Kenyataan yg sangat memprihatinkan di Indonesia, yg tentunya bukan kesalahan
dari Pemerintah sekarang saja tetapi juga dari Pemerintah2 dgn rakyat
sebelumnya yg tidak mampu membuat logistik kesehatan yg lumayan.
On Saturday, April 18, 2020, 01:29:42 AM PDT, ChanCT [email protected]
[GELORA45] <[email protected]> wrote:
-------- 轉寄郵件 --------
| 主旨: | [GELORA45] Covid-19: Refleksi Seorang Dokter |
| 日期: | Fri, 17 Apr 2020 18:56:10 +0200 |
| 從: | 'j.gedearka' [email protected] [GELORA45]
<[email protected]> |
| 回函地址: | [email protected], j.gedearka <[email protected]> |
| 到: | [email protected], Sahala Silalahi <[email protected]>,
[email protected] |
--
j.gedearka <[email protected]>
https://news.detik.com/kolom/d-4980851/covid-19-refleksi-seorang-dokter?tag_from=wp_cb_kolom_list
Kolom
Covid-19: Refleksi Seorang Dokter
Gabriele Kembuan - detikNews
Jumat, 17 Apr 2020 15:30 WIB
Ilustrasi Corona
Jakarta -
Pandemi Covid-19 di Indonesia tidak hanya berdampak pada 4500 orang yang
terkonfirmasi positif di Indonesia, tapi lebih dari 200 juta orang harus
merasakan dampak dari terganggunya aktivitas dan mata pencaharian. Kita bahkan
belum dapat memperkirakan apakah ekonomi Indonesia nantinya dapat pulih dari
terjun bebas yang dialami selama pandemi ini.
Terjungkir baliknya seluruh aspek kehidupan manusia tidak hanya terjadi di
Indonesia; lebih dari seperempat populasi dunia saat ini tengah mengalami
lockdown. Yang menyakitkan untuk didengar, sebenarnya, pandemi ini tidak harus
mencapai skala sebesar ini. Ini mengharuskan kita menelaah kembali mengapa
seluruh sistem dan institusi kita dapat membiarkan pandemi ini terjadi dan
meluas hingga seperti keadaannya sekarang.
Sebagai seorang tenaga medis, saya menyaksikan sendiri betapa runyamnya
keadaan di lapangan. Minimnya APD dan fasilitas, kacaunya alur rujukan,
sulitnya melakukan pengecekan, ditambah ketakutan karena banyaknya korban
dokter yang berpulang karena pandemi ini.
Rasanya belum terlalu lama sejak saya pertama kali membaca berita tentang
pneumonia misterius di Wuhan, sambil bersantai menyantap makan siang dengan
sahabat-sahabat saya. Dari kamar hotel yang saya tempati untuk mengarantina
diri saat ini, dengan seluruh rencana pribadi saya yang seketika berubah
seratus delapan puluh derajat, ingatan itu terasa seperti sebuah mimpi.
Dalam beberapa minggu, berbagai penggalangan dana baik oleh kalangan medis
maupun non-medis berhasil mengumpulkan nominal yang amat besar, berkat dukungan
penuh dari masyarakat. Namun masalah lain kembali muncul; suplai alat kesehatan
yang amat sukar dicari, atau dijual dengan harga selangit. Beberapa APD yang
esensial terpaksa kami buat dan modifikasi sendiri, menyuplai hasil "kerajinan"
tangan kami ke berbagai rumah sakit atas inisiatif lembaga-lembaga organisasi
dan non-profit.
Minimnya persediaan APD lain di fasilitas kesehatan mengharuskan kami untuk
membelinya di pasaran menggunakan uang kami sendiri, terutama untuk masker N95
yang amat penting dalam pekerjaan kami, dan saat ini rasanya lebih berharga
dari emas --harganya pun kurang lebih mirip dengan emas.
Memusingkan APD sesungguhnya tidak termasuk pekerjaan seorang dokter.
Sementara itu, saat salah satu penggalang dana menegosiasi harga dengan seorang
suplier dan menjelaskan tujuan untuk donasi, responsnya hanya, "Tidak usah
menawar kalau tidak punya duit!" Benar-benar miris.
Selama kuliah kedokteran, saya tidak pernah menyangka akan begitu sulit untuk
mendapatkan masker biasa dan handrub, alat-alat kesehatan yang amat dasar.
Makassar, tempat saya bekerja, bukan sebuah kota terpencil melainkan pusat
rujukan untuk seluruh Indonesia timur. Saat ini banyak rujukan-rujukan tersebut
yang terpaksa tidak kebagian sarana dan fasilitas karena keadaan darurat ini.
Di luar dunia medis, perbatasan-perbatasan negara tertutup dan krisis makanan
sudah --atau minimal akan segera-- terjadi. Pengemudi ojek online memohon saya
untuk tidak membatalkan pesanan saat makanan yang saya pesan tidak tersedia,
karena sepinya pelanggan. Masih banyak pekerjaan lain tidak bisa dilakukan dari
rumah; pekerjaan yang mungkin adalah mata pencaharian dari hari ke hari.
Staying at home is a privilege, sesuatu yang baru saya sadari kebenarannya..
Tidak semua orang di negara ini "mampu" untuk mengarantina diri di rumah.
Memang amat banyak polemik, kontradiksi, dan kompleksitas yang perlu
dinavigasi dalam menghadapi pandemi ini. Namun, seluruh hal ini seharusnya
tidak pernah terjadi.
Akar Pandemi
Akar dari pandemi Covid-19 sesungguhnya bukanlah sebuah virus, namun
pemerintahan-pemerintahan negara yang sejak dulu hingga sekarang kurang
berpikir secara jarak jauh, dengan kurangnya investasi dalam pencegahan dan
kurangnya antisipasi terhadap krisis.
Pemerintah di seluruh dunia memotong anggaran dan menghapus institusi yang
tampak tidak penting atau bisa dihapus. Perusahaan-perusahaan memotong standar
dan kapasitas produksi, berkompromi dengan safety, menggadaikan masa depan
untuk sistem yang lebih efisien, lebih efektif, namun sesungguhnya amat lemah.
Ekonomi kita jauh lebih lemah dari yang kita bayangkan. Fasilitas kesehatan
kita sama sekali tidak akan mampu menangani pasien Covid-19 jika jumlahnya
mencapai jumlah di Eropa.
Dalam keadaan sehari-hari saja, ICU dan ventilator terbatas dan rujukan untuk
penggunaan ICU dan ventilator amat selektif. Dalam puluhan tahun, bahkan dua
bulan terakhir, tidak pernah ada persiapan pengadaan surplus ventilator untuk
keadaan seperti ini. Pengembangan laboratorium dan pengadaan alat PCR amat
minim, karena "belum dibutuhkan saat ini".
Alat pelindung diri yang lengkap tidak diadakan di puskesmas dan faskes
tingkat satu lainnya, padahal fasilitas-fasilitas tersebutlah yang menjadi lini
terdepan menjaring pasien, karena "belum pernah ada kejadian seperti ini"
--belum pernah, hingga kejadian seperti ini benar-benar terjadi.
Bukan Bencana
Pandemi Covid-19 di Indonesia bukan sebuah bencana, dan bukan sebuah kejadian
tak terduga. Pandemi ini adalah contoh nyata akibat kurangnya persiapan..
Pada akhirnya, yang dapat menjadi senjata terdepan hanyalah social distancing
dan karantina, itu pun dengan mengekspos kelemahan sistem terhadap masyarakat
yang rentan, yang tidak mampu secara ekonomi untuk benar-benar patuh dengan
imbauan social distancing, dan luput dari upaya edukasi dan penyuluhan
pemerintah karena strata pendidikan dan sosioekonomi mereka.
Dalam beberapa minggu ke depan, kita akan melihat apakah
pemerintahan-pemerintahan dunia cukup kompeten dan berani mengambil kebijakan
luar bisa dan menavigasi segala kompleksitas untuk menyelamatkan ekonomi, dan
terutama, nyawa penduduknya. Satu faktor penting yang sering luput dari
pertimbangan pemerintah: exponential growth. Satu hari yang tertunda dalam
mengambil keputusan luar biasa, dalam sebuah keadaan pandemi, mempunyai nilai
aktual yang jauh lebih tinggi dari satu hari.
Sebuah pandemi berkembang secara eksponensial, bukan linear. Semakin cepat
keputusan yang tegas dan menyeluruh diambil, dengan berkonsentrasi penuh dengan
pencegahan infeksi, semakin eksponensial benefit yang didapatkan dibandingkan
dengan upaya yang setengah-setengah dan penuh kompromi.
Politik selama ini mungkin sebuah permainan. Namun, hakikat politisi dan
pemimpin yang utama dan terutama adalah sebagai negarawan. Tenaga medis tidak
dapat menertibkan harga masker dan alkes yang melangit; butuh regulasi dari
pemerintah agar seluruh sumbangan masyarakat yang terkumpul dengan susah payah
tidak hanya berakhir memperkaya oknum-oknum tertentu. Butuh regulasi pemerintah
untuk menertibkan komersialisasi obat-obatan gelap dan rapid test.
Butuh keputusan pemerintah untuk mengeluarkan kebijakan, terutama kebijakan
kesehatan, yang paling bermanfaat dan berdasarkan bukti. Tenaga medis tidak
dapat menjadi garda terdepan sendirian. Bahkan, seharusnya tenaga medis adalah
garis pertahanan terakhir. Garda terdepan adalah masyarakat dan pemerintah.
Dan, setelah pandemi ini berakhir, akan ada sangat banyak pelajaran yang dapat
kita petik. Harus ada perubahan yang mendasar dalam pola kerja pemerintah kita,
jika ingin mencegah hal ini terulang kembali. Tidak hanya memberikan
solusi-solusi jangka pendek, namun memahami pentingnya investasi-investasi
jangka panjang. Kita tidak dapat menghadapi sebuah pandemi semacam ini lebih
dari sekali.
Gabriele Kembuan tenaga medis di Makassar
(mmu/mmu)
#yiv9398974174 #yiv9398974174 -- #yiv9398974174ygrp-mkp {border:1px solid
#d8d8d8;font-family:Arial;margin:10px 0;padding:0 10px;}#yiv9398974174
#yiv9398974174ygrp-mkp hr {border:1px solid #d8d8d8;}#yiv9398974174
#yiv9398974174ygrp-mkp #yiv9398974174hd
{color:#628c2a;font-size:85%;font-weight:700;line-height:122%;margin:10px
0;}#yiv9398974174 #yiv9398974174ygrp-mkp #yiv9398974174ads
{margin-bottom:10px;}#yiv9398974174 #yiv9398974174ygrp-mkp .yiv9398974174ad
{padding:0 0;}#yiv9398974174 #yiv9398974174ygrp-mkp .yiv9398974174ad p
{margin:0;}#yiv9398974174 #yiv9398974174ygrp-mkp .yiv9398974174ad a
{color:#0000ff;text-decoration:none;}#yiv9398974174 #yiv9398974174ygrp-sponsor
#yiv9398974174ygrp-lc {font-family:Arial;}#yiv9398974174
#yiv9398974174ygrp-sponsor #yiv9398974174ygrp-lc #yiv9398974174hd {margin:10px
0px;font-weight:700;font-size:78%;line-height:122%;}#yiv9398974174
#yiv9398974174ygrp-sponsor #yiv9398974174ygrp-lc .yiv9398974174ad
{margin-bottom:10px;padding:0 0;}#yiv9398974174 #yiv9398974174actions
{font-family:Verdana;font-size:11px;padding:10px 0;}#yiv9398974174
#yiv9398974174activity
{background-color:#e0ecee;float:left;font-family:Verdana;font-size:10px;padding:10px;}#yiv9398974174
#yiv9398974174activity span {font-weight:700;}#yiv9398974174
#yiv9398974174activity span:first-child
{text-transform:uppercase;}#yiv9398974174 #yiv9398974174activity span a
{color:#5085b6;text-decoration:none;}#yiv9398974174 #yiv9398974174activity span
span {color:#ff7900;}#yiv9398974174 #yiv9398974174activity span
.yiv9398974174underline {text-decoration:underline;}#yiv9398974174
.yiv9398974174attach
{clear:both;display:table;font-family:Arial;font-size:12px;padding:10px
0;width:400px;}#yiv9398974174 .yiv9398974174attach div a
{text-decoration:none;}#yiv9398974174 .yiv9398974174attach img
{border:none;padding-right:5px;}#yiv9398974174 .yiv9398974174attach label
{display:block;margin-bottom:5px;}#yiv9398974174 .yiv9398974174attach label a
{text-decoration:none;}#yiv9398974174 blockquote {margin:0 0 0
4px;}#yiv9398974174 .yiv9398974174bold
{font-family:Arial;font-size:13px;font-weight:700;}#yiv9398974174
.yiv9398974174bold a {text-decoration:none;}#yiv9398974174 dd.yiv9398974174last
p a {font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv9398974174 dd.yiv9398974174last p
span {margin-right:10px;font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv9398974174
dd.yiv9398974174last p span.yiv9398974174yshortcuts
{margin-right:0;}#yiv9398974174 div.yiv9398974174attach-table div div a
{text-decoration:none;}#yiv9398974174 div.yiv9398974174attach-table
{width:400px;}#yiv9398974174 div.yiv9398974174file-title a, #yiv9398974174
div.yiv9398974174file-title a:active, #yiv9398974174
div.yiv9398974174file-title a:hover, #yiv9398974174 div.yiv9398974174file-title
a:visited {text-decoration:none;}#yiv9398974174 div.yiv9398974174photo-title a,
#yiv9398974174 div.yiv9398974174photo-title a:active, #yiv9398974174
div.yiv9398974174photo-title a:hover, #yiv9398974174
div.yiv9398974174photo-title a:visited {text-decoration:none;}#yiv9398974174
div#yiv9398974174ygrp-mlmsg #yiv9398974174ygrp-msg p a
span.yiv9398974174yshortcuts
{font-family:Verdana;font-size:10px;font-weight:normal;}#yiv9398974174
.yiv9398974174green {color:#628c2a;}#yiv9398974174 .yiv9398974174MsoNormal
{margin:0 0 0 0;}#yiv9398974174 o {font-size:0;}#yiv9398974174
#yiv9398974174photos div {float:left;width:72px;}#yiv9398974174
#yiv9398974174photos div div {border:1px solid
#666666;min-height:62px;overflow:hidden;width:62px;}#yiv9398974174
#yiv9398974174photos div label
{color:#666666;font-size:10px;overflow:hidden;text-align:center;white-space:nowrap;width:64px;}#yiv9398974174
#yiv9398974174reco-category {font-size:77%;}#yiv9398974174
#yiv9398974174reco-desc {font-size:77%;}#yiv9398974174 .yiv9398974174replbq
{margin:4px;}#yiv9398974174 #yiv9398974174ygrp-actbar div a:first-child
{margin-right:2px;padding-right:5px;}#yiv9398974174 #yiv9398974174ygrp-mlmsg
{font-size:13px;font-family:Arial, helvetica, clean, sans-serif;}#yiv9398974174
#yiv9398974174ygrp-mlmsg table {font-size:inherit;font:100%;}#yiv9398974174
#yiv9398974174ygrp-mlmsg select, #yiv9398974174 input, #yiv9398974174 textarea
{font:99% Arial, Helvetica, clean, sans-serif;}#yiv9398974174
#yiv9398974174ygrp-mlmsg pre, #yiv9398974174 code {font:115%
monospace;}#yiv9398974174 #yiv9398974174ygrp-mlmsg *
{line-height:1.22em;}#yiv9398974174 #yiv9398974174ygrp-mlmsg #yiv9398974174logo
{padding-bottom:10px;}#yiv9398974174 #yiv9398974174ygrp-msg p a
{font-family:Verdana;}#yiv9398974174 #yiv9398974174ygrp-msg
p#yiv9398974174attach-count span {color:#1E66AE;font-weight:700;}#yiv9398974174
#yiv9398974174ygrp-reco #yiv9398974174reco-head
{color:#ff7900;font-weight:700;}#yiv9398974174 #yiv9398974174ygrp-reco
{margin-bottom:20px;padding:0px;}#yiv9398974174 #yiv9398974174ygrp-sponsor
#yiv9398974174ov li a {font-size:130%;text-decoration:none;}#yiv9398974174
#yiv9398974174ygrp-sponsor #yiv9398974174ov li
{font-size:77%;list-style-type:square;padding:6px 0;}#yiv9398974174
#yiv9398974174ygrp-sponsor #yiv9398974174ov ul {margin:0;padding:0 0 0
8px;}#yiv9398974174 #yiv9398974174ygrp-text
{font-family:Georgia;}#yiv9398974174 #yiv9398974174ygrp-text p {margin:0 0 1em
0;}#yiv9398974174 #yiv9398974174ygrp-text tt {font-size:120%;}#yiv9398974174
#yiv9398974174ygrp-vital ul li:last-child {border-right:none
!important;}#yiv9398974174