Bung Manap, Mungkin karena doanya tidak pakai kemenyan ? Kalau pakai menyan kata teman, malaikat yang lagi dengari di atasnya, matanya kepedasan, langsung bilang ya. Malaikat belum bilang ya, para ulama sudah sorak sorai? Kalau tidak pakai kemenyan, bisa juga dengan dupa....... Ada juga cara lain pakai sesajen untuk virusnya ? Tetapi apa virusnya doyan sesajennya dan tidak cari manusia lain sebagai mangsa? Salam, Djie
Op za 4 apr. 2020 om 17:07 schreef S Manap [email protected] [GELORA45] < [email protected]>: > > > > Bung Djie, > > Saya kira pendapat bung ada benarnya. Harapan pemerintah supaya jangan > mudik dalam situasi meluasnya virus corona ini sangat serius dan merupakan > masalah besar. > > Karena itu, kalau betul MUI mengeluarkan fatwa haram, dan kelihatan > banyak orang yang tidak jadi mudik, maka bisa di klaim bahwa banyak orang > yang tidak jadi mudik adalah berkat jasa fatwa MUI. Apalagi, fatwa MUI itu > adalah anjuran/usul dari wakil Presiden. > > Tapi jangan lupa juga, bahwa ketika virus corona sudah menyebar ke > mana-mana selain di Tiongkok, Indonesia belum kemasukan corona. Pada saat > itu ada pertemuan para Ulama yang relatif besar jumlahnya bersama Wakil > Presiden. Dalam pertemuan itulah Wakil Presiden mengatakan bahwa virus > corona tidak masuk ke Indonesia adalah berkat do`a para Ulama. Pada saat > itulah para Ulama ketawa dengan riang gembira. Sepertinya mereka yakin > betul bahwa virus corona tidak akan masuk Indonesia berkat do`a mereka. > > Apa hendak dikata. Tanpa mempedulikan do`a para Ulama, virus corona > masuk juga ke Indonesia dan menyebar luas sampai sekarang. > Orangpun bisa bertanya:"Mengapa virus corona masih masuk ke Indonesia, > apa do'a para ulama tidak mampu melawannya"? > > Begitulah secara pendek perjalanan virus corona yang kita ikuti. Kalau > do`a saja tidak mampu melawannya, maka turuti sajalah dengan > sungguh-sungguh pengaturan dari pihak yang berkuasa, pihak yang bertanggung > jawab. Betapapun banyaknya hambatan yang terjadi, akhirnya akan berhasil > juga mengatasi persoalan besar ini. > > Salam. > > S.M. > > Den lördag 4 april 2020 14:34:12 CEST, kh djie [email protected] > [GELORA45] <[email protected]> skrev: > > > > > Kalau tidak nurut fatwa MUI, tidak dapat Taman Firdaus..........? > Taman Firdaus itu dulu letaknya antara sungai Euphrat dan Tigris, > daerah yang subur luar biasa. > > Op za 4 apr. 2020 om 14:27 schreef Sunny ambon [email protected] > [GELORA45] <[email protected]>: > > > > > *Para pemudik tanpa menghiraukan fatwa MUI bermaksud memperpendek waktu > ke dunia seberang, teristimewa taman Firdausnya yang diidam-idamkan. Patut > dipahami bahwa Taman Firdaus ini dihuni oleh bidadari cantik bin molek lagi > super sexy, mereka siap sedia selama 24 jam (round the clock) memberi > service nan luar biasa bagi jasmaniah dan rochaniah kepada setiap > pendatang. Kepada para pemudik tidak lain diucapkan selamat menikmati > service taman dengan penuh keagiran dan senang hati kepuasan nikmatnya > dalam kehidupan kekal.* > > > >
