Seandainya si Rizieq dgn FPI-nya mendukung Jokowi, apakah jg tetap disebut 
garis keras?

    On Wednesday, May 1, 2019, 6:47:54 PM PDT, ChanCT <[email protected]> 
wrote:  
 
  
Dimana kesalahannya??? Bukankah kelompok garis-keras FPI dengan Habib Rizieq 
itu pendukung kuat kubu-02, dengan keluarkan Ijtmah-II dan III nya itu!!! Belum 
lagi kalau dilihat PA-212 yang sudah beberapa kali demonstrasikan kekerasan nya 
itu dengan reuni membanjiri Monas dan mereka klaim sampai belasan juta orang 
hadir TANPA dibayar itu! 
 
 
Apa masih belum cukup membuktikan mereka GARIS KERAS, sekalipun belum melangkah 
lebih lanjut jadi radikalis? Atau mau tunggu bom-bom bunuhdiri meledak dahulu 
baru mengakui mereka GARIS KERAS??? Hehehee, ...
 

 
 Jonathan Goeij 於 2/5/2019 1:24 寫道:
  
 
 Kelihatannya bung Chan sampai sekarang belum mampu menguraikan apa yg beliau 
perhatikan sehingga mengambil kesimpulan dibawah "Tapi, juga tidak salah kalau 
diperhatikan kelompok "garis keras, "fanatik" Islam itu lah pemilih kuat 
kubu-02!" ya tidak apa2lah, hanya kelihatannya berdasarkan eyelan saja.. Tidak 
pakai reasoning sama sekali. 
  Mahfud MD memberikan keterangan arti garis keras "“Arti garis keras di dalam 
literatur 'is an adjective describing a stance on an issue that is inflexible 
and not subject to compromise'" kalau benar begitu bagaimana bisa Islam garis 
keras mendukung Prabowo-Sandi yg nggak entos ngaji, gak becus salat, tiap tahun 
merayakan natal, mencari dan menerima dukungan LGBT, mencari dan menerima 
dukungan PKI dan anak keturunannya, keluarga kerabat hoping banyak yg cino 
makan babi, sekolahnya disekolah kafir, dlsb yg tidak Islami. Lha apa Islam 
garis keras mau kompromi dan punya presiden dan wakil model gini. 
  
  
   ---In [email protected], <jonathangoeij@...> wrote :
 
 
 bagaimana caranya bung Chan memperhatikan sehingga mengambil kesimpulan 
dibawah?   
  
      On Tuesday, April 30, 2019, 5:36:07 PM PDT, ChanCT <[email protected]> 
wrote:  
  
     
Iyaa, ... nampak jelas Jonathan disini ngeyel saja! 
 
 
Lha diawal sudah saya nyatakan dengan tandas: "Tentu menjadi salah kalau kita 
jadi main gebuk semua pemilih kubu-02 adalah "garis keras" dan fanatik  Islam, 
... Tapi, juga tidak salah kalau diperhatikan kelompok "garis keras, "fanatik" 
Islam itu lah pemilih kuat kubu-02! Jadi, ... yang benar dan bijaksana kita 
pilah-pilah saja saat melihat dan menilai orang perorang pendukung dan pemilih 
kubu-02 itu, tidak main gebyah uyah." masih juga dibenturkan dengan ekstrim 
didaerah Jokowi menang, Islam garis keras jadi lebih garang dan ganas, ...
 
TIDAK ada guna dan PERLU nya diladeni! Biarlah dia pikirkan dan ambil 
kesimpulan sendiri, ...! Atau tersembunyi tujuan khilafah, menegakkan Negara 
Islam sebagaimana bung Ajeg menyerang apa yg diajukan Mahfud hanyalah SAMPAH 
yang membuat  percekcokan, ...! Apalagi pengertian "garis keras" yang diajukan 
Mahfud ternyata bukan "radikalis".
 
 

 
 'nesare' [email protected] [GELORA45] 於 30/4/2019 23:10 寫道:
  
 
        
Mulai lagi ngeyelnya!
 
Keluar lagi eyelannya!
 
  
 
Tulisannya memang sama, tetapi makna yg mau disampaikan jelas beda banget!
 
  
 
Bung chan ambil contoh jatim dimana Jokowi menang gak terlalu banyak. Lalu bung 
chan bilang di jatim ada islam “garis keras” dan “garis keras yg lebih garang 
dan ganas”. Ini jelas sekali maknanya bahwa islam garis keras bisa menjadi 
garang dan ganas karena mau menang pemilu. Ini konteksnya.
 
  
 
Maknanya ente laen sekali. Ente mau mentertawakan NKRI dgn menulis: lha kok 
NKRI masih ada?
 
atau "NK"-nya sudah ganti jadi "Negara Khilafah". 
 
  
 
Disini kan ente mau bilang di NKRI semuanya islam garis keras yg garang dan 
ganas yg ada dikubu Jokowi dan Prabowo.
 
  
 
Hanya saja ente itu talulit gak ngerti dgn contoh di Jatim itu walaupun ada 
islam garis keras, Jokowi  tetap menang karena mereka2 islam garis keras ini 
bisa menjadi nasionalis. Di Sumbar juga begitu islam garis keras bisa menjadi 
garang dan ganas melawan penjajah Belanda!
 
  
 
Jadi kesimpulannya ente ngeyel mau mentertawakan NKRI didaerah Jokowi menang 
maupun didaerah Prabowo  menang, yg dua2nya ada islam garis keras. Tertawanya 
ente itu karena ente rasis terhadap Islam garis keras sehingga ente terbahak2 
NKRI masih bisa ada.
 
  
 
Ane sekarang balik tertawa terpingkal2 karena melihat ente yg talulit 
(sebenarnya katanya adalah: goblok  ttp krn memandang moderator saja ane pake’ 
talulit) yg tidak bisa membedakan antara islam garis keras dgn kepentingan 
mereka sbg kelompok/komunitas islam garis keras!
 
  
 
Nesare
 
  
 
  
 
  
   
From: [email protected] <[email protected]> 
 Sent: Tuesday, April 30, 2019 10:40 AM
 To: [email protected]; Ajegilelu <[email protected]>; ChanCT 
<[email protected]>
 Subject: Re: [GELORA45] Dahnil Anzar Sebut Pernyataan Mahfud MD Bukanlah 
Seorang Pancasilais
   
  
 
  
      
Lho...... bung Chan, saya cuman menyarikan inti tulisan anda saja..  Pengertian 
yg saya dapat dari tulisan anda ya ini "ditempat yg Prabowo menang artinya 
daerah garis keras/radikal, sedang  ditempat yg Jokowi menang kelompok 
radikalnya lebih "garang dan GANAS" apakah salah pemahaman?
   
  
   
Coba simak tulisan bung doktor tentang pembantaian jutaan PKI, memangnya  itu 
dimana? di daerah yang Jokowi menanglah.
   
  
   
  
      
On Monday, April 29, 2019, 9:27:12 PM PDT, ChanCT <[email protected]> wrote: 
   
  
   
  
     
Karena ternyata anda berpikiran RADIKALIS juga! Memutlakan  segalanya, ...! 
Atau memang kerjanya ngeyel saja???
 
Dari basis suara kubu-02 adalah "garis keras", "fanatik"  Islam, sekarang 
membalik jadi daerah basis suara kubu-01, kelomok radikalnya  lebih "garang dan 
GANAS"!
 
  
  
Jonathan Goeij 於 30/4/2019 11:34 寫道:
       
  
   
oh.... begitu toh. ditempat yg Prabowo menang artinya daerah garis 
keras/radikal, sedang ditempat yg Jokowi menang kelompok  radikalnya lebih 
"garang dan GANAS"
   
  
   
lha kok NKRI masih ada?
   
atau "NK"-nya sudah ganti jadi "Negara Khilafah". 
   
  
   
  
      
On Monday, April 29, 2019, 7:52:35 PM PDT, ChanCT <[email protected]> wrote: 
   
  
   
  
     
INGAT, ... sekalipun Jawa Timur suara  Jokowi menang, tidak berarti suara 
Prabowo kosong, NOL besar! TIDAK  bisa hanya melihat Jawa Timur basis  suara 
kubu-01, lalu tidak ada Islam radikalis disitu! Lepaskan kaca mata kuda  anda! 
Dalam menghadapi basis suara kubu-01 yg mayoritas itu, sebaliknya  kelompok 
Islam radikal disitu bisa lebih garang dan GANAS, ...  karena terjepit dan 
berusaha lebih keras  melawan dan membuat kekacauan, chaos, ... !!!
 
Dan itulah yang terjadi dan anda  lihat, ...!
 
  
  
Jonathan Goeij 於 30/4/2019 10:06 寫道:
       
  
   
Berkisar pertengahan th 1996-an saya bersama rombongan mengunjungi gereja2 
kecil didaerah  pelosok Jawa Timur, tidak berapa lama  sekitar 2-3 bulan 
setelah  itu banyak gereja2 itu yg dibakar,  dirusak, bahkan ada pendeta 
sekeluarga yg dibakar hidup2  didalam gerejanya. Di Jawa Tengah nisan salib 
kuburan-pun  digergaji, mereka yg non-Islam  diusir keluar. Baik Jawa  Timur 
ataupun Jawa Tengah merupakan  basis pemilih Jokowi-Ma'ruf. Apakah kemudian mau 
dibilang  Jokowi-Ma'rufdidukung/dipilih garis keras?
   
  
   
Mengatakan para pemilih sekian puluh bahkan ratusan juta garis keras adalah hal 
yg absurd.
   
  
      
On Monday, April 29, 2019, 8:28:39 PM EDT, ChanCT <[email protected]> wrote: 
   
  
   
  
     
Tentu menjadi salah kalau kita  jadi main gebuk semua pemilih  kubu-02 adalah 
"garis keras"  dan fanatik Islam, ... Tapi, juga  tidak salah kalau 
diperhatikan kelompok "garis keras,  "fanatik" Islam itu lah pemilih kuat  
kubu-02! Jadi, ... yang benar  dan bijaksana kita pilah-pilah  saja saat 
melihat dan  menilai orang perorang pendukung dan  pemilih kubu-02 itu, tidak 
main gebyah uyah.
 
Selama ini yang berhasil saya ikuti pembicaraan Mahfud cukup baik dan 
mencjernihkan, kok. Tidak terdengar suara sumbang  keluar dari mulutnya, sikap  
perpindahan dukungan dari  semula menjadi tim sukses Prabowo  ditahun 2014 
kemudian menjadi pendukung Jokowi bahkan  dibatalkan jadi cawapres juga cukup  
baik dan bijaksana.  Bukan dirinya sendiri yg diutamakan,  tapi kepentingan 
negara dan rakyat! 
 
Atau bung Ajeg bisa memberikan  penjelasan lebih lanjut, mengapa  menyatakan 
serba SAMPAH  yang keluar dari mulut Mahfud??? 
 
Sedang Maruf Amin yg dinobatkan  Jokowi menjadi cawapresnya itu, sekalipun 
mungkin belum bisa dikatakan  "garis keras", tapi sulit disangkal  tergolong 
Islam fanatik  yg juga bertujuan berlakukan  syariat Islam dinegeri ini!  Hanya 
saja penekanannya berlakukan  syariat Islam secara damai, dijalankan dan 
diperjuangkan melalui jalur  konstitusi saja, ... Makanya Maruf berada dalam 
barisan NU dan  saat jadi ketua MUI bisa keluarkan  fatwa Ahok menodai Agama  
Islam, sekalipun akhirnya  mengakui "terpaksa" akibat tekanan massa ketika itu!
 
  
 
  
  
Jonathan Goeij [email protected] [GELORA45] 於 30/4/2019 6:13 寫道:
    
  
      
Saya kira pen-dikotomi-an para pemilih sebagai "garis keras" yg berkonotasi 
jelek adalah sebuah  kesalahan besar, sungguhpun  kemudian coba diperhalus  
dengan kata "fanatik" yang lucunya juga  berkonotasi jelek. Lagipula dengan 
para pemilih yang  tersebar sedemikian rupa lha apa  iya semuanya "garis keras" 
 dan/atau "fanatik"
   
  
   
Ada cukup banyak tokoh yg dulunya pendukung Prabowo kemudian  beralih ke 
Jokowi,  diantara Mahfud MD ini dan cawapres  Ma'ruf Amin. Apakah mau dibilang 
"mantan garis keras"?
   
  
   
Btw, kelihatannya ada cukup banyak yg kemudian berbaris dibelakang Ma'ruf Amin, 
mungkinkah  minta jatah? ha ha ha ha.
   
  
   
  
    
---In [email protected], <ajegilelu@...> wro te :
     
Saya pernah tanya di mana cawapres Ma'ruf karena sejak 17 April seperti ditelan 
bumi. Sebaliknya, Mahfud kelihatan di mana-mana dan cerewet sekali.
   

 
 
   
Melihatgelibat-gelibetnya, Mahfud ini frustasi karena dibuang dan mau balas 
dendam. Manusiawi saja kecewa dipermalukan  secara nasional begitu. Hanya saja 
cara yang dia pilih untuk tetap eksis dan "didengar" terlalu kekanak-kanakan 
yaitu,  melempar isu kegemaran PDIP, isu perpecahan, lalu pura-pura jadi 
pahlawan kesorean dengan menyuruh Jokowi (sebagai  presiden, bukan capres) 
untuk rekonsiliasi. 
   

 
 
   
Terus terang saya tidak pernah meragukan kepinteran dan gelar akademik Mahfud 
yang serba sampah.  Sekarang ini kewarasan akal sehat dan kondisi kejiwaannya 
betul-betul  menggelikan untuk ukuran tokoh nasional. Membawa dendam  
pribadinya ke masyarakat.
   
  
   
 
   
---jonathangoeij@... wrote:
         
kalau tdk salah menurut quick count Prabowo menang di 18 propinsi sedangkan 
Jokowo cuman 16 propinsi, artinya 18 propinsi garis keras. gawat juga.
 
 ---djiekh@... wrote :
   
Lha lalu kenyataannya kan daerah bekas Di/TII Kartosuwiryo, daerah ex DUI/TII 
Kahar Muzakar. 
  
daerah ex DI Daud Bureueh, daerah ex PRRI. Dan Prabowo anak ex tokoh PRRI? 
   
  
   
Pada tanggal Sen, 29 Apr 2019 pukul 02.13 Sunny ambon menulis: 
   
  
      
 
  
  
     
https://www.suara.com/news/2019/04/28/230357/dahnil-anzar-sebut-pernyataan-mahfud-md-bukanlah-seorang-pancasilais
 
  
 
Dahnil Anzar Sebut Pernyataan Mahfud MD Bukanlah Seorang  Pancasilais
      
 
           
 
      
  
     
  
 
|  

  |  
不含病毒。www.avg.com 
  |

                       

               

Kirim email ke