Survival of the Fittest naluri manusia (utk kepentingan diri sendiri/spesies 
manusia drpd utk kepentingan orang/spesies lain) tidak bisa dihilangkan utk 
menjamin bisa bertahan utk hidup (survival) walaupun lingkungan, pemikiran, 
ideologi atau jaman berubah. Kita/manusia juga dilengkapi dgn mekanisme lain 
utk menjamin survival seperti kalau kita tidak sengaja menginjak api atau 
barang tajam, tanpa kita berpikir lebih dulu, secara reflex, kakinya diangkat 
atau ditarik utk menjauhinya. Reflex ini tidak dipengaruhi oleh pikiran otak 
lebih dulu (sinyal/signal dari kaki tidak perlu melalui otak lebih dulu tetapi 
langsung melalui saraf tulang belakang) seperti naluri manusia. 

 Kutipan: ``Social Darwinism``, yang bersandar pada survival of the fittest; 
yaitu dalam bersaing siapa yang menang, adalah yang benar. Dengan cara apa dan 
bagaimana bisa menang dalam bersaing, tidak dipersoalkan!. 
 

 Memang betul, ada Social Darwinism, berdasar pada survival the fittest, yg 
tidak akan bisa dilenyapkan sebab ini adalah naluri manusia utk bisa hidup. 
Kalau tidak ada naluri manusia berarti spesies manusia akan musnah atau tidak 
ada lagi.
 

 

 [email protected], <roeslan12@...> wrote :
 
 NImbrung :
  
 Selamat bertemu kembali di milis ini, dalam kesempatan ini saya akan ikutan 
nimbrung dalam diskusi tentang Survival of the fittest. Tema seperti ini sangat 
mendorong saya untuk turut membahasnya secara mendasar, karena menurut 
pengamatan saya,``Survival of the fittest`` secara nyata telah menampakkan 
dirinya dalam penomena Demokrasi Indonesia diera ``reformasi`` dewasa ini. 
Khususnya dalam penomena pemilu 2019 yang baru saja kita saksikan, yang memakan 
ratusa jiwa rakyat Indonrsia. Pembahasan tesebut akan saya judul:
  
 Manusia dan Evolusi kebdayaannya.
  
 Pada kelombang ke-I dari gelombang peradaban Manusia; Para pakar ekonomi telah 
menciptakan suatu teori Ekonomi-Pasar-sempurna, beserta ``Invisible hands``-nya 
Adam Smith. Yaitu teori Evolusi yang lebih mementingkan ``Survival of the 
wisest`` yang mengutamakan kebijaksanaan arif; daripada hanya pada 
kebijakan``Survival of the fittest``; Yang alam kenyataannya setiap peserta 
ekonomi bekerja hanya untuk kepentingan dan keuntungannya sendiri 
masing-masing; Sehingga  aturan pasar sempurna yang menghendaki terjadinya 
keberhasilkan yang bersandar pada suatu teori infisible hand-Adam Smith telah 
gagal total 
  
 Menurut pengamatan saya  Survival of the fittest adalah merupakan suatu 
ideologi yang muncul dalam  gelombang ke dua (II), yang adalah merupakan 
gelombang peradaban dari masyarakat Industri dalam menciptakan Pasar; yang 
telah memecah masyarakat menjadi dua kelompok, yaitu kelompok Konsumen dan 
kelompok Produsen; Yang menuju pada suatu regulasi Pasar-Sempurna, yang tarjadi 
pada dalam Gelombang ke II.  
  
 Dalam masa gelombang ke-II tersebut, Hebert Spenser, yang hidup selama masa 
hidup Darwin; pada masa negeri Inggris merupakan adikuasa Dunia; Hebert Spencer 
telah mengembangkan suatu ideologi yang disebut ``Social Darwinism``, yang 
bersandar pada survival of the fittest; yaitu dalam bersaing siapa yang menang, 
adalah yang benar. Dengan cara apa dan bagaimana bisa menang dalam bersaing, 
tidak dipersoalkan!.
  
 Seluruh masyarakat Dunia beserta pakar-pakar Ilmu Pengetahuan nampaknya telah 
menyadari bahwa seleksi alamiah `` Social Darwinism`` adalah salah dan boros, 
dan menyebabkan kehancuran dan erosi banyak sumber-sumbaer-daya-alam dan 
genetika Dunia. Dalam konteks ini Pemerintah Australia telah meminta maaf 
secara resmi diforum PBB, mengenai seleksi ``alamiah`` yang salah ini, yang 
nenek moyangnya telah lakukan.
  
 Kenyataan ini tercermin juga dalam perang dunia ke-satu dan ke-dua; dimana 
terlihat sekali kegagalan manusia dalam turut mengatur jalannya evolusi 
perkembangan kbudayaannya. Baru setelah berakhirnya perang Dunia ke-II, manusia 
dinegara industri, mulai melihat kebodohan Ideoƶogi ``Soscial 
Darwinism``-nya``, dan lambat laun kolonialisme ``hilang`` dari permukaan bumi.
  
 Namun demikian apa yang terkadi dalam gelombang ke-III, yaitu adanya suatu 
kenyataan adanya adu kekuatan nuclear, yang tercermin dalam adu kekuatan 
nuclear Mutual Assured Destruction (M.A.D), yang telah kita lalui dengan 
selamat. Persoalannya adalah apakah konfrontasi yang sangat dekat sekali dan 
menyerempet-nyermpet kehancuran total manusia di Bumi ini, tidak dapat di 
tanganni secara yang lebih kreatif, sehingga  penyerempetan bahaya bersar 
terhadap umat nanusia itu dapat di hindari?
  
 Evolusi kebudayaan Ilmu Pengetahuan manusia akan terus  berlanjut, seperti apa 
yang diramalkan dalam buku Powerschift Toffler. Misalnya apa yang tercermin 
dalam mesin-mesin Nanotechnology dan sistem-sistem  Artifical Intellegence, 
yang akan lebih dahsyat daya rusaknya (disamping daya gunaya),yang sangat sulit 
untuk dikontrol dan di batasi penyebarluasannya, jika dibandingkan dengan 
teknologi nuclear. Benturan-benturan kekuasaan yang lebih dahsyat, dalam rangka 
seleksi alamiah survival of the fittest, yang menyerempet bahaya pemusnahan 
manusia, akan terulang kembali, seandainya manusia tidak lebih menjadi  cerdik 
cendekia, dalam kemampuannya dalam turut mengendalikan Evolusi Kebudayaannya 
sendiri.
  
 Namun demikian, apa yang terjadi: Evolusi Kebudayaan IPTEK yang berkaitan 
dengan Internasional Business, juga akan terus berkembang, dan tambah lama 
tambah cepat. Sehingga menurut Toffler,  akan timbul penggolongan baru dari 
negara-negara baru yang termasuk dalam  the fast progresing nation, dan 
negara-negara  yang tertinggal, yaitu the Slow moving nations, Ini berarati 
munculnya kesejangan yang ternganga antara negara kaya dan negara miskin, 
anantara negara yang berkuasa dan negara yang tidak berkuasa, serupa dengan 
periode Social Darwinism, yang bersandar pada ``survival of te fittest``yaitu 
dalam bersaing siapa yang menang, adalah yang benar. Dengan cara apa dan 
bagaimana bisa menang dalam bersaing, tidak dipersoalkan!
  
 Menurut pengamatan saya gejala munculnya ideologi ``Social Darwinism``di 
Indonesia nampak jelas dalam  proses pemilu 2019  yang dilakukan oleh KPU, 
dampaknya adalah telah menyebabkan Masyarakat kita terbelah dua!;  Karena para 
elite politik  Indonesia yang berkuasa tidak memjadi lebih cerdik dan cendekia 
dalam kemampuannya untuk turut mengendalikan Ideologi Pancasila 1 Juni 1945 dan 
Konstitusi Negara kiat yaitu UUD 45 naskah asli, tetapi mereka telah terjabak 
masuk kedalam jaring-jaring ideologi ``Social Darwinism`` dalam bersaing di 
pemilu 2019, yang bersandar pada Survival of the fittest; Cara bersaing yang 
dilakukan di Indonesia dalam konteks ini adalah menghalalkan 
kecurangan-kecurangan dalam bentuk : Terstruktur, Sistimatik dan Masal (TSM).  
Demikialah apa yang telah terjadi dalam demokrasi Indonesia yang telah memakan 
ratusan jiwa manusia dalam pemilu 2019 di era apa yang mereka namakan 
``reformasi``
  
 Roeslan.
  
  




Kirim email ke