Kutipan : Menutupi kesalahan dengan kesalahan itu kalau bukan bodoh ya ada
itikad tidak baik. Sampah
1. Kesalahan apa yang ditutupi ? Kesalahan terhadap siapa?
2. Ditutupi dengan kesalahan apa ?
Kutipan : Wajar dia sakit hati ketika dibuang dari kereta di sepur 01.
1. Sakit hati terhadap siapa ? Terhadap 01 ?
2. Ucapannya apa yang mencela atau merugikan 01 ?
3. Kalau 01 dirugikan oleh ucapannya, kok bukan 01 yang beri reaksi ?
     Kok malah Dahnil Anzar dari 02 ?




Pada tanggal Sel, 30 Apr 2019 pukul 06.37 ajeg [email protected]
[GELORA45] <[email protected]> menulis:

>
>
> Menutupi kesalahan dengan kesalahan itu kalau bukan bodoh ya ada itikad
> tidak baik. Sampah.
>
> Apakah Mahfud bodoh? Silakan ditimbang sendiri antara
> kesalahan-kesalahannya itu dan kondisinya sebagai ahli hukum tatanegara +
> ketua BPIP. Apakah Mahfud beritikad buruk? Ya silakan ditimbang dengan
> sikon yang ada.
>
> Yang jelas gelibat-gelibetnya sejak pensiun dari MK memang seperti orang
> yang ketinggalan kereta, lari sana lari sini mengejar kereta seadanya
> supaya ikut terangkut biarpun cuma di sambungan gerbong. Pengin tetap
> eksis.
>
> Wajar dia sakit hati ketika dibuang dari kereta di sepur 01. Manusiawi
> saja untuk sakit hati. Tapi sebagai orang berumur mustinya kan bisa ngono
> yo ngono ning ojo ngono. Cukup bersedih saja seperti laron lain yang tidak
> kebagian jatah cahaya, hahaha....
>
> --- jonathangoeij@... wrote:
>
>
>
> Saya kira pen-dikotomi-an para pemilih sebagai "garis keras" yg
> berkonotasi jelek adalah sebuah kesalahan besar, sungguhpun kemudian coba
> diperhalus dengan kata "fanatik" yang lucunya juga berkonotasi jelek.
> Lagipula dengan para pemilih yang tersebar sedemikian rupa lha apa iya
> semuanya "garis keras" dan/atau "fanatik"
>
> Ada cukup banyak tokoh yg dulunya pendukung Prabowo kemudian beralih ke
> Jokowi, diantara Mahfud MD ini dan cawapres Ma'ruf Amin. Apakah mau
> dibilang "mantan garis keras"?
>
> Btw, kelihatannya ada cukup banyak yg kemudian berbaris dibelakang Ma'ruf
> Amin, mungkinkah minta jatah? ha ha ha ha.
>
>
> --- ajegilelu@... wrote :
>
> Saya pernah tanya di mana cawapres Ma'ruf karena sejak 17 April seperti
> ditelan bumi. Sebaliknya, Mahfud kelihatan di mana-mana dan cerewet sekali.
>
> Melihat gelibat-gelibetnya, Mahfud ini frustasi karena dibuang dan mau
> balas dendam. Manusiawi saja kecewa dipermalukan secara nasional begitu.
> Hanya saja cara yang dia pilih untuk tetap eksis dan "didengar" terlalu
> kekanak-kanakan yaitu, melempar isu kegemaran PDIP, isu perpecahan, lalu
> pura-pura jadi pahlawan kesorean dengan menyuruh Jokowi (sebagai presiden,
> bukan capres) untuk rekonsiliasi.
>
> Terus terang saya tidak pernah meragukan kepinteran dan gelar akademik
> Mahfud yang serba sampah. Sekarang ini kewarasan akal sehat dan kondisi
> kejiwaannya betul-betul menggelikan untuk ukuran tokoh nasional. Membawa
> dendam pribadinya ke masyarakat.
>
> --- jonathangoeij@... wrote:
>
> kalau tdk salah menurut quick count Prabowo menang di 18 propinsi
> sedangkan Jokowo cuman 16 propinsi, artinya 18 propinsi garis keras. gawat
> juga.
>
> ---djiekh@... wrote :
>
> Lha lalu kenyataannya kan daerah bekas Di/TII Kartosuwiryo, daerah ex
> DUI/TII Kahar Muzakar.
> daerah ex DI Daud Bureueh, daerah ex PRRI. Dan Prabowo anak ex tokoh PRRI?
>
> Pada tanggal Sen, 29 Apr 2019 pukul 02.13 Sunny ambon menulis:
>
>
> https://www.suara.com/news/2019/04/28/230357/dahnil-anzar-sebut-pernyataan-mahfud-md-bukanlah-seorang-pancasilais
>
> *Dahnil Anzar Sebut Pernyataan Mahfud MD Bukanlah Seorang Pancasilais*
>
>
>
> 
>

Kirim email ke