Siapa bilang pemusnahan ini bukan bagian dari perencanaan? Pemusnahan kan cuma 
satu cara dari pengendalian harga yang dilegalkan dalam sistem ekonomi biasa 
(mekanisme pasar neolib). 
Pertanyaannya, kenapa untuk mengendalikan harga saja pemerintah sampai harus 
tiba pada acara pemusnahan? Jawabannya, jelas karena masalah utama dari 
pemerintahan ini adalah etosnya. Kerja, kerja, kerja. Caranya? "Nggak mau 
tahu!" 
Nah, akibatnya banyaklah pegawai pemerintah, bahkan menteri, yang hanya asal 
kelihatan kerja. Alias, kerja asal-asalan. Meneladani presidennya. 
Rapopo, yang penting presiden Joko tetep pengin ibukota baru. 
Caranya? 
Nggak mau tahu!
---SADAR@... wrote:
       
 

Menurut saya, masalah utamanya pemerintah, khususnya dept.perunggasan ini tidak 
menjalankan perencanaan dengan baik yang mengakibatkan telor dan DOC berlebih 
sebegitu banyaknya! Setelah disini kelebihan, tidak pula  mampu berperan 
memperluas usaha ternak ayam diwilayah lain, juga diwilayah lain yang kurang 
telor, ... Saya perhatikan di Tiongkok dengan adanya internet masuk sampai di 
desa-desa, mereka bisa mendapatkan pemasaran hasil produksinya sampai menemukan 
usaha transport yang bisa mereka kehendaki. Nyaris sudah tidak ada lagi 
kelebihan produksi yang harus dibuang, dimusnahkan untuk pertahankan harga 
pasar lagi.
 

 
 On 12/12/2019 下午11:37, nesare wrote:
  
     
Dari media kedua2nya dimusnahkan baik telor nya maupun doc nya.
 
Saya barusan tanya2 krn sudah lama gak ikutin lagi dunia perunggasan ini.
 
Pemusnahan final stock ini sudah lumrah berjalan utk menetralisir/menjaga harga 
ungags dan telor dipasar.
 
Kejadian yg ditulis diartikel ini kan hanya ayam potong saja. Sebetulnya ayam 
petelor juga sdh sering dimusnahkan sejak dulu.
 
Kalau saya baru beropini: ini adalah masalah perunggasan Indonesia. Pemerintah 
minim pengetahuannya mengelola dunia perunggasan ini shg swasta baik perusahaan 
maupun rakyat tradisional/peternak ya bekerja secara tradisional. Sudah sejak 
dulu kala bisnis perunggasan  ini tidak enak. Banyak perusahaan gede2 yg punya 
pabrik feed mill/makanan ternak gulung tikar. Begitu juga perusahaan2 ini yg 
mencoba ekspansi ke commercial farming/peternak juga ttp dalam skala yg besar. 
Perusahaan2 ini juga banyak mati drpd hidupnya.
 
Belakangan ini perusahaan2 gede spt charoen pokphan, jepfa comfeed, dll sudah 
menerapkan system plasma. Mereka2 ini kerjasama dgn rakyat berternak ayam. 
Pakai kontrak spt bagi hasil begitu. Perusahaan gede kasih makanan ternak, 
bibit dll, lalu kalau sdh panen bagi hasil. Bagi hasilnya tergantung kontrak 
perusahaan masing2.
 
Jadi perunggasan di Indonesia itu sudah menjadi sangat fragmented. Semua orang 
bisa mengerjakannya. Yg diperlukan hanyalah tanah, tenaga dan modal sedikit.
 
Pemusnahan telor dan doc diartikel ini efektif, terbukti saham2 perusahaan 
perunggasan langsung naik.
 
Yg dimusnahkan oleh pemerintah itu tentunya adalah milik pemerintah dalam 
Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian
 
https://today.line.me/id/pc/article/Stabilkan+pasokan+ayam+pemerintah+akan+musnahkan+28+juta+telur+tertunas+di+Desember-egn6vB
 
http://bibit.ditjenpkh.pertanian.go.id/
 
kalau tidak dimusnahkan misalnya dikasih kerakyat, ya jelas akan menghancurkan 
harga dipasar. Kenapa? Karena pasokan/supply ayam akan bertambah shg harga akan 
lebih anjlog lagi. jadi ini keputusan bisnis.
 
Yg menjadi curiosity adalah kenapa pemerintah memusnahkan telor dan doc ini krn 
pemerintah adalah instansi naungan rakyat dimana rakyat bisa mendapatkan gratis 
ayam2 itu. Ini jalan pikiran orang awam. Tetapi jalan pikiran bisnis lain. 
Kalau telor dan doc itu tidak  dimusnahkan, harga ayam akan jatuh shg 
perusahaan dan ujung2nya rakyat/peternak akan mati. Yg mana yg mau didahulukan. 
Ini keputusan.
 
Kalau perusahaan yg memusnahkan kan gak gaduh krn kerugian pemusnahan itu 
ditanggung perusahaan. Yg bikin gaduh krn pemerintah yg memusnahkan. Tetapi 
efeknya jelas kalau tidak dimusnahkan harga ayam akan jatuh parah dan pasti 
peternak merugi. Peternak ini mayoritas  adalah peternak kecil di Indonesia. 
Peternak yg gede itu namanya commercial farming dimiliki perusahaan2 gede 
termasuk japfa comfeed, charoen pokpham yg gak akan mati krn pemusnahan telor 
dan doc ini, tetapi plasma2nya yg mayoritas peternak rakyat kecil akan  habis.
 
Silahkan dicermati.
 
Tetapi bagi yg gak ngerti apalagi yg suka NYINYIR langsung aja ngomong: 
pemerintah goblok, pemerintah apaan telor dan ayam dimusnahkan, koq gak dikasih 
kerakyat, apalagi rakyatnya masih miskin seperti Indonesia. Hehehehe ini 
omongan tukang NYINYIR.
 
Nesare




From: ChanCT
    
Tapi, bung Nesare, ... saya juga tidak berhasil menangkap kenapa Kementan yang 
turun tangan memusnahkan DOC itu? Apa usaha  BUMN? Kalau iya, kenapa jadi 
peternak ayam yang berteriak??? Bukankah dengan demikian yg rugi BUMN sendiri 
dan rakyat bisa dapatkan ayam murah, ...
 
Kalau betul itu usaha BUMN, jelas terjadi kesalahan perencanaan! Tapi, kenapa 
jalan keluarnya harus dimusnahkan!  Bukankah usaha peternak ayam itu bisa 
diperluas bahkan keluar daerah! Apa sulitnya mengatur DOC jutaan/perminggu itu 
dikirim keluar daerah kembangkan usaha ternak ayam, bahkan kalau tidak keburu 
juga boleh membagikan DOC itu pada setiap  keluarga tani 2-4 ekor! 
 
Atau mungkin juga karena kita TIDAK jelas dengan pemusnahan disini sebetulnya 
apa??? Karena pemberitaan demikian sangat TIDAK  JELAS maunya apa, ... Masih 
dalam betuk telor atau sudah DOC sesungguhnya saja tidak ada yang bisa pastikan 
???
 
Salam,
 
ChanCT
 
  
  
On 11/12/2019 上午12:27, nesare wrote:

   
Heheheh bung ini rajin2nya cari tahu kebenaran nya.
 
Saya saja gak pusing mau telor keq yg dimusnahkan ataupun DOC spt artikel yg 
bung bawa ini.
 
DOC = livebird. DOC lebih lajim istilah yg dipakai. Saya pas pernah kerja 
dibidang ini dulunya, jadi sedikit2 tahu.
 
DOC itu anak ayam yg akan diternak, ini ayam potong. Anak ayam ini biasanya 
umurnya 10 hari, paling tua 14 hari. Ini ayam ras alias ayam negeri, bukan ayam 
kampung. Kalau ayam petelur istilahnya bukan DOC  melainkan pullet.
 
Jadi kalau DOC yg dihancurkan itu yg NYINYIR gobloknya minta ampun krn DOC itu 
gak bertelor hehehehehe
 
Nesare




From: ChanCT
    
Saya tidak berhasil menangkap pengertian memusnahkan jutaan TELOR yang dimaksud 
sesungguhnya, ... Peternak ayam mengeluh lantaran pasokan bibit ayam hidup 
(livebird) berlebih dan menyebabkan harganya anjlok. Untuk itu, para petani 
yang tergabung dalam Paguyuban Peternak Rakyat Nasional (PPRN) meminta  
Kementerian Pertanian (Kementan) mengeluarkan kebijakan pemusnahan 10 juta 
bibit ayam atau day old chick (DOC) per minggu. Dari pemberitaan dibawah, 
nampaknya yg hendak dimusnahkan adalah telor bibit, agar harga ayam tidak 
anjlok! Tapi, tidak dijelaskan dikemanakan telor yg jutaan itu? Dugaan saya,  
hanya tidak ditetaskan jadi anak ayam lagi, tapi dijual kepasar untuk dimakan 
saja, ...???
 
Tapi, ... apapun yang aterjadi, sudah seharusnya pemerintah bisa ikut campur 
mengawasi dan menangani peredaran produksi didaerah yg memang tidak mungkin 
seimbang  sepanjang tahun, disini bisa berlebih sehingga harga anjlok bahkan 
terancam busuk, disana bisa saja justru kekurangan. Pemerintah hendaknya bisa 
membantu produksi  disini yang berlebih ditranfer ke daerah yang kekurangan dan 
perlukan, bukan dan TIDAK dimusnahkan untuk  pertahankan harga pasar!
 


 
Harga Ayam Anjlok, Kementan Musnahkan 7 Juta Bibit Bulan Depan
  
Vadhia Lidyana - detikFinance
  
Ilustrasi/Foto: Ari Saputra
  
Jakarta - Peternak ayam mengeluh lantaran pasokan bibit ayam hidup (livebird) 
berlebih dan menyebabkan harganya anjlok. Untuk itu, para petani yang tergabung 
dalam Paguyuban Peternak Rakyat Nasional (PPRN) meminta  Kementerian Pertanian 
(Kementan) mengeluarkan kebijakan pemusnahan 10 juta bibit ayam atau day old 
chick (DOC) per minggu.
 
 Menjawab keluhan petani tersebut, Direktur Perbibitan dan Produksi  Ternak 
Kementan, Sugiono menyebutkan bahwa pihaknya akan mengeluarkan kebijakan untuk  
mengurangi DOC final stock (FS) dengan pemusnahan atau cutting telur tertunas 
(HE) sebanyak 7 juta butir mulai 1 Desember 2019.
 
 "Berdasarkan rapat koordinasi perunggasan tanggal 19 November 2019, diputuskan 
untuk melakukan pengurangan HE umur 19 hari sebanyak 7 juta per minggu berlaku  
mulai 1 Desember 2019," kata Sugiono dalam keterangannya kepada detikcom, Rabu 
(27/11/2019).
 
|   
Baca juga: Kemendag Klaim Harga Ayam di Peternak Sudah Naik Rp 2.000
   |



 Dengan kebijakan tersebut, maka di bulan Desember 2019, total cutting  HE 
dilakukan terhadap 28 juta butir. Pemusnahan tersebut akan mengurangi stok DOC 
FS sebanyak  26,6 juta ekor di bulan Desember.
 
 "Sehingga target total pengurangan HE pada Desember 2019 sebanyak 28  juta 
butir. Dampak dari cutting HE pada Desember 2019 dimaksud secara nasional akan 
mengurangi produksi DOC FS dari pembibit sebanyak 26.600.000 ekor," papar dia.
 
 Ia mengungkapkan, kebijakan pemusnahan 7 juta HE per minggu ini akan berlaku 
sampai dengan bulan Maret 2020.
 
|   
Baca juga: Harga Ayam Anjlok, Wamendag Sebut Terkait Aturan Sebelumnya
   |

 

 Dengan langkah tersebut, Sugiono berharap harga livebird di tingkat peternak 
bisa mengalami kenaikan dan berada pada level  yang stabil.
 
 "Harga livebird ditentukan oleh mekanisme pasar, dengan adanya cutting HE 
diharapkan dapat  berpengaruh pada peningkatan harga livebird," pungkasnya.
 
 Sebagai informasi, peternak rakyat mengaku rugi hingga Rp 2 triliun  karena 
harga livebird anjlok dan berada level Rp 16.000-17.000 per kilogram (kg). 
Padahal, harga  acuan livebird yang diatur dalam Permendag nomor 96 tahun 2018, 
batas bawahnya sebesar  Rp 18.000/kg.
 
 "Hari ini kalau di Jabar mungkin lebih murah lagi karena masuk dari  Jateng ke 
sini, itu kira-kira Rp 16.000-17.000/kg. HPP kita Rp 18.000," jelas perwakilan  
Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat (Pinsar) Jateng, Parjuni ketika berunjuk 
rasa di depan kantor Kemendag, Jakarta Pusat.
 
 Simak Video "Unik! Mie Ayam Disajikan dalam Kelapa Muda  Segar"
 
 (ara/ara)
   
On 10/12/2019 上午12:27, Jonathan Goeij wrote:

  
Pemerintah gendeng2an, mestinya beli telur ayam itu untuk  dibagikan kemereka 
yang kurang gizi.
   
Berapa juta anak yang stunting kurang gizi?



     
On Sunday, December 8, 2019, 07:15:49 AM PST, Tatiana  Lukman wrote:
   
Pemerintah sdh begitu sinting, kok masih  ada saja yang keranjingan 
mendukung!!!???



     
On Sunday, December 8, 2019,  05:24:21 AM GMT+1, ajeg wrote:
             
Rapopo peternak rugi, ekonomi hancur, pasar lesu, negara loyo, yang penting 
tetap bernafsu bikin  ibukota baru.
    
---ilmesengero@... wrote:
  
Kebijakan ekonomi ditentukan  oleh mekanisme pasar. Pasar lesu negara  lemah 
syahwat.
   







#yiv6872485546 -- #yiv6872485546ygrp-mkp {border:1px solid 
#d8d8d8;font-family:Arial;margin:10px 0;padding:0 10px;}#yiv6872485546 
#yiv6872485546ygrp-mkp hr {border:1px solid #d8d8d8;}#yiv6872485546 
#yiv6872485546ygrp-mkp #yiv6872485546hd 
{color:#628c2a;font-size:85%;font-weight:700;line-height:122%;margin:10px 
0;}#yiv6872485546 #yiv6872485546ygrp-mkp #yiv6872485546ads 
{margin-bottom:10px;}#yiv6872485546 #yiv6872485546ygrp-mkp .yiv6872485546ad 
{padding:0 0;}#yiv6872485546 #yiv6872485546ygrp-mkp .yiv6872485546ad p 
{margin:0;}#yiv6872485546 #yiv6872485546ygrp-mkp .yiv6872485546ad a 
{color:#0000ff;text-decoration:none;}#yiv6872485546 #yiv6872485546ygrp-sponsor 
#yiv6872485546ygrp-lc {font-family:Arial;}#yiv6872485546 
#yiv6872485546ygrp-sponsor #yiv6872485546ygrp-lc #yiv6872485546hd {margin:10px 
0px;font-weight:700;font-size:78%;line-height:122%;}#yiv6872485546 
#yiv6872485546ygrp-sponsor #yiv6872485546ygrp-lc .yiv6872485546ad 
{margin-bottom:10px;padding:0 0;}#yiv6872485546 #yiv6872485546actions 
{font-family:Verdana;font-size:11px;padding:10px 0;}#yiv6872485546 
#yiv6872485546activity 
{background-color:#e0ecee;float:left;font-family:Verdana;font-size:10px;padding:10px;}#yiv6872485546
 #yiv6872485546activity span {font-weight:700;}#yiv6872485546 
#yiv6872485546activity span:first-child 
{text-transform:uppercase;}#yiv6872485546 #yiv6872485546activity span a 
{color:#5085b6;text-decoration:none;}#yiv6872485546 #yiv6872485546activity span 
span {color:#ff7900;}#yiv6872485546 #yiv6872485546activity span 
.yiv6872485546underline {text-decoration:underline;}#yiv6872485546 
.yiv6872485546attach 
{clear:both;display:table;font-family:Arial;font-size:12px;padding:10px 
0;width:400px;}#yiv6872485546 .yiv6872485546attach div a 
{text-decoration:none;}#yiv6872485546 .yiv6872485546attach img 
{border:none;padding-right:5px;}#yiv6872485546 .yiv6872485546attach label 
{display:block;margin-bottom:5px;}#yiv6872485546 .yiv6872485546attach label a 
{text-decoration:none;}#yiv6872485546 blockquote {margin:0 0 0 
4px;}#yiv6872485546 .yiv6872485546bold 
{font-family:Arial;font-size:13px;font-weight:700;}#yiv6872485546 
.yiv6872485546bold a {text-decoration:none;}#yiv6872485546 dd.yiv6872485546last 
p a {font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv6872485546 dd.yiv6872485546last p 
span {margin-right:10px;font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv6872485546 
dd.yiv6872485546last p span.yiv6872485546yshortcuts 
{margin-right:0;}#yiv6872485546 div.yiv6872485546attach-table div div a 
{text-decoration:none;}#yiv6872485546 div.yiv6872485546attach-table 
{width:400px;}#yiv6872485546 div.yiv6872485546file-title a, #yiv6872485546 
div.yiv6872485546file-title a:active, #yiv6872485546 
div.yiv6872485546file-title a:hover, #yiv6872485546 div.yiv6872485546file-title 
a:visited {text-decoration:none;}#yiv6872485546 div.yiv6872485546photo-title a, 
#yiv6872485546 div.yiv6872485546photo-title a:active, #yiv6872485546 
div.yiv6872485546photo-title a:hover, #yiv6872485546 
div.yiv6872485546photo-title a:visited {text-decoration:none;}#yiv6872485546  
div#yiv6872485546ygrp-mlmsg #yiv6872485546ygrp-msg p a 
span.yiv6872485546yshortcuts 
{font-family:Verdana;font-size:10px;font-weight:normal;}#yiv6872485546 
.yiv6872485546green {color:#628c2a;}#yiv6872485546 .yiv6872485546MsoNormal 
{margin:0 0 0 0;}#yiv6872485546 o {font-size:0;}#yiv6872485546 
#yiv6872485546photos div {float:left;width:72px;}#yiv6872485546 
#yiv6872485546photos div div {border:1px solid 
#666666;min-height:62px;overflow:hidden;width:62px;}#yiv6872485546 
#yiv6872485546photos div label 
{color:#666666;font-size:10px;overflow:hidden;text-align:center;white-space:nowrap;width:64px;}#yiv6872485546
 #yiv6872485546reco-category {font-size:77%;}#yiv6872485546  
#yiv6872485546reco-desc {font-size:77%;}#yiv6872485546 .yiv6872485546replbq 
{margin:4px;}#yiv6872485546 #yiv6872485546ygrp-actbar div a:first-child 
{margin-right:2px;padding-right:5px;}#yiv6872485546 #yiv6872485546ygrp-mlmsg 
{font-size:13px;font-family:Arial, helvetica, clean, sans-serif;}#yiv6872485546 
#yiv6872485546ygrp-mlmsg table {font-size:inherit;font:100%;}#yiv6872485546 
#yiv6872485546ygrp-mlmsg select, #yiv6872485546 input, #yiv6872485546 textarea 
{font:99% Arial, Helvetica, clean, sans-serif;}#yiv6872485546 
#yiv6872485546ygrp-mlmsg pre, #yiv6872485546 code {font:115% 
monospace;}#yiv6872485546 #yiv6872485546ygrp-mlmsg * 
{line-height:1..22em;}#yiv6872485546 #yiv6872485546ygrp-mlmsg 
#yiv6872485546logo {padding-bottom:10px;}#yiv6872485546 #yiv6872485546ygrp-msg 
p a {font-family:Verdana;}#yiv6872485546 #yiv6872485546ygrp-msg 
p#yiv6872485546attach-count span {color:#1E66AE;font-weight:700;}#yiv6872485546 
#yiv6872485546ygrp-reco #yiv6872485546reco-head 
{color:#ff7900;font-weight:700;}#yiv6872485546 #yiv6872485546ygrp-reco 
{margin-bottom:20px;padding:0px;}#yiv6872485546 #yiv6872485546ygrp-sponsor 
#yiv6872485546ov li a {font-size:130%;text-decoration:none;}#yiv6872485546 
#yiv6872485546ygrp-sponsor #yiv6872485546ov li 
{font-size:77%;list-style-type:square;padding:6px 0;}#yiv6872485546 
#yiv6872485546ygrp-sponsor #yiv6872485546ov ul {margin:0;padding:0 0 0 
8px;}#yiv6872485546 #yiv6872485546ygrp-text 
{font-family:Georgia;}#yiv6872485546 #yiv6872485546ygrp-text p {margin:0 0 1em 
0;}#yiv6872485546 #yiv6872485546ygrp-text tt {font-size:120%;}#yiv6872485546 
#yiv6872485546ygrp-vital ul li:last-child {border-right:none 
!important;}#yiv6872485546   

Kirim email ke