Oo.. jadi yang Anda kagumi dari Sri Mulyani itu cuma riwayat pekerjaannya 
(pernah menduduki ini-itu), bukan prestasi intelektualnya. 

Apabolehbuat, dengan kedudukannya sebagai menteri perutangan yang cuma 
menghasilkan pertumbuhan 5% kelihatannya betul, ijazah dan gelar yang disabet 
Sri Mulyani cuma membuktikan dia pernah sekolah (sampai luarnegeri) tapi tidak 
membuktikan dia pernah berpikir. Cuma pegawai / bawahan yang baik dan penurut 
makanya terlibat skandal Century. 

Masih penasaran, apa betul Hadiah Nobel itu bias gender?
--- bhjo@... wrote:
Saya setuju dgn bung Sunny bhw Hadiah Nobel utk bidang Ekonomi standar nya jauh 
lebih tinggi daripada seperti Hadiah Nobel utk Perdamaian seperti yg diberikan 
kpd Ramos-Horta atau Obama. Juga bukan cuma utk yg pernah atau banyak 
mengeluarkan publikasi saja atau yg punya PhD atau yg pernah menjadi Menteri 
Keuangan atau yg pernah bekerja di posisi yg tinggi di World Bank dll..
Pemenang Hadiah Nobel biasanya jauh diatas pemegang PhD degree tetapi dia yg 
juga memimpin institusi dimana dia mendidik calon2 PhD student dan yg mempunyai 
menciptakan ide2/teori2 baru. Yg lebih penting dimana ciptaan teori nya akan 
mempengaruhi kenyataan/praktek (baru) diseluruh dunia.
Saya respek dgn Sri Mulyani dgn riwayat pekerjaannya tetapi, saya kira, dia 
masih jauh utk dijadikan calon pemenang Hadiah Nobel di bidang Ekonomi.
--- ajegilelu@... wrote :

BerartiSriMulyani harus mengalihkan kebolehannya menulis puisi panjang 
tentangmenteri pencetak utang menjadi karya tulis ilmiah bertema sama. 
Sayangkan kalau ilmunya dari universitas luarnegeri dan pengalamannya di 
BankDunia hanya dapat keplok dan gelar bertubi-tubi sebagai menterikeuangan 
terbaik. Dengan mengantongi Hadiah Nobel siapa tahu tambahterkenal karena 
menjadi perempuan kedua peraih Nobel di bidangekonomi, walau tidak ada 
pengaruhnya terhadap pertumbuhan yang sudah 20tahunmentok di 5%. 

Oya, apa betul Nobel Prize bias gender?

--- ilmesengero@... wrote:
Hadiah Nobeldiberikan bukan karena dinobatkanmenteri keuangan terbaik, tetapi 
karyailmu pengetahuan yang biasanya dipublikasi. Kalau Hadiah nobel 
untukperdamaian yang diberikan di Oslo, tidak perlu adanya publikaasi 
tentangperdamaian tetapi pekerjaan di lapangan.
Disampinghadiah Nobel  yang diciptakan oleh Alfred Nobel, ada juga hadiah 
yangdisebut alternative Noble Prize atau  Right Lifehood Award  jugadiberikan 
di Stockholm.. Hadiah ini diciptakan oleh filantropist GermanSwedia bernama 
Jacob von Uexkull pada 1980. Dua orang yang terkaitdengan masalah HAM di 
Indonesia telah menerima hadiah tsb. yaitu CarmelBudiardjo  pendiri organisasi 
Tapol di London dan Munir pembela HAM yangdirancun mati di pesawat terbang 
antara Singapura-Amsterdam.
On Mon, Apr 8, 2019 at 10:46 AM ajeg wrote:
Maksudnya, pertumbuhan yang mentok di angka rata-rata selama 20 tahun itu (5%) 
yang membuat Sri Mulyani bertubi-tubi dinobatkan jadi menteri keuangan terbaik 
versi internasional?
Ya kita tunggu deh berita Sri Mulyani ditomplok rejeki Nobel.
--- bhjo@... wrote:
Ya, betul setahu saya,Berkeley unggul di bidang ekonomi tertentu dan University 
of Chicagounggul dalam bidang ekonomi tertentu yg lain. Entah, mana yg 
lebihbanyak memproduksi Pemenang Hadiah Nobel.
TapiSri Mulyani, kualifikasi dan pengalaman akademik nya, lebih bagus dariKwik 
Kian Gie. Kalau Amien Rais, sih, barangkali boleh diragukankualifikasinya 
walaupun dari University of Chicago.
--- jonathangoeij@... wrote :
Amien Rais juga alumni University of Chicago.
Dalam hal apa Univ. Chicago lebih terkenal/baik dibanding UC Berkeley?Apa 
perbedaan pandangan ekonomi antara Chicago dan Berkeley?

--- bhjo@... wrote :

Tanpa ekonom, ekonom pasti negatf. Menteri Sri Mulyani, barangkali ekonom yg 
terbaik di Indonesia belakangan ini
Bukan Mafia dari Berkeley, tetapi dari University Chicago yg terkenal.

Kirim email ke