1.
2. *Untuk melawwan hantu harus banyak berdoa dan insyaalloh hantu lari
   pontang panting, kata pengawal pintu gerbang Taman Firdaus.*


On Wed, Feb 19, 2020 at 3:19 PM 'Lusi D.' [email protected] [nasional-list] <
[email protected]> wrote:

>
>
>
>
> Beginn der weitergeleiteten Nachricht:
>
> Datum: Wed, 19 Feb 2020 15:02:46 +0100
> Von: "'Lusi D.' [email protected] [GELORA45]" <[email protected]>
> An: "kh djie [email protected] [GELORA45]" <[email protected]>
> Betreff: Re: [GELORA45] Hantu Otoritarianisme
>
> Hanya ada dua pilihan: Jadi patriot atau konglomerat/oligarki.
>
>
> Am Wed, 19 Feb 2020 13:32:20 +0100
> schrieb "kh djie [email protected] [GELORA45]"
> <[email protected]>:
>
> > What is to be done ?
> >
> > Pada tanggal Rab, 19 Feb 2020 pukul 11.19 'Lusi D.' [email protected]
> > [GELORA45] <[email protected]> menulis:
> >
> > >
> > >
> > > Ulasan peristiwa sejarah untuk menjawab pertanyaan: What is to done?
> > > Lusi.-
> > >
> > > indonews - Rabu, 19/02/2020 10:59 WIB
> > >
> > > Hantu Otoritarianisme Masih Bergelayut
> > >
> > > Oleh: Rizal Ramli*)
> > >
> > > Jakarta, INDONEWS.ID -- Pada awal tahun 1970-an, semasa saya
> > > mahasiswa di kota Bandung, teman-teman seangkatan saya menyadari
> > > perlunya bertindak demi membebaskan diri dari segala peraturan
> > > pemerintah yang otoriter. Saat itulah bermulanya kiprah saya
> > > sebagai aktivis politik.
> > >
> > > Presiden Suharto, yang mengendalikan roda kekuasaan sejak 1967,
> > > menunjukkan ciri-ciri pemimpin otoriter yang mulai digoyang para
> > > mahasiswa saat insiden Lima Belas Januari (Malari) yang meletupkan
> > > gelombang demonstrasi mahasiwa serta kerusuhan pada tahun 1974
> > > setelah kunjungan Perdana Menteri Jepang, Kakuei Tanaka ke Jakarta.
> > >
> > > Momentum ini adalah awal dari akhir kebebasan yang sebelumnya
> > > dinikmati masyarakat Indonesia. Pers diberangus, serikat buruh
> > > menjadi instrumen kepanjangan tangan pemerintah, partai-partai
> > > oposisi dikebiri, dan para pengeritik Pemerintah dijebloskan ke
> > > penjara, termasuk saya. Tidak seperti yang lain, saya termasuk
> > > beruntung. Pada 1979 saya dibebaskan dari penjara setelah satu
> > > tahun ditahan.
> > >
> > > Seorang pengacara HAM terkenal, Adnan Buyung Nasution, menyelamatkan
> > > saya. Tapi impian saya tentang masa depan Indonesia yang demokratis
> > > harus menunggu hampir dua dekade sebelum terwujud.
> > >
> > > Memasuki 1998, Presiden Suharto telah berkuasa selama lebih dari
> > > tiga puluh tahun, begitu lama sehingga sulit membayangkan
> > > pemerintahannya akan tumbang.
> > >
> > > Saya kembali ke Indonesia pada 1988 setelah menempuh studi doktoral
> > > saya di Amerika Serikat. Kemudian saya sibuk mengelola think tank
> > > ekonomi saya ketika krisis finansial melanda Asia pada 1997. Baht
> > > Thailand ambyar, diikuti oleh depresiasi dramatis Rupiah Indonesia.
> > > Rasa frustrasi dan amarah yang terpendam terhadap Soeharto,
> > > keluarganya dan para kroni korupnya dengan cepat meletup pada saat
> > > perekonomian kita berantakan. Demonstrasi mahasiswa merebak di
> > > seluruh Indonesia menuntut Suharto mundur. Lalu pada Mei 1998
> > > Suharto akhirnya menyerah dan lengser. Para mahasiswa adalah
> > > pahlawan yang mempertaruhkan jiwanya untuk membawa perubahan.
> > > Indonesia tidak akan pernah bebas dari rezim otoriter tanpa
> > > perjuangan mereka.
> > >
> > > Seiring berjalannya waktu, kami yakin akan masa depan demokrasi.
> > > Ketika saya pertama kali masuk ke kabinet Presiden Abdurrahman
> > > Wahid pada tahun 1999, saya memperhatikan nasib banyak rekan saya
> > > yang juga dipenjara semasa Suharto. Kami memiliki pengalaman buruk
> > > yang serupa, dan sekarang kami berbagi alasan yang sama untuk
> > > mengantar Indonesia ke era demokrasi.
> > >
> > > Namun, kami melupakan sesuatu. Meskipun Suharto adalah sejarah
> > > kelam, tapi bayangan hantu otoriternya masih menggelayuti kita.
> > > Banyak politisi yang pernah menjabat di bawah Soeharto masih ada di
> > > dalam pemerintahan. Kami telah terjebak dalam demokrasi - pemilihan
> > > terbuka, kebebasan berbicara dan media yang hidup - tetapi yang
> > > bersembunyi di balik orang-orang yang otoriter. Hanya masalah waktu
> > > sebelum hantu otoriter kembali.
> > >
> > > Muncul kemudian, yang dimulai pada tahun-tahun awal pemerintahan
> > > Presiden Joko Widodo, saat saya menjabat sebagai Menteri Koordinator
> > > Bidang Kelautan. Presiden, yang bermaksud baik dan ingin menjadikan
> > > dirinya sebagai seorang reformis, dihormati oleh sebagian besar
> > > rakyat Indonesia. Tetapi Presiden Joko Widodo, yang tidak punya
> > > partai politik sendiri malah terikat pada keinginan dan kepentingan
> > > koalisi yang berkuasa, yang akhirnya mengurung Presiden.
> > >
> > > Mulai tahun 2017, saya menemukan banyak institusi dan norma
> > > demokrasi secara sistematis dirusak. Terlihat DPR sedang
> > > mempersiapkan revisi kejam KUHP. Dewan juga melakukan kudeta
> > > terhadap KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) yang mengakhiri
> > > independensinya dan yang memborgolnya sehingga hampir mustahil
> > > untuk menyelidiki politikus yang korup.
> > >
> > > Singkatnya, para politikus ingin memberi tahu kepada konstituennya
> > > silahkan tutup mulut saat maling mencuri, kalau tidak mau masuk
> > > penjara.
> > >
> > > Perilaku yang keterlaluan, memang. Saya tidak terkejut ketika para
> > > mahasiswa akhirnya kembali berdemo beberapa pekan pada September dan
> > > Oktober 2019. Puluhan ribu mahasiswa dari pelbagai universitas di
> > > seluruh Nusantara berduyun-duyun turun ke jalan-jalan memprotes
> > > pengesahan undang-undang baru KPK, serta menuntut Presiden
> > > mengeluarkan Keppres untuk membatalkan pembonsaian KPK. Aparat
> > > keamanan menyemprotkan meriam air, gas air mata, peluru karet. Para
> > > mahasiwa juga menuntut Presiden untuk mencari cara agar membalikkan
> > > arah undang-undang hukum pidana. Pun telah meminta DPR menunda
> > > pengesahan hukum pidana sampai DPR yang baru.
> > >
> > > Setelah dilantik untuk periode kedua, Presiden Jokowi berjanji
> > > mempertimbangkan mengeluarkan Keputusan Presiden untuk mengembalikan
> > > kewenangan hukum KPK.
> > >
> > > Saya memberi saran kepada Pak Jokowi agar mendengarkan suara
> > > mahasiswa dan bukan politikus yang mementingkan diri sendiri
> > > sembari berharap mendapat manfaat dari pengembalian marwah
> > > demokrasi Indonesia.
> > >
> > > *) Rizal Ramli, ekonom senior, mantan Menteri Koordinator Bidang
> > > Kelautan era Presiden Jokowi
> > >
> > >
> > >
>
> 
>

Kirim email ke