REFLEKSI: 

PEMIMPIM MASA DEPAN YANG BISA DIHARAPKAN ADALAH 

PEMIMPIN YANG VISIONER DAN KARISMATIK

 

Kebangkitan suatu bangsa adalah merupakan fungsi dari sistem sosial bangsa itu 
secara keseluruhan. Untuk maksud tersebuat sejak awal dimulainya ``reformasi``, 
saya mengambil suatu posisi secara jelas bahwa : Proses  kebangkitan suatu 
bangsa hendaknya dimulai oleh suatu reformasi sosial yang fundamental atau 
mendasar, dalam berbagai aspek.  Proklamasi kemerdekaan kita mengabsahkan dan 
memberi dimensi bagi misi-misi kultural ini.

 

Pengalaman sejarah duinia telah mencatat bahwa:  Negara maju yang sekarang ini 
ada, seperti Amerika Utara, Sowjetunion, Unieuropa, RRC, dll; bisa  meraih 
posisinya seperti sekarang ini dikarenakan mereka telah memulai proses 
perombakan tatanan sosial-ekonomi dalam negeri mereka, melalui suatu apa yang 
disebut reformasi sosial yang fundamental atau mendasar. Adapun tatanan 
social-ekonomi yang secara mendasar harus dirombak ini adalah struktur social 
yang pincang, yang merefleksikan dirinya dalam dialektik hubungan ekonomi yang 
eksploitatif yang menghasilkan berakomulasinya apa yang disebut ``rente 
ekonomi`` ditangan sekelompok anggota masyarakat NKRI yang tergabung dalam 
kelompok oligarki ekonomi, yang membina basis kekuasaan sosial-politik, baik 
secara formal maupun secara non-formal untuk melindungi,memperkokoh, dan 
memperluas kepentingan mereka. Dengan begitu, maka terjadilah apa yang disebut 
situasai self-reinforsing antara jaringan kekuasaan ekonomi dengan jaringan 
kekuasaan politik. Kondesi seperti ini sampai saat ini masih terrus berlanjut. 

 

Untuk melaksanakan maksud tersebut diatas, bangsa Indonesia sebaiknya harus 
kembali kejalan konstitusi negara kita yaitu UUD 45 asli, yang dalam konteks 
ini adalah Pasal 33 UUD 45 dan Pancasila 1 juni 1945, untuk maksud  itu maka 
sungguh relevan jika : Bangsa Indonesia  dapat menegakan seorang peminpin yang 
visioner, dan karismatik; dan  mempunyai akhlak disiplin ekonomi opportunnity 
cost;  yaitu memilih berbagai macam alternatif pilihan,  misalnya :  

 

1.  Harus memilih Urgensi bukan gengsi, artinya bukan memilih High-technologi, 
yaitu glamor-glamor teknologi; tapi memilih  Urgensi yaitu membangun Kecerdasan 
kehidupan bangsa , yang berarti menaikkan derajat kehidupannya sebagai bagian 
dari SDM, meningkatkan kemampuan pikiran dan kemampuan budaya, menghapus 
sikap-sikap inlander, yang penuh dengan  minderwaardigheidscomplex. Jadi bukan 
tehnologinnya yang kita bangun tapi Rakyat-lah yang harus kita bangun, berarti 
manusianya yang harus kita bangun.

2.  Harus memilih Program penghematan bukan program utang luarnegeri, karena 
utang luarnegeri ternyata telah menjadikan NKRI sebagai Negara jajahan model 
baru dari kaum kapitalis neoliberal yang sudah menggelobal (IMF, Bank Dunia 
dll), dan akan membebani kehiduapan generasi bangsa kita dinasa depan.

3-  Harus memilih program Kekenesan ekonomi (ekonomi kerakyatan, dan ramah 
lingkungan), bukan memilih ekonomi yang munafik (ekonomi neoliberal), yang 
merefleksikan dirinya dalam dialektika ekonomi yang eksploitatif, yang 
menyebabkan terjadinya kesejangan social, dan kemiskinan diseluruh nusantara.

4. Harus memilih program kedaulatan rakyat, bukan memilih program kedaulatan 
pasar, karena kedaulatan pasar telah menyebabkan malapetaka besar bagi 
kesejahteraan hidup rakyat terutama wong ciliknya (cermati program kenaikan 
harga BBM). Harus siap, back to the basics >>Pasal 33 UUD 45>> mengutamakan 
kedaulatan rakyat daripada kedaulatan pasar bebes.

5.  Harus memilih program menjunjung tinggi pri-kemanusiaan atau HAM, seperti 
yang tercantum dalam sila ke dua dari Pancasila 1 Juni 1945 versi BK,  bukan 
memilih pelanggaran HAM.

 

Akhak opportunnity cost ini sadar atau tidak sadar dianut oleh manusia-manusia  
rasional dalam memilih berbagai macam alternative. Misalmya seorang  pemimpin  
yang memahami teknologi sebagai factor produksi strategis, tentu akan menjadi 
seorang pemimpin plus . Kecuali itu ia harus seorang peminpin yang benar-benar 
memahami makna dan mampu menjalankan konstitusi negara kita yang berdasarkan 
UUD 45 asli yang dalam konteks ini adalah Pasal 33 UUD 45, dan Pancasila 1 
Juni1945, sehingga tejadilah suatu pasar sempurna, yang lebih mementingkan 
``Survival of the wisest``daripada survival of the fittes . Karena setiap 
peserta ekonomi kapitalis neoliberal sekarang ini bekerja hanya untuk 
kepentingannya sendiri-sendiri.  Oleh karena itu seorang pemimpin harus bisa 
mengadakan aturan main pasar sempurna ; sehingga suatu invisible hand  bisa 
muncul, dan membawa seluruh peserta ekonomi dan seluruh masyarakat kesuatu 
tingkat kesejahteraan yang lebih tinggi. Selain itu  seorang pemimpin yang 
visioner berpeluang untuk membangun pilar-pilar karisma yang akan membuat dia 
bisa sempurna untuk disebut sebagai pemimpin yang karismatik. Jadi, visioner 
adalah persyaratan minimal bagi seorang pemimpin yang diharapkan oleh bangsa 
Indonesia,  Sayangnya  hasil pemilu 2019 belum dapat menghasilkan seorang 
pemimpin (Presiden) yang visioner dan sekaligus karismatik.

 

Kita semua telah mengetahui bahwa  pemilu 2019 yang telah berlalu, dan telah 
gagal dalam usahnya untuk menemukan seorang pemimpin yang visioner dan 
sekaligus karismatik, yang dapat menghancurkan virus ganas, yaitu ideologi 
Neoliberalisme, yang telah menyebar luas (bermetastase) keseluruh jaring-jaring 
kehidupan masyarakat luas Indonesia. 

Bisa dipercaya bahwa keberadaan seorang pemimpin yang visioner dan sekaligus 
karismatik , pasti akan dapat melakukan terobosan pemikiran baru msalnya : 
``Atomisasi``,  

..

Mengapa harus Atomisasi ? ; Atomisasi dalam konteks ini berarti kita harus 
berintrospective (mawasdiri); Ini disebabkan oleh karena generasi bangsa 
Indonesia yang hidup di era ``reformasi`` sekarang ini berada dalam cengkeraman 
kuat dari ideologi neoliberalisme, yang sulit untuk dilawan karena adanya 
intervensi dari penegak negara yang mengikuti dan latah pada ideologi 
Neoliberalisme, banyak polotisi kita,dan juga orang-orang pinter kita, para 
pakar ekonomi, ahli-ahli hukum, para Uastat, dll; sebagian dari mereka,terutama 
sekali golongan pemuda-pemuda, yaitu generasi melinial; terkesan kuat bahwa 
mereka-mereka itu hanya mengagumi hasil-hasil  kerja cemerlang dan 
glamor-glamor infrastruktur teknologi tinggi, gedung-gedung pencakar langit, 
dll, yang di ciptakan oleh rezim  penguasa yang mengnut ideologi 
neoliberalisme; sehingga mereka terlena , dan lolos dari tugas-tugasnya yaitu : 
Tugas untuk mempertahankan keutuhan NKRI, Kedaulatan dan Kemerdekaan NKRI dan 
kemurnian UUD 45 khususnya Pasal 33 UUD 45 dan Pancasila; mempertahankan harga 
diri dan jatidiri sebagai bangsa yang mandiri didalam suatu NKRI. Proklamsi 
kemerdekaan kita mengabsahkan dan memberi dimensi bagi misi-misi kultural 
tersebut!!!  

 

Trobosan berpikir Atomisasi sangat perlu di ciptakan untuk menghadapi 
perlawanan sengit dari kaum kapitalis neolibiberal yang kini mendominasi pasar 
dunia, termasuk di NKRI. Ini tercermin dalam era kekuasaan rezim-rezim 
``reformasi``sampai sekarang ini. Oleh karena itulah sungguh relevan jika tema 
melawan Neoliberalisme harus dijadikan tema pokok dalam meneruskan revolusi 
Indonesia untuk mencapai Indonesia yang adil dan makmur, dan pemimpin yang 
visioner dan sekaligus karismatik dimasa depan.

 

Roeslan,

 

---------------------------------------------------------------------------

Von: [email protected] [mailto:[email protected]] 
Gesendet: Montag, 11. November 2019 11:37
An: Gelora 45; ChanCT
Betreff: Re: [GELORA45] Pemimpin masa depan harus memiliki kompetensi inovasi

 

  

Bagaimana dengan pemimpin atau pimpinan masa sekarang? Apakah tidak dibutuhkan 
kompetensi inovasi?

 

On Fri, Nov 8, 2019 at 7:55 AM ChanCT  <mailto:[email protected]> 
[email protected] [GELORA45] < <mailto:[email protected]> 
[email protected]> wrote:

  

Mereka tidak akan bertahan jika tidak memiliki SDM yang terampil

Jakarta (ANTARA) - Dalam menghadapi era baru dari revolusi industri 4.0 
diperlukan sumber daya manusia yang mumpuni dan melek teknologi.

Mampu beradaptasi dengan cepat terhadap perubahan zaman dan mengoptimalkan 
pemanfaatan teknologi serta inovasi menjadi kunci bagi berhasilnya 
pemimpin-pemimpin pada masa mendatang.

Menteri Riset dan Teknologi (Menristek)/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional 
(BRIN) Bambang P.S. Brodjonegoro mengatakan pemimpin yang mampu bertahan dan 
berkembang di masa depan adalah orang yang memiliki kompetensi inovasi.

"Bicara mengenai 'leaders in a new planet', sebagai akibat dari revolusi 
industri 4.0, 'leaders' yang 'survive' dan 'lead' (pemimpin yang mampu bertahan 
dan dapat memimpin) adalah 'leaders' yang bagaimana pun berbasis pada inovasi, 
atau 'promote' inovasi," kata dia dalam peluncuran buku "Leaders of a New 
Planet" di kantor PT Daya Dimensi Indonesia, Kawasan Mega Kuningan, Jakarta, 
Jumat.

Suatu peradaban atau suatu ekonomi bangsa hanya akan dapat maju signifikan jika 
memiliki atau menguasai kemajuan inovasi dan sumber daya manusia (SDM) unggul.

Bonus demografi Indonesia juga harus bisa dimanfaatkan optimal dengan arah 
pengembangan SDM yang menjadi adaptif, kreatif, dan inovatif sehingga mendapat 
manfaat sebesar-besarnya pada era revolusi industri 4.0 dan ekonomi digital.

Menurut Menristek Bambang, SDM yang bisa memajukan bangsa Indonesia dan 
memimpin era ini ke depan adalah mereka yang tidak hanya mempunyai "hard 
skill", akan tetapi juga "soft skill".

"Soft skill" tersebut berujung pada kompetensi inovasi. SDM itu harus memiliki 
kemampuan, antara lain kreativitas, inisiatif/ide yang inovatif, pemikiran 
kritis, mampu bekerja dalam tim dan membangun jaringan.

Baca juga:  
<https://www.antaranews.com/berita/1152228/menristek-revolusi-industri-butuh-peningkatan-sdm-analis-big-data>
 Menristek: Revolusi Industri butuh peningkatan SDM analis big data

"Inisiatif bisa muncul kalau 'networking' (jaringan) dan 'team work' (kerja 
tim). Lalu 'critical thinking' (berpikir kritis) supaya inisiatif tidak asal, 
bisa lanjut ke kreativitas lalu berujung ke inovasi," ujarnya.

Untuk menjadi inovatif, seseorang juga harus cepat adaptif dengan perkembangan 
dan kemajuan teknologi, yang banyak mengisi sektor kehidupan saat ini dan yang 
akan datang.

ref

 

Von: [email protected] [mailto:[email protected]] 
Gesendet: Montag, 11. November 2019 11:37
An: Gelora 45; ChanCT
Betreff: Re: [GELORA45] Pemimpin masa depan harus memiliki kompetensi inovasi

 

  

Bagaimana dengan pemimpin atau pimpinan masa sekarang? Apakah tidak dibutuhkan 
kompetensi inovasi?

 

On Fri, Nov 8, 2019 at 7:55 AM ChanCT  <mailto:[email protected]> 
[email protected] [GELORA45] < <mailto:[email protected]> 
[email protected]> wrote:

  

Mereka tidak akan bertahan jika tidak memiliki SDM yang terampil

Jakarta (ANTARA) - Dalam menghadapi era baru dari revolusi industri 4.0 
diperlukan sumber daya manusia yang mumpuni dan melek teknologi.

Mampu beradaptasi dengan cepat terhadap perubahan zaman dan mengoptimalkan 
pemanfaatan teknologi serta inovasi menjadi kunci bagi berhasilnya 
pemimpin-pemimpin pada masa mendatang.

Menteri Riset dan Teknologi (Menristek)/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional 
(BRIN) Bambang P.S. Brodjonegoro mengatakan pemimpin yang mampu bertahan dan 
berkembang di masa depan adalah orang yang memiliki kompetensi inovasi.

"Bicara mengenai 'leaders in a new planet', sebagai akibat dari revolusi 
industri 4.0, 'leaders' yang 'survive' dan 'lead' (pemimpin yang mampu bertahan 
dan dapat memimpin) adalah 'leaders' yang bagaimana pun berbasis pada inovasi, 
atau 'promote' inovasi," kata dia dalam peluncuran buku "Leaders of a New 
Planet" di kantor PT Daya Dimensi Indonesia, Kawasan Mega Kuningan, Jakarta, 
Jumat.

Suatu peradaban atau suatu ekonomi bangsa hanya akan dapat maju signifikan jika 
memiliki atau menguasai kemajuan inovasi dan sumber daya manusia (SDM) unggul.

Bonus demografi Indonesia juga harus bisa dimanfaatkan optimal dengan arah 
pengembangan SDM yang menjadi adaptif, kreatif, dan inovatif sehingga mendapat 
manfaat sebesar-besarnya pada era revolusi industri 4.0 dan ekonomi digital.

Menurut Menristek Bambang, SDM yang bisa memajukan bangsa Indonesia dan 
memimpin era ini ke depan adalah mereka yang tidak hanya mempunyai "hard 
skill", akan tetapi juga "soft skill".

"Soft skill" tersebut berujung pada kompetensi inovasi. SDM itu harus memiliki 
kemampuan, antara lain kreativitas, inisiatif/ide yang inovatif, pemikiran 
kritis, mampu bekerja dalam tim dan membangun jaringan.

Baca juga:  
<https://www.antaranews.com/berita/1152228/menristek-revolusi-industri-butuh-peningkatan-sdm-analis-big-data>
 Menristek: Revolusi Industri butuh peningkatan SDM analis big data

"Inisiatif bisa muncul kalau 'networking' (jaringan) dan 'team work' (kerja 
tim). Lalu 'critical thinking' (berpikir kritis) supaya inisiatif tidak asal, 
bisa lanjut ke kreativitas lalu berujung ke inovasi," ujarnya.

Untuk menjadi inovatif, seseorang juga harus cepat adaptif dengan perkembangan 
dan kemajuan teknologi, yang banyak mengisi sektor kehidupan saat ini dan yang 
akan datang.

Pemimpin pada era baru ini juga dituntut ramah teknologi dan mampu 
memanfaatkannya untuk peningkatan produktivitas diri sehingga berkontribusi 
optimal dalam memajukan ekonomi bangsa.

"'New leaders' tidak boleh gaptek (gagap teknologi), tapi harus punya digital 
literasi, tidak harus ahli 'coding', paling tidak mengerti bisnis digital dan 
paham kenapa digital 'mainstream' ke depan," ujarnya.

Untuk mewujudkan Indonesia maju pada 2045, Menristek Bambang mengatakan tidak 
bisa dilakukan dengan "business as usual", seperti sekarang ini atau berdoa 
Indonesia baik-baik saja, melainkan harus ada terobosan yang berupa inovasi.

Pada tahun 50-an, Indonesia dan Korea merupakan negara miskin di Asia akibat 
perang dan penjajahan. Di sisi lain, Indonesia memiliki kekayaan alam yang 
lebih melimpah dibandingkan dengan Korea.

Namun, pada pertengahan tahun 70-an, Korea mampu berkembang menjadi negara 
berpendapatan menengah, sedangkan Indonesia baru dapat berada di posisi itu 
pada tahun 90-an. Kemudian tahun 90-an, Korea telah menjadi negara maju, 
sedangkan Indonesia belum mencapai posisi itu hingga saat ini.

"Negara maju bukan karena 'abundant natural resources' (sumber daya alam yang 
melimpah), yang dia (Korea, red.) punya 'human resources' (sumber daya 
manusia)," ujar dia.

Baca juga:  
<https://www.antaranews.com/berita/1145308/menristek-dorong-mahasiswa-adaptif-pada-disrupsi-kemajuan-teknologi>
 Menristek dorong mahasiswa adaptif pada disrupsi-kemajuan teknologi

Oleh karena tidak memiliki SDM melimpah, maka Korea berinvestasi besar-besaran 
di SDM. Korea memperkuat dan mengembangkan penelitian dan pengembangan yang 
berujung pada terciptanya inovasi.

"Mereka tidak akan bertahan jika tidak memiliki SDM yang terampil," tutur dia.

Dalam rangka memaknai Hari Pahlawan, Dayalima meluncurkan buku "Leaders of a 
New Planet" yang menceritakan tentang refleksi perjalanan kepemimpinan 
Indonesia, sejak era perjuangan hingga dewasa ini.

Buku ini ditulis oleh tiga direktur PT Daya Dimensi Indonesia, yakni Ketut 
Saguna Narayana, Rainier (Rene) Turangan, dan Yuri Yogaswara.

Buku tersebut juga merupakan proyeksi kepemimpinan yang dibutuhkan pada masa 
kini dan yang akan datang.

Presiden Direktur PT Daya Dimensi Indonesia Yuri Yogaswara mengatakan prinsip 
"leaders of a new planet" mendukung visi Indonesia 2045 dan empat pilar 
pembangunan nasional.

Menurut dia, salah satu kunci untuk mewujudkan Indonesia yang bersatu, 
berdaulat, adil, dan makmur adalah memajukan SDM yang mampu berpikir kritis dan 
berinovasi.

Sumber daya manusia Indonesia juga harus memiliki keberanian untuk keluar dari 
zona nyaman dan kepemimpinan untuk menginspirasi berjuta rakyat Indonesia agar 
bergerak menuju pembaruan.

Baca juga:  
<https://www.antaranews.com/berita/1139067/ketua-gls-literasi-mampu-ciptakan-sdm-unggul>
 Ketua GLS: Literasi mampu ciptakan SDM unggul

Para pemimpin dan calon penerus bangsa harus membekali diri dengan niat yang 
tulus agar setiap usaha berujung kepada kebaikan bagi bangsa dan dunia.

Dalam buku itu, Yuri juga membahas benang merah dan karakteristik dari beberapa 
tokoh sejarah yang membuat gebrakan.

Buku ini memaparkan tentang "leadership model" yang merinci bagaimana pemahaman 
akan makna dan nilai hidup seseorang yang dipadu dengan kejelasan dan 
keselarasan karakter dan sikap kepemimpinan akan menjadi tindakan dan keputusan 
yang tepat sasaran.

Direktur Daya Dimensi Indonesia Rene Turangan menuturkan peluncuran buku 
"Leaders of a New Planet" juga bertujuan meyakinkan generasi muda akan 
pentingnya mengenal diri sendiri sebagai langkah awal membangun kepemimpinan.

Buku itu juga memberikan riset hasil penilaian yang dilakukan kepada lebih dari 
30 ribu pemimpin selama 10 tahun terakhir, yang mencakup antara lain profil 
pemimpin-pemimpin top Indonesia dan gaya kepemimpinan yang terbukti efektif 
untuk berbagai industri.

Associate Director Daya Dimensi Indonesia Ketut Saguna mengatakan para pemimpin 
planet baru (leaders of a new planet) bukan sekadar wacana, melainkan suatu 
kerangka hidup yang terus berkembang.

Untuk itu, setiap individu harus menempatkan kepemimpinan sebagai titik tumpu 
utama dalam pendidikan karakter, bukan hanya untuk para pemimpin negara, namun 
juga setiap elemen masyarakat yang dimulai dari keluarga sebagai unit terkecil 
masyarakat.

Baca juga:  
<https://www.antaranews.com/berita/1126779/sdm-unggul-peluang-emas-untuk-indonesia-maju>
 SDM unggul peluang emas untuk Indonesia maju
Baca juga:  
<https://www.antaranews.com/berita/1138255/kemristek-organisasi-profesi-iptek-ciptakan-iklim-untuk-sdm-unggul>
 Kemristek: organisasi profesi iptek ciptakan iklim untuk SDM unggul
  

Oleh Martha Herlinawati S
Editor: M. Hari Atmoko



Kirim email ke