Boleh dicoba. Sekalipun pemerataan semacam ini perlu untuk semua orang saya 
kira masyarakat di daerah lain ikhlas untuk Papua terlebih dahulu. Bukan saja 
untuk membasuh luka dalam yang selama ini dialami tapi juga bisa membangun rasa 
percaya diri sdr/i Papua untuk menghadapi dunia yang masih kapitalistik begini. 
Bisa sedikit meringankan beban hidup. Yang penting setelah urusan perut 
tertangani, termasuk untuk OPM, tahap berikutnya boleh coba mengembangkan 
perkoperasian. Penasaran juga melihat jalannya koperasi secara adat, dengan 
kepala suku sebagai pengawas.
Selama tidak melanggar hukum, semua cara untuk menyejahterakan Rakyat boleh 
dicoba. Jangan seperti sekarang, cuma mengandalkan satu cara (PMA) tapi perut 
baru bisa kenyang 10-15 tahun yad. Itu pun harus bersaing sepanjang waktu 
dengan para koruptor.
--- lusi_d@... wrote:
       
Nah bagaimana dng usul kongkrit Rizal Ramli berikut ini?

1. Kalau Kita Lewat Birokrasi, Birokrasi Kita Ini Korup Kok 

Agar terserap oleh Rakyat, Rizal Ramli Sarankan Skema Alokasi Dana
Otsus Papua Diubah

Oleh Muslimin

Senin, 26 Agustus 2019 14:26 WIB 

AKURAT.CO, Ekonom senior Rizal Ramli menyarankan agar skema pemberian
dana alokasi Otonomi khusus (Otsus) untuk Papua dan Papua Barat diubah,
agar Dana Alokasi dana Otsus itu tepat sasaran.

"Kita harus ubah, selama ini kan Rp 62 triliun tahun untuk 3,5 juta
rakyat Papua tapi dalam prakteknya rakyat dikampung-kampung di
gunung-gunung nyaris nggak terima apa-apa," kata Rizal Ramli dalam
diskusi bertajuk Ngobrol Bareng RR bertajuk "Papua" di Kawasan Tebet,
Jakarta Selatan, Senin (26/8/2019).

Mantan menteri koordinator perekonomian era presiden RI ke-4
Abdurrahman Wahid (Gus Dur) ini menyarankan agar sistem penyalurannya
diganti yakni bukan lagi melalui pemerintah pusat turun ke pemerintah
daerah, namun langsung ke masyarakat Papua dan Papua Barat. 

Caranya, Bank Rakyat Indonesia (BRI) mencetak ATM untuk seluruh
masyarakat bumi Cendrawasih yang penduduknya berjumlah 3,5 juta
tersebut. Sebab, Otsus Rp 62 triliun dibagi perpenduduk Papua 3,5 juta
jiwa maka mereka akan menerima dana Rp 17,7 juta perorang. Naasnya,
uang Rp 17,7 juta itu belum dirasakan oleh masyarakat di Papua dan
Papua Barat.

"Sistemnya kita minta BRI kasih ATM sama semua rakyat di Papua pertama
kasih sama ibu-ibunya, mama-mama, setiap bulan pemerintah ngasih 2,5
juta nggak ada masalah itu. Hari ini kan 17,7 juta perorang rakyat
nggak dapat apa-apa," kata dia.

Oleh karena itu, tegas RR, bila dibuat ATM dan diberi langsung ke
perorang, masyarakat Papua akan langsung merima manfaat dari Otsus itu
untuk keperluan mereka.

"Mending Rp 2,5 juta, mereka bisa pakai buat makanan, pendidikan,
Kesehatan dan itu cara yang lebih bagus. Kalau kita lewat birokrasi,
birokrasi kita ini korup kok," tukasnya.[]

2. Aparat Kita Sadis

Penyelesaian Persoalan Papua Jangan Lagi Pakai Militer

EDITOR by EDITOR

48 mins ago in Nasional

Kronologi, Jakarta – Penyelesaian persoalan di bumi Cendrawasih
hendaknya menggunakan pendekatan kemanusian. Pendekatan melalui
pengiriman militer seharusnya ditinggalkan.

Demikian disampaikan oleh mantan menteri koordinator perekonomian era
presiden Gus Dur, Rizal Ramli, di kawasan Tebet, Jakarta Selatan, Senin
(26/8/19).

“Kita harus lebih mengutamakan pendekatan kemanusian, damai, dalam
menyelesaikan mslh Papua jgn lagi menggunakan cara-cara kekerasan, cara
militeristik,” tegas RR, sapaan karibnya.

Menurut RR, jika pemerintah memakai pendekatan militer justru
masyarakat akan semakin tidak percaya terhadap pemerintah pusat.
Akibatnya, mereka berpotensi mendukung gerakan separatis.

“Cara-cara militer justru memacu ketidakpuasan yang lebih besar.
Akhirnya, malah mendorong rakyat mendukung gerakan militer (OPM/KKB
dll),” paparnya.

Sebaiknya, lanjut RR, Indonesia belajar dari peristiwa Gerakan Aceh
Merdeka (GAM) dan lepasnya Timor Timor, yang sekarang lepas dan merdeka
menjadi Timor Leste. Penyebab semuanya, karena pemerintah menggunakan
pendekatan militer dalam penyelesaian persoalan.

“Seperti terjadi di Aceh, Timor Leste, karena aparat kita sadis, hanya
menggunakan kekerasan akhirnya rakat biasa bersimpati dengan gerakan
kemerdekaan Timor Leste ataupun GAM, kita harus belajar,” tukasnya.

  
#yiv2954712746 #yiv2954712746 -- #yiv2954712746ygrp-mkp {border:1px solid 
#d8d8d8;font-family:Arial;margin:10px 0;padding:0 10px;}#yiv2954712746 
#yiv2954712746ygrp-mkp hr {border:1px solid #d8d8d8;}#yiv2954712746 
#yiv2954712746ygrp-mkp #yiv2954712746hd 
{color:#628c2a;font-size:85%;font-weight:700;line-height:122%;margin:10px 
0;}#yiv2954712746 #yiv2954712746ygrp-mkp #yiv2954712746ads 
{margin-bottom:10px;}#yiv2954712746 #yiv2954712746ygrp-mkp .yiv2954712746ad 
{padding:0 0;}#yiv2954712746 #yiv2954712746ygrp-mkp .yiv2954712746ad p 
{margin:0;}#yiv2954712746 #yiv2954712746ygrp-mkp .yiv2954712746ad a 
{color:#0000ff;text-decoration:none;}#yiv2954712746 #yiv2954712746ygrp-sponsor 
#yiv2954712746ygrp-lc {font-family:Arial;}#yiv2954712746 
#yiv2954712746ygrp-sponsor #yiv2954712746ygrp-lc #yiv2954712746hd {margin:10px 
0px;font-weight:700;font-size:78%;line-height:122%;}#yiv2954712746 
#yiv2954712746ygrp-sponsor #yiv2954712746ygrp-lc .yiv2954712746ad 
{margin-bottom:10px;padding:0 0;}#yiv2954712746 #yiv2954712746actions 
{font-family:Verdana;font-size:11px;padding:10px 0;}#yiv2954712746 
#yiv2954712746activity 
{background-color:#e0ecee;float:left;font-family:Verdana;font-size:10px;padding:10px;}#yiv2954712746
 #yiv2954712746activity span {font-weight:700;}#yiv2954712746 
#yiv2954712746activity span:first-child 
{text-transform:uppercase;}#yiv2954712746 #yiv2954712746activity span a 
{color:#5085b6;text-decoration:none;}#yiv2954712746 #yiv2954712746activity span 
span {color:#ff7900;}#yiv2954712746 #yiv2954712746activity span 
.yiv2954712746underline {text-decoration:underline;}#yiv2954712746 
.yiv2954712746attach 
{clear:both;display:table;font-family:Arial;font-size:12px;padding:10px 
0;width:400px;}#yiv2954712746 .yiv2954712746attach div a 
{text-decoration:none;}#yiv2954712746 .yiv2954712746attach img 
{border:none;padding-right:5px;}#yiv2954712746 .yiv2954712746attach label 
{display:block;margin-bottom:5px;}#yiv2954712746 .yiv2954712746attach label a 
{text-decoration:none;}#yiv2954712746 blockquote {margin:0 0 0 
4px;}#yiv2954712746 .yiv2954712746bold 
{font-family:Arial;font-size:13px;font-weight:700;}#yiv2954712746 
.yiv2954712746bold a {text-decoration:none;}#yiv2954712746 dd.yiv2954712746last 
p a {font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv2954712746 dd.yiv2954712746last p 
span {margin-right:10px;font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv2954712746 
dd.yiv2954712746last p span.yiv2954712746yshortcuts 
{margin-right:0;}#yiv2954712746 div.yiv2954712746attach-table div div a 
{text-decoration:none;}#yiv2954712746 div.yiv2954712746attach-table 
{width:400px;}#yiv2954712746 div.yiv2954712746file-title a, #yiv2954712746 
div.yiv2954712746file-title a:active, #yiv2954712746 
div.yiv2954712746file-title a:hover, #yiv2954712746 div.yiv2954712746file-title 
a:visited {text-decoration:none;}#yiv2954712746 div.yiv2954712746photo-title a, 
#yiv2954712746 div.yiv2954712746photo-title a:active, #yiv2954712746 
div.yiv2954712746photo-title a:hover, #yiv2954712746 
div.yiv2954712746photo-title a:visited {text-decoration:none;}#yiv2954712746 
div#yiv2954712746ygrp-mlmsg #yiv2954712746ygrp-msg p a 
span.yiv2954712746yshortcuts 
{font-family:Verdana;font-size:10px;font-weight:normal;}#yiv2954712746 
.yiv2954712746green {color:#628c2a;}#yiv2954712746 .yiv2954712746MsoNormal 
{margin:0 0 0 0;}#yiv2954712746 o {font-size:0;}#yiv2954712746 
#yiv2954712746photos div {float:left;width:72px;}#yiv2954712746 
#yiv2954712746photos div div {border:1px solid 
#666666;min-height:62px;overflow:hidden;width:62px;}#yiv2954712746 
#yiv2954712746photos div label 
{color:#666666;font-size:10px;overflow:hidden;text-align:center;white-space:nowrap;width:64px;}#yiv2954712746
 #yiv2954712746reco-category {font-size:77%;}#yiv2954712746 
#yiv2954712746reco-desc {font-size:77%;}#yiv2954712746 .yiv2954712746replbq 
{margin:4px;}#yiv2954712746 #yiv2954712746ygrp-actbar div a:first-child 
{margin-right:2px;padding-right:5px;}#yiv2954712746 #yiv2954712746ygrp-mlmsg 
{font-size:13px;font-family:Arial, helvetica, clean, sans-serif;}#yiv2954712746 
#yiv2954712746ygrp-mlmsg table {font-size:inherit;font:100%;}#yiv2954712746 
#yiv2954712746ygrp-mlmsg select, #yiv2954712746 input, #yiv2954712746 textarea 
{font:99% Arial, Helvetica, clean, sans-serif;}#yiv2954712746 
#yiv2954712746ygrp-mlmsg pre, #yiv2954712746 code {font:115% 
monospace;}#yiv2954712746 #yiv2954712746ygrp-mlmsg * 
{line-height:1.22em;}#yiv2954712746 #yiv2954712746ygrp-mlmsg #yiv2954712746logo 
{padding-bottom:10px;}#yiv2954712746 #yiv2954712746ygrp-msg p a 
{font-family:Verdana;}#yiv2954712746 #yiv2954712746ygrp-msg 
p#yiv2954712746attach-count span {color:#1E66AE;font-weight:700;}#yiv2954712746 
#yiv2954712746ygrp-reco #yiv2954712746reco-head 
{color:#ff7900;font-weight:700;}#yiv2954712746 #yiv2954712746ygrp-reco 
{margin-bottom:20px;padding:0px;}#yiv2954712746 #yiv2954712746ygrp-sponsor 
#yiv2954712746ov li a {font-size:130%;text-decoration:none;}#yiv2954712746 
#yiv2954712746ygrp-sponsor #yiv2954712746ov li 
{font-size:77%;list-style-type:square;padding:6px 0;}#yiv2954712746 
#yiv2954712746ygrp-sponsor #yiv2954712746ov ul {margin:0;padding:0 0 0 
8px;}#yiv2954712746 #yiv2954712746ygrp-text 
{font-family:Georgia;}#yiv2954712746 #yiv2954712746ygrp-text p {margin:0 0 1em 
0;}#yiv2954712746 #yiv2954712746ygrp-text tt {font-size:120%;}#yiv2954712746 
#yiv2954712746ygrp-vital ul li:last-child {border-right:none 
!important;}#yiv2954712746   

Kirim email ke