Infrastructure lebih penting. Sapa suruh jadi dokter? Sapa suruh jadi guru 
dengan honor cuma 150 ribu = 10 usd. sebulan.Kalo sedikit yg mau jadi guru, 
jadi dokter nanti kan jadi rebutan yg berimbas gaji tinggi.Ayo, jadi maling 
duit rakyat saja. Ketangkep dibui juga cuma sebentar. Ngemaling 100 milyard, 
dendanya cuma  seperberapanya saja, masih cukup buat hidup makmur 3 turunan. Ga 
usah takut cibiran masyarakat. Banyak duit ga akan diusut darimana asalnya, 
artis2 cantik pada ngantri dijadikan istri, menantu. Moral? Mana ada jaman 
sekarang. Sent from my Verizon, Samsung Galaxy smartphone
-------- Original message --------From: "Sunny ambon [email protected] 
[GELORA45]" <[email protected]> Date: 11/9/19  10:21 AM  (GMT-08:00) To: 
 Subject: [GELORA45] 80% Rumah Sakit Mengalami Tunggakan Pembayaran BPJS 
 



  


    
      
      
      
        
        


http://www.sinarharapan.co/kesra/read/9590/80___rumah_sakit_mengalami_tunggakan_pembayaran_bpjs


80
% Rumah Sakit Mengalami Tunggakan Pembayaran BPJS

Sabtu
, 02 November 2019 | 20:20 





JAKARTA--Wakil
Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) Moh. Adib
Khumaidi memperkirakan bahwa 80 persen mitra rumah sakit yang telah
bekerja sama dengan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS)
Kesehatan mengalami tunggakan dalam pembayaran.

Saat
ini rumah sakit yang bermitra dengan BPJS Kesehatan berjumlah
2.520. “Saat ini 80 persen rumah sakit sudah bekerja sama
dengan BPJS, kemudian mengalami tunggakan di dalam pembayaran bpjs.
Ini menjadi hal yang sangat krusial, kualitas yang akan kita berikan
juga akan berdampak,” ujar Moh. Adib di Jakarta, Sabtu (2/11/2019).

Adib
mengapresiasi dengan kebijakan pemerintah yang menaikkan iuran BPJS.
Namun, dirinya masih ragu jika kenaikan BPJS tidak serta-merta
meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan yang baik. “Karena
konsep (kenaikan BPJS) sekarang, hanya berbicara terkait konsep
menangani defisit,” tutur Adib.

Adib
juga prihatin kepada teman-teman dokter di daerah yang belum
dibayarkan gajinya. Namun, ia menilai hal ini sudah menjadi kebiasaan
dalam sistem JKN. “Teman-teman di seluruh rumah sakit, bahkan
di daerah sudah menangis dengan kondisi saat ini. Ada yang sekiabn
bulan belum dibayar, dan dampaknya ke SDM. Dokternya pun belum
dibayar, tapi kami udah terbiasa karena kami sangat mendukung program
JKN,” keluhnya.

Adib
berharap pemerintah bisa menutup semua defisit keuangan BPJS
Kesehatan dan nantinya akan me-redesign sistem
Jaminan Kesehatan Nasional. “Awal langsung tutup semua,
kemudian kita re-design JKN, kita sehatkan JKN, kita
memperbaiki connecting dan
sebagainya. Tapi, tutup dulu itu, karena itu akan berdampak seperti
gali lubang, tutup lubang,” tegasnya









    
     

    
    


Kirim email ke