Bagi seorang remo , semua pendapat yang bertentangan dengan penguasa akan selalu dianggap “radikal”. Bukan sesuautu yang aneh atau mengejutkan!! Begitulah watak kelas dari pendukung statusquo!!
Sent from Mail for Windows 10 From: ChanCT [email protected] [GELORA45] Sent: Friday, 24 April 2020 03:09 To: [email protected]; Tatiana Lukman; yahoogroups; [email protected]; [email protected]; [email protected]; Daeng; Farida Ishaja; [email protected]; Rachmat Hadi-Soetjipto; Harry Singgih; TanSie Tik URECA; Sungkono A.; [email protected]; Lingkar Sitompul Subject: Re: [GELORA45] Jokowi Minta IDI Sampaikan Data 1.000 Kematian: Jangan Perkeruh Suasana Pernyataan demikian sekali lagi hanyalah menunjukkan sikap nenek yang EKSTRIM bahkan sudah menjurus RADIKALIS! TANPA perhatikan keTEPATAN data kematian yang ada sebenarnya! Masalahnya, apakah data kematian yang disampaikan IDI dari daerah itu BENAR2 dan sudah pasti akibat COVID-19, ... yang bisa membuat suasana lebih keruh! Tentu juga jangan sampai terjadi kebalikan seperti di Amerika sana, menutupi masalah untuk melindungi ekonomi dan suara pendukung Trump di pilpres yad, ... lalu semua kematian lebih 14 ribu sejak tahun lalu, 2019 itu dinyatakan akibat wabah flu-H1N1, padahal didalamnya entah berapa % termasuk COVID-19 yang sudah merebak, itu pengakuan CDC sendiri setelah dikejar seorang senator! Itu namanya pemalsuan datan, ...! Tapi, ... kalau memang maunya meningkatkan besaran utang yang bisa didapatkan, BUKANKAH akan lebih mudah kalau jumlah KEMATIAN diperbesar berkalilipat, agar orang/negara asing bisa merasa kasihan dan bersedia ngucurkan BANTUAN bahkan perbesar jumlah UTANG2nya, ....!!! Begitu logika pengemis, ... biar dikasihani orang, bukan sebaliknya. Tatiana Lukman [email protected] [GELORA45] 於 2020/4/23 下午 09:46 寫道: Wah, gawat nih! Untuk ke sekian kalinya sang raja memperlihatkan ketakutannya kepada transparansi!! Jangan menyampaikan data kematian kepada publik!!! Aduh, rakyat Indonesia di bawah raja kayak gitu, bisanya ngemis utang, nangkepin, gebukin dan memenjara aktivis... Jokowi Minta IDI Sampaikan Data 1.000 Kematian: Jangan Perkeruh Suasana Jakarta - Presiden Joko Widodo (Jokowi) menjawab Ikatan Dokter Indonesia (IDI) yang mengungkap data 1.000 kasus kematian terkait virus corona baru (COVID-19). Jokowi meminta IDI menyampaikan data tersebut ke Kementerian Kesehatan (Kemenkes). "Sekali lagi, data yang kita peroleh itu kan dari daerah, dari kabupaten, kota dan provinsi. Kalau memang ada yang memiliki data itu sampaikan saja ke Gugus Tugas, sampaikan saja ke Menkes. Data yang 1.000 itu ada di mana, terkena COVID atau tidak," kata Jokowi dalam wawancara eksklusif di acara Mata Najwa yang disiarkan Trans7, Rabu (22/4/2020) malam. Jokowi mengatakan di tengah pandemi ini seluruh rumah sakit akan melakukan penanganan dengan protap Corona jika memang ada pasien yang memiliki gejala COVID-19. Jokowi pun meminta terkait data kasus kematian yang diungkap IDI disampaikan ke pemerintah. "Karena sekarang ini, sakit apapun yang ada di rumah sakit, kalau gejalanya itu gejala demam, panas, batuk pasti protokol kesehatannya akan membungkus yang meninggal itu dengan SOP COVID. Kalau itu memang ada data disampaikan saja, apa sih sulitnya, tapi tidak disampaikan ke publik dan justru memperkeruh," ujar Jokowi. Jokowi menegaskan lagi agar seluruh pihak tidak memperkeruh suasana. Apalagi, lanjut Jokowi, pemerintah sedang menghadapi masa yang tidak mudah di tengah pandemi. "Saya kira tidak seperti itu. Posisi sekarang ini bukan posisi yang mudah, jangan memperkeruh suasana dengan hal-hal yang sepertinya mudah untuk.. Sampaikan saja datanya, kalau datanya benar pasti di Kementerian, di Gugus Tugas akan memasukkan itu dalam konsolidasi data yang ada," kata Jokowi. Sent from Mail for Windows 10
