*Jarangnya perempuan mendapat hadiah nobel di bidang sains, mungkin karena
mereka mempunyai tanggung dua tanggung jawab sebagai isteri mengurus rumah
tangga dan karier dalam bidang penyelidikan sains. Abibatnya salah satu
dari dua tanggung jawab ini, menjadi korban, yaitu lapangan penyelidikan
sains. Saya kira demikian.*

On Tue, Apr 9, 2019 at 9:16 AM ajeg [email protected] [GELORA45] <
[email protected]> wrote:

>
>
> Mungkin di bidang perdamaian paling banyak perempuan yang dapat Hadiah
> Nobel. Sedangkan di bidang sains-teknologi baru tahun 2018 lalu ada lagi
> perempuan penerima hadiah bidang fisika, alias perempuan Nobel saintis
> ketiga sepanjang 100 tahun. Kenapa begitu langka perempuan Nobel di bidang
> sains? Seorang kawan dengan yakin bilang karena perempuan kurang suka
> matematik dan angka. Tentu saja saya bantah karena punya banyak fakta,
> terutama istri. Jago sekali dia menghitung angka-angka pengeluaran dan
> pendapatan, hahaha...
>
> Ya, nyaris tidak ada perempuan yang kesulitan menghitung uang belanja.
> Ketelitian kaum perempuan mengurus angka-angka neraca sangat handal. Tidak
> perlu macam-macam teori ekonomi dan kadang cuma perlu ketelitian lebih
> ditambah info pasar untuk dapatkan sesuatu yang - menurutnya - lebih
> berharga. Dengan kehebatan perempuan mengurus ekonomi begini, berapa
> perempuan yang sudah Nobel beri hadiah dalam urusan ekonomi?
>
> Secara keseluruhan, perempuan Nobel kayaknya tidak sampai 10% dari lelaki
> yang dihadiahi Nobel.
>
> --- jonathangoeij@... wrote:
>
> Saya lihat dlm 10 th terakhir ini cukup banyak wanita yg jd pemenang nobel
> perdamaian.
>
> --- ajegilelu@... wrote :
>
> Oo.. jadi yang Anda kagumi dari Sri Mulyani itu cuma riwayat pekerjaannya
> (pernah menduduki ini-itu), bukan prestasi intelektualnya.
>
> Apabolehbuat, dengan kedudukannya sebagai menteri perutangan yang cuma
> menghasilkan pertumbuhan 5% kelihatannya betul, ijazah dan gelar yang
> disabet Sri Mulyani cuma membuktikan dia pernah sekolah (sampai luarnegeri)
> tapi tidak membuktikan dia pernah berpikir. Cuma pegawai / bawahan yang
> baik dan penurut makanya terlibat skandal Century.
>
> Masih penasaran, apa betul Hadiah Nobel itu bias gender?
>
> --- bhjo@... wrote:
>
> Saya setuju dgn bung Sunny bhw Hadiah Nobel utk bidang Ekonomi standar nya
> jauh lebih tinggi daripada seperti Hadiah Nobel utk Perdamaian seperti yg
> diberikan kpd Ramos-Horta atau Obama. Juga bukan cuma utk yg pernah atau
> banyak mengeluarkan publikasi saja atau yg punya PhD atau yg pernah menjadi
> Menteri Keuangan atau yg pernah bekerja di posisi yg tinggi di World Bank
> dll..
>
> Pemenang Hadiah Nobel biasanya jauh diatas pemegang PhD degree tetapi dia
> yg juga memimpin institusi dimana dia mendidik calon2 PhD student dan yg
> mempunyai menciptakan ide2/teori2 baru. Yg lebih penting dimana ciptaan
> teori nya akan mempengaruhi kenyataan/praktek (baru) diseluruh dunia.
>
> Saya respek dgn Sri Mulyani dgn riwayat pekerjaannya tetapi, saya kira,
> dia masih jauh utk dijadikan calon pemenang Hadiah Nobel di bidang Ekonomi.
>
> --- ajegilelu@... wrote :
>
> Berarti Sri Mulyani harus mengalihkan kebolehannya menulis puisi panjang
> tentang menteri pencetak utang menjadi karya tulis ilmiah bertema sama.
> Sayang kan kalau ilmunya dari universitas luarnegeri dan pengalamannya di
> Bank Dunia hanya dapat keplok dan gelar bertubi-tubi sebagai menteri
> keuangan terbaik. Dengan mengantongi Hadiah Nobel siapa tahu tambah
> terkenal karena menjadi perempuan kedua peraih Nobel di bidang ekonomi,
> walau tidak ada pengaruhnya terhadap pertumbuhan yang sudah 20 tahun mentok
> di 5%.
>
> Oya, apa betul Nobel Prize bias gender?
>
> --- ilmesengero@... wrote:
>
> Hadiah Nobel diberikan bukan karena dinobatkanmenteri keuangan terbaik,
> tetapi karya ilmu pengetahuan yang biasanya dipublikasi. Kalau Hadiah nobel
> untuk perdamaian yang diberikan di Oslo, tidak perlu adanya publikaasi
> tentang perdamaian tetapi pekerjaan di lapangan.
>
> Disamping hadiah Nobel  yang diciptakan oleh Alfred Nobel, ada juga hadiah
> yang disebut alternative Noble Prize atau  Right Lifehood Award  juga
> diberikan di Stockholm.. Hadiah ini diciptakan oleh filantropist German
> Swedia bernama Jacob von Uexkull pada 1980. Dua orang yang terkait dengan
> masalah HAM di Indonesia telah menerima hadiah tsb. yaitu Carmel Budiardjo
> pendiri organisasi Tapol di London dan Munir pembela HAM yang dirancun mati
> di pesawat terbang antara Singapura-Amsterdam.
>
> On Mon, Apr 8, 2019 at 10:46 AM ajeg wrote:
>
> Maksudnya, pertumbuhan yang mentok di angka rata-rata selama 20 tahun itu
> (5%) yang membuat Sri Mulyani bertubi-tubi dinobatkan jadi menteri
> keuangan terbaik versi internasional?
>
> Ya kita tunggu deh berita Sri Mulyani ditomplok rejeki Nobel.
>
> --- bhjo@... wrote:
>
> Ya, betul setahu saya, Berkeley unggul di bidang ekonomi tertentu dan
> University of Chicago unggul dalam bidang ekonomi tertentu yg lain. Entah,
> mana yg lebih banyak memproduksi Pemenang Hadiah Nobel.
>
> Tapi Sri Mulyani, kualifikasi dan pengalaman akademik nya, lebih bagus
> dari Kwik Kian Gie. Kalau Amien Rais, sih, barangkali boleh diragukan
> kualifikasinya walaupun dari University of Chicago.
>
> --- jonathangoeij@... wrote :
>
> Amien Rais juga alumni University of Chicago.
>
> Dalam hal apa Univ. Chicago lebih terkenal/baik dibanding UC Berkeley?
> Apa perbedaan pandangan ekonomi antara Chicago dan Berkeley?
>
> --- bhjo@... wrote :
>
> Tanpa ekonom, ekonom pasti negatf. Menteri Sri Mulyani, barangkali ekonom
> yg terbaik di Indonesia belakangan ini
> Bukan Mafia dari Berkeley, tetapi dari University Chicago yg terkenal.
>
> 
>

Kirim email ke