Dilijat dari sudut Kesehatan dan Pendidikan bagi seluruh warga nya, Kuba
yang selama ini diblokade AS tetap berkemampuan memberikan layanan
Kesehatan dan Pendidikan GRATIS bagi warganya, tentu PATUT diacungi
jempol!!
Namun TETAP ada satu masalah yang tidak dapat dipungkiri, Kuba sampai
sekarang BELUM BERHASIL meningkatkan kesejahteraan rakyat menjadi
makmur! Mengapa? Karena belum melahirkan seorang pemimpin seperti Mao
dan Deng yang mampu membawa rakyat Kuba BERDIKARI! Pada saat berhasil
mendapatkan tunjangan/bantuan dari Sovyet, tidak digunakan
sebaik-baiknya untuk membangun dasar ekonomi dengan industri yang baik.
Begitu Sovyet ambruk dan tidak lagi bisa menunjang, seaat sempat
kelimpungan juga, ... Entah sekarang sudah muncul belum tokoh-tokoh yang
mendapatkan pendidikan GRATIS selama 70-an tahun itu bisa tampil membawa
rakyat Kuba lebih makmur, ...! Kalau saja Singapora yang jauh lebih
kecil dan jelek kondisinya bisa, kenapa Kuba tidak, ...? Tentu ada
masalaqh disitu yang perlu dikoreksi???!!!
Tatiana Lukman [email protected] [GELORA45] 於 2020/4/20 上午 12:39
寫道:
Masalah pokoknya tidak terletak pada kemampuan, tapi political will
dan sifat pemerintahnya dengan seluruh pejabat-pejabatnya yang kaya
raya!!! Kuba yang diblokade terus, kok mampu memberi layanan kesehatan
gratis, Pendidikan dari sekolah dasar sampai universitas gratis!!!
Sent from Mail <https://go.microsoft.com/fwlink/?LinkId=550986> for
Windows 10
*From: *'B.H. Jo' [email protected] [GELORA45]
<mailto:[email protected]>
*Sent: *Saturday, 18 April 2020 23:43
*To: *GELORA_In <mailto:[email protected]>;
[email protected] <mailto:[email protected]>
*Subject: *Re: [GELORA45] Covid-19: Refleksi Seorang Dokter
Kenyataan yg sangat memprihatinkan di Indonesia, yg tentunya bukan
kesalahan dari Pemerintah sekarang saja tetapi juga dari Pemerintah2
dgn rakyat sebelumnya yg tidak mampu membuat logistik kesehatan yg
lumayan.
On Saturday, April 18, 2020, 01:29:42 AM PDT, ChanCT
[email protected] [GELORA45] <[email protected]> wrote:
-------- 轉寄郵件--------
*主旨**: *
[GELORA45] Covid-19: Refleksi Seorang Dokter
*日期**: *
Fri, 17 Apr 2020 18:56:10 +0200
*從**: *
'j.gedearka' [email protected] <mailto:[email protected]>
[GELORA45] <[email protected]> <mailto:[email protected]>
*回函地址**: *
[email protected] <mailto:[email protected]>, j.gedearka
<[email protected]> <mailto:[email protected]>
*到**: *
[email protected] <mailto:[email protected]>, Sahala
Silalahi <[email protected]> <mailto:[email protected]>,
[email protected] <mailto:[email protected]>
--
j.gedearka <[email protected]> <mailto:[email protected]>
https://news.detik..com/kolom/d-4980851/covid-19-refleksi-seorang-dokter?tag_from=wp_cb_kolom_list
<https://news.detik.com/kolom/d-4980851/covid-19-refleksi-seorang-dokter?tag_from=wp_cb_kolom_list>
Kolom
*Covid-19: Refleksi Seorang Dokter*
Gabriele Kembuan - detikNews
Jumat, 17 Apr 2020 15:30 WIB
Ilustrasi Corona
Jakarta -
Pandemi Covid-19 di Indonesia tidak hanya berdampak pada 4500 orang
yang terkonfirmasi positif di Indonesia, tapi lebih dari 200 juta
orang harus merasakan dampak dari terganggunya aktivitas dan mata
pencaharian. Kita bahkan belum dapat memperkirakan apakah ekonomi
Indonesia nantinya dapat pulih dari terjun bebas yang dialami selama
pandemi ini.
Terjungkir baliknya seluruh aspek kehidupan manusia tidak hanya
terjadi di Indonesia; lebih dari seperempat populasi dunia saat ini
tengah mengalami lockdown. Yang menyakitkan untuk didengar,
sebenarnya, pandemi ini tidak harus mencapai skala sebesar ini. Ini
mengharuskan kita menelaah kembali mengapa seluruh sistem dan
institusi kita dapat membiarkan pandemi ini terjadi dan meluas hingga
seperti keadaannya sekarang.
Sebagai seorang tenaga medis, saya menyaksikan sendiri betapa
runyamnya keadaan di lapangan. Minimnya APD dan fasilitas, kacaunya
alur rujukan, sulitnya melakukan pengecekan, ditambah ketakutan karena
banyaknya korban dokter yang berpulang karena pandemi ini.
Rasanya belum terlalu lama sejak saya pertama kali membaca berita
tentang pneumonia misterius di Wuhan, sambil bersantai menyantap makan
siang dengan sahabat-sahabat saya. Dari kamar hotel yang saya tempati
untuk mengarantina diri saat ini, dengan seluruh rencana pribadi saya
yang seketika berubah seratus delapan puluh derajat, ingatan itu
terasa seperti sebuah mimpi.
Dalam beberapa minggu, berbagai penggalangan dana baik oleh kalangan
medis maupun non-medis berhasil mengumpulkan nominal yang amat besar,
berkat dukungan penuh dari masyarakat. Namun masalah lain kembali
muncul; suplai alat kesehatan yang amat sukar dicari, atau dijual
dengan harga selangit. Beberapa APD yang esensial terpaksa kami buat
dan modifikasi sendiri, menyuplai hasil "kerajinan" tangan kami ke
berbagai rumah sakit atas inisiatif lembaga-lembaga organisasi dan
non-profit.
Minimnya persediaan APD lain di fasilitas kesehatan mengharuskan kami
untuk membelinya di pasaran menggunakan uang kami sendiri, terutama
untuk masker N95 yang amat penting dalam pekerjaan kami, dan saat ini
rasanya lebih berharga dari emas --harganya pun kurang lebih mirip
dengan emas.
Memusingkan APD sesungguhnya tidak termasuk pekerjaan seorang dokter.
Sementara itu, saat salah satu penggalang dana menegosiasi harga
dengan seorang suplier dan menjelaskan tujuan untuk donasi, responsnya
hanya, "Tidak usah menawar kalau tidak punya duit!" Benar-benar miris.
Selama kuliah kedokteran, saya tidak pernah menyangka akan begitu
sulit untuk mendapatkan masker biasa dan handrub, alat-alat kesehatan
yang amat dasar. Makassar, tempat saya bekerja, bukan sebuah kota
terpencil melainkan pusat rujukan untuk seluruh Indonesia timur. Saat
ini banyak rujukan-rujukan tersebut yang terpaksa tidak kebagian
sarana dan fasilitas karena keadaan darurat ini.
Di luar dunia medis, perbatasan-perbatasan negara tertutup dan krisis
makanan sudah --atau minimal akan segera-- terjadi. Pengemudi ojek
online memohon saya untuk tidak membatalkan pesanan saat makanan yang
saya pesan tidak tersedia, karena sepinya pelanggan. Masih banyak
pekerjaan lain tidak bisa dilakukan dari rumah; pekerjaan yang mungkin
adalah mata pencaharian dari hari ke hari.
Staying at home is a privilege, sesuatu yang baru saya sadari
kebenarannya. Tidak semua orang di negara ini "mampu" untuk
mengarantina diri di rumah.
Memang amat banyak polemik, kontradiksi, dan kompleksitas yang perlu
dinavigasi dalam menghadapi pandemi ini. Namun, seluruh hal ini
seharusnya tidak pernah terjadi.
*Akar Pandemi*
Akar dari pandemi Covid-19 sesungguhnya bukanlah sebuah virus, namun
pemerintahan-pemerintahan negara yang sejak dulu hingga sekarang
kurang berpikir secara jarak jauh, dengan kurangnya investasi dalam
pencegahan dan kurangnya antisipasi terhadap krisis.
Pemerintah di seluruh dunia memotong anggaran dan menghapus institusi
yang tampak tidak penting atau bisa dihapus. Perusahaan-perusahaan
memotong standar dan kapasitas produksi, berkompromi dengan safety,
menggadaikan masa depan untuk sistem yang lebih efisien, lebih
efektif, namun sesungguhnya amat lemah. Ekonomi kita jauh lebih lemah
dari yang kita bayangkan. Fasilitas kesehatan kita sama sekali tidak
akan mampu menangani pasien Covid-19 jika jumlahnya mencapai jumlah di
Eropa.
Dalam keadaan sehari-hari saja, ICU dan ventilator terbatas dan
rujukan untuk penggunaan ICU dan ventilator amat selektif. Dalam
puluhan tahun, bahkan dua bulan terakhir, tidak pernah ada persiapan
pengadaan surplus ventilator untuk keadaan seperti ini. Pengembangan
laboratorium dan pengadaan alat PCR amat minim, karena "belum
dibutuhkan saat ini".
Alat pelindung diri yang lengkap tidak diadakan di puskesmas dan
faskes tingkat satu lainnya, padahal fasilitas-fasilitas tersebutlah
yang menjadi lini terdepan menjaring pasien, karena "belum pernah ada
kejadian seperti ini" --belum pernah, hingga kejadian seperti ini
benar-benar terjadi.
*Bukan Bencana*
Pandemi Covid-19 di Indonesia bukan sebuah bencana, dan bukan sebuah
kejadian tak terduga. Pandemi ini adalah contoh nyata akibat kurangnya
persiapan.
Pada akhirnya, yang dapat menjadi senjata terdepan hanyalah social
distancing dan karantina, itu pun dengan mengekspos kelemahan sistem
terhadap masyarakat yang rentan, yang tidak mampu secara ekonomi untuk
benar-benar patuh dengan imbauan social distancing, dan luput dari
upaya edukasi dan penyuluhan pemerintah karena strata pendidikan dan
sosioekonomi mereka.
Dalam beberapa minggu ke depan, kita akan melihat apakah
pemerintahan-pemerintahan dunia cukup kompeten dan berani mengambil
kebijakan luar bisa dan menavigasi segala kompleksitas untuk
menyelamatkan ekonomi, dan terutama, nyawa penduduknya. Satu faktor
penting yang sering luput dari pertimbangan pemerintah: exponential
growth. Satu hari yang tertunda dalam mengambil keputusan luar biasa,
dalam sebuah keadaan pandemi, mempunyai nilai aktual yang jauh lebih
tinggi dari satu hari.
Sebuah pandemi berkembang secara eksponensial, bukan linear. Semakin
cepat keputusan yang tegas dan menyeluruh diambil, dengan
berkonsentrasi penuh dengan pencegahan infeksi, semakin eksponensial
benefit yang didapatkan dibandingkan dengan upaya yang
setengah-setengah dan penuh kompromi.
Politik selama ini mungkin sebuah permainan. Namun, hakikat politisi
dan pemimpin yang utama dan terutama adalah sebagai negarawan. Tenaga
medis tidak dapat menertibkan harga masker dan alkes yang melangit;
butuh regulasi dari pemerintah agar seluruh sumbangan masyarakat yang
terkumpul dengan susah payah tidak hanya berakhir memperkaya
oknum-oknum tertentu. Butuh regulasi pemerintah untuk menertibkan
komersialisasi obat-obatan gelap dan rapid test.
Butuh keputusan pemerintah untuk mengeluarkan kebijakan, terutama
kebijakan kesehatan, yang paling bermanfaat dan berdasarkan bukti.
Tenaga medis tidak dapat menjadi garda terdepan sendirian. Bahkan,
seharusnya tenaga medis adalah garis pertahanan terakhir. Garda
terdepan adalah masyarakat dan pemerintah.
Dan, setelah pandemi ini berakhir, akan ada sangat banyak pelajaran
yang dapat kita petik. Harus ada perubahan yang mendasar dalam pola
kerja pemerintah kita, jika ingin mencegah hal ini terulang kembali.
Tidak hanya memberikan solusi-solusi jangka pendek, namun memahami
pentingnya investasi-investasi jangka panjang. Kita tidak dapat
menghadapi sebuah pandemi semacam ini lebih dari sekali.
Gabriele Kembuan tenaga medis di Makassar
(mmu/mmu)