cetak duit ---In [email protected], <ajegilelu@...> wrote :
Oo.. begitu toh. Pahamlah sekarang maksud dari revisi UU KPK, koruptor cukup dinasehati... Kalau yang kartu sakti Indonesia Sehat ciptaan PYM JKW, dari mana ya dananya? --- marthajan04@... wrote: Infrastructure lebih penting. Sapa suruh jadi dokter? Sapa suruh jadi guru dengan honor cuma 150 ribu = 10 usd. sebulan. Kalo sedikit yg mau jadi guru, jadi dokter nanti kan jadi rebutan yg berimbas gaji tinggi. Ayo, jadi maling duit rakyat saja. Ketangkep dibui juga cuma sebentar. Ngemaling 100 milyard, dendanya cuma seperberapanya saja, masih cukup buat hidup makmur 3 turunan. Ga usah takut cibiran masyarakat. Banyak duit ga akan diusut darimana asalnya, artis2 cantik pada ngantri dijadikan istri, menantu. Moral? Mana ada jaman sekarang. Sent from my Verizon, Samsung Galaxy smartphone -------- Original message -------- From: Sunny ambon http://www.sinarharapan.co/kesra/read/9590/80___rumah_sakit_mengalami_tunggakan_pembayaran_bpjs http://www.sinarharapan.co/kesra/read/9590/80___rumah_sakit_mengalami_tunggakan_pembayaran_bpjs 80 % Rumah Sakit Mengalami Tunggakan Pembayaran BPJS Sabtu , 02 November 2019 | 20:20 JAKARTA--Wakil Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) Moh. Adib Khumaidi memperkirakan bahwa 80 persen mitra rumah sakit yang telah bekerja sama dengan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan mengalami tunggakan dalam pembayaran. Saat ini rumah sakit yang bermitra dengan BPJS Kesehatan berjumlah 2.520. “Saat ini 80 persen rumah sakit sudah bekerja sama dengan BPJS, kemudian mengalami tunggakan di dalam pembayaran bpjs. Ini menjadi hal yang sangat krusial, kualitas yang akan kita berikan juga akan berdampak,” ujar Moh. Adib di Jakarta, Sabtu (2/11/2019). Adib mengapresiasi dengan kebijakan pemerintah yang menaikkan iuran BPJS. Namun, dirinya masih ragu jika kenaikan BPJS tidak serta-merta meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan yang baik. “Karena konsep (kenaikan BPJS) sekarang, hanya berbicara terkait konsep menangani defisit,” tutur Adib. Adib juga prihatin kepada teman-teman dokter di daerah yang belum dibayarkan gajinya. Namun, ia menilai hal ini sudah menjadi kebiasaan dalam sistem JKN. “Teman-teman di seluruh rumah sakit, bahkan di daerah sudah menangis dengan kondisi saat ini. Ada yang sekiabn bulan belum dibayar, dan dampaknya ke SDM. Dokternya pun belum dibayar, tapi kami udah terbiasa karena kami sangat mendukung program JKN,” keluhnya. Adib berharap pemerintah bisa menutup semua defisit keuangan BPJS Kesehatan dan nantinya akan me-redesign sistem Jaminan Kesehatan Nasional. “Awal langsung tutup semua, kemudian kita re-design JKN, kita sehatkan JKN, kita memperbaiki connecting dan sebagainya. Tapi, tutup dulu itu, karena itu akan berdampak seperti gali lubang, tutup lubang,” tegasnya
