Anda mau bilang pemusnahan kelebihan produk adalah ilegal?
Lihat kenyataan yang ada. Pemusnahan dijadikan cara untuk menstabilkan harga. 
Artinya, pemusnahan memang dilegalkan. Tersedia pada menu menstabilkan harga 
dalam sistem ekonomi biasa. 
Persoalannya di sini kan, kenapa pemerintah memilih menu pemusnahan dalam 
rencananya menstabilkan harga.
Atau, Anda memang mau bilang pemerintah bekerja tanpa perencanaan?
---SADAR@... wrote:

       
 

Kalau "pemusnahan" merupakan bagian dari perencanaan itu betul-betul otaknya 
masuk air, kata orang HK! Kalau saja terjadi KESALAHAN perencanaan terjadi 
kelebihan produksi, dan untuk pertahankan harga pasar jangan jatuh, sebaiknya 
tempuh jalan lain. Bukan pemusnahan yang merugikan semua pihak!
 
Kalau saja yang diutamakan adalah etosnya, kerja, kerja, kerja kerja! 
Lebih-lebih harus temukan kerja yang efektif dan bermanfaat sekalipun harus 
keluarkan keringat lebih banyak, bukan menempuh jalan paling mudah dengan kerja 
paling sedikit tanpa berkeringat dan mudah, MUSNAHKAN saja!
 

 
 On 15/12/2019 下午8:30, ajeg wrote:
  
        Siapa bilang pemusnahan ini bukan bagian dari perencanaan? Pemusnahan 
kan cuma satu cara dari pengendalian harga yang dilegalkan dalam sistem ekonomi 
biasa (mekanisme pasar neolib).  
  Pertanyaannya, kenapa untuk mengendalikan harga saja pemerintah sampai harus 
tiba pada acara pemusnahan? Jawabannya, jelas karena masalah utama dari 
pemerintahan ini adalah etosnya. Kerja, kerja, kerja. Caranya? "Nggak mau 
tahu!"  
  Nah, akibatnya banyaklah pegawai pemerintah, bahkan menteri, yang hanya asal 
kelihatan kerja. Alias, kerja asal-asalan. Meneladani presidennya.  
  Rapopo, yang penting presiden Joko tetep pengin ibukota baru.  
  Caranya?  
  Nggak mau tahu! 
  ---SADAR@... wrote:
    
 
 
Menurut saya, masalah utamanya pemerintah, khususnya  dept.perunggasan ini 
tidak menjalankan perencanaan dengan baik yang  mengakibatkan telor dan DOC 
berlebih sebegitu banyaknya! Setelah disini kelebihan, tidak pula  mampu 
berperan memperluas usaha ternak ayam  diwilayah lain, juga diwilayah lain yang 
kurang telor, ... Saya perhatikan  di Tiongkok dengan adanya internet masuk 
sampai di desa-desa, mereka bisa mendapatkan pemasaran hasil produksinya sampai 
 menemukan usaha transport yang bisa mereka kehendaki. Nyaris sudah tidak ada 
lagi kelebihan produksi yang harus  dibuang, dimusnahkan untuk pertahankan 
harga pasar lagi.
 

 
  On 12/12/2019 下午11:37, nesare wrote:
  
     
Dari media kedua2nya dimusnahkan baik telor nya maupun doc nya.
 
Saya barusan tanya2 krn sudah lama gak  ikutin lagi dunia perunggasan ini.
 
Pemusnahan final stock ini sudah lumrah  berjalan utk menetralisir/menjaga 
harga ungags dan  telor dipasar.
 
Kejadian yg ditulis diartikel ini kan hanya ayam  potong saja. Sebetulnya ayam 
petelor juga sdh  sering dimusnahkan sejak dulu.
 
Kalau saya baru beropini: ini adalah masalah  perunggasan Indonesia. Pemerintah 
minim  pengetahuannya mengelola dunia perunggasan ini shg swasta baik 
perusahaan maupun  rakyat tradisional/peternak ya bekerja secara  tradisional. 
Sudah sejak dulu kala bisnis perunggasan ini tidak enak. Banyak perusahaan  
gede2 yg punya pabrik feed mill/makanan ternak  gulung tikar. Begitu juga 
perusahaan2 ini  yg mencoba ekspansi ke commercial farming/peternak  juga ttp 
dalam skala yg besar. Perusahaan2 ini juga banyak mati drpd hidupnya..
 
Belakangan ini perusahaan2 gede spt charoen pokphan,  jepfa comfeed, dll sudah 
menerapkan system plasma. Mereka2 ini kerjasama dgn rakyat  berternak ayam. 
Pakai kontrak spt bagi hasil begitu.  Perusahaan gede kasih makanan ternak, 
bibit dll, lalu kalau sdh panen bagi hasil. Bagi  hasilnya tergantung kontrak 
perusahaan masing2.
 
Jadi perunggasan di Indonesia itu sudah  menjadi sangat fragmented. Semua orang 
bisa  mengerjakannya. Yg diperlukan hanyalah tanah, tenaga dan modal sedikit.
 
Pemusnahan telor dan doc diartikel ini  efektif, terbukti saham2 perusahaan 
perunggasan langsung  naik.
 
Yg dimusnahkan oleh pemerintah itu tentunya adalah milik pemerintah dalam  
Direktorat Jenderal Peternakan dan  Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian
 
https://today.line.me/id/pc/article/Stabilkan+pasokan+ayam+pemerintah+akan+musnahkan+28+juta+telur+tertunas+di+Desember-egn6vB
 
http://bibit.ditjenpkh.pertanian.go.id/
 
kalau tidak dimusnahkan misalnya dikasih  kerakyat, ya jelas akan menghancurkan 
harga dipasar.  Kenapa? Karena pasokan/supply ayam  akan bertambah shg harga 
akan lebih anjlog lagi. jadi  ini keputusan bisnis.
 
Yg menjadi curiosity adalah kenapa  pemerintah memusnahkan telor dan doc ini 
krn  pemerintah adalah instansi naungan rakyat dimana rakyat bisa mendapatkan 
gratis ayam2 itu.  Ini jalan pikiran orang awam. Tetapi jalan pikiran bisnis 
lain. Kalau telor dan doc itu tidak  dimusnahkan, harga ayam akan jatuh shg 
perusahaan dan  ujung2nya rakyat/peternak akan  mati. Yg mana yg mau 
didahulukan. Ini keputusan.
 
Kalau perusahaan yg memusnahkan kan gak  gaduh krn kerugian pemusnahan itu 
ditanggung  perusahaan. Yg bikin gaduh krn pemerintah  yg memusnahkan. Tetapi 
efeknya jelas kalau tidak  dimusnahkan harga ayam akan jatuh parah dan pasti 
peternak merugi. Peternak ini  mayoritas adalah peternak kecil di Indonesia. 
Peternak  yg gede itu namanya commercial farming  dimiliki perusahaan2 gede 
termasuk japfa comfeed, charoen  pokpham yg gak akan mati krn pemusnahan telor 
dan doc ini, tetapi plasma2nya yg mayoritas peternak  rakyat kecil akan habis.
 
Silahkan dicermati.
 
Tetapi bagi yg gak ngerti apalagi yg suka  NYINYIR langsung aja ngomong: 
pemerintah goblok, pemerintah apaan telor dan ayam dimusnahkan, koq gak  
dikasih kerakyat, apalagi rakyatnya masih miskin seperti Indonesia. Hehehehe 
ini omongan tukang  NYINYIR.
 
Nesare
 

 
 
From: ChanCT
    
Tapi, bung Nesare, ... saya juga  tidak berhasil menangkap kenapa  Kementan 
yang turun tangan  memusnahkan DOC itu? Apa usaha BUMN?  Kalau iya, kenapa jadi 
 peternak ayam yang berteriak???  Bukankah dengan demikian yg  rugi BUMN 
sendiri dan  rakyat bisa dapatkan ayam murah, ...
 
Kalau betul itu usaha BUMN,  jelas terjadi kesalahan perencanaan!  Tapi, kenapa 
jalan  keluarnya harus dimusnahkan!  Bukankah usaha peternak ayam itu bisa 
diperluas bahkan keluar  daerah! Apa sulitnya mengatur DOC  jutaan/perminggu 
itu dikirim  keluar daerah kembangkan usaha ternak  ayam, bahkan kalau tidak  
keburu juga boleh membagikan DOC  itu pada setiap keluarga tani 2-4 ekor! 
 
Atau mungkin juga karena kita  TIDAK jelas dengan pemusnahan  disini sebetulnya 
 apa??? Karena pemberitaan demikian  sangat TIDAK JELAS maunya apa, .... Masih 
dalam betuk telor atau sudah DOC sesungguhnya saja tidak ada yang bisa pastikan 
???
 
Salam,
 
ChanCT
 
  
  
On 11/12/2019 上午12:27, nesare wrote:
  
   
Heheheh bung ini rajin2nya cari tahu kebenaran nya.
 
Saya saja gak pusing mau  telor keq yg dimusnahkan ataupun DOC  spt artikel yg 
bung bawa ini.
 
DOC = livebird. DOC lebih  lajim istilah yg dipakai. Saya pas  pernah kerja 
dibidang ini  dulunya, jadi sedikit2 tahu.
 
DOC itu anak ayam yg akan  diternak, ini ayam potong. Anak ayam ini  biasanya 
umurnya 10  hari, paling tua 14 hari. Ini ayam ras  alias ayam negeri, bukan  
ayam kampung. Kalau ayam petelur  istilahnya bukan DOC melainkan  pullet.
 
Jadi kalau DOC yg dihancurkan  itu yg NYINYIR gobloknya minta ampun  krn DOC 
itu gak bertelor  hehehehehe
 
Nesare
 

 
 
From: ChanCT
    
Saya tidak berhasil menangkap  pengertian memusnahkan jutaan TELOR  yang 
dimaksud sesungguhnya,  ... Peternak ayam mengeluh lantaran pasokan bibit ayam 
hidup (livebird) berlebih dan menyebabkan  harganya anjlok. Untuk itu, para  
petani yang tergabung  dalam Paguyuban Peternak  Rakyat Nasional (PPRN) meminta 
 Kementerian Pertanian  (Kementan) mengeluarkan kebijakan  pemusnahan 10 juta 
bibit ayam atau day old chick (DOC) per minggu. Dari pemberitaan  dibawah, 
nampaknya yg hendak  dimusnahkan adalah telor bibit, agar harga ayam tidak 
anjlok!  Tapi, tidak dijelaskan dikemanakan  telor yg jutaan itu?  Dugaan saya, 
hanya tidak ditetaskan  jadi anak ayam lagi, tapi  dijual kepasar untuk dimakan 
saja, ...???
 
Tapi, ... apapun yang aterjadi,  sudah seharusnya pemerintah  bisa ikut campur  
mengawasi dan menangani peredaran  produksi didaerah yg memang tidak  mungkin 
seimbang  sepanjang tahun, disini bisa berlebih  sehingga harga anjlok bahkan  
terancam busuk, disana bisa saja  justru kekurangan. Pemerintah hendaknya bisa 
membantu  produksi disini yang berlebih  ditranfer ke daerah yang  kekurangan 
dan perlukan, bukan dan  TIDAK dimusnahkan untuk  pertahankan harga pasar!
 

 
 
Harga Ayam Anjlok, Kementan  Musnahkan 7 Juta Bibit Bulan Depan
  
Vadhia Lidyana - detikFinance
   
Ilustrasi/Foto: Ari Saputra
   
Jakarta - Peternak ayam mengeluh lantaran pasokan bibit ayam hidup (livebird) 
berlebih dan menyebabkan  harganya anjlok. Untuk itu, para  petani yang 
tergabung  dalam Paguyuban Peternak  Rakyat Nasional (PPRN) meminta  
Kementerian Pertanian  (Kementan) mengeluarkan kebijakan  pemusnahan 10 juta 
bibit ayam atau day old chick (DOC) per minggu.
 
 Menjawab keluhan petani  tersebut, Direktur Perbibitan dan  Produksi Ternak 
Kementan, Sugiono menyebutkan  bahwa pihaknya akan mengeluarkan  kebijakan 
untuk  mengurangi DOC final stock (FS) dengan  pemusnahan atau cutting telur 
tertunas (HE) sebanyak 7  juta butir mulai 1 Desember 2019.
 
 "Berdasarkan rapat  koordinasi perunggasan tanggal 19  November 2019, 
diputuskan  untuk melakukan pengurangan HE  umur 19 hari sebanyak 7 juta per  
minggu berlaku mulai 1  Desember 2019," kata Sugiono dalam  keterangannya 
kepada detikcom, Rabu (27/11/2019).
 
|   
Baca juga: Kemendag Klaim Harga Ayam di  Peternak Sudah Naik Rp 2.000
   |

 

 Dengan kebijakan  tersebut, maka di bulan Desember 2019,  total cutting HE 
dilakukan  terhadap 28 juta butir. Pemusnahan  tersebut akan mengurangi stok 
DOC FS sebanyak 26,6 juta ekor di  bulan Desember.
 
 "Sehingga target total  pengurangan HE pada Desember 2019 sebanyak  28 juta 
butir. Dampak dari  cutting HE pada Desember 2019 dimaksud  secara nasional 
akan  mengurangi produksi DOC FS dari  pembibit sebanyak 26.600.000  ekor," 
papar dia.
 
 Ia mengungkapkan,  kebijakan pemusnahan 7 juta HE per  minggu ini akan berlaku 
 sampai dengan bulan Maret 2020.
 
|   
Baca juga: Harga Ayam Anjlok, Wamendag Sebut  Terkait Aturan Sebelumnya
   |

 

 Dengan langkah tersebut,  Sugiono berharap harga livebird di tingkat peternak 
bisa  mengalami kenaikan dan berada pada  level yang stabil.
 
 "Harga livebird ditentukan oleh mekanisme pasar, dengan  adanya cutting HE 
diharapkan dapat berpengaruh pada  peningkatan harga livebird," pungkasnya.
 
 Sebagai informasi,  peternak rakyat mengaku rugi hingga Rp  2 triliun karena 
harga livebird anjlok dan berada level Rp  16.000-17.000 per kilogram (kg). 
Padahal, harga acuan livebird yang diatur dalam Permendag  nomor 96 tahun 2018, 
batas bawahnya  sebesar Rp 18.000/kg.
 
 "Hari ini kalau di Jabar  mungkin lebih murah lagi karena masuk  dari Jateng 
ke sini, itu  kira-kira Rp 16.000-17.000/kg. HPP kita Rp  18.000," jelas 
perwakilan  Perhimpunan Insan Perunggasan  Rakyat (Pinsar) Jateng,  Parjuni 
ketika berunjuk rasa  di depan kantor Kemendag,  Jakarta Pusat.
 
 Simak Video "Unik! Mie Ayam  Disajikan dalam Kelapa Muda Segar"
 
 (ara/ara)
   
On 10/12/2019 上午12:27, Jonathan Goeij wrote:
  
      
Pemerintah gendeng2an, mestinya beli telur ayam itu untuk dibagikan kemereka 
yang kurang gizi.
   
Berapa juta anak yang stunting  kurang gizi?
 

 
      
On Sunday, December 8,  2019, 07:15:49 AM PST, Tatiana Lukman  wrote:
      
Pemerintah sdh begitu sinting, kok  masih ada saja yang keranjingan  
mendukung!!!???
 

 
      
On Sunday, December 8,  2019, 05:24:21 AM GMT+1, ajeg wrote:
                
Rapopo peternak rugi, ekonomi  hancur, pasar lesu, negara loyo, yang  penting 
tetap bernafsu bikin  ibukota baru.
     
---ilmesengero@... wrote:
   
Kebijakan ekonomi ditentukan oleh mekanisme pasar. Pasar lesu negara lemah 
syahwat.
   

 
 
 
                          
      
      
                     
        
  
#yiv1631772165 #yiv1631772165 -- #yiv1631772165ygrp-mkp {border:1px solid 
#d8d8d8;font-family:Arial;margin:10px 0;padding:0 10px;}#yiv1631772165 
#yiv1631772165ygrp-mkp hr {border:1px solid #d8d8d8;}#yiv1631772165 
#yiv1631772165ygrp-mkp #yiv1631772165hd 
{color:#628c2a;font-size:85%;font-weight:700;line-height:122%;margin:10px 
0;}#yiv1631772165 #yiv1631772165ygrp-mkp #yiv1631772165ads 
{margin-bottom:10px;}#yiv1631772165 #yiv1631772165ygrp-mkp .yiv1631772165ad 
{padding:0 0;}#yiv1631772165 #yiv1631772165ygrp-mkp .yiv1631772165ad p 
{margin:0;}#yiv1631772165 #yiv1631772165ygrp-mkp .yiv1631772165ad a 
{color:#0000ff;text-decoration:none;}#yiv1631772165 #yiv1631772165ygrp-sponsor 
#yiv1631772165ygrp-lc {font-family:Arial;}#yiv1631772165 
#yiv1631772165ygrp-sponsor #yiv1631772165ygrp-lc #yiv1631772165hd {margin:10px 
0px;font-weight:700;font-size:78%;line-height:122%;}#yiv1631772165 
#yiv1631772165ygrp-sponsor #yiv1631772165ygrp-lc .yiv1631772165ad 
{margin-bottom:10px;padding:0 0;}#yiv1631772165 #yiv1631772165actions 
{font-family:Verdana;font-size:11px;padding:10px 0;}#yiv1631772165 
#yiv1631772165activity 
{background-color:#e0ecee;float:left;font-family:Verdana;font-size:10px;padding:10px;}#yiv1631772165
 #yiv1631772165activity span {font-weight:700;}#yiv1631772165 
#yiv1631772165activity span:first-child 
{text-transform:uppercase;}#yiv1631772165 #yiv1631772165activity span a 
{color:#5085b6;text-decoration:none;}#yiv1631772165 #yiv1631772165activity span 
span {color:#ff7900;}#yiv1631772165 #yiv1631772165activity span 
.yiv1631772165underline {text-decoration:underline;}#yiv1631772165 
.yiv1631772165attach 
{clear:both;display:table;font-family:Arial;font-size:12px;padding:10px 
0;width:400px;}#yiv1631772165 .yiv1631772165attach div a 
{text-decoration:none;}#yiv1631772165 .yiv1631772165attach img 
{border:none;padding-right:5px;}#yiv1631772165 .yiv1631772165attach label 
{display:block;margin-bottom:5px;}#yiv1631772165 .yiv1631772165attach label a 
{text-decoration:none;}#yiv1631772165 blockquote {margin:0 0 0 
4px;}#yiv1631772165 .yiv1631772165bold 
{font-family:Arial;font-size:13px;font-weight:700;}#yiv1631772165 
.yiv1631772165bold a {text-decoration:none;}#yiv1631772165 dd.yiv1631772165last 
p a {font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv1631772165 dd.yiv1631772165last p 
span {margin-right:10px;font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv1631772165 
dd.yiv1631772165last p span.yiv1631772165yshortcuts 
{margin-right:0;}#yiv1631772165 div.yiv1631772165attach-table div div a 
{text-decoration:none;}#yiv1631772165 div.yiv1631772165attach-table 
{width:400px;}#yiv1631772165 div.yiv1631772165file-title a, #yiv1631772165 
div.yiv1631772165file-title a:active, #yiv1631772165 
div.yiv1631772165file-title a:hover, #yiv1631772165 div.yiv1631772165file-title 
a:visited {text-decoration:none;}#yiv1631772165 div.yiv1631772165photo-title a, 
#yiv1631772165 div.yiv1631772165photo-title a:active, #yiv1631772165 
div.yiv1631772165photo-title a:hover, #yiv1631772165 
div.yiv1631772165photo-title a:visited {text-decoration:none;}#yiv1631772165 
div#yiv1631772165ygrp-mlmsg #yiv1631772165ygrp-msg p a 
span.yiv1631772165yshortcuts 
{font-family:Verdana;font-size:10px;font-weight:normal;}#yiv1631772165 
.yiv1631772165green {color:#628c2a;}#yiv1631772165 .yiv1631772165MsoNormal 
{margin:0 0 0 0;}#yiv1631772165 o {font-size:0;}#yiv1631772165 
#yiv1631772165photos div {float:left;width:72px;}#yiv1631772165 
#yiv1631772165photos div div {border:1px solid 
#666666;min-height:62px;overflow:hidden;width:62px;}#yiv1631772165 
#yiv1631772165photos div label 
{color:#666666;font-size:10px;overflow:hidden;text-align:center;white-space:nowrap;width:64px;}#yiv1631772165
 #yiv1631772165reco-category {font-size:77%;}#yiv1631772165 
#yiv1631772165reco-desc {font-size:77%;}#yiv1631772165 .yiv1631772165replbq 
{margin:4px;}#yiv1631772165 #yiv1631772165ygrp-actbar div a:first-child 
{margin-right:2px;padding-right:5px;}#yiv1631772165 #yiv1631772165ygrp-mlmsg 
{font-size:13px;font-family:Arial, helvetica, clean, sans-serif;}#yiv1631772165 
#yiv1631772165ygrp-mlmsg table {font-size:inherit;font:100%;}#yiv1631772165 
#yiv1631772165ygrp-mlmsg select, #yiv1631772165 input, #yiv1631772165 textarea 
{font:99% Arial, Helvetica, clean, sans-serif;}#yiv1631772165 
#yiv1631772165ygrp-mlmsg pre, #yiv1631772165 code {font:115% 
monospace;}#yiv1631772165 #yiv1631772165ygrp-mlmsg * 
{line-height:1.22em;}#yiv1631772165 #yiv1631772165ygrp-mlmsg #yiv1631772165logo 
{padding-bottom:10px;}#yiv1631772165 #yiv1631772165ygrp-msg p a 
{font-family:Verdana;}#yiv1631772165 #yiv1631772165ygrp-msg 
p#yiv1631772165attach-count span {color:#1E66AE;font-weight:700;}#yiv1631772165 
#yiv1631772165ygrp-reco #yiv1631772165reco-head 
{color:#ff7900;font-weight:700;}#yiv1631772165 #yiv1631772165ygrp-reco 
{margin-bottom:20px;padding:0px;}#yiv1631772165 #yiv1631772165ygrp-sponsor 
#yiv1631772165ov li a {font-size:130%;text-decoration:none;}#yiv1631772165 
#yiv1631772165ygrp-sponsor #yiv1631772165ov li 
{font-size:77%;list-style-type:square;padding:6px 0;}#yiv1631772165 
#yiv1631772165ygrp-sponsor #yiv1631772165ov ul {margin:0;padding:0 0 0 
8px;}#yiv1631772165 #yiv1631772165ygrp-text 
{font-family:Georgia;}#yiv1631772165 #yiv1631772165ygrp-text p {margin:0 0 1em 
0;}#yiv1631772165 #yiv1631772165ygrp-text tt {font-size:120%;}#yiv1631772165 
#yiv1631772165ygrp-vital ul li:last-child {border-right:none 
!important;}#yiv1631772165   

Kirim email ke