-------- 轉寄郵件 --------
主旨: [GELORA45] Covid-19: Refleksi Seorang Dokter
日期: Fri, 17 Apr 2020 18:56:10 +0200
從: 'j.gedearka' [email protected] [GELORA45]
<[email protected]>
回函地址: [email protected], j.gedearka <[email protected]>
到: [email protected], Sahala Silalahi <[email protected]>,
[email protected]
--
j.gedearka <[email protected]>
https://news.detik.com/kolom/d-4980851/covid-19-refleksi-seorang-dokter?tag_from=wp_cb_kolom_list
Kolom
*Covid-19: Refleksi Seorang Dokter*
Gabriele Kembuan - detikNews
Jumat, 17 Apr 2020 15:30 WIB
Ilustrasi Corona
Jakarta -
Pandemi Covid-19 di Indonesia tidak hanya berdampak pada 4500 orang yang
terkonfirmasi positif di Indonesia, tapi lebih dari 200 juta orang harus
merasakan dampak dari terganggunya aktivitas dan mata pencaharian. Kita
bahkan belum dapat memperkirakan apakah ekonomi Indonesia nantinya dapat
pulih dari terjun bebas yang dialami selama pandemi ini.
Terjungkir baliknya seluruh aspek kehidupan manusia tidak hanya terjadi
di Indonesia; lebih dari seperempat populasi dunia saat ini tengah
mengalami lockdown. Yang menyakitkan untuk didengar, sebenarnya, pandemi
ini tidak harus mencapai skala sebesar ini. Ini mengharuskan kita
menelaah kembali mengapa seluruh sistem dan institusi kita dapat
membiarkan pandemi ini terjadi dan meluas hingga seperti keadaannya
sekarang.
Sebagai seorang tenaga medis, saya menyaksikan sendiri betapa runyamnya
keadaan di lapangan. Minimnya APD dan fasilitas, kacaunya alur rujukan,
sulitnya melakukan pengecekan, ditambah ketakutan karena banyaknya
korban dokter yang berpulang karena pandemi ini.
Rasanya belum terlalu lama sejak saya pertama kali membaca berita
tentang pneumonia misterius di Wuhan, sambil bersantai menyantap makan
siang dengan sahabat-sahabat saya. Dari kamar hotel yang saya tempati
untuk mengarantina diri saat ini, dengan seluruh rencana pribadi saya
yang seketika berubah seratus delapan puluh derajat, ingatan itu terasa
seperti sebuah mimpi.
Dalam beberapa minggu, berbagai penggalangan dana baik oleh kalangan
medis maupun non-medis berhasil mengumpulkan nominal yang amat besar,
berkat dukungan penuh dari masyarakat. Namun masalah lain kembali
muncul; suplai alat kesehatan yang amat sukar dicari, atau dijual dengan
harga selangit. Beberapa APD yang esensial terpaksa kami buat dan
modifikasi sendiri, menyuplai hasil "kerajinan" tangan kami ke berbagai
rumah sakit atas inisiatif lembaga-lembaga organisasi dan non-profit.
Minimnya persediaan APD lain di fasilitas kesehatan mengharuskan kami
untuk membelinya di pasaran menggunakan uang kami sendiri, terutama
untuk masker N95 yang amat penting dalam pekerjaan kami, dan saat ini
rasanya lebih berharga dari emas --harganya pun kurang lebih mirip
dengan emas.
Memusingkan APD sesungguhnya tidak termasuk pekerjaan seorang dokter.
Sementara itu, saat salah satu penggalang dana menegosiasi harga dengan
seorang suplier dan menjelaskan tujuan untuk donasi, responsnya hanya,
"Tidak usah menawar kalau tidak punya duit!" Benar-benar miris.
Selama kuliah kedokteran, saya tidak pernah menyangka akan begitu sulit
untuk mendapatkan masker biasa dan handrub, alat-alat kesehatan yang
amat dasar. Makassar, tempat saya bekerja, bukan sebuah kota terpencil
melainkan pusat rujukan untuk seluruh Indonesia timur. Saat ini banyak
rujukan-rujukan tersebut yang terpaksa tidak kebagian sarana dan
fasilitas karena keadaan darurat ini.
Di luar dunia medis, perbatasan-perbatasan negara tertutup dan krisis
makanan sudah --atau minimal akan segera-- terjadi. Pengemudi ojek
online memohon saya untuk tidak membatalkan pesanan saat makanan yang
saya pesan tidak tersedia, karena sepinya pelanggan. Masih banyak
pekerjaan lain tidak bisa dilakukan dari rumah; pekerjaan yang mungkin
adalah mata pencaharian dari hari ke hari.
Staying at home is a privilege, sesuatu yang baru saya sadari
kebenarannya. Tidak semua orang di negara ini "mampu" untuk mengarantina
diri di rumah.
Memang amat banyak polemik, kontradiksi, dan kompleksitas yang perlu
dinavigasi dalam menghadapi pandemi ini. Namun, seluruh hal ini
seharusnya tidak pernah terjadi.
*Akar Pandemi*
Akar dari pandemi Covid-19 sesungguhnya bukanlah sebuah virus, namun
pemerintahan-pemerintahan negara yang sejak dulu hingga sekarang kurang
berpikir secara jarak jauh, dengan kurangnya investasi dalam pencegahan
dan kurangnya antisipasi terhadap krisis.
Pemerintah di seluruh dunia memotong anggaran dan menghapus institusi
yang tampak tidak penting atau bisa dihapus. Perusahaan-perusahaan
memotong standar dan kapasitas produksi, berkompromi dengan safety,
menggadaikan masa depan untuk sistem yang lebih efisien, lebih efektif,
namun sesungguhnya amat lemah. Ekonomi kita jauh lebih lemah dari yang
kita bayangkan. Fasilitas kesehatan kita sama sekali tidak akan mampu
menangani pasien Covid-19 jika jumlahnya mencapai jumlah di Eropa.
Dalam keadaan sehari-hari saja, ICU dan ventilator terbatas dan rujukan
untuk penggunaan ICU dan ventilator amat selektif. Dalam puluhan tahun,
bahkan dua bulan terakhir, tidak pernah ada persiapan pengadaan surplus
ventilator untuk keadaan seperti ini. Pengembangan laboratorium dan
pengadaan alat PCR amat minim, karena "belum dibutuhkan saat ini".
Alat pelindung diri yang lengkap tidak diadakan di puskesmas dan faskes
tingkat satu lainnya, padahal fasilitas-fasilitas tersebutlah yang
menjadi lini terdepan menjaring pasien, karena "belum pernah ada
kejadian seperti ini" --belum pernah, hingga kejadian seperti ini
benar-benar terjadi.
*Bukan Bencana*
Pandemi Covid-19 di Indonesia bukan sebuah bencana, dan bukan sebuah
kejadian tak terduga. Pandemi ini adalah contoh nyata akibat kurangnya
persiapan.
Pada akhirnya, yang dapat menjadi senjata terdepan hanyalah social
distancing dan karantina, itu pun dengan mengekspos kelemahan sistem
terhadap masyarakat yang rentan, yang tidak mampu secara ekonomi untuk
benar-benar patuh dengan imbauan social distancing, dan luput dari upaya
edukasi dan penyuluhan pemerintah karena strata pendidikan dan
sosioekonomi mereka.
Dalam beberapa minggu ke depan, kita akan melihat apakah
pemerintahan-pemerintahan dunia cukup kompeten dan berani mengambil
kebijakan luar bisa dan menavigasi segala kompleksitas untuk
menyelamatkan ekonomi, dan terutama, nyawa penduduknya. Satu faktor
penting yang sering luput dari pertimbangan pemerintah: exponential
growth. Satu hari yang tertunda dalam mengambil keputusan luar biasa,
dalam sebuah keadaan pandemi, mempunyai nilai aktual yang jauh lebih
tinggi dari satu hari.
Sebuah pandemi berkembang secara eksponensial, bukan linear. Semakin
cepat keputusan yang tegas dan menyeluruh diambil, dengan berkonsentrasi
penuh dengan pencegahan infeksi, semakin eksponensial benefit yang
didapatkan dibandingkan dengan upaya yang setengah-setengah dan penuh
kompromi.
Politik selama ini mungkin sebuah permainan. Namun, hakikat politisi dan
pemimpin yang utama dan terutama adalah sebagai negarawan. Tenaga medis
tidak dapat menertibkan harga masker dan alkes yang melangit; butuh
regulasi dari pemerintah agar seluruh sumbangan masyarakat yang
terkumpul dengan susah payah tidak hanya berakhir memperkaya oknum-oknum
tertentu. Butuh regulasi pemerintah untuk menertibkan komersialisasi
obat-obatan gelap dan rapid test.
Butuh keputusan pemerintah untuk mengeluarkan kebijakan, terutama
kebijakan kesehatan, yang paling bermanfaat dan berdasarkan bukti.
Tenaga medis tidak dapat menjadi garda terdepan sendirian. Bahkan,
seharusnya tenaga medis adalah garis pertahanan terakhir. Garda terdepan
adalah masyarakat dan pemerintah.
Dan, setelah pandemi ini berakhir, akan ada sangat banyak pelajaran yang
dapat kita petik. Harus ada perubahan yang mendasar dalam pola kerja
pemerintah kita, jika ingin mencegah hal ini terulang kembali. Tidak
hanya memberikan solusi-solusi jangka pendek, namun memahami pentingnya
investasi-investasi jangka panjang. Kita tidak dapat menghadapi sebuah
pandemi semacam ini lebih dari sekali.
Gabriele Kembuan tenaga medis di Makassar
(mmu/mmu)