Masih juga gak terima dibilang nenek dalam tempurung! Hehehee, ....
Tahunya hanya Tiongkok dimasa tahun 1964-1973 saja! Tidak salah
hendaknya masalah kesehatan dan pendidikan rakyat seluruh negeri bisa
gratis ditanggung sepenuhnya oleh negara!
Ketika Deng menjalankan kebijakan "Reformasi dan Keterbukaan" ditahun
1980, memang terjadi kebablasan dalam menempuh pasar sosialisme,
sementara kelompok sosial-demokrat memenangkan pemikirannya pendidikan
dan kesehatan/pengobatan di kepasarkan juga! Dalam pengertian sekolah
dan RS harus mendapatkan keuntungan untuk mengongkosi pengeluaran setiap
sekolah dan rumahsakit! Tentu saja membuat banyak masalah tidak sehat
dan PROTES KERAS masyarakat, ... Setelah tahun 90-an mulai dibenahi,
berusaha menemukan jalan tengah yang lebih baik dan bisa diterima
masyarakat luas. Tiongkok yang begitu besar dengan jumlah rakyat begitu
banyak, tentu sulit menggeneralisasi cara dan jalan mana yang paling
baik. Ditempuhlah kebebasan bagi setiap propinsi menemukan cara dan
jalannya sendiri-sendiri, ... Baru setelah memasuki tahun 2000
terkerucut cara yang bisa diambil dan berlakukan secara nasional. Untuk
pendidikan anak sekolah dari SR sampai Universitas kembali ditanggung
sepenuhnya oleh NEGARA. Sedang untuk kesehatan/pengobatan, setiap warga
diaharuskan ikut asuransi kesehatan, sementara dibanyak propinsi tetap
mengambil kebijakan 80% pengeluaran ditanggung asuransi, sedang yang 20%
diharuskan bayar sendiri. Tapi, didesa-desa pada umumnya setelah setiap
petani tergabung dalam koperasi-desa, koperasi-desa itulah yang
menanggung sepenuhnya pengeluaran untuk pendidikan dan kesehatan anggota
koperasi, ...! Jadi maju lebih dahulu ketimbang buruh dikota-kota.
Tapi lagi, tunjangan sosial yang baik begitu bagaimanapun juga HARUS
diikuti dengan pertumbuhan EKNOMI yang lebih baik, ... agar kehidupan
masyarakat dan taraf hidup RAKYAT menjadi lebih makmur dari tahun
ketahun, jangan relatif mandeg seperti CUBA sekalipun masih mengaku
komunis sejati! Karena bagaimanpun juga SOSIALISME BUKAN meratakan
kemiskinan! Tapi harus meratakan kemakmuran! Dan, ... diakui atau tidak
makin nyata muncul didunia ini dengan Jalan Sosialisme Berkarakter Tiongkok.
On 19/3/2020 下午8:56, Tatiana Lukman [email protected] [GELORA45]
wrote:
Ha...ha...ha kakek dedengkot remo kebakaran jenggot dan untuk kesekian
kalinya menunjukkan kegoblokannya membaca tulisan orang... Saya sama
sekali tidak menyinggung soal bagaimana Tkk menanggulangi Corona
virus!!! Yang saya tantang adalah soal lama yaitu pelayanan kesehatan
dan pendidikan yang tadinya gratis di zaman Mao, menjadi tidak gratis
sejak reformasi kapitalis Deng, dibandingkan dengan Kuba yang miskin
dan diblokade, tapi toh bisa mempertahankan kedua sektor pelayanan itu
gratis!!!! Baca saja nggak becus!!!!
Jawaban buat Nesare: saya hanya bilang negara yang bersahabat dengan
Kuba, artinya tidak mengambil sikap bermusuhan dan memblokade seperti
AS. Ada segelintir negara kapitalis bahkan imperialis dan negara Dunia
Ketiga yang bersahabat dengan Kuba... Jelas RRT memang kapitalis dan
sedang berkembang menjadi kekuatan imperialis dan saya lawan dengan
sengit!! Tapi saya bukan satu-satunya orang yang melawan Tiongkok
kap-impe dengan sengit!!!
On Thursday, March 19, 2020, 06:33:20 AM GMT+1, ajeg
[email protected] [GELORA45] <[email protected]> wrote:
Ada kok, solidaritas terhadap perjuangan senasib-setertindasan masih
ada kok di Indonesia. Bentuknya beragam, dari sekedar diskusi di
warung kopi (termasuk ttg situasi di Yunani itu), demo
petani-buruh-nelayan, sampai aksi membangun rumahsakit di Gaza.
Sepertinya hampir tidak ada pergolakan di dunia yang luput dari
perhatian masyarakat Indonesia.
Hanya saja karena berbagai keterbatasan, solidaritas ini masih terus
diperkosa oleh persekongkolan peng-peng nan gagah curangnya itu.
--- jetaimemucho1@... wrote:
Yang jelas kedokteran dan penelitian ilmiah di bidang
bioteknologia di Kuba tidak MENCARI PROFIT dan TIDAK ADA
PERSAINGAN antara lembaga-lembaga ilmu!! Ini yang tidak dimengerti
oleh oirang-orang yang tidak bisa membedakan sistim kesehatan di
Kuba dengan sistim di negeri-negeri dunia ketiga dan negara-negara
imperialis!! Kuba sudah menemukan dan membuat berbagai macam obat
dan vaccin, tapi karena monopoli multinasional dan blokade, tidak
bisa dijual dengan bebas di pasar yang memang dikuasai oleh
multinasional imperialis!!! Hanya negara-negara yang bersahabat
dengan Kuba yang membeli obat-obat dan vaccin.
Saya selalu tantang si remo pro Tkk-imperialis untuk menjelaskan
bagaimana KUba yang miskin dan diblokade bisa memberi pelayanan
gratis dalam kesehatan dan pendidikan, bahkan kepada mahasiswa
asing yang belajar di Kuba, sedangkan tiongkok yang sudah bejibun
multimilyuner dan biyunernya, pelayanan kesehatan dan pendidikan
tidak bisa digratiskan!!!!
Moral di kuba sudah tentu tidak sama dengan negara-negara
imperialis!!! di Kuba ada solidaritas dan sudah dibuktikan....Mana
ada solidaritas di Indonesia dan negara-negara Imperialis???
Adakah solidaritas dengan para refugie yang manggrok di Turki dan
Yunani????
On Tuesday, March 17, 2020, 04:06:25 PM GMT+1, ajeg wrote:
Setahu saya Kuba pernah menjadi pusat penelitian mikrobiologi
karena ilmu dan teknologi hayatinya mengungguli negara-negara Barat.
Selain ilmu, dunia kesehatannya berisi barisan solidaritas yang
mengutamakan keselamatan umat manusia. Saya kira ini buah moral
yang ditanam dr. Ernesto.
--- jetaimemucho1@... wrote:
No new cases of Covid-19 in Cuba in last 48 hours
The four patients identified remain hospitalized and are
progressing satisfactorily, with all resources needed to
ensure their full recovery available
Author: Yudy Castro Morales
<http://en.granma.cu/archivo?a=718> | [email protected]
<mailto:[email protected]>
march 16, 2020 09:03:39
alt
*Photo: *Juvenal Balán
The four Covid-19 patients identified remain hospitalized and
are progressing satisfactorily, with all resources needed to
ensure their full recovery available; while efforts to prevent
the spread of the pandemic within the country continue.
Dr. Carmelo Trujillo Machado, head of the Ministry of Public
Health (Minsap) Department of International Health Control,
reported this information Sunday in a press conference, and
emphasized that the implementation of all measures established
for the prevention and confrontation of the new coronavirus
continue, in close collaboration with all central state
administration agencies and ministries.
He reiterated the importance of expanding preventative and
educational efforts for the entire population, as well as
preparing all sectors of society to implement preventative
measures.
Dr. Trujillo reported that border surveillance has been
“increased and strengthened” at all ports of entry, with teams
of health professionals carefully following protocols, while
active monitoring continues at the primary care level and in
hotels, to ensure the timely identification of possible cases
and take appropriate action.
Family doctors and nurses are conducting active searches in
communities to identify and monitor all individuals with
respiratory symptoms, he stated, while insisting on the
essential participation of the population, since anyone with
such symptoms must seek medical attention immediately.
Dr. María Elena Soto Entenza, head of the Ministry’s Primary
Health Care Department noted that specific areas have been
designated in community polyclinics to care for patients with
respiratory symptoms, as well as committees of several
specialists to conduct clinical and epidemiological
evaluations and determine the course to be followed.
"Not everyone who arrives with respiratory symptoms is
hospitalized, but it is important that they are evaluated,"
she emphasized.