Di kota Solo yang di zaman bung Karno punya walikota PKI : Oetomo Ramelan, Islamnya dari daerah Kauman, Lojiwetan dan pasar Kliwon sangat kuat dan keras, terlihat pada waktu kerusuhan dan pembakaran Solo tahun 1998. Tetapi dalam pemilihan ke dua jabatan walikota, Jokowi dapat 90 % suara. Luar biasa. Ya, kalau dilihat dari sejarahnya, tokoh PKI Solo asalnya dari Sarekat Islam.
Pada tanggal Sel, 30 Apr 2019 pukul 04.52 ChanCT [email protected] [GELORA45] <[email protected]> menulis: > > > INGAT, ... sekalipun Jawa Timur suara Jokowi menang, tidak berarti suara > Prabowo kosong, NOL besar! TIDAK bisa hanya melihat Jawa Timur basis suara > kubu-01, lalu tidak ada Islam radikalis disitu! Lepaskan kaca mata kuda > anda! Dalam menghadapi basis suara kubu-01 yg mayoritas itu, sebaliknya > kelompok Islam radikal disitu bisa lebih garang dan GANAS, ... karena > terjepit dan berusaha lebih keras melawan dan membuat kekacauan, chaos, .... > !!! > > Dan itulah yang terjadi dan anda lihat, ...! > > > Jonathan Goeij 於 30/4/2019 10:06 寫道: > > > Berkisar pertengahan th 1996-an saya bersama rombongan mengunjungi gereja2 > kecil didaerah pelosok Jawa Timur, tidak berapa lama sekitar 2-3 bulan > setelah itu banyak gereja2 itu yg dibakar, dirusak, bahkan ada pendeta > sekeluarga yg dibakar hidup2 didalam gerejanya. Di Jawa Tengah nisan salib > kuburan-pun digergaji, mereka yg non-Islam diusir keluar. Baik Jawa Timur > ataupun Jawa Tengah merupakan basis pemilih Jokowi-Ma'ruf. Apakah kemudian > mau dibilang Jokowi-Ma'ruf didukung/dipilih garis keras? > > Mengatakan para pemilih sekian puluh bahkan ratusan juta garis keras > adalah hal yg absurd. > > On Monday, April 29, 2019, 8:28:39 PM EDT, ChanCT <[email protected]> > <[email protected]> wrote: > > > Tentu menjadi salah kalau kita jadi main gebuk semua pemilih kubu-02 > adalah "garis keras" dan fanatik Islam, ... Tapi, juga tidak salah kalau > diperhatikan kelompok "garis keras, "fanatik" Islam itu lah pemilih kuat > kubu-02! Jadi, ... yang benar dan bijaksana kita pilah-pilah saja saat > melihat dan menilai orang perorang pendukung dan pemilih kubu-02 itu, tidak > main gebyah uyah. > > Selama ini yang berhasil saya ikuti pembicaraan Mahfud cukup baik dan > mencjernihkan, kok. Tidak terdengar suara sumbang keluar dari mulutnya, > sikap perpindahan dukungan dari semula menjadi tim sukses Prabowo ditahun > 2014 kemudian menjadi pendukung Jokowi bahkan dibatalkan jadi cawapres juga > cukup baik dan bijaksana. Bukan dirinya sendiri yg diutamakan, tapi > kepentingan negara dan rakyat! > > Atau bung Ajeg bisa memberikan penjelasan lebih lanjut, mengapa menyatakan > serba SAMPAH yang keluar dari mulut Mahfud??? > > Sedang Maruf Amin yg dinobatkan Jokowi menjadi cawapresnya itu, sekalipun > mungkin belum bisa dikatakan "garis keras", tapi sulit disangkal tergolong > Islam fanatik yg juga bertujuan berlakukan syariat Islam dinegeri ini! > Hanya saja penekanannya berlakukan syariat Islam secara damai, dijalankan > dan diperjuangkan melalui jalur konstitusi saja, ... Makanya Maruf berada > dalam barisan NU dan saat jadi ketua MUI bisa keluarkan fatwa Ahok menodai > Agama Islam, sekalipun akhirnya mengakui "terpaksa" akibat tekanan massa > ketika itu! > > > > Jonathan Goeij [email protected] [GELORA45] 於 30/4/2019 6:13 寫道: > > > Saya kira pen-dikotomi-an para pemilih sebagai "garis keras" yg > berkonotasi jelek adalah sebuah kesalahan besar, sungguhpun kemudian coba > diperhalus dengan kata "fanatik" yang lucunya juga berkonotasi jelek. > Lagipula dengan para pemilih yang tersebar sedemikian rupa lha apa iya > semuanya "garis keras" dan/atau "fanatik" > > Ada cukup banyak tokoh yg dulunya pendukung Prabowo kemudian beralih ke > Jokowi, diantara Mahfud MD ini dan cawapres Ma'ruf Amin. Apakah mau > dibilang "mantan garis keras"? > > Btw, kelihatannya ada cukup banyak yg kemudian berbaris dibelakang Ma'ruf > Amin, mungkinkah minta jatah? ha ha ha ha. > > > ---In [email protected], <ajegilelu@...> <ajegilelu@...> wro te : > > Saya pernah tanya di mana cawapres Ma'ruf karena sejak 17 April seperti > ditelan bumi. Sebaliknya, Mahfud kelihatan di mana-mana dan cerewet sekali. > > Melihat gelibat-gelibetnya, Mahfud ini frustasi karena dibuang dan mau > balas dendam. Manusiawi saja kecewa dipermalukan secara nasional begitu. > Hanya saja cara yang dia pilih untuk tetap eksis dan "didengar" terlalu > kekanak-kanakan yaitu, melempar isu kegemaran PDIP, isu perpecahan, lalu > pura-pura jadi pahlawan kesorean dengan menyuruh Jokowi (sebagai presiden, > bukan capres) untuk rekonsiliasi. > > Terus terang saya tidak pernah meragukan kepinteran dan gelar akademik > Mahfud yang serba sampah. Sekarang ini kewarasan akal sehat dan kondisi > kejiwaannya betul-betul menggelikan untuk ukuran tokoh nasional. Membawa > dendam pribadinya ke masyarakat. > > --- jonathangoeij@... wrote: > > kalau tdk salah menurut quick count Prabowo menang di 18 propinsi > sedangkan Jokowo cuman 16 propinsi, artinya 18 propinsi garis keras. gawat > juga. > > ---djiekh@... wrote : > > Lha lalu kenyataannya kan daerah bekas Di/TII Kartosuwiryo, daerah ex > DUI/TII Kahar Muzakar. > daerah ex DI Daud Bureueh, daerah ex PRRI. Dan Prabowo anak ex tokoh PRRI? > > Pada tanggal Sen, 29 Apr 2019 pukul 02.13 Sunny ambon menulis: > > > > https://www.suara.com/news/2019/04/28/230357/dahnil-anzar-sebut-pernyataan-mahfud-md-bukanlah-seorang-pancasilais > > > *Dahnil Anzar Sebut Pernyataan Mahfud MD Bukanlah Seorang Pancasilais* > > > > > <http://www.avg.com/email-signature?utm_medium=email&utm_source=link&utm_campaign=sig-email&utm_content=emailclient> > 不含病毒。www.avg.com > <http://www.avg.com/email-signature?utm_medium=email&utm_source=link&utm_campaign=sig-email&utm_content=emailclient> > <#m_8695065031576828145_DAB4FAD8-2DD7-40BB-A1B8-4E2AA1F9FDF2> > > >
