Memang banyak kejadian yang diluar kewajaran setelah dimenangkannya Paslon 01 oleh Mahkamah Konstitusi RI ini. Coba diperhatikan uraian yang saya sertakan berikut ini:
Rocky Gerung: Jokowi Dimenangkan Secara Legal, Tapi Legitimasi Ada pada Prabowo By Media Indonesia Raya Indonesiaraya.co.id, July 4, 2019 Jakarta – Ada hal di luar kebiasan pasca Mahkamah Konstitusi (MK) memutuskan sengketa Pilpres 2019. Prabowo Subianto terlihat gembira sementara Joko Widodo malah gugup. Padahal, MK dalam putusannya menolak gugatan tim kuasa hukum Prabowo-Sandi. Dengan arti, MK menguatkan keputusan KPU yang menetapkan Jokowi-Maruf sebagai pemenang pilpres. “Yang mengagetkan saya melihat potongan di layar Tv adalah pak Prabowo justru gembira-gembira saja menghadapi soal ini. Yang agak gugup malah kubu pak Jokowi karena menunggu kepastian kapan rekonsiliasi dengan pak prabowo,” kata pengamat politik, Rocky Gerung saat menjadi pembicara program Indonesia Lawyers Club (ILC) dengan tema ‘Setelah Vonis MK: Seperti Apa Wajah Demokrasi Kita?”, Selasa (2/7/2019) malam. Jadi jelas Rocky, agak ajaib seorang yang memenangkan pilpres yang seharusnya berpesta justru hatinya tidak lega. Menurutnya, itu yang menerangkan bahwa Jokowi dimenangkan secara legal tapi legitimasi ada pada Prabowo. Ahli filsafat ini mengungkapkan, ada yang belum tuntas dengan putusan MK, kedua kuasa hukum masih saling berargumen, dan masyarakat masih terbelah. “Saya membayangkan demokrasi kita akan kembali berhadapan pada hal yang sama mungkin 10 bulan kedapan saat Pilkada serentak 2020, dan ini akan carryover ke situ problem ini, karena tidak ada formulasi untuk menyelesaikan,” tutur Rocky. Namun, dia tidak setuju MK dianggap tidak memiliki kemampuan, yang ada lembaga yang dipimpin Anwar Usman itu tidak berani memanfaatkan kemampuan secara maksimal. MK gagal memanfaatkan momentum untuk menghasilkan inovasi hukum. “Kan dokter enggak bisa bilang penyakit anda enggak bisa kami kenal, sudah pergi ke dukun saja, enggak bisa begitu. Sama dengan problem ini, publik merasa ada kecurangan datang ke MK, MK bilang itu persoalan etis, kami tidak bisa putuskan. Lalu gimana? Berdoa!” ujar Rocky. Padahal, MK dibuat agar orang tidak terlalu banyak berdoa dan supaya langit lebih dekat dengan bumi. “Seluruh problem itu diselesaikan dengan filosofi yang disebut judicial activism, itu prinsip yang diberikan pada MK. Ambil diskresi seabsolute mungkin soal justice. Itu yang tidak dilakukan MK,” sebut Rocky, sambil menambahkan itu dasarnya kenapa publik masih terpecah. Demikian, seperti dikutip Rmol.co. Am Sun, 7 Jul 2019 14:52:45 +0000 (UTC) schrieb "ajeg [email protected] [GELORA45]" <[email protected]>: > Makanya lucu, sudah dimenangkan MK pun masih terus gelisah. > Entah dikejar-kejar apaan. > > Ketua TKN01 bilang hari ini (7/7) Jokowi mau merayakan pesta > kemenangan. Ya pantas-pantas sajalah pesta, wong menang kok. > > Di mana. > --- djiekh@... wrote: > > Yang gelisah itu kan yang dikejar kejar, takut tertangkap? > > Pada tanggal Min, 7 Jul 2019 pukul 16.28 ajeg menulis: > Presiden harus serius menangani masalah kerusuhan ini. Setidaknya > perintahkan menkopolhukam mengawasi kerja penyelidikan Polri untuk > sedikit mengurangi kegelisahannya sebagai pemenang. - TemuanPolri: 8 > Kelompok Perancang dan 4 Lapis Pelaku Kerusuhan 22 Mei > > ARDITO RAMADHAN > Kompas.com - 06/07/2019, 17:24 WIB > > JAKARTA,KOMPAS.com - Polri kembali merilis hasil investigasi mereka > terkait peristiwakerusuhan 21-22 Mei 2019 lalu yang pecah menyusul > pengumuman hasil Pemilu 2019oleh KPU. > > Dalamkonferensi pers di Mabes Polri, Jumat (5/7/2019) kemarin, Karo > Penmas MabesPolri Brigjen Pol Dedi Prasetyo mengungkapkan bahwa > polisi sudah mendeteksidelapan kelompok yang berperan merancang > pecahnya kerusuhan. > > "Adabeberapa kelompok-kelompok tertentu yang mendesain kerusuhan di > tanggal 21 dantanggal 22. Ini kelompok-kelompok tertentu ini ada > delapan kelompok yang bermaindi tanggal 21 dan 22," kata Dedi. > > DirekturKriminal Umum Polda Metro Jaya Kombes Suyudi Ario Seto > mengatakan, polisi jugatelah memetakan sejumlah kelompok yang > terlibat dalam kerusuhan. Suyudimenyebut, salah satu kelompok itu > ialah oknum mengatasnamakan kelompok agamayang datang dari sejumlah > daerah. > > "Beberapakelompok yang sampai dengan hari ini kita ungkap, yang > pertama adalah oknum,oknum saya katakan, dari kelompok Islam yang > berasal dari beberapadaerah," kata Suyudi. > > Suyudimenuturkan, kelompok itu berasal dari sejumlah daerah yakni > Serang, Tangerang,Cianjur, Banten, Jakarta, Banyumas, Majalengka, > Tasikmalaya, Lampung, dan Aceh. > > Suyudimelanjutkan, ada juga kelompok oknum mengatasnamakan organisasi > masyarakat danrelawan politik yang juga terlibat dalam kerusuhan > tersebut. > > "Adajuga oknum organisasi kemasyarakatan ini (inisialnya) GRS, FK, > dan GR. Kemudianada juga oknum relawan," ujar Suyudi. > > Baru DuaLapis > > Dedimengatakan, polisi telah mengidentifikasi pelaku kerusuhan ke > empat lapisan..Menurut Dedi, pelaku-pelaku yang sudah ditangkap > polisi baru berasal dari dualapisan terbawah yakni lapisan tiga dan > empat. > > Lapisankeempat merupakan orang-orang yang melakukan kekerasan dan > kerusakan. Merekaditangkap di sejumlah titik, antara lain Petamburan, > Gambir dan bilangan TanahAbang, Jakarta Pusat. > > Sementara,lapisan ketiga merupakan orang-orang yang mengarahkan > pelaku untuk melakukantindakan kekerasan dan kerusakan. > > "Layerketiga adalah yang menyuruh, yang menggerakkan dan membagikan > sejumlah uang(kepada pelaku lapis keempat)," ujar Dedi. > > Adapunpelaku yang dikategorikan masuk pada lapisan kedua dan ketiga, > Dedi belum dapatmengungkapkan peran mereka secara rinci untuk saat > ini. > > Ia hanyabisa memastikan, polisi terus berupaya mengungkap tindakan > mereka. Ia sekaligusmengingatkan, pengungkapan para pelaku tersebut > tidak bisa dilakukanterburu-buru karena harus dibuktikan secara > ilmiah. > > "Kitamasih mendalami. Saat ini baru layer ketiga dan keempat. Nanti > apabila prosespenyidikan ini sudah selesai dan sudah menemukan dengan > fakta hukum yang sangatkuat, baru nanti kita akan sampaikan," kata > Dedi. > > BuruKomandan Perusuh > > Sementaraitu, Dedi menyebut polisi tengah memburu seorang perusuh > yang diduga menjadikomandan dalam penyerangan asrama Brimob di > kawasan Petamburan. > > "Adasatu juga yang masih dalam pengejaran atau diterbitkan surat DPO, > patut didugadia yang mengkomando para perusuh itu di lapangan," kata > Dedi. > > Berdasarkanketerangan para saksi, kata Dedi, sosok itu memprovokasi > perusuh dengan caramengajak massa menyerang Asrama Brimob sambil > meneriakkan kata-kata provokatif. > > "Narasi-narasiyang diucapkan antara lain dari saksi-saksi yang > menyebutkan, 'bakar','lempar', 'serang', itu narasi-narasi yang > disebutkan," ujar Dedi. > > MenurutDedi, penangkapan terhadap provokator itu diperkirakan dapat > mengungkapaktor-aktor di lapisan lebih dalam yang terlibat kerusuhan > 21-22 Mei 2019. > > Penulis : Ardito Ramadhan > Editor : Diamanty Meiliana >
