofood Citarasa Indonesia. Perusahaan
berstatus PMA ini menyedot dana Rp 50 miliar, dengan masing-masing
pihak menyetor 50%.
Anthony percaya reputasi yang dimiliki kedua perusahaan setidaknya
bisa mendongkrak nilai tambah bagi masyarakat dan pemegang saham.
Perusahaan tersebut akan bergerak di bidang manufaktur, penjualan,
pemasaran, dan distribusi produk kuliner. Mulai April 2005, pada botol
kecap merek Piring Lombok sudah ditemukan “cap” perusahaan patungan
tersebut.
Ke depan, Indofood masih akan memberi lisensi penggunaan merek produk
kuliner kepada Nestle-Indofood. Indofood sendiri memiliki kekuatan
pada profil produksi rendah biaya, jangkauan distribusi yang luas, dan
kecepatan menjangkau konsumen melalui anak perusahaannya, PT
Indosentra Pelangi, yang menjadi pemain utama di bidang industri bumbu
penyedap makanan.
Sementara itu, Nestle bergerak di bidang produksi dan penjualan
berbagai produk makanan dan minuman, termasuk mi instan dan bumbu
penyedap makanan di seluruh dunia. Kekuatan perusahaan asal Swiss itu
ada pada riset dan pengembangan yang kuat dalam memproduksi makanan
dan nutrisi.
Sejak empat tahun lalu PT Indofood Sukses Makmur memiliki anak usaha
bernama PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. Perusahaan terakhir ini
adalah penggabungan empat perusahaan di bawah bisnis Grup Salim.
Empat perusahaan itu adalah PT Indosentra Pelangi, PT Gizindo
Primanusantara, PT Indobiskuit Mandiri Makmur, dan PT Ciptakemas
Abadi. Proses penggabungan empat perusahaan itu mulai dilakukan sejak
September 2009 dan tuntas 17
(Message over 64 KB, truncated)
---
此電子郵件已由 AVG 檢查病毒。
http://www.avg.com