https://news.detik.com/kolom/d-4498122/terorisme-di-indonesia-pasca-kekalahan-isis?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.152379769.1786929284.1554487192-300418541.1554487192
Jumat 05 April 2019, 15:02 WIB
Kolom
Terorisme di Indonesia Pasca Kekalahan ISIS
Sugiri yuhuuu - detikNews
<https://connect.detik.com/dashboard/public/jancuoye>
Sugiri yuhuuu <https://connect.detik.com/dashboard/public/jancuoye>
Share *0*
<https://news.detik.com/kolom/d-4498122/terorisme-di-indonesia-pasca-kekalahan-isis?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.152379769.1786929284.1554487192-300418541.1554487192#>
Tweet
<https://news.detik.com/kolom/d-4498122/terorisme-di-indonesia-pasca-kekalahan-isis?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.152379769.1786929284.1554487192-300418541.1554487192#>
Share *0*
<https://news.detik.com/kolom/d-4498122/terorisme-di-indonesia-pasca-kekalahan-isis?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.152379769.1786929284.1554487192-300418541.1554487192#>
0 komentar
<https://news.detik.com/kolom/d-4498122/terorisme-di-indonesia-pasca-kekalahan-isis?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.152379769.1786929284.1554487192-300418541.1554487192#>
Terorisme di Indonesia Pasca Kekalahan ISIS Ilustrasi: Tim Infografis
*Jakarta* - Setelah berhasil menangkap 11 orang yang diduga terlibat
jaringan teroris Jamaah Ansharut Daulah (JAD), Polri kini tengah
mengincar pimpinan kelompok tersebut untuk jaringan Bandung. Menurut
pihak Polri, JAD cabang Bandung diduga ikut terlibat dalam beberapa aksi
teror, salah satunya aksi bom bunuh diri di Surabaya dan Solo yang
menargetkan gereja dan kantor kepolisian.
JAD sendiri merupakan bagian dari kelompok JamaahAnsharut Tauhid, sebuah
kelompok pecahan dari Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) yang dipimpin
oleh Abu BakarBaasyir. KelompokJAD dikabarkan memiliki afiliasi yang
kuat dengan kelompok ISIS di Suriah dan Irak.
Tentunya fenomena terorisme di Indonesia yang kini begitu marak
dilakukan oleh kelompok JAD sangatlah menarik dicermati. Di Irak,
berdasarkan pernyataan resmi Haider al-Abadi, Perdana Menteri Iraq saat
itu pada Desember 2017, ISIS sudah tumbang. Sementara di Suriah, seperti
klaim Presiden AS Donald Trump beberapa hari silam, ISIS telah
dikalahkan dan 100 persen kawasan yang dikuasai oleh kelompok pimpinan
Abu Bakar al Baghdadi tersebut dapat direbut kembali.
Tampaknya klaim kemenangan atas ISIS tidak serta merta menghentikan
operasi teror belasan ribu anggotanya yang masih tersisa di Suriah dan
Irak, termasuk di Indonesia. Menurut James Jeffrey, Utusan Khusus AS
untuk Global Koalisi Melawan ISIS, pada pertengahan Maret lalu
diperkirakan masih ada 15.000 hingga 20.000 anggota ISIS yang beroperasi
di kedua negara tersebut melalui pembentukan sel-sel teroris.
Artinya, tumbang dan melemahnya ISIS di pusat semestinya juga melemahkan
pergerakan para anggota dan simpatisannya di seluruh dunia, termasuk di
Indonesia. Namun, yang terjadi justru sebaliknya. JAD diperkirakan akan
masih tetap beroperasi dan belum mengindikasikan kelompok tersebut akan
menyerah, seolah mereka tak mengindahkan ancaman hukuman lebih tegas
sebagai konsekuensi hukum atas yang revisi Undang-Undang Terorisme pada
Mei tahun silam.
Densus sendiri dikabarkan berencana akan melakukan pengejaran mereka di
wilayah Jawa Barat dan Jawa Timur karena kelompok tersebut diduga akan
merealisasikan aksi terorisme di dua provinsi tersebut. Dan tak menutup
kemungkinan, jaringan JAD juga akan melancarkan aksi terornya di
pulau-pulau lainnya selain pulau Jawa.
Pastinya kekalahan ISIS di kawasan Timur Tengah akan melemahkan sumber
pendanaan bagi perekrutan dan pengoperasian simpatisan mereka di seluruh
dunia, termasuk juga di Indonesia. Melemahnya aliran pendanaan dari
pusat juga secara implisit sempat diakui oleh JAD yang kini tengah
melakukan penggalangan dana sebelum mengimplementasikan beberapa aksi
terornya. Namun, ideologi-ideologi /takfiri/, Salafi, radikal, dan
ekstremis yang selama ini dijunjung tinggi organisasi tersebut, ibarat
bom waktu akan kembali mewarnai jagat Tanah Air jika masyarakat lengah
mengantisipasi penyebaran pengaruh ideologi-ideologi serupa.
Ideologi ekstremisme dan radikalisme memang tak akan pernah hilang
seratus persen dari muka bumi. Ideologi tersebut sulit terkikis selama
masih ada masyarakat yang terjebak dan tertarik untuk mempelajari serta
mengaplikasikannya. Ibarat barang dagangan, ideologi tersebut tengah
menunggui calon pembeli yang siap memboyongnya untuk dibagi-bagikan ke
individu-individu lainnya.
Fenomena tersebut diperparah oleh fakta yang disampaikan Muhammad AS
Hikam dalam bukunya /Deradikalisasi/ bahwa negara beserta aparatnya
telah kecolongan dalam mengantisipasi masuknya propaganda ISIS ke
Indonesia, serta kurangnya penyebaran pemahaman Islam yang benar pada
masyarakat. Ada anggapan di kalangan masyarakat bahwa dengan mengadopsi
ideologi tersebut, mereka akan menemukan jalan tuntunan Islam yang
benar, dan paling benar, sehingga tak mengherankan budaya pengkafiran
terhadap para individu yang tidak sepaham dalam pemikiran dan
interpretasi akan mewarnai /mindset/ mereka. Dari sinilah, benih-benih
terorisme secara perlahan mulai menutupi logika dan cara berpikir mereka.
Dalam bayang-bayang kesamaan pemikiran dan cara pandang yang disusupi
oleh ideologi-ideologi impor semisal Salafi dan /takfiri /tersebut,
mereka akhirnya membentuk sebuah kelompok eksklusif yang berupaya
mengisolasi diri mereka dari keramaian masyarakat sekitar. Dengan
kecanggihan alat-alat komunikasi seperti internet, koordinasi dan
distribusi informasi semakin mudah dipraktikkan. Para simpatisan dan
anggota yang berkecukupan akan menyisihkan sebagian hartanya untuk
memuluskan operasi mereka.
Menurut penelitian yang dilakukan oleh Institute for National Security
Studies, setidaknya ada 4% dari total populasi di Indonesia yang
mendukung jaringan ISIS. Meskipun demikian, berdasarkan riset yang sama,
dukungan masyarakat Indonesia ternyata dianggap masih lebih rendah
dibandingkan negara tetangga Malaysia yang mencapai 11,2 %.
Menurut Farah Pandit, Duta Besar keliling AS untuk komunitas Muslim
dunia yang juga seorang Muslimah yang konon telah mengunjungi 80 negara
dalam upayanya membentuk jaringan Islam moderat, dalam bukunya /How We
Win/ menyimpulkan, faktor penentu seorang Muslim menjadi seorang
ekstremis dan radikal adalah apabila dirinya merasa sedang kehilangan
jati dirinya. Dia menjadi pribadi yang termarjinalkan secara sosial dan
politik dalam kehidupan bermasyarakat, sehingga emosi tersebut
mendorongnya untuk mencari jati dirinya yang hilang di "tempat lain".
Mereka menjadi orang-orang yang kurang dirangkul dan dipahami oleh
pemerintah dan warga setempat. Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,
mereka ini terabaikan, aspirasi mereka terlupakan, walaupun secara
ekonomi dan status sosial, banyak dari mereka sebenarnya tak memiliki
masalah.
Kesimpulannya, tugas pemerintah bersama masyarakat dalam menuntaskan
isu-isu terorisme masihlah panjang. Ideologi tersebut tidak bisa
dienyahkan secara total, namun penyebaran pengaruhnya dapat
diminimalisasi jika kita memiliki komitmen yang kuat dalam menciptakan
keamanan dan stabilitas di Tanah Air.
*Sugiri Nurdin */kandidat Ph.d Politik Timur Tengah di Tehran University/
*(mmu/mmu)*
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar
tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini
<https://news.detik.com/kolom/kirim> sekarang!