Hahahaa, ... ini nenek lagi-lagi hanya membuktikan dirinya ekstrimis kepala batu! Nenek yang otaknya sudah masuk air, ... TIDAK lagi bisa berpikir ilmiah! Pada saat kita mengkritik kesalahan, tidak seharusnya mencampakkan juga jasa dan KEBENARAN yang ada! Kita akan bolak-balik jatuh dari satu kesalahan kekesalahn lain, jadi membanting-banting dari kesalahan kiri kek kanan atau sebaliknya! BELAJAR lah bagaimana Ketua Mao selalu mengajukan, harus pandai-pandai mempertahankan kebenaran yang ada saat kita mengkritik satu kesalahan. Jangan semua disalahkan. Juga sebaliknya, saat kita memuji kebenaran jangan pula melihat adanya kesalahan atau kekurangan yang masih harus disempurnakan, ... biasa ditentukan dengan 7 banding 3. Artinya sudah cukup baik kalau mencapai 70% kebenaran dan hanya 30% kesalahan. Begitulah yang dditrapkan Deng saat mengkritik kesalahan PKT dimasa Mao, ... dimana Deng juga ikut menentukan dan harus bertanggungjawab. Deng bertahan TETAP pegang prinsip KEBENARAN FMTT, dan mengagungkan Ketua Mao sebagai Pemimpin Besar Rakyat Tiongkok. Dengan menyatakan Tanpa Ketua Mao tidak ada Tiongkok Baru sekarang ini, ...!

Pernyataan Ketua Mao, 20 Mei 1970, itu kembali diingatkan rakyat Tiongkok dalam tayangan video yang kebetulan saya ikuti dan saya angkat kembali dalam diskusi kita, untuk mengingatkan saja, ... bahwa ketua Mao pandai menempatkan posisinya dalam pertarungan 2 Super Power, Sovyet-AS kita itu untuk kepentingan nasional Tiongkok! Tidak asal gebuk seperti yang dilakukan nenek yang satu ini, ...! Jadi, sadar atau tidak menempatkan dirinya SATU FRONT dengan imkperialisme AS menggempur RRT yang lebih dibenci itu!

Hilangkah solidaritas internasional? Tentu saja TIDAK! Bentuknya saja berubah, ... kalau dahulu yang dijalankan ekspor revolusi, langsung terlibat dan membantu gerakan rakyat setempat, tanpa pedulikan sikap pemerintah yang berkuasa. Padahal cara begitu tak dapat disangkal merupakan intervensi urusan dalam negeri negara lain, ... yang tidak dikehendaki dan ditentang oleh RRT sendiri! Apa bedanya dengan yang dijalankan imperialisme AS didunia, selalu mengobok-obok dan bikin kacau dibanyak negeri untuk menggulingkan kekuasaan pemerintah yang menentang AS??? Yang sekarang dikenal dengan Revolusi Warna itu, ...



Tatiana Lukman [email protected] [GELORA45] 於 2020/5/26 上午 03:48 寫道:

Nah, kan keluar lagi oportunisnya... Tidak permasalahkan penilaian...RRT sudah menjadi sosial-Imperialisme... Padahal gara-gara kategorisasi China imperialis itu ,saya dicap memfitnah China. Maka saya kasih kalimat Prof. Jose Maria Sison dan judul sebuah tulisan di mana tertera jelas kalifikasi imperialis buat China.... antek remo tidak mau mengakui kesalahannya dalam hal itu. Sekrang yang dipermasalahkan kemana tinju dipusatkan... Padahal itu juga sudah saya jawab jelas dengan contoh kongkrit ketika Indonesia ganyang Malaysia dan pada waktu yang lain yang diganyang adalah imperialis Belanda.. Selebihnya  bla,.... bla itu ngaco saja...dan debat kusir , karena mengalihkan masalahnya...mau membenarkan pengkhianatan China atas internasionalisme proletar... Seolah-olah kalua sudah dibantu, haruslah cepat menang!!!!Itu hanya ada didalam otak remo yang nasionalis sempit dan egois!!! Sudah lupa Mao mengajar rakyatnya untuk mengetatkan ikat pinggangnya supaya bias membantu rakyat negeri lain??? Nyata benar bedanya Mao dengan Deng Xiaoping, bukan??? Kewajiban solidaritas proletar sebuah partai tetap merupakan factor ekstern bagi gerakan revolusioner suatu negeri. Ia tidak dapat menggantikan factor internnya sendiri... He.. dimana pengetahuan dialektikamu????Kemunduran atau kegagalan partai sekawan di satu negeri tidak membenarkan hilangnya internasionalisme proletar partai yang lain!!! Berapa banyak Soviet dan Stalin membantu kaum republik di Spanyol dalam melawan fasisme Franco??? Akhirnya kalah!! Apakah PKUS dan Stalin menarik solidaritas proletarnya kepada pelarian politik Spanyol???? Belajar sejarah perang sipil di Spanyol!!! Sungguh tak punya malu anda mau membenarkan pengkhianatan kaum remo China terhadap PKI dan melupakan bahwa pengkhianatan itu diperlukan untuk bias mencium pantat  sang jenderal berlumuran darah Suharto!! Apa sudah lupa bagaimana orang-orang PKI  dulu mengganyang kaum Remo Soviet karena tidak mengutuk kudeta militer 1965 ?? Hanya Kuba, Tiongkok, Vietnam dan Korut yang tidak menurunkan bendera setengah tiang sesuai dengan permintaan ORBA dalam hubungannya dengan kematian 7 jenderal itu. Remo Soviet tunduk pada ORBA!! Setelah Mao meninggal dan the gang of four ditangkap, tiba giliran remo china cium pantat Suharto... Gimana, masih kurang jelas??? Apakah itu hanya lamunan, mimpi dan bayangan otak saya saja???

Sent from Mail <https://go.microsoft.com/fwlink/?LinkId=550986> for Windows 10

*From: *ChanCT [email protected] [GELORA45] <mailto:[email protected]>
*Sent: *Monday, 25 May 2020 06:12
*To: *[email protected] <mailto:[email protected]>; Tatiana Lukman <mailto:[email protected]> *Subject: *Re: [GELORA45] Lantang Kritik Rezim Jokowi hingga Dipolisikan Luhut,Ini Rekam JejakSaid Didu

Saya TIDAK permasalahkan penilaian atau kesimpulan kalian RRT sudah menjadi sosial-Imperialisme, ... terserah dan boleh-boleh saja seseorang berpendapat begitu! Saya tidak berminat memperdebatkan dari teori keteori saja! Yang saya permasalahkan kemana tinju kamu itu dipusatkan, ke RRT atau AS???

Bagi saya, jalan yang ditempuh Tiongkok sepenuhnya adalah hak Rakyat Tiongkok sendiri, yang sudah seharusnya bisa diterima dan dihargai! Itulah pilihan rakyat Tiongkok sendiri, bukan dikendalikan negara asing! Terima dan HARGAI-lah hasil penetapan dan perjuangan RAKYAT bangsa lain, kemajuan dan kemakmuran yang dicapai Tiongkok SEPENUHNYA adalah hasil keringat kerja-keras RAKYAT Tiongkok sendiri! Bukan hasil penghisapan rakyat bangsa lain, bukan dari penghisapan koloni-koloni didunia layaknya imperialisme AS! Apalagi perjuangan rakyatnya sendiri masih terpuruk belum ada apa-apanya! Menampilkan tokoh rakyatnya sendiri saja BELUM jadi sampai sekarang setelah lebih 55 tahun digebug, ...

Tiongkok berhak menentukan dan mengoreksi kesalahan-kesalahan diwaktu yl. untuk menempuh jalan Sosialisme berkarakter Tiongkok, termasuk usaha solidaritas internasional yang tetap mereka jalankan itu. Bagaimana cara yang lebih baik meningkatkan kesejahteraan 1,4 milyar rakyat Tiongkok, dan seiring dengan itu bisa tetap membantu perkembangan dan perjuangan rakyat didunia, ...! Kalau dahulu mereka jalankan "MEMBANTU" perjuangan rakyat setempat tanpa peduli bagaimana sikap pemerintah yang berkuasa, dan ternyata TIDAK membawa kemajuan sebagaimana diharapkan! Bahkan PKI yang sudah dibantu sekuat tenaga bisa digebuk hancur oleh Suharto dalam waktu tidak lebih 8 jam saja! Lalu, begitu juga dengan PK Malaysia, Filipina bahkan yang berbatasan darat Burma juga tidak berkembang sebagaimana diharapkan. Padahal semua BANTUAN itu dijalankan dengan mengencangkan ikat tali-pinggang 600 juta rakyat! Nampaknya, kesimpulan Tiongkok perjuangan rakyat dinegara-negara sedang berkembang tidak bisa dimenangkan dengan kebangkitan perjuangan bersenjata saja! Keadaan dan kondisi masyarakat nya sudah berbeda dengan di Rusia dan Tiongkok masa Mao dahulu, ... Harus dilancarkan dengan cara dan bentuk perjuangan lain! Lalu?

Tiongkok menempuh jalan sutra, dengan "Satu Sabuk dan Jalan" membantu negara-negara sedang berkembang bisa maju dan berkembang lebih baik, ... bekerja bersama, untung bersama dan menang bersama! Tentu ini juga bukan obat mujarab yang PASTI menang dan berhasil nya, apalagi masih ganjal dan terus digempur kekuatan imperialisme yang digembongi Amerika itu masih sangat kuat!

Tatiana Lukman [email protected] <mailto:[email protected]> [GELORA45] 於 2020/5/24 下午 10:36 寫道:

    Sudah lupa bagaimana Tiongkok-nya Mao mengganyang
    Sosial-imperialisme?? Sudah lupa bagaimana Tiongkok menolak
    kerjasama dengan Sosialimperialisme dalam mendukung Vietnam??
    Siapa sosialimperialisme itu?? Kalau bukan kaum remo Soviet...
    Sudah hancur luluh remo soviet, muncul  remo Tiongkok dengan
    menangkap the gang of four... Remo Tiongkok inilah yang menendang
    orang-orang PKI demi cium pantat Suharto, dan akhirnya bisa
    menanamkan modalnya untuk mengeruk kekayaan alam Indonesia!!!
    Katanya masih mengakui Lenin... Tahu nggak definisi imperialisme
    oleh Lenin??? Yang paling penting adalah EXPORT MODAL!!!

    Nih, jawab dan bantah secuil tulisanku di Sulindo!!! Jangan debat
    kusir!! To the point!! Jawab point-point yang tertulis di bawah!!

     Fred Engst (profesor ekonomi dari University of International
    Business and Economics, Beijing) menjelaskan bahwa perusahaan
    negara dimiliki oleh birokrasi pemerintah atau konglomerat modal
    negara Tiongkok. Konglomerat modal negara adalah pemilik modal
    terbesar dengan kekuasaan monopoli juga terbesar di Tiongkok.
    Gabungan kapital finansial dan kapital industri yang dimiliki
    konglomerat modal negara Tiongkok bahkan lebih besar dari satu
    korporasi, atau satu konglomerat atau kartel atau konsorsium atau
    multinasional di AS, Eropa, atau Jepang!

    Konglomerat modal negara ini memiliki kontrol absolut atas partai,
    seluruh mesin negara dan kekuatan militer. Dengan begitu,
    konglomerat modal negara dapat langsung memobilisasi kapital
    industri dan kapital finansialnya di atas kekuasaan negara guna
    mengabdi kepada kepentingan ekspansi modalnya..

    Kapitalisme monopoli di Tiongkok juga tidak bisa menghindari
    krisis kelebihan produksi sehingga mengharuskannya untuk
    mengekspor modalnya ke negeri-negeri Asia, Afrika dan Amerika
    Latin. Bertemulah kita dengan ciri lain dari imperialisme yang
    sudah diungkapkan Lenin lebih dari satu abad yang lalu, yaitu
    ekspor kapital!

    Sudah tentu kaum revisionis modern terus menjajakan pepesan kosong
    “sosialisme dengan ciri Tiongkok”. Bukan kebetulan dan sia-sia
    nama revisionis yang disandangnya. Mereka merevisi dan
    mencampakkan inti sari dari Marxisme-Leninisme dan menggantikannya
    dengan teori revisionis, seperti misalnya, peralihan secara damai
    ke sosialisme dan sosialisme pasar. Karena menganggap ajaran Lenin
    sudah usang, maka mereka berkeras menolak kenyataan bahwa
    kapitalisme sudah membawa Tiongkok menjadi kekuatan imperialis
    yang sedang berkembang. Padahal perkembangan kapitalisme tak
    terhindarkan akan berakhir pada imperialisme.

    Sifat agresif imperialis Tiongkok terlihat jelas dalam usahanya
    untuk menciptakan orde baru global guna menggantikan
    lembaga-lembaga internasional yang dikuasai kekuatan Barat-AS
    dengan berbagai lembaga di bawah dominasinya. Misalnya, New
    Development Bank, Asian Infrastructure Investment Bank dan New
    Silk Road Fund dengan tujuan memobilisasi dukungan dan mendorong
    maju proyek One Belt One Road (OBOR).

    Tiongkok memperkuat aliansi dengan Rusia. Melalui Shanghai
    Cooperation Organization, Tiongkok berusaha memperluas pengaruhnya
    di Eurasia. Ia juga tak ragu-ragu mengklaim Lautan Tiongkok
    Selatan serta pulau-pulaunya sebagai miliknya. Dengan cepat ia
    membangun di situ infrastruktur militer. Bahkan krisis virus
    corona tidak menghentikan Tiongkok untuk terus mengkonsolidasi
    kekuasaannya di pulau-pulau yang masih disengketakan dengan
    negeri-negeri tetangganya. /South China Morning Post/ memberitakan
    bahwa Dewan Negara Tiongkok baru-baru ini telah menyetujui
    pembentukan dua distrik baru, Distrik Xisha dan Distrik Nansha di
    bawah kota Sansha.

    Sent from Mail <https://go.microsoft.com/fwlink/?LinkId=550986>
    for Windows 10

    *From: *ChanCT [email protected] [GELORA45]
    <mailto:[email protected]>
    *Sent: *Saturday, 23 May 2020 15:56
    *To: *[email protected] <mailto:[email protected]>;
    Tatiana Lukman <mailto:[email protected]>
    *Subject: *Re: [GELORA45] Lantang Kritik Rezim Jokowi hingga
    Dipolisikan Luhut,Ini Rekam JejakSaid Didu

    Ini nenek Tatiana yang berani-beraninya menepuk diri ML-Maois
    sejati, ternyata TIDAK BELAJAR dengan baik! Tetap hidup dalam
    mimpi yang lepas dari kehidupan nyata ! Dimana setiap saat kalau
    berani mengaku sebagai pejuang harus pandai-pandai menetapkan
    musuh-pokok! Dan kesitulah tinju dipusatkan, ...

    Sekalipun sudah genap lewat 50 tahun, 20 Mei 1970 yl. Metua Mao
    mengeluarkan pernyataan yang terkenal "SELURUH RAKYAT SEDUNIA
    BERSATU, melawan imperialisme Amerika dan cecunguknya!", saat itu,
    kita semua tahu ada 2 Superpower, Amerika dan Sovyet! Kenapa Ketua
    Mao memilih dan menentukan imperialisme AS musuh utama yang harus
    digempur dahulu! Sedang Sovyet, jangankan diserempet oleh ketua
    Mao, ... disebut pun tidak, ...!

    Lalu, apakah sekarang ini, percaturan politik dunia sudah berubah
    dan RRT yang oleh Tatiana dituduh sudah menjadi imperialisme itu
    menjadi musuh pokok RAKYAT SEDUNIA? Bukan lagi imperialisme AS???
    Kenapa?

    Padahal, kenyataan imperialisme AS inilah yang sampai sekarang ini
    bikin gaduh, bikin kacau dimana-mana, tidak henti-hentinya
    menjatuhkan banyak korban jiwa rakyat tak berdosa, ... termasuk
    rakyat didalam negerinya sendiri. Akibat kedodoran mengatasi wabah
    Covid-19 yang merebak sudah lebih 90 ribu warga AS meninggal!
    Laluberusaha keras melempar tanggungjawab dan kesalahan pada RRT,
    .... mendesak sekutu-sekutu nya ikutan menyerang dan menyalahkan
    Tiongkok!

    Menghadapi situasi politik dunia demikian, bagaimana mungkin yang
    menamakan diri pejuang rakyat justru ikutan imperialisme AS
    menghujat dan menghajar habis-habisan RRT yang justru selalu dan
    dimana saja mengutamakan kepentingan dan keselamatan rakyat!
    Perhatikan saja saat menghadapi Covid-19 kali ini, didunia ini
    hanya RRT yang berani korbankan ekonomi untuk mengutamakan
    keselamatan jiwa rakyatnya! Dengan drastis menutup kota Wuhan,
    menghentikan kerja dan mengharuskan setiap warga berdiam dirumah,
    tapi dalam waktu 70 hari berhasil mengendalikan dan menghentikan
    penyebaran wabah Covid-19 lebih lanjut, dengan korban jiwa 4634 orang.

    Patut juga dicatat dan diketahui, sikap TEGAS PKT dalam
    menjalankan Perang RAKYAT Melawan Covid-19, disamping menunjukkan
    kecanggihan dan kerapian PKT mengorganisasi massa, tapi juga dalam
    SIKAP terhadap kader dan anggota nya: Antara lain yang terbaca
    oleh saya:

    ada seorang pejabat-tinggi pensiunan kota Wuhan, positif
    terjangkit Covid-19 dianggap TIDAK disiplin menuruti perintah
    keharusan diisolasi masuk RS! Karena merasa sesuai tingkat
    kekaderannya, berhak mendapatkan fasilitas kamar seorang diri di
    RS! Tapi, dalam situasi darurat, bukan saja ranjang di RS TIDAK
    CUKUP, banyak pasien yang ditidurkan dilantai saja! Tanpa ranjang!
    Lalu pejabat pensiunan ini keluar RS dan pulang bersembunyi
    dirumah dengan tuntutan obat-obat yang diperlukan bisa dibawa
    pulang, … Pejabat tsb. Kemudian kena didisiplin masuk RS juga,
    tapi tetap dianggap MELANGGAR sikap pejabat komunis yang harus
    mendahulukan kepentingan rakyat! Dipinalti dengan turunkan
    setingkat uang pensiun yang bisa didapat!

    Ada lagi seorang pejabat kota Wuhan, dicopot hanya karena saat
    Tahun Baru Imlek, tgl. 25 Januari lari pulang kampung menghadiri
    pesta Ulang Tahun ayahnya, padahal tgl. 23 Kota Wuhan sudah di
    TUTUP, setiap warga tidak boleh keluar!

    Lalu, ada seorang pejabat Palang-Merah Wuhan juga kena dicopot,
    hanya karena kelalaian dan keterlambatan meneruskan sumbangan
    perlengkapan medis yang sudah diterima ke RS yang membutuhkan!

    Tatiana Lukman [email protected]
    <mailto:[email protected]> [GELORA45] 於 2020/5/19 下午 09:49
    寫道:

        Ini katak dalam tempurung yang sedang ngoceh, ya?? Tidak tahu
        sepak terjang China sendiri sudah lama menempelkan watak
        imperialisnya...saking piciknya dan penyembahan membutanya
        kepada China kapitalis, tidak tahu membedakan antara
        sosialisme dengan sosialimperialisme!!!Sudah tentu, dia tidak
        mau membaca wawancara prof. Jose Maria Sison di mana kita
        temukan kalimat ini :The Philippines has become far worse off
        than ever before after four years of misrule by Duterte. This
        has been characterized by treason and puppetry to both US and
        Chinese imperialism, mass murder and other gross human rights
        violations, systematic plunder, increased unemployment and
        mass poverty, aggravation of the drug problem under the
        Duterte drug empire, unabashed moral depravity and the
        accelerated deterioration of social and economic conditions.

        Dan dibawah ini judul tulisan A. Thayer


          Takeover Trap: Why Imperialist China Is Invading Africa

        China is in Africa not to advance Maoism, but to control its
        resources, people, and potential.

        Sent from Mail
        <https://go.microsoft.com/fwlink/?LinkId=550986> for Windows 10

        *From: *ChanCT [email protected] [GELORA45]
        <mailto:[email protected]>
        *Sent: *Tuesday, 19 May 2020 14:12
        *To: *Tatiana Lukman <mailto:[email protected]>;
        GELORA_In <mailto:[email protected]>
        *Subject: *Re: [GELORA45] Lantang Kritik Rezim Jokowi hingga
        Dipolisikan Luhut,Ini Rekam JejakSaid Didu

        Hehehee, ... nenek yang satu ini jadi sudah MENGAKUI Tiongkok
        menjadi inperialisme nomor satu! Yang menggantikan
        imperialisme Amerika MUSUH Nomor wahid nya didunia!!! Jadi,
        boleh saja bersekutu dengan siapa saja, termasuk imperialisme
        AS untuk GEMPUR RRT, ... PANTAS lah selama ini yang dijadikan
        dasar pegangan suara yang keluar dari corong imperialisme AS,
        Falungong!

        Dan, ... Said Didu dengan mudahnya dikategorikan pembela
        rakyat, yang berani dan jujur memikirkan kepentingan negeri,
        ... Siapa tahu kalau dibalik suarea manisnya itu hanyalah
        kepentingan modal imperialisme AS???!!! Bukankah kemarin ini
        ada pemberitaan video bagaimana kondisi masyarakat sekitar
        merasa DIUNTUNGKAN dengan kehadiran perusahaan Tiongkok di
        Morowali! Juga ada pembantahan HOAX dari aktivis Makasar yang
        secara khusus datang ke Morowali, ...

        *Aktivis Makassar Bongkar Kebenaran Dibalik Hoaks TKA China di
        Marowali*


        
*https://seword..com/umum/viral-aktivis-makassar-bongkar-kebenaran-dibalik-aRjJZFnTiE
        
<https://seword.com/umum/viral-aktivis-makassar-bongkar-kebenaran-dibalik-aRjJZFnTiE>*


        Tatiana Lukman 於 2020/5/19 下午 06:57 寫道:

            Kalau betul apa yang diceritakan Kompas  tentang Said Didu
            ini, ketemulah kita dengan seroang pejabat yang berani,
            jujur dan masih memikirkan kepentingan negeri. Ya
            logislah, kalau dia jadi berhadapan dengan komprador china
            kapitalis-imperialis nomer satu. Sang komprador, disamping
            kaya raya,  kekuasaannya pun sangat besar, kelihatan dari
            propaganda yang dia gerakkan untuk melicinkan proyek di
            Morowali , meloloskan buruh China yang keahlian dan
            ketrampilannya dianggap “begitu tinggi” sehingga tak bias
            tercapai oleh buruh Indonesia yang dianggap goblok dan
            dungu!!!!Namanya juga komprador china, cium pantat tuannya
            pun akan dilakukannya demi proyek-proyek yang akan terus
            menggendutkan pundi-pundinya!!!

            Sent from Mail
            <https://go.microsoft.com/fwlink/?LinkId=550986> for
            Windows 10

            *From: *ChanCT [email protected] [GELORA45]
            <mailto:[email protected]>
            *Sent: *Saturday, 16 May 2020 15:13
            *To: *GELORA_In <mailto:[email protected]>
            *Subject: *[GELORA45] Lantang Kritik Rezim Jokowi hingga
            Dipolisikan Luhut, Ini Rekam JejakSaid Didu

            *Lantang Kritik Rezim Jokowi hingga Dipolisikan Luhut, *

            *Ini Rekam Jejak Said Didu *

            Kompas.com - 16/05/2020, 07:37 WIB BAGIKAN:

            Said Didu saat masih menjabat sebagai Sekretaris BUMN,
            2006.. Lihat Foto Said Didu saat masih menjabat sebagai
            Sekretaris BUMN, 2006. (KOMPAS/LUCKY PRANSISKA)

            Penulis Muhammad Idris | Editor Muhammad Idris

            JAKARTA, KOMPAS.com - Perseteruan mantan Sekretaris
            Kementerian BUMN Said Didu dengan Menko Kemaritiman dan
            Investasi Luhut Binsar Panjaitan memasuki babak baru.
            Bermula dari kritiknya terhadap Luhut di sebuah kanal
            YouTube, Said Didu harus menjalani pemeriksaan di
            Bareskrim, Mabes Polri.

            Di sana, Said Didu diperiksa secara intensif selama hampir
            12 jam. Dia mengaku perlu menjelaskan maksud pernyataannya
            yang dipermasalahkan Luhut, terkait komentarnya yang
            menilai Luhut lebih mengutamakan investasi daripada
            penanganan virus corona ( kasus Said Didu).

            Dari rekam jejaknya, Said Didu memang terkenal sangat
            lantang mengkritik beberapa kebijakan rezim Presiden Joko
            Widodo ( Jokowi) yang kini sudah masuk periode keduanya.

            Sebelum vokal mengkritik Luhut, Said Didu juga beberapa
            kali melontarkan kritik tajam ke pemerintah, salah satunya
            yakni kebijakan akuisisi saham PT Freeport Indonesia (PTFI).

            Pembelian saham PTFI oleh pemerintah lewat PT Inalum
            (Persero) ini dianggap merugikan negara. Menurut Said,
            BUMN malah harus membayar mahal untuk membeli perusahaan
            yang masa konsesinya hampir habis dan cadangan emas maupun
            tembaganya sudah banyak terkuras.

            Baca juga: Jubir Luhut: Infonya Ada Purnawirawan yang
            Namanya Dicatut Dukung Said Didu

            Saat itu, Inalum harus merogoh uang 3,85 miliar dollar AS
            atau sekitar Rp 56,1 triliun untuk mengambil alih 51
            persen saham PTFI dari Freeport McMoran dan Rio Tinto.

            Dalam kasus Jiwasraya, Said Didu pernah menyatakan adanya
            indikasi tindak pidana korupsi dalam kasus gagal bayar
            polis yang terjadi di PT Asuransi Jiwasraya (Persero).

            "Terjadi perampokan (di Jiwasraya). Perusahaan yang sangat
            sehat pada 2016-2017, lalu defisit puluhan triliun di
            tahun berikutnya, berarti ada penyedotan dana yang
            terjadi," kata dia.

            Said Didu juga tak melihat kemungkinan adanya masalah
            gagal bayar di Jiwasraya disebabkan oleh kesalahan dalam
            proses berbisnis. Said Didu bilang, kasus Jiwasraya
            merupakan perampokan uang negara.

            Baca juga: Kuasa Hukum Luhut Pertanyakan Said Didu yang
            Mangkir saat Dipanggil Bareskrim

            "Tidak mungkin kalau hanya risiko bisnis, karena ekonomi
            di 2018 biasa-biasa saja kok, tidak seperti 1998. Enggak
            mungkin bocor sampai puluhan triliun, kalau risiko bisnis
            enggak sebesar itu," kata dia.

            Tak berhenti sampai di situ, Said Didu juga sempat
            mengkritik Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang punya
            kebiasaan meresmikan jalan tol dan menganggapnya sebagai
            pencitraan.

            *Mantan PNS BPPT dan komisaris BUMN *

            Karir pria asal Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan ini
            banyak dihabiskan sebagai PNS di Badan Pengkajian dan
            Penerapan Teknologi (BPPT). Karir birokratnya dirintisnya
            dari bawah di BPPT sejak tahun 1987 mulai dari peneliti,
            merangkak karir sebagai pejabat eselon di badan riset
            tersebut.

            Namanya mulai lebih sering wara-wiri menghiasi media massa
            nasional sejak ditunjuk menjadi Sekretaris Kementerian
            BUMN. Dia juga pernah terpilih sebagai anggota MPR di
            tahun 1997.

            Sebagai petinggi di Kementerian BUMN, Said Didu juga
            diplot sebagai komisaris di beberapa perusahaan pelat
            merah di antaranya Komisaris PTPN IV (Persero) dan PT
            Bukit Asam Tbk (Persero).

            Jebolan Teknik Industri Institut Pertanian Bogor (IPB) ini
            juga sempat menduduki kursi komisaris PT Merpati Nusantara
            Airlines, Komisaris PT Asuransi Jiwa Inhealth Indonesia,
            dan Dewan Pengawas Rumah Sakit RSCM Jakarta.

            Baca juga: Luhut: Soal Said Didu, Itu Urusan Anak Buah Saya

            Di awal rezim periode pertama Presiden Joko Widodo
            (Jokowi), Said Didu ikut masuk dalam lingkaran
            pemerintahan tahun 2014-2016. Dia menjabat sebagai Staf
            Khusus Menteri ESDM saat itu, Sudirman Saaid.

            Di tahun 2018, Said Didu dicopot dari jabatannya sebagai
            komisaris di Bukit Asam dan digantikan oleh Jhoni Ginting.
            Pencopotannya dilakukan oleh Menteri BUMN Rini Soemarno
            dalam RUPSLB Bukit Asam.

            Kementerian BUMN saat ini beralasan, pencopotan dari kursi
            Komisaris Bukit Asam dilakukan karena Sidu Didu dianggap
            sudah tidak sejalan dengan pemegang saham.

            Said Didu sempat jadi sorotan saat dirinya memutuskan
            mundur sebagai PNS pada 13 Mei 2019. Alasan pengajuan
            pensiun dari BPPT agar dirinya bisa lebih leluasa
            mengkritik kebijakan publik yang dinilainya perlu diperbaiki.

            Baca juga: Tak Ada Permintaan Maaf, Luhut Ngotot Tuntut
            Said Didu ke Jalur Hukum

            Tercatat, dirinya sudah mengabdi sebagai ASN selama 32
            tahun 11 bulan. Langkah bersebrangan dengan rezim Jokowi
            juga pernah diambil Said Didu saat dirinya menerima
            tawaran dari Tim Kuasa Hukum Prabowo Subianto-Sandiaga Uno
            sebagai saksi di Mahkamah Konstitusi (MK) terkait hasil
            Pilpres.


            Artikel ini telah tayang di Kompas.com
            <http://kompas.com/> dengan judul "Lantang Kritik Rezim
            Jokowi hingga Dipolisikan Luhut, Ini Rekam Jejak Said Didu",

            
https://money.kompas.com/read/2020/05/16/073724426/lantang-kritik-rezim-jokowi-hingga-dipolisikan-luhut-ini-rekam-jejak-said-didu?page=all#page2.
            Penulis : Muhammad Idris
            Editor : Muhammad Idris


Kirim email ke