Presiden / PM-nya beda-beda. 



--- bhjo@... wrote: 

Apa bedanya Amerika, India, Singapura, Tiongkok dan Indonesia dalam memajukan 
negaranya?:
Amerika/AS: SDM: SDM dibagian STEM (science, technology, engineering, and 
mathematics) cukup dgn banyak institusi yg nomor wahid didunia. Namun, banyak 
ahli2 STEM nya asalnya dari imigran2 dari India dan Tiongkok. Sekarang dgn 
Anti-Immigrant Policy dari trumpf, SDM dari India dan Tiongkok akan berkurang 
dan akan merugikan AS.Sistim pemerintahannya: demokratik, yg merugikan utk 
kecepatan utk mengambil keputusan utk memajukan negara, misal, infrastruktur.
India:SDM STEM nya tidak jelek tetapi sistim demokrasinya mirip seperti AS, yg 
merugikan utk kemajuan dgn cepat. Banyak SDM India yg bekerja di Silicon Valley 
di California.
Tiongkok dan Singapura (dibawah LKY):Sistim pemerintahanya tidak ada oposisi, 
jadi bagus utk kemajuan dgn cepat. Dan SDM nya bagus dan cukup. SDM STEM dari 
Tiongkok banyak yg telah belajar/berpengalaman di institusi nomor wahid di 
dunia seperti di AS dan jumlahnya lebih dari cukup. Tkk produksi STEM graduates 
sekang beberapa kali lebih banyak dari AS dan juga paten2 nya lebih banyak dari 
AS.
Indonesia:Mempunyai sistim demokrasi (spt AS atau India) yg akan menghambat 
keputusan2 utk kemajuan dgn cepat.SDM STEM nya masih kurang jumlah dan mutunya. 
Kalau kita lihat di institusi2 yg wahid di dunia spt di AS, jumlah 
pelajar/ahli2 dari Indonesia adalah termasuk paling sedikit atau paling buncit. 
Kalau kita lihat publikasi2 di majalah ilmiah/STEM internasional hampir tidak 
ada atau tidak ada. Saya perhatikan, sekarang, yg paling banyak publikasi dari 
Asia adalah dari Tiongkok, kemudian dari Jepang, Korea. Publikasi dari Hong 
Kong dan Singapura masih ada. Dari Filipina atau Indonesia, saya belum pernah 
melihatnya.
Visi dari Joko dan Sri Mulyani sudah betul (daripada dari visi Rizal Ramli ttg 
investasi asing) dan harus dipegang terus namun ada sistim demokrasinya (dgn 
adanya oposisi) yg akan menghambat kemajuan dgn cepat dan SDM STEM masih 
terbelakang dibanding dgn negara2 tsb diatas. Indonesia masih sangat perlu utk 
mengirim banyak SDM (tinggat tinggi) utk belajar di luar negeri. Juga kalau 
bisa mengirim SDM utk belajar di institusi vokasi (Berufsschule/Vocational 
Education) dimana institusi vokasi yg terbaik didunia adalah di Jerman, yg saya 
pernah melihat dan mengaguminya.


--- ajegilelu@... wrote :
Sri Mulyani mencontohkan,negara Cina yang sistem politiknya 
cenderungterkontrol, investasinya malah terjamin.


SriMulyani: Saat Pemerintah Sangat Otoriter, Investasi Datang

Reporter:Bisnis.com
Editor:Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

Selasa,16 Juli 2019 13:09 WIB




TEMPO.CO,Jakarta- Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyebutkan sejak 
krisismoneter yang lalu, pertumbuhan industri manufaktur Indonesia 
menurun.Sejak saat itu pula industri manufaktur tidak pernah kembali tumbuh 
besarlayaknya saat orde baru.





"Duluketika pemerintahan sangat otoriter, investasi datang. Begitu kita 
demokratis,kemampuan kita untuk membuat lingkungan investasi yang baik 
ituberkurang," kata Sri Mulyani, Selasa, 16 Juli 2019.




Saatini, kata Sri Mulyani, dapat dilihat bahwa investor tidak memperhatikan 
aspekpolitik di suatu negara tertentu sebelum berinvestasi. Yangterpenting 
adalah kepastian berusaha di suatu negara dapat dijamin olehpemerintah.




SriMulyani mencontohkan, negara Cina yang sistem politiknya 
cenderungterkontrol, investasinya malah terjamin. "Di sini kita inginkita tetap 
demokratis, tapi tetap menarik investasi," katanya.





Olehkarena itu, Sri Mulyani mengungkapkan pihaknya terus menggenjot 
kebijakanfiskal yang menumbuhkan kemudahan berusaha melalui belanja pemerintah 
dalamrangka pengembangan SDM.




Sepertidiketahui, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) wajib 
mengalokasikan20 persen dari seluruh anggaran untuk pendidikan. Insentif pajak 
terbarumelalui PP No. 45/2019 juga disebut-sebut bisa memberikan insentif pajak 
kepadaperusahaan-perusahaan yang memberikan vokasi serta melaksanakan riset.




SriMulyani menyebutkan, di tengah berkecamuknya perang dagang, investasimasih 
menjadi tantangan utama pemerintah dalam rangka meningkatkan lajupertumbuhan 
ekonomi. Investasi sangat ditentukan oleh jaminan kepastianberusaha bagi pelaku 
usaha.


BISNIS

  

Kirim email ke