-- 
j.gedearka <[email protected]>



https://news.detik.com/kolom/d-4980851/covid-19-refleksi-seorang-dokter?tag_from=wp_cb_kolom_list



Kolom

Covid-19: Refleksi Seorang Dokter

Gabriele Kembuan - detikNews
Jumat, 17 Apr 2020 15:30 WIB
1 komentar
SHARE URL telah disalin
Ilustrasi Corona
Jakarta -

Pandemi Covid-19 di Indonesia tidak hanya berdampak pada 4500 orang yang 
terkonfirmasi positif di Indonesia, tapi lebih dari 200 juta orang harus 
merasakan dampak dari terganggunya aktivitas dan mata pencaharian. Kita bahkan 
belum dapat memperkirakan apakah ekonomi Indonesia nantinya dapat pulih dari 
terjun bebas yang dialami selama pandemi ini.

Terjungkir baliknya seluruh aspek kehidupan manusia tidak hanya terjadi di 
Indonesia; lebih dari seperempat populasi dunia saat ini tengah mengalami 
lockdown. Yang menyakitkan untuk didengar, sebenarnya, pandemi ini tidak harus 
mencapai skala sebesar ini. Ini mengharuskan kita menelaah kembali mengapa 
seluruh sistem dan institusi kita dapat membiarkan pandemi ini terjadi dan 
meluas hingga seperti keadaannya sekarang.

Sebagai seorang tenaga medis, saya menyaksikan sendiri betapa runyamnya keadaan 
di lapangan. Minimnya APD dan fasilitas, kacaunya alur rujukan, sulitnya 
melakukan pengecekan, ditambah ketakutan karena banyaknya korban dokter yang 
berpulang karena pandemi ini.

Rasanya belum terlalu lama sejak saya pertama kali membaca berita tentang 
pneumonia misterius di Wuhan, sambil bersantai menyantap makan siang dengan 
sahabat-sahabat saya. Dari kamar hotel yang saya tempati untuk mengarantina 
diri saat ini, dengan seluruh rencana pribadi saya yang seketika berubah 
seratus delapan puluh derajat, ingatan itu terasa seperti sebuah mimpi.

Dalam beberapa minggu, berbagai penggalangan dana baik oleh kalangan medis 
maupun non-medis berhasil mengumpulkan nominal yang amat besar, berkat dukungan 
penuh dari masyarakat. Namun masalah lain kembali muncul; suplai alat kesehatan 
yang amat sukar dicari, atau dijual dengan harga selangit. Beberapa APD yang 
esensial terpaksa kami buat dan modifikasi sendiri, menyuplai hasil "kerajinan" 
tangan kami ke berbagai rumah sakit atas inisiatif lembaga-lembaga organisasi 
dan non-profit.

Minimnya persediaan APD lain di fasilitas kesehatan mengharuskan kami untuk 
membelinya di pasaran menggunakan uang kami sendiri, terutama untuk masker N95 
yang amat penting dalam pekerjaan kami, dan saat ini rasanya lebih berharga 
dari emas --harganya pun kurang lebih mirip dengan emas.

Memusingkan APD sesungguhnya tidak termasuk pekerjaan seorang dokter. Sementara 
itu, saat salah satu penggalang dana menegosiasi harga dengan seorang suplier 
dan menjelaskan tujuan untuk donasi, responsnya hanya, "Tidak usah menawar 
kalau tidak punya duit!" Benar-benar miris.

Selama kuliah kedokteran, saya tidak pernah menyangka akan begitu sulit untuk 
mendapatkan masker biasa dan handrub, alat-alat kesehatan yang amat dasar. 
Makassar, tempat saya bekerja, bukan sebuah kota terpencil melainkan pusat 
rujukan untuk seluruh Indonesia timur. Saat ini banyak rujukan-rujukan tersebut 
yang terpaksa tidak kebagian sarana dan fasilitas karena keadaan darurat ini.

Di luar dunia medis, perbatasan-perbatasan negara tertutup dan krisis makanan 
sudah --atau minimal akan segera-- terjadi. Pengemudi ojek online memohon saya 
untuk tidak membatalkan pesanan saat makanan yang saya pesan tidak tersedia, 
karena sepinya pelanggan. Masih banyak pekerjaan lain tidak bisa dilakukan dari 
rumah; pekerjaan yang mungkin adalah mata pencaharian dari hari ke hari.

Staying at home is a privilege, sesuatu yang baru saya sadari kebenarannya. 
Tidak semua orang di negara ini "mampu" untuk mengarantina diri di rumah.

Memang amat banyak polemik, kontradiksi, dan kompleksitas yang perlu dinavigasi 
dalam menghadapi pandemi ini. Namun, seluruh hal ini seharusnya tidak pernah 
terjadi.

Akar Pandemi

Akar dari pandemi Covid-19 sesungguhnya bukanlah sebuah virus, namun 
pemerintahan-pemerintahan negara yang sejak dulu hingga sekarang kurang 
berpikir secara jarak jauh, dengan kurangnya investasi dalam pencegahan dan 
kurangnya antisipasi terhadap krisis.

Pemerintah di seluruh dunia memotong anggaran dan menghapus institusi yang 
tampak tidak penting atau bisa dihapus. Perusahaan-perusahaan memotong standar 
dan kapasitas produksi, berkompromi dengan safety, menggadaikan masa depan 
untuk sistem yang lebih efisien, lebih efektif, namun sesungguhnya amat lemah. 
Ekonomi kita jauh lebih lemah dari yang kita bayangkan. Fasilitas kesehatan 
kita sama sekali tidak akan mampu menangani pasien Covid-19 jika jumlahnya 
mencapai jumlah di Eropa.

Dalam keadaan sehari-hari saja, ICU dan ventilator terbatas dan rujukan untuk 
penggunaan ICU dan ventilator amat selektif. Dalam puluhan tahun, bahkan dua 
bulan terakhir, tidak pernah ada persiapan pengadaan surplus ventilator untuk 
keadaan seperti ini. Pengembangan laboratorium dan pengadaan alat PCR amat 
minim, karena "belum dibutuhkan saat ini".

Alat pelindung diri yang lengkap tidak diadakan di puskesmas dan faskes tingkat 
satu lainnya, padahal fasilitas-fasilitas tersebutlah yang menjadi lini 
terdepan menjaring pasien, karena "belum pernah ada kejadian seperti ini" 
--belum pernah, hingga kejadian seperti ini benar-benar terjadi.

Bukan Bencana

Pandemi Covid-19 di Indonesia bukan sebuah bencana, dan bukan sebuah kejadian 
tak terduga. Pandemi ini adalah contoh nyata akibat kurangnya persiapan.

Pada akhirnya, yang dapat menjadi senjata terdepan hanyalah social distancing 
dan karantina, itu pun dengan mengekspos kelemahan sistem terhadap masyarakat 
yang rentan, yang tidak mampu secara ekonomi untuk benar-benar patuh dengan 
imbauan social distancing, dan luput dari upaya edukasi dan penyuluhan 
pemerintah karena strata pendidikan dan sosioekonomi mereka.

Dalam beberapa minggu ke depan, kita akan melihat apakah 
pemerintahan-pemerintahan dunia cukup kompeten dan berani mengambil kebijakan 
luar bisa dan menavigasi segala kompleksitas untuk menyelamatkan ekonomi, dan 
terutama, nyawa penduduknya. Satu faktor penting yang sering luput dari 
pertimbangan pemerintah: exponential growth. Satu hari yang tertunda dalam 
mengambil keputusan luar biasa, dalam sebuah keadaan pandemi, mempunyai nilai 
aktual yang jauh lebih tinggi dari satu hari.

Sebuah pandemi berkembang secara eksponensial, bukan linear. Semakin cepat 
keputusan yang tegas dan menyeluruh diambil, dengan berkonsentrasi penuh dengan 
pencegahan infeksi, semakin eksponensial benefit yang didapatkan dibandingkan 
dengan upaya yang setengah-setengah dan penuh kompromi.

Politik selama ini mungkin sebuah permainan. Namun, hakikat politisi dan 
pemimpin yang utama dan terutama adalah sebagai negarawan. Tenaga medis tidak 
dapat menertibkan harga masker dan alkes yang melangit; butuh regulasi dari 
pemerintah agar seluruh sumbangan masyarakat yang terkumpul dengan susah payah 
tidak hanya berakhir memperkaya oknum-oknum tertentu. Butuh regulasi pemerintah 
untuk menertibkan komersialisasi obat-obatan gelap dan rapid test.

Butuh keputusan pemerintah untuk mengeluarkan kebijakan, terutama kebijakan 
kesehatan, yang paling bermanfaat dan berdasarkan bukti. Tenaga medis tidak 
dapat menjadi garda terdepan sendirian. Bahkan, seharusnya tenaga medis adalah 
garis pertahanan terakhir. Garda terdepan adalah masyarakat dan pemerintah.

Dan, setelah pandemi ini berakhir, akan ada sangat banyak pelajaran yang dapat 
kita petik. Harus ada perubahan yang mendasar dalam pola kerja pemerintah kita, 
jika ingin mencegah hal ini terulang kembali. Tidak hanya memberikan 
solusi-solusi jangka pendek, namun memahami pentingnya investasi-investasi 
jangka panjang. Kita tidak dapat menghadapi sebuah pandemi semacam ini lebih 
dari sekali.

Gabriele Kembuan tenaga medis di Makassar

(mmu/mmu)







Kirim email ke