bagaimana caranya bung Chan memperhatikan sehingga mengambil kesimpulan 
dibawah?
 

---In [email protected], <SADAR@...> wrote :

 Iyaa, ... nampak jelas Jonathan disini ngeyel saja! 
 
 Lha diawal sudah saya nyatakan dengan tandas: "Tentu menjadi salah kalau kita 
jadi main gebuk semua pemilih kubu-02 adalah "garis keras" dan fanatik Islam, 
... Tapi, juga tidak salah kalau diperhatikan kelompok "garis keras, "fanatik" 
Islam itu lah pemilih kuat kubu-02! Jadi, ... yang benar dan bijaksana kita 
pilah-pilah saja saat melihat dan menilai orang perorang pendukung dan pemilih 
kubu-02 itu, tidak main gebyah uyah." masih juga dibenturkan dengan ekstrim 
didaerah Jokowi menang, Islam garis keras jadi lebih garang dan ganas, ...
 TIDAK ada guna dan PERLU nya diladeni! Biarlah dia pikirkan dan ambil 
kesimpulan sendiri, ...! Atau tersembunyi tujuan khilafah, menegakkan Negara 
Islam sebagaimana bung Ajeg menyerang apa yg diajukan Mahfud hanyalah SAMPAH 
yang membuat percekcokan, ...! Apalagi pengertian "garis keras" yang diajukan 
Mahfud ternyata bukan "radikalis".
 
 

 'nesare' nesare1@... mailto:nesare1@... [GELORA45] 於 30/4/2019 23:10 寫道:

   Mulai lagi ngeyelnya!
 Keluar lagi eyelannya!
  
 Tulisannya memang sama, tetapi makna yg mau disampaikan jelas beda banget!
  
 Bung chan ambil contoh jatim dimana Jokowi menang gak terlalu banyak. Lalu 
bung chan bilang di jatim ada islam “garis keras” dan “garis keras yg lebih 
garang dan ganas”. Ini jelas sekali maknanya bahwa islam garis keras bisa 
menjadi garang dan ganas karena mau menang pemilu. Ini konteksnya.
  
 Maknanya ente laen sekali. Ente mau mentertawakan NKRI dgn menulis: lha kok 
NKRI masih ada?
 atau "NK"-nya sudah ganti jadi "Negara Khilafah". 
  
 Disini kan ente mau bilang di NKRI semuanya islam garis keras yg garang dan 
ganas yg ada dikubu Jokowi dan Prabowo.
  
 Hanya saja ente itu talulit gak ngerti dgn contoh di Jatim itu walaupun ada 
islam garis keras, Jokowi tetap menang karena mereka2 islam garis keras ini 
bisa menjadi nasionalis. Di Sumbar juga begitu islam garis keras bisa menjadi 
garang dan ganas melawan penjajah Belanda!
  
 Jadi kesimpulannya ente ngeyel mau mentertawakan NKRI didaerah Jokowi menang 
maupun didaerah Prabowo menang, yg dua2nya ada islam garis keras. Tertawanya 
ente itu karena ente rasis terhadap Islam garis keras sehingga ente terbahak2 
NKRI masih bisa ada.
  
 Ane sekarang balik tertawa terpingkal2 karena melihat ente yg talulit 
(sebenarnya katanya adalah: goblok ttp krn memandang moderator saja ane pake’ 
talulit) yg tidak bisa membedakan antara islam garis keras dgn kepentingan 
mereka sbg kelompok/komunitas islam garis keras!
  
 Nesare
  
  
  
 From: [email protected] mailto:[email protected] 
<[email protected]> mailto:[email protected] 
 Sent: Tuesday, April 30, 2019 10:40 AM
 To: [email protected] mailto:[email protected]; Ajegilelu 
<ajegilelu@...> mailto:ajegilelu@...; ChanCT <sadar@...> mailto:sadar@...
 Subject: Re: [GELORA45] Dahnil Anzar Sebut Pernyataan Mahfud MD Bukanlah 
Seorang Pancasilais


  
  
 Lho...... bung Chan, saya cuman menyarikan inti tulisan anda saja.. Pengertian 
yg saya dapat dari tulisan anda ya ini "ditempat yg Prabowo menang artinya 
daerah garis keras/radikal, sedang ditempat yg Jokowi menang kelompok 
radikalnya lebih "garang dan GANAS" apakah salah pemahaman?

  

 Coba simak tulisan bung doktor tentang pembantaian jutaan PKI, memangnya itu 
dimana? di daerah yang Jokowi menanglah.

  

  


 On Monday, April 29, 2019, 9:27:12 PM PDT, ChanCT <sadar@... mailto:sadar@...> 
wrote: 

  

  

 Karena ternyata anda berpikiran RADIKALIS juga! Memutlakan segalanya, ...! 
Atau memang kerjanya ngeyel saja???
 Dari basis suara kubu-02 adalah "garis keras", "fanatik" Islam, sekarang 
membalik jadi daerah basis suara kubu-01, kelomok radikalnya lebih "garang dan 
GANAS"!
  
 Jonathan Goeij 於 30/4/2019 11:34 寫道:


  

 oh.... begitu toh. ditempat yg Prabowo menang artinya daerah garis 
keras/radikal, sedang ditempat yg Jokowi menang kelompok radikalnya lebih 
"garang dan GANAS"

  

 lha kok NKRI masih ada?

 atau "NK"-nya sudah ganti jadi "Negara Khilafah". 

  

  


 On Monday, April 29, 2019, 7:52:35 PM PDT, ChanCT <sadar@...> mailto:sadar@... 
wrote: 

  

  

 INGAT, ... sekalipun Jawa Timur suara Jokowi menang, tidak berarti suara 
Prabowo kosong, NOL besar! TIDAK bisa hanya melihat Jawa Timur basis suara 
kubu-01, lalu tidak ada Islam radikalis disitu! Lepaskan kaca mata kuda anda! 
Dalam menghadapi basis suara kubu-01 yg mayoritas itu, sebaliknya kelompok 
Islam radikal disitu bisa lebih garang dan GANAS, ... karena terjepit dan 
berusaha lebih keras melawan dan membuat kekacauan, chaos, ... !!!
 Dan itulah yang terjadi dan anda lihat, ...!
  
 Jonathan Goeij 於 30/4/2019 10:06 寫道:


  

 Berkisar pertengahan th 1996-an saya bersama rombongan mengunjungi gereja2 
kecil didaerah pelosok Jawa Timur, tidak berapa lama sekitar 2-3 bulan setelah 
itu banyak gereja2 itu yg dibakar, dirusak, bahkan ada pendeta sekeluarga yg 
dibakar hidup2 didalam gerejanya. Di Jawa Tengah nisan salib kuburan-pun 
digergaji, mereka yg non-Islam diusir keluar. Baik Jawa Timur ataupun Jawa 
Tengah merupakan basis pemilih Jokowi-Ma'ruf. Apakah kemudian mau dibilang 
Jokowi-Ma'ruf didukung/dipilih garis keras?

  

 Mengatakan para pemilih sekian puluh bahkan ratusan juta garis keras adalah 
hal yg absurd.

  


 On Monday, April 29, 2019, 8:28:39 PM EDT, ChanCT <sadar@...> mailto:sadar@... 
wrote: 

  

  

 Tentu menjadi salah kalau kita jadi main gebuk semua pemilih kubu-02 adalah 
"garis keras" dan fanatik Islam, ... Tapi, juga tidak salah kalau diperhatikan 
kelompok "garis keras, "fanatik" Islam itu lah pemilih kuat kubu-02! Jadi, ... 
yang benar dan bijaksana kita pilah-pilah saja saat melihat dan menilai orang 
perorang pendukung dan pemilih kubu-02 itu, tidak main gebyah uyah.
 Selama ini yang berhasil saya ikuti pembicaraan Mahfud cukup baik dan 
mencjernihkan, kok. Tidak terdengar suara sumbang keluar dari mulutnya, sikap 
perpindahan dukungan dari semula menjadi tim sukses Prabowo ditahun 2014 
kemudian menjadi pendukung Jokowi bahkan dibatalkan jadi cawapres juga cukup 
baik dan bijaksana. Bukan dirinya sendiri yg diutamakan, tapi kepentingan 
negara dan rakyat! 
 Atau bung Ajeg bisa memberikan penjelasan lebih lanjut, mengapa menyatakan 
serba SAMPAH yang keluar dari mulut Mahfud??? 
 Sedang Maruf Amin yg dinobatkan Jokowi menjadi cawapresnya itu, sekalipun 
mungkin belum bisa dikatakan "garis keras", tapi sulit disangkal tergolong 
Islam fanatik yg juga bertujuan berlakukan syariat Islam dinegeri ini! Hanya 
saja penekanannya berlakukan syariat Islam secara damai, dijalankan dan 
diperjuangkan melalui jalur konstitusi saja, ... Makanya Maruf berada dalam 
barisan NU dan saat jadi ketua MUI bisa keluarkan fatwa Ahok menodai Agama 
Islam, sekalipun akhirnya mengakui "terpaksa" akibat tekanan massa ketika itu!
  
  
 Jonathan Goeij jonathangoeij@... mailto:jonathangoeij@... [GELORA45] 於 
30/4/2019 6:13 寫道:


   
 Saya kira pen-dikotomi-an para pemilih sebagai "garis keras" yg berkonotasi 
jelek adalah sebuah kesalahan besar, sungguhpun kemudian coba diperhalus dengan 
kata "fanatik" yang lucunya juga berkonotasi jelek. Lagipula dengan para 
pemilih yang tersebar sedemikian rupa lha apa iya semuanya "garis keras" 
dan/atau "fanatik"

  

 Ada cukup banyak tokoh yg dulunya pendukung Prabowo kemudian beralih ke 
Jokowi, diantara Mahfud MD ini dan cawapres Ma'ruf Amin. Apakah mau dibilang 
"mantan garis keras"?

  

 Btw, kelihatannya ada cukup banyak yg kemudian berbaris dibelakang Ma'ruf 
Amin, mungkinkah minta jatah? ha ha ha ha.

  

  

 ---In [email protected] mailto:[email protected], 
<ajegilelu@...> mailto:ajegilelu@... wro te :
 Saya pernah tanya di mana cawapres Ma'ruf karena sejak 17 April seperti 
ditelan bumi. Sebaliknya, Mahfud kelihatan di mana-mana dan cerewet sekali.

 
 
 

 Melihat gelibat-gelibetnya, Mahfud ini frustasi karena dibuang dan mau balas 
dendam. Manusiawi saja kecewa dipermalukan secara nasional begitu. Hanya saja 
cara yang dia pilih untuk tetap eksis dan "didengar" terlalu kekanak-kanakan 
yaitu, melempar isu kegemaran PDIP, isu perpecahan, lalu pura-pura jadi 
pahlawan kesorean dengan menyuruh Jokowi (sebagai presiden, bukan capres) untuk 
rekonsiliasi. 

 
 
 

 Terus terang saya tidak pernah meragukan kepinteran dan gelar akademik Mahfud 
yang serba sampah. Sekarang ini kewarasan akal sehat dan kondisi kejiwaannya 
betul-betul menggelikan untuk ukuran tokoh nasional. Membawa dendam pribadinya 
ke masyarakat.

  

 --- jonathangoeij@... wrote:


 kalau tdk salah menurut quick count Prabowo menang di 18 propinsi sedangkan 
Jokowo cuman 16 propinsi, artinya 18 propinsi garis keras. gawat juga.
 
 ---djiekh@... wrote :
 Lha lalu kenyataannya kan daerah bekas Di/TII Kartosuwiryo, daerah ex DUI/TII 
Kahar Muzakar. 
 daerah ex DI Daud Bureueh, daerah ex PRRI. Dan Prabowo anak ex tokoh PRRI? 
 

(Message over 64 KB, truncated)










































Kirim email ke