*Agaknya kekalahan ISIS di Syria dan Irak membawa angin baru bagi agama
Islam dan organisasi-organisasi politiknya di Indonesia. Mereka mulai
bicara keras anti terorisme, setia Pancasila dan pengertian Islam
Nusantara. Dengan adanya istilah Islam Nusantara bukan berarti berberda
secara geografis, tetapi juga mungkin mau dibilang berbeda dengan Islam di
negeri lain, yaitu yang beraliran Sunni. Sampai seberapa jauh perbedaan itu
tidak jelas, karena tidak ada semacam dokumen doktrin baru seperti yang
kalau mau dibandingkan reformasi Marthin Luther, tahun 1517, di kalangan
kaum kristiani. Kalau perbedaan dengan kaum Shia itu sudah pasti, maka oleh
karena itu kaum Shia di Madura dan Lombok dihajar begitupun terhadap kaum
Ahmadiyah yang dicap bukan Islamiah. Bagi yang mau membetulkan komentar
saya dipersilahkan.*


https://news.detik.com/kolom/d-4498122/terorisme-di-indonesia-pasca-kekalahan-isis



umat 05 April 2019, 15:02 WIB
*Kolom* *Terorisme di Indonesia Pasca Kekalahan ISIS*

Sugiri yuhuuu - detikNews

*Sugiri yuhuuu* <https://connect.detik.com/dashboard/public/jancuoye>



[image: Terorisme di Indonesia Pasca Kekalahan ISIS]Ilustrasi: Tim
Infografis


*Jakarta* - Setelah berhasil menangkap 11 orang yang diduga terlibat
jaringan teroris Jamaah Ansharut Daulah (JAD), Polri kini tengah mengincar
pimpinan kelompok tersebut untuk jaringan Bandung. Menurut pihak Polri, JAD
cabang Bandung diduga ikut terlibat dalam beberapa aksi teror, salah
satunya aksi bom bunuh diri di Surabaya dan Solo yang menargetkan gereja
dan kantor kepolisian.

JAD sendiri merupakan bagian dari kelompok JamaahAnsharut Tauhid, sebuah
kelompok pecahan dari Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) yang dipimpin oleh
Abu BakarBaasyir. KelompokJAD dikabarkan memiliki afiliasi yang kuat dengan
kelompok ISIS di Suriah dan Irak.


Tentunya fenomena terorisme di Indonesia yang kini begitu marak dilakukan
oleh kelompok JAD sangatlah menarik dicermati. Di Irak, berdasarkan
pernyataan resmi Haider al-Abadi, Perdana Menteri Iraq saat itu pada
Desember 2017, ISIS sudah tumbang. Sementara di Suriah, seperti klaim
Presiden AS Donald Trump beberapa hari silam, ISIS telah dikalahkan dan 100
persen kawasan yang dikuasai oleh kelompok pimpinan Abu Bakar al Baghdadi
tersebut dapat direbut kembali.

Tampaknya klaim kemenangan atas ISIS tidak serta merta menghentikan operasi
teror belasan ribu anggotanya yang masih tersisa di Suriah dan Irak,
termasuk di Indonesia. Menurut James Jeffrey, Utusan Khusus AS untuk Global
Koalisi Melawan ISIS, pada pertengahan Maret lalu diperkirakan masih ada
15.000 hingga 20.000 anggota ISIS yang beroperasi di kedua negara tersebut
melalui pembentukan sel-sel teroris.


Artinya, tumbang dan melemahnya ISIS di pusat semestinya juga melemahkan
pergerakan para anggota dan simpatisannya di seluruh dunia, termasuk di
Indonesia. Namun, yang terjadi justru sebaliknya. JAD diperkirakan akan
masih tetap beroperasi dan belum mengindikasikan kelompok tersebut akan
menyerah, seolah mereka tak mengindahkan ancaman hukuman lebih tegas
sebagai konsekuensi hukum atas yang revisi Undang-Undang Terorisme pada Mei
tahun silam.

Densus sendiri dikabarkan berencana akan melakukan pengejaran mereka di
wilayah Jawa Barat dan Jawa Timur karena kelompok tersebut diduga akan
merealisasikan aksi terorisme di dua provinsi tersebut. Dan tak menutup
kemungkinan, jaringan JAD juga akan melancarkan aksi terornya di
pulau-pulau lainnya selain pulau Jawa.


Pastinya kekalahan ISIS di kawasan Timur Tengah akan melemahkan sumber
pendanaan bagi perekrutan dan pengoperasian simpatisan mereka di seluruh
dunia, termasuk juga di Indonesia. Melemahnya aliran pendanaan dari pusat
juga secara implisit sempat diakui oleh JAD yang kini tengah melakukan
penggalangan dana sebelum mengimplementasikan beberapa aksi terornya.
Namun, ideologi-ideologi *takfiri*, Salafi, radikal, dan ekstremis yang
selama ini dijunjung tinggi organisasi tersebut, ibarat bom waktu akan
kembali mewarnai jagat Tanah Air jika masyarakat lengah mengantisipasi
penyebaran pengaruh ideologi-ideologi serupa.


Ideologi ekstremisme dan radikalisme memang tak akan pernah hilang seratus
persen dari muka bumi. Ideologi tersebut sulit terkikis selama masih ada
masyarakat yang terjebak dan tertarik untuk mempelajari serta
mengaplikasikannya. Ibarat barang dagangan, ideologi tersebut tengah
menunggui calon pembeli yang siap memboyongnya untuk dibagi-bagikan ke
individu-individu lainnya.

Fenomena tersebut diperparah oleh fakta yang disampaikan Muhammad AS Hikam
dalam bukunya *Deradikalisasi* bahwa negara beserta aparatnya telah
kecolongan dalam mengantisipasi masuknya propaganda ISIS ke Indonesia,
serta kurangnya penyebaran pemahaman Islam yang benar pada masyarakat. Ada
anggapan di kalangan masyarakat bahwa dengan mengadopsi ideologi tersebut,
mereka akan menemukan jalan tuntunan Islam yang benar, dan paling benar,
sehingga tak mengherankan budaya pengkafiran terhadap para individu yang
tidak sepaham dalam pemikiran dan interpretasi akan mewarnai *mindset* mereka.
Dari sinilah, benih-benih terorisme secara perlahan mulai menutupi logika
dan cara berpikir mereka.


Dalam bayang-bayang kesamaan pemikiran dan cara pandang yang disusupi oleh
ideologi-ideologi impor semisal Salafi dan *takfiri *tersebut, mereka
akhirnya membentuk sebuah kelompok eksklusif yang berupaya mengisolasi diri
mereka dari keramaian masyarakat sekitar. Dengan kecanggihan alat-alat
komunikasi seperti internet, koordinasi dan distribusi informasi semakin
mudah dipraktikkan. Para simpatisan dan anggota yang berkecukupan akan
menyisihkan sebagian hartanya untuk memuluskan operasi mereka.

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Institute for National Security
Studies, setidaknya ada 4% dari total populasi di Indonesia yang mendukung
jaringan ISIS. Meskipun demikian, berdasarkan riset yang sama, dukungan
masyarakat Indonesia ternyata dianggap masih lebih rendah dibandingkan
negara tetangga Malaysia yang mencapai 11,2 %.


Menurut Farah Pandit, Duta Besar keliling AS untuk komunitas Muslim dunia
yang juga seorang Muslimah yang konon telah mengunjungi 80 negara dalam
upayanya membentuk jaringan Islam moderat, dalam bukunya *How We
Win*menyimpulkan,
faktor penentu seorang Muslim menjadi seorang ekstremis dan radikal adalah
apabila dirinya merasa sedang kehilangan jati dirinya. Dia menjadi pribadi
yang termarjinalkan secara sosial dan politik dalam kehidupan
bermasyarakat, sehingga emosi tersebut mendorongnya untuk mencari jati
dirinya yang hilang di "tempat lain". Mereka menjadi orang-orang yang
kurang dirangkul dan dipahami oleh pemerintah dan warga setempat. Dalam
kehidupan berbangsa dan bernegara, mereka ini terabaikan, aspirasi mereka
terlupakan, walaupun secara ekonomi dan status sosial, banyak dari mereka
sebenarnya tak memiliki masalah.


Kesimpulannya, tugas pemerintah bersama masyarakat dalam menuntaskan
isu-isu terorisme masihlah panjang. Ideologi tersebut tidak bisa dienyahkan
secara total, namun penyebaran pengaruhnya dapat diminimalisasi jika kita
memiliki komitmen yang kuat dalam menciptakan keamanan dan stabilitas di
Tanah Air.

*Sugiri Nurdin **kandidat Ph.d Politik Timur Tengah di Tehran University*

Kirim email ke