Saya baca bhw Tiongkok tidak begitu pusing kalau Hong Kong sebagai pusat
keuangan dari perdagangan/financial center dari Tkk merosot atau hancur. Dimana
Tkk akan menjadikan Macao sebagai pengganti dari HK sebagai financial center.
Biar para pro-demokrasi pengacau dapat getahnya.
BH Jo
On Sunday, December 15, 2019, 06:49:07 PM CST, ChanCT [email protected]
[GELORA45] <[email protected]> wrote:
Kalau "pemusnahan" merupakan bagian dari perencanaan itu betul-betul otaknya
masuk air, kata orang HK! Kalau saja terjadi KESALAHAN perencanaan terjadi
kelebihan produksi, dan untuk pertahankan harga pasar jangan jatuh, sebaiknya
tempuh jalan lain. Bukan pemusnahan yang merugikan semua pihak!
Kalau saja yang diutamakan adalah etosnya, kerja, kerja, kerja kerja!
Lebih-lebih harus temukan kerja yang efektif dan bermanfaat sekalipun harus
keluarkan keringat lebih banyak, bukan menempuh jalan paling mudah dengan kerja
paling sedikit tanpa berkeringat dan mudah, MUSNAHKAN saja!
On 15/12/2019 下午8:30, ajeg [email protected] [GELORA45] wrote:
Siapa bilang pemusnahan ini bukan bagian dari perencanaan? Pemusnahan
kan cuma satu cara dari pengendalian harga yang dilegalkan dalam sistem ekonomi
biasa (mekanisme pasar neolib).
Pertanyaannya, kenapa untuk mengendalikan harga saja pemerintah sampai harus
tiba pada acara pemusnahan? Jawabannya, jelas karena masalah utama dari
pemerintahan ini adalah etosnya. Kerja, kerja, kerja. Caranya? "Nggak mau
tahu!"
Nah, akibatnya banyaklah pegawai pemerintah, bahkan menteri, yang hanya asal
kelihatan kerja. Alias, kerja asal-asalan. Meneladani presidennya.
Rapopo, yang penting presiden Joko tetep pengin ibukota baru.
Caranya?
Nggak mau tahu!
---SADAR@... wrote:
Menurut saya, masalah utamanya pemerintah, khususnya dept.perunggasan ini
tidak menjalankan perencanaan dengan baik yang mengakibatkan telor dan DOC
berlebih sebegitu banyaknya! Setelah disini kelebihan, tidak pula mampu
berperan memperluas usaha ternak ayam diwilayah lain, juga diwilayah lain yang
kurang telor, ... Saya perhatikan di Tiongkok dengan adanya internet masuk
sampai di desa-desa, mereka bisa mendapatkan pemasaran hasil produksinya sampai
menemukan usaha transport yang bisa mereka kehendaki. Nyaris sudah tidak ada
lagi kelebihan produksi yang harus dibuang, dimusnahkan untuk pertahankan
harga pasar lagi.
On 12/12/2019 下午11:37, nesare wrote:
Dari media kedua2nya dimusnahkan baik telor nya maupun doc nya.
Saya barusan tanya2 krn sudah lama gak ikutin lagi dunia perunggasan ini.
Pemusnahan final stock ini sudah lumrah berjalan utk menetralisir/menjaga
harga ungags dan telor dipasar.
Kejadian yg ditulis diartikel ini kan hanya ayam potong saja. Sebetulnya ayam
petelor juga sdh sering dimusnahkan sejak dulu.
Kalau saya baru beropini: ini adalah masalah perunggasan Indonesia. Pemerintah
minim pengetahuannya mengelola dunia perunggasan ini shg swasta baik
perusahaan maupun rakyat tradisional/peternak ya bekerja secara tradisional.
Sudah sejak dulu kala bisnis perunggasan ini tidak enak. Banyak perusahaan
gede2 yg punya pabrik feed mill/makanan ternak gulung tikar. Begitu juga
perusahaan2 ini yg mencoba ekspansi ke commercial farming/peternak juga ttp
dalam skala yg besar. Perusahaan2 ini juga banyak mati drpd hidupnya..
Belakangan ini perusahaan2 gede spt charoen pokphan, jepfa comfeed, dll sudah
menerapkan system plasma. Mereka2 ini kerjasama dgn rakyat berternak ayam.
Pakai kontrak spt bagi hasil begitu. Perusahaan gede kasih makanan ternak,
bibit dll, lalu kalau sdh panen bagi hasil. Bagi hasilnya tergantung kontrak
perusahaan masing2.
Jadi perunggasan di Indonesia itu sudah menjadi sangat fragmented. Semua orang
bisa mengerjakannya. Yg diperlukan hanyalah tanah, tenaga dan modal sedikit.
Pemusnahan telor dan doc diartikel ini efektif, terbukti saham2 perusahaan
perunggasan langsung naik.
Yg dimusnahkan oleh pemerintah itu tentunya adalah milik pemerintah dalam
Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian
https://today.line.me/id/pc/article/Stabilkan+pasokan+ayam+pemerintah+akan+musnahkan+28+juta+telur+tertunas+di+Desember-egn6vB
http://bibit.ditjenpkh.pertanian.go.id/
kalau tidak dimusnahkan misalnya dikasih kerakyat, ya jelas akan menghancurkan
harga dipasar. Kenapa? Karena pasokan/supply ayam akan bertambah shg harga
akan lebih anjlog lagi. jadi ini keputusan bisnis.
Yg menjadi curiosity adalah kenapa pemerintah memusnahkan telor dan doc ini
krn pemerintah adalah instansi naungan rakyat dimana rakyat bisa mendapatkan
gratis ayam2 itu. Ini jalan pikiran orang awam. Tetapi jalan pikiran bisnis
lain. Kalau telor dan doc itu tidak dimusnahkan, harga ayam akan jatuh shg
perusahaan dan ujung2nya rakyat/peternak akan mati. Yg mana yg mau
didahulukan. Ini keputusan.
Kalau perusahaan yg memusnahkan kan gak gaduh krn kerugian pemusnahan itu
ditanggung perusahaan. Yg bikin gaduh krn pemerintah yg memusnahkan. Tetapi
efeknya jelas kalau tidak dimusnahkan harga ayam akan jatuh parah dan pasti
peternak merugi. Peternak ini mayoritas adalah peternak kecil di Indonesia.
Peternak yg gede itu namanya commercial farming dimiliki perusahaan2 gede
termasuk japfa comfeed, charoen pokpham yg gak akan mati krn pemusnahan telor
dan doc ini, tetapi plasma2nya yg mayoritas peternak rakyat kecil akan habis.
Silahkan dicermati.
Tetapi bagi yg gak ngerti apalagi yg suka NYINYIR langsung aja ngomong:
pemerintah goblok, pemerintah apaan telor dan ayam dimusnahkan, koq gak
dikasih kerakyat, apalagi rakyatnya masih miskin seperti Indonesia. Hehehehe
ini omongan tukang NYINYIR.
Nesare
From: ChanCT
Tapi, bung Nesare, ... saya juga tidak berhasil menangkap kenapa Kementan
yang turun tangan memusnahkan DOC itu? Apa usaha BUMN? Kalau iya, kenapa jadi
peternak ayam yang berteriak??? Bukankah dengan demikian yg rugi BUMN
sendiri dan rakyat bisa dapatkan ayam murah, ...
Kalau betul itu usaha BUMN, jelas terjadi kesalahan perencanaan! Tapi, kenapa
jalan keluarnya harus dimusnahkan! Bukankah usaha peternak ayam itu bisa
diperluas bahkan keluar daerah! Apa sulitnya mengatur DOC jutaan/perminggu
itu dikirim keluar daerah kembangkan usaha ternak ayam, bahkan kalau tidak
keburu juga boleh membagikan DOC itu pada setiap keluarga tani 2-4 ekor!
Atau mungkin juga karena kita TIDAK jelas dengan pemusnahan disini sebetulnya
apa??? Karena pemberitaan demikian sangat TIDAK JELAS maunya apa, .... Masih
dalam betuk telor atau sudah DOC sesungguhnya saja tidak ada yang bisa pastikan
???
Salam,
ChanCT
On 11/12/2019 上午12:27, nesare wrote:
Heheheh bung ini rajin2nya cari tahu kebenaran nya.
Saya saja gak pusing mau telor keq yg dimusnahkan ataupun DOC spt artikel yg
bung bawa ini.
DOC = livebird. DOC lebih lajim istilah yg dipakai. Saya pas pernah kerja
dibidang ini dulunya, jadi sedikit2 tahu.
DOC itu anak ayam yg akan diternak, ini ayam potong. Anak ayam ini biasanya
umurnya 10 hari, paling tua 14 hari. Ini ayam ras alias ayam negeri, bukan
ayam kampung. Kalau ayam petelur istilahnya bukan DOC melainkan pullet.
Jadi kalau DOC yg dihancurkan itu yg NYINYIR gobloknya minta ampun krn DOC
itu gak bertelor hehehehehe
Nesare
From: ChanCT
Saya tidak berhasil menangkap pengertian memusnahkan jutaan TELOR yang
dimaksud sesungguhnya, ... Peternak ayam mengeluh lantaran pasokan bibit ayam
hidup (livebird) berlebih dan menyebabkan harganya anjlok. Untuk itu, para
petani yang tergabung dalam Paguyuban Peternak Rakyat Nasional (PPRN) meminta
Kementerian Pertanian (Kementan) mengeluarkan kebijakan pemusnahan 10 juta
bibit ayam atau day old chick (DOC) per minggu. Dari pemberitaan dibawah,
nampaknya yg hendak dimusnahkan adalah telor bibit, agar harga ayam tidak
anjlok! Tapi, tidak dijelaskan dikemanakan telor yg jutaan itu? Dugaan saya,
hanya tidak ditetaskan jadi anak ayam lagi, tapi dijual kepasar untuk dimakan
saja, ...???
Tapi, ... apapun yang aterjadi, sudah seharusnya pemerintah bisa ikut campur
mengawasi dan menangani peredaran produksi didaerah yg memang tidak mungkin
seimbang sepanjang tahun, disini bisa berlebih sehingga harga anjlok bahkan
terancam busuk, disana bisa saja justru kekurangan. Pemerintah hendaknya bisa
membantu produksi disini yang berlebih ditranfer ke daerah yang kekurangan
dan perlukan, bukan dan TIDAK dimusnahkan untuk pertahankan harga pasar!
Harga Ayam Anjlok, Kementan Musnahkan 7 Juta Bibit Bulan Depan
Vadhia Lidyana - detikFinance
Ilustrasi/Foto: Ari Saputra
Jakarta - Peternak ayam mengeluh lantaran pasokan bibit ayam hidup (livebird)
berlebih dan menyebabkan harganya anjlok. Untuk itu, para petani yang
tergabung dalam Paguyuban Peternak Rakyat Nasional (PPRN) meminta
Kementerian Pertanian (Kementan) mengeluarkan kebijakan pemusnahan 10 juta
bibit ayam atau day old chick (DOC) per minggu.
Menjawab keluhan petani tersebut, Direktur Perbibitan dan Produksi Ternak
Kementan, Sugiono menyebutkan bahwa pihaknya akan mengeluarkan kebijakan
untuk mengurangi DOC final stock (FS) dengan pemusnahan atau cutting telur
tertunas (HE) sebanyak 7 juta butir mulai 1 Desember 2019.
"Berdasarkan rapat koordinasi perunggasan tanggal 19 November 2019,
diputuskan untuk melakukan pengurangan HE umur 19 hari sebanyak 7 juta per
minggu berlaku mulai 1 Desember 2019," kata Sugiono dalam keterangannya
kepada detikcom, Rabu (27/11/2019).
|
Baca juga: Kemendag Klaim Harga Ayam di Peternak Sudah Naik Rp 2.000
|
Dengan kebijakan tersebut, maka di bulan Desember 2019, total cutting HE
dilakukan terhadap 28 juta butir. Pemusnahan tersebut akan mengurangi stok
DOC FS sebanyak 26,6 juta ekor di bulan Desember.
"Sehingga target total pengurangan HE pada Desember 2019 sebanyak 28 juta
butir. Dampak dari cutting HE pada Desember 2019 dimaksud secara nasional
akan mengurangi produksi DOC FS dari pembibit sebanyak 26.600.000 ekor,"
papar dia.
Ia mengungkapkan, kebijakan pemusnahan 7 juta HE per minggu ini akan berlaku
sampai dengan bulan Maret 2020.
|
Baca juga: Harga Ayam Anjlok, Wamendag Sebut Terkait Aturan Sebelumnya
|
Dengan langkah tersebut, Sugiono berharap harga livebird di tingkat peternak
bisa mengalami kenaikan dan berada pada level yang stabil.
"Harga livebird ditentukan oleh mekanisme pasar, dengan adanya cutting HE
diharapkan dapat berpengaruh pada peningkatan harga livebird," pungkasnya.
Sebagai informasi, peternak rakyat mengaku rugi hingga Rp 2 triliun karena
harga livebird anjlok dan berada level Rp 16.000-17.000 per kilogram (kg).
Padahal, harga acuan livebird yang diatur dalam Permendag nomor 96 tahun 2018,
batas bawahnya sebesar Rp 18.000/kg.
"Hari ini kalau di Jabar mungkin lebih murah lagi karena masuk dari Jateng
ke sini, itu kira-kira Rp 16.000-17.000/kg. HPP kita Rp 18.000," jelas
perwakilan Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat (Pinsar) Jateng, Parjuni
ketika berunjuk rasa di depan kantor Kemendag, Jakarta Pusat.
Simak Video "Unik! Mie Ayam Disajikan dalam Kelapa Muda Segar"
(ara/ara)
On 10/12/2019 上午12:27, Jonathan Goeij wrote:
Pemerintah gendeng2an, mestinya beli telur ayam itu untuk dibagikan kemereka
yang kurang gizi.
Berapa juta anak yang stunting kurang gizi?
On Sunday, December 8, 2019, 07:15:49 AM PST, Tatiana Lukman wrote:
Pemerintah sdh begitu sinting, kok masih ada saja yang keranjingan
mendukung!!!???
On Sunday, December 8, 2019, 05:24:21 AM GMT+1, ajeg wrote:
Rapopo peternak rugi, ekonomi hancur, pasar lesu, negara loyo, yang penting
tetap bernafsu bikin ibukota baru.
---ilmesengero@... wrote:
Kebijakan ekonomi ditentukan oleh mekanisme pasar. Pasar lesu negara lemah
syahwat.
#yiv4815212441 #yiv4815212441 -- #yiv4815212441ygrp-mkp {border:1px solid
#d8d8d8;font-family:Arial;margin:10px 0;padding:0 10px;}#yiv4815212441
#yiv4815212441ygrp-mkp hr {border:1px solid #d8d8d8;}#yiv4815212441
#yiv4815212441ygrp-mkp #yiv4815212441hd
{color:#628c2a;font-size:85%;font-weight:700;line-height:122%;margin:10px
0;}#yiv4815212441 #yiv4815212441ygrp-mkp #yiv4815212441ads
{margin-bottom:10px;}#yiv4815212441 #yiv4815212441ygrp-mkp .yiv4815212441ad
{padding:0 0;}#yiv4815212441 #yiv4815212441ygrp-mkp .yiv4815212441ad p
{margin:0;}#yiv4815212441 #yiv4815212441ygrp-mkp .yiv4815212441ad a
{color:#0000ff;text-decoration:none;}#yiv4815212441 #yiv4815212441ygrp-sponsor
#yiv4815212441ygrp-lc {font-family:Arial;}#yiv4815212441
#yiv4815212441ygrp-sponsor #yiv4815212441ygrp-lc #yiv4815212441hd {margin:10px
0px;font-weight:700;font-size:78%;line-height:122%;}#yiv4815212441
#yiv4815212441ygrp-sponsor #yiv4815212441ygrp-lc .yiv4815212441ad
{margin-bottom:10px;padding:0 0;}#yiv4815212441 #yiv4815212441actions
{font-family:Verdana;font-size:11px;padding:10px 0;}#yiv4815212441
#yiv4815212441activity
{background-color:#e0ecee;float:left;font-family:Verdana;font-size:10px;padding:10px;}#yiv4815212441
#yiv4815212441activity span {font-weight:700;}#yiv4815212441
#yiv4815212441activity span:first-child
{text-transform:uppercase;}#yiv4815212441 #yiv4815212441activity span a
{color:#5085b6;text-decoration:none;}#yiv4815212441 #yiv4815212441activity span
span {color:#ff7900;}#yiv4815212441 #yiv4815212441activity span
.yiv4815212441underline {text-decoration:underline;}#yiv4815212441
.yiv4815212441attach
{clear:both;display:table;font-family:Arial;font-size:12px;padding:10px
0;width:400px;}#yiv4815212441 .yiv4815212441attach div a
{text-decoration:none;}#yiv4815212441 .yiv4815212441attach img
{border:none;padding-right:5px;}#yiv4815212441 .yiv4815212441attach label
{display:block;margin-bottom:5px;}#yiv4815212441 .yiv4815212441attach label a
{text-decoration:none;}#yiv4815212441 blockquote {margin:0 0 0
4px;}#yiv4815212441 .yiv4815212441bold
{font-family:Arial;font-size:13px;font-weight:700;}#yiv4815212441
.yiv4815212441bold a {text-decoration:none;}#yiv4815212441 dd.yiv4815212441last
p a {font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv4815212441 dd.yiv4815212441last p
span {margin-right:10px;font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv4815212441
dd.yiv4815212441last p span.yiv4815212441yshortcuts
{margin-right:0;}#yiv4815212441 div.yiv4815212441attach-table div div a
{text-decoration:none;}#yiv4815212441 div.yiv4815212441attach-table
{width:400px;}#yiv4815212441 div.yiv4815212441file-title a, #yiv4815212441
div.yiv4815212441file-title a:active, #yiv4815212441
div.yiv4815212441file-title a:hover, #yiv4815212441 div.yiv4815212441file-title
a:visited {text-decoration:none;}#yiv4815212441 div.yiv4815212441photo-title a,
#yiv4815212441 div.yiv4815212441photo-title a:active, #yiv4815212441
div.yiv4815212441photo-title a:hover, #yiv4815212441
div.yiv4815212441photo-title a:visited {text-decoration:none;}#yiv4815212441
div#yiv4815212441ygrp-mlmsg #yiv4815212441ygrp-msg p a
span.yiv4815212441yshortcuts
{font-family:Verdana;font-size:10px;font-weight:normal;}#yiv4815212441
.yiv4815212441green {color:#628c2a;}#yiv4815212441 .yiv4815212441MsoNormal
{margin:0 0 0 0;}#yiv4815212441 o {font-size:0;}#yiv4815212441
#yiv4815212441photos div {float:left;width:72px;}#yiv4815212441
#yiv4815212441photos div div {border:1px solid
#666666;min-height:62px;overflow:hidden;width:62px;}#yiv4815212441
#yiv4815212441photos div label
{color:#666666;font-size:10px;overflow:hidden;text-align:center;white-space:nowrap;width:64px;}#yiv4815212441
#yiv4815212441reco-category {font-size:77%;}#yiv4815212441
#yiv4815212441reco-desc {font-size:77%;}#yiv4815212441 .yiv4815212441replbq
{margin:4px;}#yiv4815212441 #yiv4815212441ygrp-actbar div a:first-child
{margin-right:2px;padding-right:5px;}#yiv4815212441 #yiv4815212441ygrp-mlmsg
{font-size:13px;font-family:Arial, helvetica, clean, sans-serif;}#yiv4815212441
#yiv4815212441ygrp-mlmsg table {font-size:inherit;font:100%;}#yiv4815212441
#yiv4815212441ygrp-mlmsg select, #yiv4815212441 input, #yiv4815212441 textarea
{font:99% Arial, Helvetica, clean, sans-serif;}#yiv4815212441
#yiv4815212441ygrp-mlmsg pre, #yiv4815212441 code {font:115%
monospace;}#yiv4815212441 #yiv4815212441ygrp-mlmsg *
{line-height:1.22em;}#yiv4815212441 #yiv4815212441ygrp-mlmsg #yiv4815212441logo
{padding-bottom:10px;}#yiv4815212441 #yiv4815212441ygrp-msg p a
{font-family:Verdana;}#yiv4815212441 #yiv4815212441ygrp-msg
p#yiv4815212441attach-count span {color:#1E66AE;font-weight:700;}#yiv4815212441
#yiv4815212441ygrp-reco #yiv4815212441reco-head
{color:#ff7900;font-weight:700;}#yiv4815212441 #yiv4815212441ygrp-reco
{margin-bottom:20px;padding:0px;}#yiv4815212441 #yiv4815212441ygrp-sponsor
#yiv4815212441ov li a {font-size:130%;text-decoration:none;}#yiv4815212441
#yiv4815212441ygrp-sponsor #yiv4815212441ov li
{font-size:77%;list-style-type:square;padding:6px 0;}#yiv4815212441
#yiv4815212441ygrp-sponsor #yiv4815212441ov ul {margin:0;padding:0 0 0
8px;}#yiv4815212441 #yiv4815212441ygrp-text
{font-family:Georgia;}#yiv4815212441 #yiv4815212441ygrp-text p {margin:0 0 1em
0;}#yiv4815212441 #yiv4815212441ygrp-text tt {font-size:120%;}#yiv4815212441
#yiv4815212441ygrp-vital ul li:last-child {border-right:none
!important;}#yiv4815212441