Nah, kan keluar lagi oportunisnya... Tidak permasalahkan
penilaian...RRT sudah menjadi sosial-Imperialisme... Padahal gara-gara
kategorisasi China imperialis itu ,saya dicap memfitnah China. Maka
saya kasih kalimat Prof. Jose Maria Sison dan judul sebuah tulisan di
mana tertera jelas kalifikasi imperialis buat China.... antek remo
tidak mau mengakui kesalahannya dalam hal itu. Sekrang yang
dipermasalahkan kemana tinju dipusatkan... Padahal itu juga sudah saya
jawab jelas dengan contoh kongkrit ketika Indonesia ganyang Malaysia
dan pada waktu yang lain yang diganyang adalah imperialis Belanda..
Selebihnya bla,.... bla itu ngaco saja...dan debat kusir , karena
mengalihkan masalahnya...mau membenarkan pengkhianatan China atas
internasionalisme proletar... Seolah-olah kalua sudah dibantu,
haruslah cepat menang!!!!Itu hanya ada didalam otak remo yang
nasionalis sempit dan egois!!! Sudah lupa Mao mengajar rakyatnya untuk
mengetatkan ikat pinggangnya supaya bias membantu rakyat negeri
lain??? Nyata benar bedanya Mao dengan Deng Xiaoping, bukan???
Kewajiban solidaritas proletar sebuah partai tetap merupakan factor
ekstern bagi gerakan revolusioner suatu negeri. Ia tidak dapat
menggantikan factor internnya sendiri... He.. dimana pengetahuan
dialektikamu????Kemunduran atau kegagalan partai sekawan di satu
negeri tidak membenarkan hilangnya internasionalisme proletar partai
yang lain!!! Berapa banyak Soviet dan Stalin membantu kaum republik di
Spanyol dalam melawan fasisme Franco??? Akhirnya kalah!! Apakah PKUS
dan Stalin menarik solidaritas proletarnya kepada pelarian politik
Spanyol???? Belajar sejarah perang sipil di Spanyol!!! Sungguh tak
punya malu anda mau membenarkan pengkhianatan kaum remo China terhadap
PKI dan melupakan bahwa pengkhianatan itu diperlukan untuk bias
mencium pantat sang jenderal berlumuran darah Suharto!! Apa sudah
lupa bagaimana orang-orang PKI dulu mengganyang kaum Remo Soviet
karena tidak mengutuk kudeta militer 1965 ?? Hanya Kuba, Tiongkok,
Vietnam dan Korut yang tidak menurunkan bendera setengah tiang sesuai
dengan permintaan ORBA dalam hubungannya dengan kematian 7 jenderal
itu. Remo Soviet tunduk pada ORBA!! Setelah Mao meninggal dan the gang
of four ditangkap, tiba giliran remo china cium pantat Suharto...
Gimana, masih kurang jelas??? Apakah itu hanya lamunan, mimpi dan
bayangan otak saya saja???
Sent from Mail <https://go.microsoft.com/fwlink/?LinkId=550986> for
Windows 10
*From: *ChanCT [email protected] [GELORA45]
<mailto:[email protected]>
*Sent: *Monday, 25 May 2020 06:12
*To: *[email protected] <mailto:[email protected]>;
Tatiana Lukman <mailto:[email protected]>
*Subject: *Re: [GELORA45] Lantang Kritik Rezim Jokowi hingga
Dipolisikan Luhut,Ini Rekam JejakSaid Didu
Saya TIDAK permasalahkan penilaian atau kesimpulan kalian RRT sudah
menjadi sosial-Imperialisme, ... terserah dan boleh-boleh saja
seseorang berpendapat begitu! Saya tidak berminat memperdebatkan dari
teori keteori saja! Yang saya permasalahkan kemana tinju kamu itu
dipusatkan, ke RRT atau AS???
Bagi saya, jalan yang ditempuh Tiongkok sepenuhnya adalah hak Rakyat
Tiongkok sendiri, yang sudah seharusnya bisa diterima dan dihargai!
Itulah pilihan rakyat Tiongkok sendiri, bukan dikendalikan negara
asing! Terima dan HARGAI-lah hasil penetapan dan perjuangan RAKYAT
bangsa lain, kemajuan dan kemakmuran yang dicapai Tiongkok SEPENUHNYA
adalah hasil keringat kerja-keras RAKYAT Tiongkok sendiri! Bukan hasil
penghisapan rakyat bangsa lain, bukan dari penghisapan koloni-koloni
didunia layaknya imperialisme AS! Apalagi perjuangan rakyatnya sendiri
masih terpuruk belum ada apa-apanya! Menampilkan tokoh rakyatnya
sendiri saja BELUM jadi sampai sekarang setelah lebih 55 tahun
digebug, ...
Tiongkok berhak menentukan dan mengoreksi kesalahan-kesalahan diwaktu
yl. untuk menempuh jalan Sosialisme berkarakter Tiongkok, termasuk
usaha solidaritas internasional yang tetap mereka jalankan itu.
Bagaimana cara yang lebih baik meningkatkan kesejahteraan 1,4 milyar
rakyat Tiongkok, dan seiring dengan itu bisa tetap membantu
perkembangan dan perjuangan rakyat didunia, ...! Kalau dahulu mereka
jalankan "MEMBANTU" perjuangan rakyat setempat tanpa peduli bagaimana
sikap pemerintah yang berkuasa, dan ternyata TIDAK membawa kemajuan
sebagaimana diharapkan! Bahkan PKI yang sudah dibantu sekuat tenaga
bisa digebuk hancur oleh Suharto dalam waktu tidak lebih 8 jam saja!
Lalu, begitu juga dengan PK Malaysia, Filipina bahkan yang berbatasan
darat Burma juga tidak berkembang sebagaimana diharapkan. Padahal
semua BANTUAN itu dijalankan dengan mengencangkan ikat tali-pinggang
600 juta rakyat! Nampaknya, kesimpulan Tiongkok perjuangan rakyat
dinegara-negara sedang berkembang tidak bisa dimenangkan dengan
kebangkitan perjuangan bersenjata saja! Keadaan dan kondisi masyarakat
nya sudah berbeda dengan di Rusia dan Tiongkok masa Mao dahulu, ...
Harus dilancarkan dengan cara dan bentuk perjuangan lain! Lalu?
Tiongkok menempuh jalan sutra, dengan "Satu Sabuk dan Jalan" membantu
negara-negara sedang berkembang bisa maju dan berkembang lebih baik,
... bekerja bersama, untung bersama dan menang bersama! Tentu ini juga
bukan obat mujarab yang PASTI menang dan berhasil nya, apalagi masih
ganjal dan terus digempur kekuatan imperialisme yang digembongi
Amerika itu masih sangat kuat!
Tatiana Lukman [email protected]
<mailto:[email protected]> [GELORA45] 於 2020/5/24 下午 10:36 寫道:
Sudah lupa bagaimana Tiongkok-nya Mao mengganyang
Sosial-imperialisme?? Sudah lupa bagaimana Tiongkok menolak
kerjasama dengan Sosialimperialisme dalam mendukung Vietnam??
Siapa sosialimperialisme itu?? Kalau bukan kaum remo Soviet...
Sudah hancur luluh remo soviet, muncul remo Tiongkok dengan
menangkap the gang of four... Remo Tiongkok inilah yang menendang
orang-orang PKI demi cium pantat Suharto, dan akhirnya bisa
menanamkan modalnya untuk mengeruk kekayaan alam Indonesia!!!
Katanya masih mengakui Lenin... Tahu nggak definisi imperialisme
oleh Lenin??? Yang paling penting adalah EXPORT MODAL!!!
Nih, jawab dan bantah secuil tulisanku di Sulindo!!! Jangan debat
kusir!! To the point!! Jawab point-point yang tertulis di bawah!!
Fred Engst (profesor ekonomi dari University of International
Business and Economics, Beijing) menjelaskan bahwa perusahaan
negara dimiliki oleh birokrasi pemerintah atau konglomerat modal
negara Tiongkok. Konglomerat modal negara adalah pemilik modal
terbesar dengan kekuasaan monopoli juga terbesar di Tiongkok.
Gabungan kapital finansial dan kapital industri yang dimiliki
konglomerat modal negara Tiongkok bahkan lebih besar dari satu
korporasi, atau satu konglomerat atau kartel atau konsorsium atau
multinasional di AS, Eropa, atau Jepang!
Konglomerat modal negara ini memiliki kontrol absolut atas partai,
seluruh mesin negara dan kekuatan militer. Dengan begitu,
konglomerat modal negara dapat langsung memobilisasi kapital
industri dan kapital finansialnya di atas kekuasaan negara guna
mengabdi kepada kepentingan ekspansi modalnya..
Kapitalisme monopoli di Tiongkok juga tidak bisa menghindari
krisis kelebihan produksi sehingga mengharuskannya untuk
mengekspor modalnya ke negeri-negeri Asia, Afrika dan Amerika
Latin. Bertemulah kita dengan ciri lain dari imperialisme yang
sudah diungkapkan Lenin lebih dari satu abad yang lalu, yaitu
ekspor kapital!
Sudah tentu kaum revisionis modern terus menjajakan pepesan kosong
“sosialisme dengan ciri Tiongkok”. Bukan kebetulan dan sia-sia
nama revisionis yang disandangnya. Mereka merevisi dan
mencampakkan inti sari dari Marxisme-Leninisme dan menggantikannya
dengan teori revisionis, seperti misalnya, peralihan secara damai
ke sosialisme dan sosialisme pasar. Karena menganggap ajaran Lenin
sudah usang, maka mereka berkeras menolak kenyataan bahwa
kapitalisme sudah membawa Tiongkok menjadi kekuatan imperialis
yang sedang berkembang. Padahal perkembangan kapitalisme tak
terhindarkan akan berakhir pada imperialisme.
Sifat agresif imperialis Tiongkok terlihat jelas dalam usahanya
untuk menciptakan orde baru global guna menggantikan
lembaga-lembaga internasional yang dikuasai kekuatan Barat-AS
dengan berbagai lembaga di bawah dominasinya. Misalnya, New
Development Bank, Asian Infrastructure Investment Bank dan New
Silk Road Fund dengan tujuan memobilisasi dukungan dan mendorong
maju proyek One Belt One Road (OBOR).
Tiongkok memperkuat aliansi dengan Rusia. Melalui Shanghai
Cooperation Organization, Tiongkok berusaha memperluas pengaruhnya
di Eurasia. Ia juga tak ragu-ragu mengklaim Lautan Tiongkok
Selatan serta pulau-pulaunya sebagai miliknya. Dengan cepat ia
membangun di situ infrastruktur militer. Bahkan krisis virus
corona tidak menghentikan Tiongkok untuk terus mengkonsolidasi
kekuasaannya di pulau-pulau yang masih disengketakan dengan
negeri-negeri tetangganya. /South China Morning Post/ memberitakan
bahwa Dewan Negara Tiongkok baru-baru ini telah menyetujui
pembentukan dua distrik baru, Distrik Xisha dan Distrik Nansha di
bawah kota Sansha.
Sent from Mail <https://go.microsoft.com/fwlink/?LinkId=550986>
for Windows 10
*From: *ChanCT [email protected] [GELORA45]
<mailto:[email protected]>
*Sent: *Saturday, 23 May 2020 15:56
*To: *[email protected] <mailto:[email protected]>;
Tatiana Lukman <mailto:[email protected]>
*Subject: *Re: [GELORA45] Lantang Kritik Rezim Jokowi hingga
Dipolisikan Luhut,Ini Rekam JejakSaid Didu
Ini nenek Tatiana yang berani-beraninya menepuk diri ML-Maois
sejati, ternyata TIDAK BELAJAR dengan baik! Tetap hidup dalam
mimpi yang lepas dari kehidupan nyata ! Dimana setiap saat kalau
berani mengaku sebagai pejuang harus pandai-pandai menetapkan
musuh-pokok! Dan kesitulah tinju dipusatkan, ...
Sekalipun sudah genap lewat 50 tahun, 20 Mei 1970 yl. Metua Mao
mengeluarkan pernyataan yang terkenal "SELURUH RAKYAT SEDUNIA
BERSATU, melawan imperialisme Amerika dan cecunguknya!", saat itu,
kita semua tahu ada 2 Superpower, Amerika dan Sovyet! Kenapa Ketua
Mao memilih dan menentukan imperialisme AS musuh utama yang harus
digempur dahulu! Sedang Sovyet, jangankan diserempet oleh ketua
Mao, ... disebut pun tidak, ...!
Lalu, apakah sekarang ini, percaturan politik dunia sudah berubah
dan RRT yang oleh Tatiana dituduh sudah menjadi imperialisme itu
menjadi musuh pokok RAKYAT SEDUNIA? Bukan lagi imperialisme AS???
Kenapa?
Padahal, kenyataan imperialisme AS inilah yang sampai sekarang ini
bikin gaduh, bikin kacau dimana-mana, tidak henti-hentinya
menjatuhkan banyak korban jiwa rakyat tak berdosa, ... termasuk
rakyat didalam negerinya sendiri. Akibat kedodoran mengatasi wabah
Covid-19 yang merebak sudah lebih 90 ribu warga AS meninggal!
Laluberusaha keras melempar tanggungjawab dan kesalahan pada RRT,
.... mendesak sekutu-sekutu nya ikutan menyerang dan menyalahkan
Tiongkok!
Menghadapi situasi politik dunia demikian, bagaimana mungkin yang
menamakan diri pejuang rakyat justru ikutan imperialisme AS
menghujat dan menghajar habis-habisan RRT yang justru selalu dan
dimana saja mengutamakan kepentingan dan keselamatan rakyat!
Perhatikan saja saat menghadapi Covid-19 kali ini, didunia ini
hanya RRT yang berani korbankan ekonomi untuk mengutamakan
keselamatan jiwa rakyatnya! Dengan drastis menutup kota Wuhan,
menghentikan kerja dan mengharuskan setiap warga berdiam dirumah,
tapi dalam waktu 70 hari berhasil mengendalikan dan menghentikan
penyebaran wabah Covid-19 lebih lanjut, dengan korban jiwa 4634 orang.
Patut juga dicatat dan diketahui, sikap TEGAS PKT dalam
menjalankan Perang RAKYAT Melawan Covid-19, disamping menunjukkan
kecanggihan dan kerapian PKT mengorganisasi massa, tapi juga dalam
SIKAP terhadap kader dan anggota nya: Antara lain yang terbaca
oleh saya:
ada seorang pejabat-tinggi pensiunan kota Wuhan, positif
terjangkit Covid-19 dianggap TIDAK disiplin menuruti perintah
keharusan diisolasi masuk RS! Karena merasa sesuai tingkat
kekaderannya, berhak mendapatkan fasilitas kamar seorang diri di
RS! Tapi, dalam situasi darurat, bukan saja ranjang di RS TIDAK
CUKUP, banyak pasien yang ditidurkan dilantai saja! Tanpa ranjang!
Lalu pejabat pensiunan ini keluar RS dan pulang bersembunyi
dirumah dengan tuntutan obat-obat yang diperlukan bisa dibawa
pulang, … Pejabat tsb. Kemudian kena didisiplin masuk RS juga,
tapi tetap dianggap MELANGGAR sikap pejabat komunis yang harus
mendahulukan kepentingan rakyat! Dipinalti dengan turunkan
setingkat uang pensiun yang bisa didapat!
Ada lagi seorang pejabat kota Wuhan, dicopot hanya karena saat
Tahun Baru Imlek, tgl. 25 Januari lari pulang kampung menghadiri
pesta Ulang Tahun ayahnya, padahal tgl. 23 Kota Wuhan sudah di
TUTUP, setiap warga tidak boleh keluar!
Lalu, ada seorang pejabat Palang-Merah Wuhan juga kena dicopot,
hanya karena kelalaian dan keterlambatan meneruskan sumbangan
perlengkapan medis yang sudah diterima ke RS yang membutuhkan!
Tatiana Lukman [email protected]
<mailto:[email protected]> [GELORA45] 於 2020/5/19 下午 09:49
寫道:
Ini katak dalam tempurung yang sedang ngoceh, ya?? Tidak tahu
sepak terjang China sendiri sudah lama menempelkan watak
imperialisnya...saking piciknya dan penyembahan membutanya
kepada China kapitalis, tidak tahu membedakan antara
sosialisme dengan sosialimperialisme!!!Sudah tentu, dia tidak
mau membaca wawancara prof. Jose Maria Sison di mana kita
temukan kalimat ini :The Philippines has become far worse off
than ever before after four years of misrule by Duterte. This
has been characterized by treason and puppetry to both US and
Chinese imperialism, mass murder and other gross human rights
violations, systematic plunder, increased unemployment and
mass poverty, aggravation of the drug problem under the
Duterte drug empire, unabashed moral depravity and the
accelerated deterioration of social and economic conditions.
Dan dibawah ini judul tulisan A. Thayer
Takeover Trap: Why Imperialist China Is Invading Africa
China is in Africa not to advance Maoism, but to control its
resources, people, and potential.
Sent from Mail
<https://go.microsoft.com/fwlink/?LinkId=550986> for Windows 10
*From: *ChanCT [email protected] [GELORA45]
<mailto:[email protected]>
*Sent: *Tuesday, 19 May 2020 14:12
*To: *Tatiana Lukman <mailto:[email protected]>;
GELORA_In <mailto:[email protected]>
*Subject: *Re: [GELORA45] Lantang Kritik Rezim Jokowi hingga
Dipolisikan Luhut,Ini Rekam JejakSaid Didu
Hehehee, ... nenek yang satu ini jadi sudah MENGAKUI Tiongkok
menjadi inperialisme nomor satu! Yang menggantikan
imperialisme Amerika MUSUH Nomor wahid nya didunia!!! Jadi,
boleh saja bersekutu dengan siapa saja, termasuk imperialisme
AS untuk GEMPUR RRT, ... PANTAS lah selama ini yang dijadikan
dasar pegangan suara yang keluar dari corong imperialisme AS,
Falungong!
Dan, ... Said Didu dengan mudahnya dikategorikan pembela
rakyat, yang berani dan jujur memikirkan kepentingan negeri,
... Siapa tahu kalau dibalik suarea manisnya itu hanyalah
kepentingan modal imperialisme AS???!!! Bukankah kemarin ini
ada pemberitaan video bagaimana kondisi masyarakat sekitar
merasa DIUNTUNGKAN dengan kehadiran perusahaan Tiongkok di
Morowali! Juga ada pembantahan HOAX dari aktivis Makasar yang
secara khusus datang ke Morowali, ...
*Aktivis Makassar Bongkar Kebenaran Dibalik Hoaks TKA China di
Marowali*
*https://seword..com/umum/viral-aktivis-makassar-bongkar-kebenaran-dibalik-aRjJZFnTiE
<https://seword.com/umum/viral-aktivis-makassar-bongkar-kebenaran-dibalik-aRjJZFnTiE>*
Tatiana Lukman 於 2020/5/19 下午 06:57 寫道:
Kalau betul apa yang diceritakan Kompas tentang Said Didu
ini, ketemulah kita dengan seroang pejabat yang berani,
jujur dan masih memikirkan kepentingan negeri. Ya
logislah, kalau dia jadi berhadapan dengan komprador china
kapitalis-imperialis nomer satu. Sang komprador, disamping
kaya raya, kekuasaannya pun sangat besar, kelihatan dari
propaganda yang dia gerakkan untuk melicinkan proyek di
Morowali , meloloskan buruh China yang keahlian dan
ketrampilannya dianggap “begitu tinggi” sehingga tak bias
tercapai oleh buruh Indonesia yang dianggap goblok dan
dungu!!!!Namanya juga komprador china, cium pantat tuannya
pun akan dilakukannya demi proyek-proyek yang akan terus
menggendutkan pundi-pundinya!!!
Sent from Mail
<https://go.microsoft.com/fwlink/?LinkId=550986> for
Windows 10
*From: *ChanCT [email protected] [GELORA45]
<mailto:[email protected]>
*Sent: *Saturday, 16 May 2020 15:13
*To: *GELORA_In <mailto:[email protected]>
*Subject: *[GELORA45] Lantang Kritik Rezim Jokowi hingga
Dipolisikan Luhut, Ini Rekam JejakSaid Didu
*Lantang Kritik Rezim Jokowi hingga Dipolisikan Luhut, *
*Ini Rekam Jejak Said Didu *
Kompas.com - 16/05/2020, 07:37 WIB BAGIKAN:
Said Didu saat masih menjabat sebagai Sekretaris BUMN,
2006.. Lihat Foto Said Didu saat masih menjabat sebagai
Sekretaris BUMN, 2006. (KOMPAS/LUCKY PRANSISKA)
Penulis Muhammad Idris | Editor Muhammad Idris
JAKARTA, KOMPAS.com - Perseteruan mantan Sekretaris
Kementerian BUMN Said Didu dengan Menko Kemaritiman dan
Investasi Luhut Binsar Panjaitan memasuki babak baru.
Bermula dari kritiknya terhadap Luhut di sebuah kanal
YouTube, Said Didu harus menjalani pemeriksaan di
Bareskrim, Mabes Polri.
Di sana, Said Didu diperiksa secara intensif selama hampir
12 jam. Dia mengaku perlu menjelaskan maksud pernyataannya
yang dipermasalahkan Luhut, terkait komentarnya yang
menilai Luhut lebih mengutamakan investasi daripada
penanganan virus corona ( kasus Said Didu).
Dari rekam jejaknya, Said Didu memang terkenal sangat
lantang mengkritik beberapa kebijakan rezim Presiden Joko
Widodo ( Jokowi) yang kini sudah masuk periode keduanya.
Sebelum vokal mengkritik Luhut, Said Didu juga beberapa
kali melontarkan kritik tajam ke pemerintah, salah satunya
yakni kebijakan akuisisi saham PT Freeport Indonesia (PTFI).
Pembelian saham PTFI oleh pemerintah lewat PT Inalum
(Persero) ini dianggap merugikan negara. Menurut Said,
BUMN malah harus membayar mahal untuk membeli perusahaan
yang masa konsesinya hampir habis dan cadangan emas maupun
tembaganya sudah banyak terkuras.
Baca juga: Jubir Luhut: Infonya Ada Purnawirawan yang
Namanya Dicatut Dukung Said Didu
Saat itu, Inalum harus merogoh uang 3,85 miliar dollar AS
atau sekitar Rp 56,1 triliun untuk mengambil alih 51
persen saham PTFI dari Freeport McMoran dan Rio Tinto.
Dalam kasus Jiwasraya, Said Didu pernah menyatakan adanya
indikasi tindak pidana korupsi dalam kasus gagal bayar
polis yang terjadi di PT Asuransi Jiwasraya (Persero).
"Terjadi perampokan (di Jiwasraya). Perusahaan yang sangat
sehat pada 2016-2017, lalu defisit puluhan triliun di
tahun berikutnya, berarti ada penyedotan dana yang
terjadi," kata dia.
Said Didu juga tak melihat kemungkinan adanya masalah
gagal bayar di Jiwasraya disebabkan oleh kesalahan dalam
proses berbisnis. Said Didu bilang, kasus Jiwasraya
merupakan perampokan uang negara.
Baca juga: Kuasa Hukum Luhut Pertanyakan Said Didu yang
Mangkir saat Dipanggil Bareskrim
"Tidak mungkin kalau hanya risiko bisnis, karena ekonomi
di 2018 biasa-biasa saja kok, tidak seperti 1998. Enggak
mungkin bocor sampai puluhan triliun, kalau risiko bisnis
enggak sebesar itu," kata dia.
Tak berhenti sampai di situ, Said Didu juga sempat
mengkritik Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang punya
kebiasaan meresmikan jalan tol dan menganggapnya sebagai
pencitraan.
*Mantan PNS BPPT dan komisaris BUMN *
Karir pria asal Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan ini
banyak dihabiskan sebagai PNS di Badan Pengkajian dan
Penerapan Teknologi (BPPT). Karir birokratnya dirintisnya
dari bawah di BPPT sejak tahun 1987 mulai dari peneliti,
merangkak karir sebagai pejabat eselon di badan riset
tersebut.
Namanya mulai lebih sering wara-wiri menghiasi media massa
nasional sejak ditunjuk menjadi Sekretaris Kementerian
BUMN. Dia juga pernah terpilih sebagai anggota MPR di
tahun 1997.
Sebagai petinggi di Kementerian BUMN, Said Didu juga
diplot sebagai komisaris di beberapa perusahaan pelat
merah di antaranya Komisaris PTPN IV (Persero) dan PT
Bukit Asam Tbk (Persero).
Jebolan Teknik Industri Institut Pertanian Bogor (IPB) ini
juga sempat menduduki kursi komisaris PT Merpati Nusantara
Airlines, Komisaris PT Asuransi Jiwa Inhealth Indonesia,
dan Dewan Pengawas Rumah Sakit RSCM Jakarta.
Baca juga: Luhut: Soal Said Didu, Itu Urusan Anak Buah Saya
Di awal rezim periode pertama Presiden Joko Widodo
(Jokowi), Said Didu ikut masuk dalam lingkaran
pemerintahan tahun 2014-2016. Dia menjabat sebagai Staf
Khusus Menteri ESDM saat itu, Sudirman Saaid.
Di tahun 2018, Said Didu dicopot dari jabatannya sebagai
komisaris di Bukit Asam dan digantikan oleh Jhoni Ginting.
Pencopotannya dilakukan oleh Menteri BUMN Rini Soemarno
dalam RUPSLB Bukit Asam.
Kementerian BUMN saat ini beralasan, pencopotan dari kursi
Komisaris Bukit Asam dilakukan karena Sidu Didu dianggap
sudah tidak sejalan dengan pemegang saham.
Said Didu sempat jadi sorotan saat dirinya memutuskan
mundur sebagai PNS pada 13 Mei 2019. Alasan pengajuan
pensiun dari BPPT agar dirinya bisa lebih leluasa
mengkritik kebijakan publik yang dinilainya perlu diperbaiki.
Baca juga: Tak Ada Permintaan Maaf, Luhut Ngotot Tuntut
Said Didu ke Jalur Hukum
Tercatat, dirinya sudah mengabdi sebagai ASN selama 32
tahun 11 bulan. Langkah bersebrangan dengan rezim Jokowi
juga pernah diambil Said Didu saat dirinya menerima
tawaran dari Tim Kuasa Hukum Prabowo Subianto-Sandiaga Uno
sebagai saksi di Mahkamah Konstitusi (MK) terkait hasil
Pilpres.
Artikel ini telah tayang di Kompas.com
<http://kompas.com/> dengan judul "Lantang Kritik Rezim
Jokowi hingga Dipolisikan Luhut, Ini Rekam Jejak Said Didu",
https://money.kompas.com/read/2020/05/16/073724426/lantang-kritik-rezim-jokowi-hingga-dipolisikan-luhut-ini-rekam-jejak-said-didu?page=all#page2.
Penulis : Muhammad Idris
Editor : Muhammad Idris