*Mengenai LBGT, bagi yang mau ganti kelamin, misalnya laki-laki dijadikan perempuan dan sebaliknya, ada salah satu negeri muslim yang ahli kelamin bisa membantu. Negeri itu adalah Maroko*.
On Tue, Apr 9, 2019 at 11:02 PM Jonathan Goeij [email protected] [GELORA45] <[email protected]> wrote: > > > Menurut saya panitia Nobel lebih baik fokus pada work product tanpa harus > melihat pembuatnya lelaki wanita LGBT ataupun dari negara mana etnis apa. > Fokus pada merit, tidak perlu terpengaruh pada political correctness. Nobel > perdamaian mungkin lain lagi. > > Sedang untuk memperbanyak wanita dalam STEM lebih tergantung pada > minat/bakat individual, keluarga, sekolah dan perguruan tinggi, dan mungkin > juga lapangan pekerjaan yg tersedia. > > > ---In [email protected], <ajegilelu@...> wrote : > > Dengan perbandingan yang jomplang begitu mestinya panitia Nobel tergerak > menjaga kredibilitasnya dengan meningkatkan peran ilmiah kaum perempuan. > Ilmu memang tidak membedakan jenis kelamin tetapi secara alamiah kodrat > perempuan tak bisa dilawan. Mungkin perlu ada penyesuaian standar / > ekspektasi mengingat kondisi alamiah para ilmuwati. > > Membiarkan perbandingan sejomplang itu rasanya kok seperti masih di abad > pertengahan. Samasekali tidak intelek sekalipun cuma sebagai lembaga > bagi-bagi hadiah. > > --- jonathangoeij@... wrote: > > Kalau dilihat di fakultas2 STEM jumlah mahasiswa wanita memang sedikit > sekali dibanding pria, apalagi dimasa lalu langka. Setelah lulus mereka yg > jadi researcher makin mrotolin. > > --- ajegilelu@... wrote : > > Mungkin di bidang perdamaian paling banyak perempuan yang dapat Hadiah > Nobel. Sedangkan di bidang sains-teknologi baru tahun 2018 lalu ada lagi > perempuan penerima hadiah bidang fisika, alias perempuan Nobel saintis > ketiga sepanjang 100 tahun. Kenapa begitu langka perempuan Nobel di bidang > sains? Seorang kawan dengan yakin bilang karena perempuan kurang suka > matematik dan angka. Tentu saja saya bantah karena punya banyak fakta, > terutama istri. Jago sekali dia menghitung angka-angka pengeluaran dan > pendapatan, hahaha... > > Ya, nyaris tidak ada perempuan yang kesulitan menghitung uang belanja. > Ketelitian kaum perempuan mengurus angka-angka neraca sangat handal. Tidak > perlu macam-macam teori ekonomi dan kadang cuma perlu ketelitian lebih > ditambah info pasar untuk dapatkan sesuatu yang - menurutnya - lebih > berharga. Dengan kehebatan perempuan mengurus ekonomi begini, berapa > perempuan yang sudah Nobel beri hadiah dalam urusan ekonomi? > > Secara keseluruhan, perempuan Nobel kayaknya tidak sampai 10% dari lelaki > yang dihadiahi Nobel. > > --- jonathangoeij@... wrote: > > Saya lihat dlm 10 th terakhir ini cukup banyak wanita yg jd pemenang nobel > perdamaian. > > --- ajegilelu@... wrote : > > Oo.. jadi yang Anda kagumi dari Sri Mulyani itu cuma riwayat pekerjaannya > (pernah menduduki ini-itu), bukan prestasi intelektualnya. > > Apabolehbuat, dengan kedudukannya sebagai menteri perutangan yang cuma > menghasilkan pertumbuhan 5% kelihatannya betul, ijazah dan gelar yang > disabet Sri Mulyani cuma membuktikan dia pernah sekolah (sampai luarnegeri) > tapi tidak membuktikan dia pernah berpikir. Cuma pegawai / bawahan yang > baik dan penurut makanya terlibat skandal Century. > > Masih penasaran, apa betul Hadiah Nobel itu bias gender? > > --- bhjo@... wrote: > > Saya setuju dgn bung Sunny bhw Hadiah Nobel utk bidang Ekonomi standar nya > jauh lebih tinggi daripada seperti Hadiah Nobel utk Perdamaian seperti yg > diberikan kpd Ramos-Horta atau Obama. Juga bukan cuma utk yg pernah atau > banyak mengeluarkan publikasi saja atau yg punya PhD atau yg pernah menjadi > Menteri Keuangan atau yg pernah bekerja di posisi yg tinggi di World Bank > dll.. > > Pemenang Hadiah Nobel biasanya jauh diatas pemegang PhD degree tetapi dia > yg juga memimpin institusi dimana dia mendidik calon2 PhD student dan yg > mempunyai menciptakan ide2/teori2 baru. Yg lebih penting dimana ciptaan > teori nya akan mempengaruhi kenyataan/praktek (baru) diseluruh dunia. > > Saya respek dgn Sri Mulyani dgn riwayat pekerjaannya tetapi, saya kira, > dia masih jauh utk dijadikan calon pemenang Hadiah Nobel di bidang Ekonomi. > > --- ajegilelu@... wrote : > > Berarti Sri Mulyani harus mengalihkan kebolehannya menulis puisi panjang > tentang menteri pencetak utang menjadi karya tulis ilmiah bertema sama. > Sayang kan kalau ilmunya dari universitas luarnegeri dan pengalamannya di > Bank Dunia hanya dapat keplok dan gelar bertubi-tubi sebagai menteri > keuangan terbaik. Dengan mengantongi Hadiah Nobel siapa tahu tambah > terkenal karena menjadi perempuan kedua peraih Nobel di bidang ekonomi, > walau tidak ada pengaruhnya terhadap pertumbuhan yang sudah 20 tahun mentok > di 5%. > > Oya, apa betul Nobel Prize bias gender? > > --- ilmesengero@... wrote: > > Hadiah Nobel diberikan bukan karena dinobatkanmenteri keuangan terbaik, > tetapi karya ilmu pengetahuan yang biasanya dipublikasi. Kalau Hadiah nobel > untuk perdamaian yang diberikan di Oslo, tidak perlu adanya publikaasi > tentang perdamaian tetapi pekerjaan di lapangan. > > Disamping hadiah Nobel yang diciptakan oleh Alfred Nobel, ada juga hadiah > yang disebut alternative Noble Prize atau Right Lifehood Award juga > diberikan di Stockholm.. Hadiah ini diciptakan oleh filantropist German > Swedia bernama Jacob von Uexkull pada 1980. Dua orang yang terkait dengan > masalah HAM di Indonesia telah menerima hadiah tsb. yaitu Carmel Budiardjo > pendiri organisasi Tapol di London dan Munir pembela HAM yang dirancun mati > di pesawat terbang antara Singapura-Amsterdam. > > On Mon, Apr 8, 2019 at 10:46 AM ajeg wrote: > > Maksudnya, pertumbuhan yang mentok di angka rata-rata selama 20 tahun itu > (5%) yang membuat Sri Mulyani bertubi-tubi dinobatkan jadi menteri > keuangan terbaik versi internasional? > > Ya kita tunggu deh berita Sri Mulyani ditomplok rejeki Nobel. > > --- bhjo@... wrote: > > Ya, betul setahu saya, Berkeley unggul di bidang ekonomi tertentu dan > University of Chicago unggul dalam bidang ekonomi tertentu yg lain. Entah, > mana yg lebih banyak memproduksi Pemenang Hadiah Nobel. > > Tapi Sri Mulyani, kualifikasi dan pengalaman akademik nya, lebih bagus > dari Kwik Kian Gie. Kalau Amien Rais, sih, barangkali boleh diragukan > kualifikasinya walaupun dari University of Chicago. > > --- jonathangoeij@... wrote : > > Amien Rais juga alumni University of Chicago. > > Dalam hal apa Univ. Chicago lebih terkenal/baik dibanding UC Berkeley? > Apa perbedaan pandangan ekonomi antara Chicago dan Berkeley? > > --- bhjo@... wrote : > > Tanpa ekonom, ekonom pasti negatf. Menteri Sri Mulyani, barangkali ekonom > yg terbaik di Indonesia belakangan ini > > Bukan Mafia dari Berkeley, tetapi dari University Chicago yg terkenal. > > > >
