Artikel <https://www.antaranews.com/slug/artikel>
Pemimpin masa depan harus memiliki kompetensi inovasi
Oleh Martha Herlinawati SJumat, 8 November 2019 13:15 WIB
Pemimpin masa depan harus memiliki kompetensi inovasi
Menteri Riset dan Teknologi (Menristek)/Kepala Badan Riset dan Inovasi
Nasional (BRIN) Bambang P.S. Brodjonegoro berbicara kepada wartawan
dalam peluncuran buku "Leaders of a New Planet" di kantor PT Daya
Dimensi Indonesia, Kawasan Mega Kuningan, Jakarta, Jumat (8/11/2019).
(ANTARA/Martha Herlinawati Simanjuntak)
Mereka tidak akan bertahan jika tidak memiliki SDM yang terampil
Jakarta (ANTARA) - Dalam menghadapi era baru dari revolusi industri 4.0
diperlukan sumber daya manusia yang mumpuni dan melek teknologi.
Mampu beradaptasi dengan cepat terhadap perubahan zaman dan
mengoptimalkan pemanfaatan teknologi serta inovasi menjadi kunci bagi
berhasilnya pemimpin-pemimpin pada masa mendatang.
Menteri Riset dan Teknologi (Menristek)/Kepala Badan Riset dan Inovasi
Nasional (BRIN) Bambang P.S. Brodjonegoro mengatakan pemimpin yang mampu
bertahan dan berkembang di masa depan adalah orang yang memiliki
kompetensi inovasi.
"Bicara mengenai 'leaders in a new planet', sebagai akibat dari revolusi
industri 4.0, 'leaders' yang 'survive' dan 'lead' (pemimpin yang mampu
bertahan dan dapat memimpin) adalah 'leaders' yang bagaimana pun
berbasis pada inovasi, atau 'promote' inovasi," kata dia dalam
peluncuran buku "Leaders of a New Planet" di kantor PT Daya Dimensi
Indonesia, Kawasan Mega Kuningan, Jakarta, Jumat.
Suatu peradaban atau suatu ekonomi bangsa hanya akan dapat maju
signifikan jika memiliki atau menguasai kemajuan inovasi dan sumber daya
manusia (SDM) unggul.
Bonus demografi Indonesia juga harus bisa dimanfaatkan optimal dengan
arah pengembangan SDM yang menjadi adaptif, kreatif, dan inovatif
sehingga mendapat manfaat sebesar-besarnya pada era revolusi industri
4.0 dan ekonomi digital.
Menurut Menristek Bambang, SDM yang bisa memajukan bangsa Indonesia dan
memimpin era ini ke depan adalah mereka yang tidak hanya mempunyai "hard
skill", akan tetapi juga "soft skill".
"Soft skill" tersebut berujung pada kompetensi inovasi. SDM itu harus
memiliki kemampuan, antara lain kreativitas, inisiatif/ide yang
inovatif, pemikiran kritis, mampu bekerja dalam tim dan membangun jaringan.
*Baca juga:Menristek: Revolusi Industri butuh peningkatan SDM analis big
data
<https://www.antaranews.com/berita/1152228/menristek-revolusi-industri-butuh-peningkatan-sdm-analis-big-data>*
"Inisiatif bisa muncul kalau 'networking' (jaringan) dan 'team work'
(kerja tim). Lalu 'critical thinking' (berpikir kritis) supaya inisiatif
tidak asal, bisa lanjut ke kreativitas lalu berujung ke inovasi," ujarnya.
Untuk menjadi inovatif, seseorang juga harus cepat adaptif dengan
perkembangan dan kemajuan teknologi, yang banyak mengisi sektor
kehidupan saat ini dan yang akan datang.
Pemimpin pada era baru ini juga dituntut ramah teknologi dan mampu
memanfaatkannya untuk peningkatan produktivitas diri sehingga
berkontribusi optimal dalam memajukan ekonomi bangsa.
"'New leaders' tidak boleh gaptek (gagap teknologi), tapi harus punya
digital literasi, tidak harus ahli 'coding', paling tidak mengerti
bisnis digital dan paham kenapa digital 'mainstream' ke depan," ujarnya.
Untuk mewujudkan Indonesia maju pada 2045, Menristek Bambang mengatakan
tidak bisa dilakukan dengan "business as usual", seperti sekarang ini
atau berdoa Indonesia baik-baik saja, melainkan harus ada terobosan yang
berupa inovasi.
Pada tahun 50-an, Indonesia dan Korea merupakan negara miskin di Asia
akibat perang dan penjajahan. Di sisi lain, Indonesia memiliki kekayaan
alam yang lebih melimpah dibandingkan dengan Korea.
Namun, pada pertengahan tahun 70-an, Korea mampu berkembang menjadi
negara berpendapatan menengah, sedangkan Indonesia baru dapat berada di
posisi itu pada tahun 90-an. Kemudian tahun 90-an, Korea telah menjadi
negara maju, sedangkan Indonesia belum mencapai posisi itu hingga saat ini.
"Negara maju bukan karena 'abundant natural resources' (sumber daya alam
yang melimpah), yang dia (Korea, red.) punya 'human resources' (sumber
daya manusia)," ujar dia.
*Baca juga:Menristek dorong mahasiswa adaptif pada disrupsi-kemajuan
teknologi
<https://www.antaranews.com/berita/1145308/menristek-dorong-mahasiswa-adaptif-pada-disrupsi-kemajuan-teknologi>*
Oleh karena tidak memiliki SDM melimpah, maka Korea berinvestasi
besar-besaran di SDM. Korea memperkuat dan mengembangkan penelitian dan
pengembangan yang berujung pada terciptanya inovasi.
"Mereka tidak akan bertahan jika tidak memiliki SDM yang terampil,"
tutur dia.
Dalam rangka memaknai Hari Pahlawan, Dayalima meluncurkan buku "Leaders
of a New Planet" yang menceritakan tentang refleksi perjalanan
kepemimpinan Indonesia, sejak era perjuangan hingga dewasa ini.
Buku ini ditulis oleh tiga direktur PT Daya Dimensi Indonesia, yakni
Ketut Saguna Narayana, Rainier (Rene) Turangan, dan Yuri Yogaswara.
Buku tersebut juga merupakan proyeksi kepemimpinan yang dibutuhkan pada
masa kini dan yang akan datang.
Presiden Direktur PT Daya Dimensi Indonesia Yuri Yogaswara mengatakan
prinsip "leaders of a new planet" mendukung visi Indonesia 2045 dan
empat pilar pembangunan nasional.
Menurut dia, salah satu kunci untuk mewujudkan Indonesia yang bersatu,
berdaulat, adil, dan makmur adalah memajukan SDM yang mampu berpikir
kritis dan berinovasi.
Sumber daya manusia Indonesia juga harus memiliki keberanian untuk
keluar dari zona nyaman dan kepemimpinan untuk menginspirasi berjuta
rakyat Indonesia agar bergerak menuju pembaruan.
*Baca juga:Ketua GLS: Literasi mampu ciptakan SDM unggul
<https://www.antaranews.com/berita/1139067/ketua-gls-literasi-mampu-ciptakan-sdm-unggul>*
Para pemimpin dan calon penerus bangsa harus membekali diri dengan niat
yang tulus agar setiap usaha berujung kepada kebaikan bagi bangsa dan dunia.
Dalam buku itu, Yuri juga membahas benang merah dan karakteristik dari
beberapa tokoh sejarah yang membuat gebrakan.
Buku ini memaparkan tentang "leadership model" yang merinci bagaimana
pemahaman akan makna dan nilai hidup seseorang yang dipadu dengan
kejelasan dan keselarasan karakter dan sikap kepemimpinan akan menjadi
tindakan dan keputusan yang tepat sasaran.
Direktur Daya Dimensi Indonesia Rene Turangan menuturkan peluncuran buku
"Leaders of a New Planet" juga bertujuan meyakinkan generasi muda akan
pentingnya mengenal diri sendiri sebagai langkah awal membangun
kepemimpinan.
Buku itu juga memberikan riset hasil penilaian yang dilakukan kepada
lebih dari 30 ribu pemimpin selama 10 tahun terakhir, yang mencakup
antara lain profil pemimpin-pemimpin top Indonesia dan gaya kepemimpinan
yang terbukti efektif untuk berbagai industri.
Associate Director Daya Dimensi Indonesia Ketut Saguna mengatakan para
pemimpin planet baru (leaders of a new planet) bukan sekadar wacana,
melainkan suatu kerangka hidup yang terus berkembang.
Untuk itu, setiap individu harus menempatkan kepemimpinan sebagai titik
tumpu utama dalam pendidikan karakter, bukan hanya untuk para pemimpin
negara, namun juga setiap elemen masyarakat yang dimulai dari keluarga
sebagai unit terkecil masyarakat.
*Baca juga:SDM unggul peluang emas untuk Indonesia maju
<https://www.antaranews.com/berita/1126779/sdm-unggul-peluang-emas-untuk-indonesia-maju>
Baca juga:Kemristek: organisasi profesi iptek ciptakan iklim untuk SDM
unggul
<https://www.antaranews.com/berita/1138255/kemristek-organisasi-profesi-iptek-ciptakan-iklim-untuk-sdm-unggul>*
Oleh Martha Herlinawati S
Editor: M. Hari Atmoko