Persoalannya, sejak Gus Dur jatuh pemerintah RI tunduk pada skenario Barat 
untuk menyerahkan penanganan terorisme hanya ke Polri, padahal kebanyakan 
teroris berkaitan dengan kelompok luar. Artinya, terorisme bukan sekedar 
masalah keamanan tetapi masalah pertahanan.
Lihat kasus kelompok Santoso misalnya. Bertahun-tahun polisi cuma kejar-kejaran 
di hutan Sulawesi, sementara korban terus berjatuhan. Atas desakan panglima, PM 
Luhut akhirnya setuju TNI membantu Polri khusus memburu Santoso. Sekali gebrak, 
beres. Kedekatan Polri dengan pemetaan teroris(me) memang jadi persoalan.
Seluruh dunia tahu siapa yang membentuk ISIS. Hillary, Obama, dan Trump, 
langsung atau tidak sudah mengakui. Tapi kebanyakan pemerintah di dunia tetap 
lebih menyukai puja-puji imperialis.
--- ilmesengero@... wrote:

Agaknyakekalahan ISIS di Syria dan Irak membawa angin baru bagi agama Islamdan 
organisasi-organisasi politiknya di Indonesia. Mereka mulaibicara keras anti 
terorisme, setia Pancasila dan pengertian IslamNusantara. Dengan adanya istilah 
Islam Nusantara bukan berartiberberda secara geografis, tetapi juga mungkin mau 
dibilang berbedadengan Islam di negeri lain, yaitu yang beraliran Sunni. 
Sampaiseberapa jauh perbedaan itu tidak jelas, karena tidak ada semacamdokumen 
doktrin baru seperti yang kalau mau dibandingkan reformasiMarthin Luther, tahun 
1517, di kalangan kaum kristiani. Kalauperbedaan dengan kaum Shia itu sudah 
pasti, maka oleh karena itukaum Shia di Madura dan Lombok dihajar begitupun 
terhadap kaumAhmadiyah yang dicap bukan Islamiah. Bagi yang mau 
membetulkankomentar saya dipersilahkan. 
https://news.detik.com/kolom/d-4498122/terorisme-di-indonesia-pasca-kekalahan-isis

umat05 April 2019, 15:02 WIB

Kolom

Terorismedi Indonesia Pasca Kekalahan ISIS

Sugiriyuhuuu - detikNews

Sugiriyuhuuu

Ilustrasi:Tim Infografis
 

 
 
 Jakarta - Setelah berhasil menangkap 11 orang yang diduga terlibat jaringan 
teroris Jamaah Ansharut Daulah (JAD), Polri kini tengah mengincar pimpinan 
kelompok tersebut untuk jaringan Bandung. Menurut pihak Polri, JAD cabang 
Bandung diduga ikut terlibat dalam beberapa aksi teror, salah satunya aksi bom 
bunuh diri di Surabaya dan Solo yang menargetkan gereja dan kantor kepolisian.

JAD sendiri merupakan bagian dari kelompok JamaahAnsharut Tauhid, sebuah 
kelompok pecahan dari Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) yang dipimpin oleh Abu 
BakarBaasyir. KelompokJAD dikabarkan memiliki afiliasi yang kuat dengan 
kelompok ISIS di Suriah dan Irak.
 
 Tentunya fenomena terorisme di Indonesia yang kini begitu marak dilakukan oleh 
kelompok JAD sangatlah menarik dicermati. Di Irak, berdasarkan pernyataan resmi 
Haider al-Abadi, Perdana Menteri Iraq saat itu pada Desember 2017, ISIS sudah 
tumbang. Sementara di Suriah, seperti klaim Presiden AS Donald Trump beberapa 
hari silam, ISIS telah dikalahkan dan 100 persen kawasan yang dikuasai oleh 
kelompok pimpinan Abu Bakar al Baghdadi tersebut dapat direbut kembali. 


Tampaknya klaim kemenangan atas ISIS tidak serta merta menghentikan operasi 
teror belasan ribu anggotanya yang masih tersisa di Suriah dan Irak, termasuk 
di Indonesia. Menurut James Jeffrey, Utusan Khusus AS untuk Global Koalisi 
Melawan ISIS, pada pertengahan Maret lalu diperkirakan masih ada 15.000 hingga 
20.000 anggota ISIS yang beroperasi di kedua negara tersebut melalui 
pembentukan sel-sel teroris.

Artinya, tumbang dan melemahnya ISIS di pusat semestinya juga melemahkan 
pergerakan para anggota dan simpatisannya di seluruh dunia, termasuk di 
Indonesia. Namun, yang terjadi justru sebaliknya. JAD diperkirakan akan masih 
tetap beroperasi dan belum mengindikasikan kelompok tersebut akan menyerah, 
seolah mereka tak mengindahkan ancaman hukuman lebih tegas sebagai konsekuensi 
hukum atas yang revisi Undang-Undang Terorisme pada Mei tahun silam.
Densus sendiri dikabarkan berencana akan melakukan pengejaran mereka di wilayah 
Jawa Barat dan Jawa Timur karena kelompok tersebut diduga akan merealisasikan 
aksi terorisme di dua provinsi tersebut. Dan tak menutup kemungkinan, jaringan 
JAD juga akan melancarkan aksi terornya di pulau-pulau lainnya selain pulau 
Jawa.

Pastinya kekalahan ISIS di kawasan Timur Tengah akan melemahkan sumber 
pendanaan bagi perekrutan dan pengoperasian simpatisan mereka di seluruh dunia, 
termasuk juga di Indonesia. Melemahnya aliran pendanaan dari pusat juga secara 
implisit sempat diakui oleh JAD yang kini tengah melakukan penggalangan dana 
sebelum mengimplementasikan beberapa aksi terornya. Namun, ideologi-ideologi 
takfiri, Salafi, radikal, dan ekstremis yang selama ini dijunjung tinggi 
organisasi tersebut, ibarat bom waktu akan kembali mewarnai jagat Tanah Air 
jika masyarakat lengah mengantisipasi penyebaran pengaruh ideologi-ideologi 
serupa.

Ideologi ekstremisme dan radikalisme memang tak akan pernah hilang seratus 
persen dari muka bumi. Ideologi tersebut sulit terkikis selama masih ada 
masyarakat yang terjebak dan tertarik untuk mempelajari serta 
mengaplikasikannya. Ibarat barang dagangan, ideologi tersebut tengah menunggui 
calon pembeli yang siap memboyongnya untuk dibagi-bagikan ke individu-individu 
lainnya..
Fenomena tersebut diperparah oleh fakta yang disampaikan Muhammad AS Hikam 
dalam bukunya Deradikalisasi bahwa negara beserta aparatnya telah kecolongan 
dalam mengantisipasi masuknya propaganda ISIS ke Indonesia, serta kurangnya 
penyebaran pemahaman Islam yang benar pada masyarakat. Ada anggapan di kalangan 
masyarakat bahwa dengan mengadopsi ideologi tersebut, mereka akan menemukan 
jalan tuntunan Islam yang benar, dan paling benar, sehingga tak mengherankan 
budaya pengkafiran terhadap para individu yang tidak sepaham dalam pemikiran 
dan interpretasi akan mewarnai mindset mereka. Dari sinilah, benih-benih 
terorisme secara perlahan mulai menutupi logika dan cara berpikir mereka.

Dalam bayang-bayang kesamaan pemikiran dan cara pandang yang disusupi oleh 
ideologi-ideologi impor semisal Salafi dan takfiri tersebut, mereka akhirnya 
membentuk sebuah kelompok eksklusif yang berupaya mengisolasi diri mereka dari 
keramaian masyarakat sekitar. Dengan kecanggihan alat-alat komunikasi seperti 
internet, koordinasi dan distribusi informasi semakin mudah dipraktikkan. Para 
simpatisan dan anggota yang berkecukupan akan menyisihkan sebagian hartanya 
untuk memuluskan operasi mereka.
Menurut penelitian yang dilakukan oleh Institute for National Security Studies, 
setidaknya ada 4% dari total populasi di Indonesia yang mendukung jaringan 
ISIS. Meskipun demikian, berdasarkan riset yang sama, dukungan masyarakat 
Indonesia ternyata dianggap masih lebih rendah dibandingkan negara tetangga 
Malaysia yang mencapai 11,2 %.

Menurut Farah Pandit, Duta Besar keliling AS untuk komunitas Muslim dunia yang 
juga seorang Muslimah yang konon telah mengunjungi 80 negara dalam upayanya 
membentuk jaringan Islam moderat, dalam bukunya How We Win menyimpulkan, faktor 
penentu seorang Muslim menjadi seorang ekstremis dan radikal adalah apabila 
dirinya merasa sedang kehilangan jati dirinya. Dia menjadi pribadi yang 
termarjinalkan secara sosial dan politik dalam kehidupan bermasyarakat, 
sehingga emosi tersebut mendorongnya untuk mencari jati dirinya yang hilang di 
"tempat lain". Mereka menjadi orang-orang yang kurang dirangkul dan dipahami 
oleh pemerintah dan warga setempat. Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, 
mereka ini terabaikan, aspirasi mereka terlupakan, walaupun secara ekonomi dan 
status sosial, banyak dari mereka sebenarnya tak memiliki masalah.

Kesimpulannya, tugas pemerintah bersama masyarakat dalam menuntaskan isu-isu 
terorisme masihlah panjang. Ideologi tersebut tidak bisa dienyahkan secara 
total, namun penyebaran pengaruhnya dapat diminimalisasi jika kita memiliki 
komitmen yang kuat dalam menciptakan keamanan dan stabilitas di Tanah Air.

Sugiri Nurdin kandidat Ph.d Politik Timur Tengah di Tehran University

Kirim email ke