"Cari Solusi" hanyalah judul tulisan yg diberikan penulis, dan entah
maksud sesungguhnya apa? Sedang judul Seminar yang diselenggarakan
Puskit-UNSA adalah "Memahami Dinamika Muslim Uighur".
Kalau saja dipahami dasar masalah Muslim Uighur itu, solusi dengan
kajian keilmuan, ... mungkin yang dimaksud melalui keilmuan membuat
pengertian/kesadaran Islam yang moderat dan utamakan KEDAMAIAN dan
KESATUAN bangsa Tionghoa saja.
ajeg [email protected] [GELORA45] 於 3/5/2019 13:39 寫道:
"Cari solusi" itu artinya cari jalan keluar dari masalah, kan? Bukan
cari-cari siapa salah dan harus kalah. Sedangkan "melalui kajian ilmu"
ya tentu maksudnya menempatkan ilmu sebagai alat yang bebas nilai.
Dalam hal ini, al.. ilmu sejarah. Monggo ngaji peran sejarah provinsi
Xinjiang di jaman keemasan Jalur Sutra yang mengilhami proyek OBOR
sekarang.
--- SADAR@... wrote:
Cari Solusi Muslim Uighur Lewat Kajian Keilmuan
MALANG <https://www.jawapos.com/location/malang/>
BERITA DI SEKITAR ANDA <https://www.jawapos.com/jpg-today/>
3 Mei 2019, 08:55:07 WIB
Cari Solusi Muslim Uighur Lewat Kajian Keilmuan
Konjen Tiongkok Gu Jingqi (kiri) saat menghadiri diskusi terkait
muslim Uighur di Surabaya. (Puji Tyasari/Jawa Pos)
JawaPos.com – Dinamika yang terjadi terhadap kaum minoritas Uighur
di Tiongkok, masih jadi isu yang menarik dikaji oleh berbagai
kalangan di Jawa Timur. Seperti yang dilakukan oleh Pusat Kajian
Indonesia-Tiongkok (Puskit) Universitas Islam Negeri Sunan Ampel
(UINSA), Kamis (2/5).
Bersama International Relations’ Center for Globalisation and Area
Studies (IR-CGAS) UPN Veteran dan sejumlah universitas di Jatim,
mereka menggelar sebuah diskusi bertajuk ‘Memahami Dinamika Muslim
Uighur’. Acara yang berlangsung di Gedung FISIP UINSA itu,
menghadirkan Konsul Jenderal (Konjen) Tiongkok Gu Jingqi. Dia
didampingi Wakil Dekan FISIP Uinsa Abdul Chalik. Diskusi itu
diikuti oleh perwakilan pengajar-mahasiswa sejumlah kampus.
Diskusi yang dikemas dalam bentuk tanya jawab itu membahas
berbagai dinamika seputar kaum Uighur yang hingga kini masih jadi
isu publik. Di hadapan para ilmuwan dan mahasiswa, Gu Jingqi
kembali menegaskan bahwa pemerintah Tiongkok memberikan kebebasan
masyarakat dalam beragama. ”Termasuk bagi 23 juta kaum muslim yang
menjadi minoritas di Tiongkok,” katanya.
Bahkan, ujar Gu Jingqi, negaranya juga memfasilitasi kaum muslim
dalam beribadah. Salah satunya adalah memfasilitasi ibadah haji.
”Mulai dari penyediaan direct flight, akomodasi, serta fasilitasi
lainnya,” ujar mantan Dubes Malaysia itu.
Tak hanya itu, Gu menyebut bahwa pemerintah di negerinya memberi
perhatian terhadap kaum minoritas. ”Di sana, terdapat 29 ribu
ulama. Juga ada 103 organisasi,” katanya.
Hanya saja, di provinsi Xinjiang, salah satu wilayah yang paling
banyak dihuni kaum minoritas muslim, mulai bermunculan paham-paham
radikal yang berujung banyaknya aksi kekerasan di sana. ”Karena
itu, pemerintah Tiongkok melakukan program vokasi,” katanya.
Sementara itu, Wakil Dekan FISIP Uinsa Abdul Chalik menyebut,
agenda kali ini tak hanya sekadar diskusi biasa. ”Selain memahami
dinamika yang terjadi di sana, juga ada misi besar dari agenda
ini,” katanya.
Apa itu? Dia menyebut, para ilmuwan-pegiat kampus di Jatim ingin
mencari solusi terhadap dinamika ini dalam kerangka kajian keilmuan.
Editor : Dhimas Ginanjar
Reporter : (puj)
alt
<http://www.avg.com/email-signature?utm_medium=email&utm_source=link&utm_campaign=sig-email&utm_content=emailclient>
不含病毒。www.avg.com
<http://www.avg.com/email-signature?utm_medium=email&utm_source=link&utm_campaign=sig-email&utm_content=emailclient>
<#DAB4FAD8-2DD7-40BB-A1B8-4E2AA1F9FDF2>
---
此電子郵件已由 AVG 檢查病毒。
http://www.avg.com