Kalau saja dalam praktek, kenyataan yang terlihat SASARAN yang digempur lebih sering, lebih garang, ... dengan segala KEBENCIANnya pada Tiongkok/PKT, BUKAN imperialisme AS, bukankah itu menunjukkan TINJU nya terpuswat pada RRT/PKT dan BUKAN AS lagi!!! Itulah KENYATAAN yang terjadi, ... bukan didunia mimpi!

Oleh karena itu, BELAJARLAH baik-baik bagaimana Ketua Mao bersikap dalam setiap tahap dan langkah perjuangan, dan, ... dengan demikian BERHASIL memenangkan PERJUANGANNYA!

Bukankah ketua Mao sering mengajukan: "Orang tidak menyerang kitapun tidak menyerang. Tapi kita akan membalas setiap serangan mereka!" Artinya jelas, RRT akan berjuang sesuai sikap lawan/musuh nya! Ditahun-tahun 60-70-an itu, jelas dunia menjadi hangat dengan pertarungan 2 negara Super-power, Sovyet-Amerika. Puncak pertengkaran RRT-Sovyet, ditahun 1969 terjadi pertempuran di Pulao ZhenBao, saat itu Sovyet sudah mengancam RRT untuk gunakan senjata nuklir! Di tantang Ketua Mao, lemparkan nuklir-mu itu, rakyat Tiongkok akan terus berlawan sampai mengungsi masuk diwilayah Sovyet, ... Akhirnya Sovyet tidak berani meningkatkan pertengkaran dengan melempar bom nuklir nya!

Begitu juga dalam menghadapi blokade sejagad yang dilancarkan AS sejak awal tahun 1950 itu! Dilawan dengan usaha keras hubungan dengan negara-negara sedang berkembang didunia, dengan lincahnya dimulai dari KAA- Bandung tahun 1955, ... dan, dalam usaha membantu perjuangan rakyat VietNam, Laos, Kamboja melawan agresi AS, itu ketua Mao keluarkan pernyataan 20 Mei 1970, dengan seruan "Rakyat Sedunia Bersatulah Melawan Imperialisme AS!" Dan justru aneh, setelah keluarkan pernyataan 20 Mei 1970 itu, tahun berikut malah AS mulai berusaha menghubungi RRT dan sebagaimana yang kita lihat awal Januari 1972, presiden Nixon terbang ke Beijing bersalaman dengan ketua Mao! Tentu saja, dengan perubahan sikap AS demikian bentuk perjuangan RRT-AS juga berubah! Berjuang secara DAMAI, ... dan, memberi kesempatan lebih baik bagi RRT memusatkan perhatian dalam pembangunan ekonomi nasional! Itulah kemajuan dahsyat dalam 40 tahun terakhir ini yang membuat AS TERANCAM atas kemajuan RRT itu dan berusaha keras mengganjal bahkan menghancur robohkan RRT!

Itulah yang kita lihat 3 tahun terakhir, setelah Trump kontradiksi AS-RRT jadi sengit dan tegang, ... Lalu, bagaimana yang menamakan diri PEJUANG rakyat harus bersikap??? Satu front dengan imperialisme AS ikutan menggempur RRT, atau satu front dengan RRT menggempur imperialisme AS??? Atau menempuh jalan tengah, yang dahulu dibilang non-blok itu dan bagaimana menjalankannya lebih baik agar tidak terjepit ditengah dan tetap bisa lebih menguntungkan perjuangan rakyat negerinya sendiri???

Dari sepak terjang nenek yang satu ini, saya berkesan jadi satu front dengan imperialisme AS untuk menggempur RRT! Sampai-sampai usaha memperlancar gerak investasi besar RRT di Morowali yang MENGUNTUNGKAN rakyat sekitar juga digempur, ...! Dengan menuduh 500 TKA Tiongkok menyelundup masuk kerja tanpa ijin kerja dan merampas kesempatan kerja buruh Indonesia sendiri!

Saya tidak hendak main duga, biarlah yang berwewenang mengusut dari 500 TKA itu ada berapa TKA yang melanggar dan jatuhi sanksi HUKUM sebagaimana adanya saja! Kenapa harus percaya begitu saja dengan suara-suara di internet yang belum tentu sampai dimana kebenarannya? Bukankah ketentuan Imigrasi RI, yang disampai menlu Retno itu jelas menyatakan, dimana pandemi sekarang ini setiap orang yang masuk Indonesia, khususnya dari wilayah Tiongkok harus lebih dahulu mendapatkan VISA dan bukti keterangan kesehatan bebas Covid-19! Artinya bagi siapa saja yang bisa mendapatkan VISA masuk dan keterangan kesehatan itu TETAP BOLEH masuk Indonesia! Yang hendak saya katakan, adalah kenyataan selama 70 tahun lebih ini, kekayaan bumi alam Nusantara dikuras habis-habisan oleh imperialisme AS! Sekarang ada RRT yang katanya berprinsip Kerja bersama, untung bersama dan menang bersama itu kenapa tidak hendak dicoba? Kenapa belum-belum sudah apriori dan menentang tanpa ada fakta-fakta akurat?

Kalau saja caranya main hajar dan gempur saja setiap usaha Tiongkok di dunia begitu, bukankah itu tidak bedanya dengan menempatkan diri diFront imperialisme AS!!! Dan akhirnya MERUGIKAN perjuangan rakyat Indonesia sendiri, ...



Tatiana Lukman [email protected] [GELORA45] 於 2020/5/24 下午 10:57 寫道:

Saya tidak PERNAH bilang MUSUH POKOK rakyat dunia sekarang adalah imperialiasme  China!! Coba tunjukkan kata-kata saya yang bilang begitu!!! Yang saya tunjukkan dan buktikan adalah sifat negara China sekarang yang sudah menjadi IMPERIALIS!!! Saya tidak pernah membicarakan soal  kemana tinju harus dipusatkan!! Yang saya bicarakan dan belejeti selalu adalah watak negara China sekarang!! Sudah oportunis, masih mau memutar balik omongan orang!!! Musuh pokok rakyat satu negeri ditentukan oleh keadaan kongkrit negeri itu sendiri.. Nih, baru saya sekarang bicara soal musuh pokok...dulu waktu Indonesia menghadapi proyek Malaysia dari Inggris, maka imperialisme Inggrislah yang disasar oleh rakyat Indonesia... Tapi ketika rakyat menghadapi masalah Irian Barat, imperialisme Belanda lah yang menjadi sasaran rakyat Indonesia...Lihat nggah tuh matamu, sasaran bias berubah-ubah menurut situasi kongkrit... Katanya pengikut Lenin dan masuk grup M-L... Sudah lupa ajaran Lenin, Analisa kongkrit atas situasi kongkrit!!! Ha...ha... dasar Go....

Sent from Mail <https://go.microsoft.com/fwlink/?LinkId=550986> for Windows 10

*From: *ChanCT [email protected] [GELORA45] <mailto:[email protected]>
*Sent: *Saturday, 23 May 2020 15:56
*To: *[email protected] <mailto:[email protected]>; Tatiana Lukman <mailto:[email protected]> *Subject: *Re: [GELORA45] Lantang Kritik Rezim Jokowi hingga Dipolisikan Luhut,Ini Rekam JejakSaid Didu

Ini nenek Tatiana yang berani-beraninya menepuk diri ML-Maois sejati, ternyata TIDAK BELAJAR dengan baik! Tetap hidup dalam mimpi yang lepas dari kehidupan nyata ! Dimana setiap saat kalau berani mengaku sebagai pejuang harus pandai-pandai menetapkan musuh-pokok! Dan kesitulah tinju dipusatkan, ...

Sekalipun sudah genap lewat 50 tahun, 20 Mei 1970 yl. Metua Mao mengeluarkan pernyataan yang terkenal "SELURUH RAKYAT SEDUNIA BERSATU, melawan imperialisme Amerika dan cecunguknya!", saat itu, kita semua tahu ada 2 Superpower, Amerika dan Sovyet! Kenapa Ketua Mao memilih dan menentukan imperialisme AS musuh utama yang harus digempur dahulu! Sedang Sovyet, jangankan diserempet oleh ketua Mao, ... disebut pun tidak, ...!

Lalu, apakah sekarang ini, percaturan politik dunia sudah berubah dan RRT yang oleh Tatiana dituduh sudah menjadi imperialisme itu menjadi musuh pokok RAKYAT SEDUNIA? Bukan lagi imperialisme AS??? Kenapa?

Padahal, kenyataan imperialisme AS inilah yang sampai sekarang ini bikin gaduh, bikin kacau dimana-mana, tidak henti-hentinya menjatuhkan banyak korban jiwa rakyat tak berdosa, ... termasuk rakyat didalam negerinya sendiri. Akibat kedodoran mengatasi wabah Covid-19 yang merebak sudah lebih 90 ribu warga AS meninggal! Laluberusaha keras melempar tanggungjawab dan kesalahan pada RRT, ... mendesak sekutu-sekutu nya ikutan menyerang dan menyalahkan Tiongkok!

Menghadapi situasi politik dunia demikian, bagaimana mungkin yang menamakan diri pejuang rakyat justru ikutan imperialisme AS menghujat dan menghajar habis-habisan RRT yang justru selalu dan dimana saja mengutamakan kepentingan dan keselamatan rakyat! Perhatikan saja saat menghadapi Covid-19 kali ini, didunia ini hanya RRT yang berani korbankan ekonomi untuk mengutamakan keselamatan jiwa rakyatnya! Dengan drastis menutup kota Wuhan, menghentikan kerja dan mengharuskan setiap warga berdiam dirumah, tapi dalam waktu 70 hari berhasil mengendalikan dan menghentikan penyebaran wabah Covid-19 lebih lanjut, dengan korban jiwa 4634 orang.

Patut juga dicatat dan diketahui, sikap TEGAS PKT dalam menjalankan Perang RAKYAT Melawan Covid-19, disamping menunjukkan kecanggihan dan kerapian PKT mengorganisasi massa, tapi juga dalam SIKAP terhadap kader dan anggota nya: Antara lain yang terbaca oleh saya:

ada seorang pejabat-tinggi pensiunan kota Wuhan, positif terjangkit Covid-19 dianggap TIDAK disiplin menuruti perintah keharusan diisolasi masuk RS! Karena merasa sesuai tingkat kekaderannya, berhak mendapatkan fasilitas kamar seorang diri di RS! Tapi, dalam situasi darurat, bukan saja ranjang di RS TIDAK CUKUP, banyak pasien yang ditidurkan dilantai saja! Tanpa ranjang! Lalu pejabat pensiunan ini keluar RS dan pulang bersembunyi dirumah dengan tuntutan obat-obat yang diperlukan bisa dibawa pulang, … Pejabat tsb. Kemudian kena didisiplin masuk RS juga, tapi tetap dianggap MELANGGAR sikap pejabat komunis yang harus mendahulukan kepentingan rakyat! Dipinalti dengan turunkan setingkat uang pensiun yang bisa didapat!

Ada lagi seorang pejabat kota Wuhan, dicopot hanya karena saat Tahun Baru Imlek, tgl. 25 Januari lari pulang kampung menghadiri pesta Ulang Tahun ayahnya, padahal tgl. 23 Kota Wuhan sudah di TUTUP, setiap warga tidak boleh keluar!

Lalu, ada seorang pejabat Palang-Merah Wuhan juga kena dicopot, hanya karena kelalaian dan keterlambatan meneruskan sumbangan perlengkapan medis yang sudah diterima ke RS yang membutuhkan!

Tatiana Lukman [email protected] <mailto:[email protected]> [GELORA45] 於 2020/5/19 下午 09:49 寫道:

    Ini katak dalam tempurung yang sedang ngoceh, ya?? Tidak tahu
    sepak terjang China sendiri sudah lama menempelkan watak
    imperialisnya...saking piciknya dan penyembahan membutanya kepada
    China kapitalis, tidak tahu membedakan antara sosialisme dengan
    sosialimperialisme!!!Sudah tentu, dia tidak mau membaca wawancara
    prof. Jose Maria Sison di mana kita temukan kalimat ini :The
    Philippines has become far worse off than ever before after four
    years of misrule by Duterte. This has been characterized by
    treason and puppetry to both US and Chinese imperialism, mass
    murder and other gross human rights violations, systematic
    plunder, increased unemployment and mass poverty, aggravation of
    the drug problem under the Duterte drug empire, unabashed moral
    depravity and the accelerated deterioration of social and economic
    conditions.

    Dan dibawah ini judul tulisan A.. Thayer


      Takeover Trap: Why Imperialist China Is Invading Africa

    China is in Africa not to advance Maoism, but to control its
    resources, people, and potential.

    Sent from Mail <https://go.microsoft.com/fwlink/?LinkId=550986>
    for Windows 10

    *From: *ChanCT [email protected] [GELORA45]
    <mailto:[email protected]>
    *Sent: *Tuesday, 19 May 2020 14:12
    *To: *Tatiana Lukman <mailto:[email protected]>; GELORA_In
    <mailto:[email protected]>
    *Subject: *Re: [GELORA45] Lantang Kritik Rezim Jokowi hingga
    Dipolisikan Luhut,Ini Rekam JejakSaid Didu

    Hehehee, ... nenek yang satu ini jadi sudah MENGAKUI Tiongkok
    menjadi inperialisme nomor satu! Yang menggantikan imperialisme
    Amerika MUSUH Nomor wahid nya didunia!!! Jadi, boleh saja
    bersekutu dengan siapa saja, termasuk imperialisme AS untuk GEMPUR
    RRT, .... PANTAS lah selama ini yang dijadikan dasar pegangan
    suara yang keluar dari corong imperialisme AS, Falungong!

    Dan, ... Said Didu dengan mudahnya dikategorikan pembela rakyat,
    yang berani dan jujur memikirkan kepentingan negeri, ... Siapa
    tahu kalau dibalik suarea manisnya itu hanyalah kepentingan modal
    imperialisme AS???!!! Bukankah kemarin ini ada pemberitaan video
    bagaimana kondisi masyarakat sekitar merasa DIUNTUNGKAN dengan
    kehadiran perusahaan Tiongkok di Morowali! Juga ada pembantahan
    HOAX dari aktivis Makasar yang secara khusus datang ke Morowali, ...

    *Aktivis Makassar Bongkar Kebenaran Dibalik Hoaks TKA China di
    Marowali*


    
*https://seword..com/umum/viral-aktivis-makassar-bongkar-kebenaran-dibalik-aRjJZFnTiE
    
<https://seword.com/umum/viral-aktivis-makassar-bongkar-kebenaran-dibalik-aRjJZFnTiE>*


    Tatiana Lukman 於 2020/5/19 下午 06:57 寫道:

        Kalau betul apa yang diceritakan Kompas  tentang Said Didu
        ini, ketemulah kita dengan seroang pejabat yang berani, jujur
        dan masih memikirkan kepentingan negeri. Ya logislah, kalau
        dia jadi berhadapan dengan komprador china
        kapitalis-imperialis nomer satu. Sang komprador, disamping
        kaya raya,  kekuasaannya pun sangat besar, kelihatan dari
        propaganda yang dia gerakkan untuk melicinkan proyek di
        Morowali , meloloskan buruh China yang keahlian dan
        ketrampilannya dianggap “begitu tinggi” sehingga tak bias
        tercapai oleh buruh Indonesia yang dianggap goblok dan
        dungu!!!!Namanya juga komprador china, cium pantat tuannya pun
        akan dilakukannya demi proyek-proyek yang akan terus
        menggendutkan pundi-pundinya!!!

        Sent from Mail
        <https://go.microsoft.com/fwlink/?LinkId=550986> for Windows 10

        *From: *ChanCT [email protected] [GELORA45]
        <mailto:[email protected]>
        *Sent: *Saturday, 16 May 2020 15:13
        *To: *GELORA_In <mailto:[email protected]>
        *Subject: *[GELORA45] Lantang Kritik Rezim Jokowi hingga
        Dipolisikan Luhut, Ini Rekam JejakSaid Didu

        *Lantang Kritik Rezim Jokowi hingga Dipolisikan Luhut, *

        *Ini Rekam Jejak Said Didu *

        Kompas.com - 16/05/2020, 07:37 WIB BAGIKAN:

        Said Didu saat masih menjabat sebagai Sekretaris BUMN, 2006.
        Lihat Foto Said Didu saat masih menjabat sebagai Sekretaris
        BUMN, 2006. (KOMPAS/LUCKY PRANSISKA)

        Penulis Muhammad Idris | Editor Muhammad Idris

        JAKARTA, KOMPAS.com - Perseteruan mantan Sekretaris
        Kementerian BUMN Said Didu dengan Menko Kemaritiman dan
        Investasi Luhut Binsar Panjaitan memasuki babak baru.. Bermula
        dari kritiknya terhadap Luhut di sebuah kanal YouTube, Said
        Didu harus menjalani pemeriksaan di Bareskrim, Mabes Polri.

        Di sana, Said Didu diperiksa secara intensif selama hampir 12
        jam. Dia mengaku perlu menjelaskan maksud pernyataannya yang
        dipermasalahkan Luhut, terkait komentarnya yang menilai Luhut
        lebih mengutamakan investasi daripada penanganan virus corona
        ( kasus Said Didu).

        Dari rekam jejaknya, Said Didu memang terkenal sangat lantang
        mengkritik beberapa kebijakan rezim Presiden Joko Widodo (
        Jokowi) yang kini sudah masuk periode keduanya.

        Sebelum vokal mengkritik Luhut, Said Didu juga beberapa kali
        melontarkan kritik tajam ke pemerintah, salah satunya yakni
        kebijakan akuisisi saham PT Freeport Indonesia (PTFI).

        Pembelian saham PTFI oleh pemerintah lewat PT Inalum (Persero)
        ini dianggap merugikan negara. Menurut Said, BUMN malah harus
        membayar mahal untuk membeli perusahaan yang masa konsesinya
        hampir habis dan cadangan emas maupun tembaganya sudah banyak
        terkuras.

        Baca juga: Jubir Luhut: Infonya Ada Purnawirawan yang Namanya
        Dicatut Dukung Said Didu

        Saat itu, Inalum harus merogoh uang 3,85 miliar dollar AS atau
        sekitar Rp 56,1 triliun untuk mengambil alih 51 persen saham
        PTFI dari Freeport McMoran dan Rio Tinto.

        Dalam kasus Jiwasraya, Said Didu pernah menyatakan adanya
        indikasi tindak pidana korupsi dalam kasus gagal bayar polis
        yang terjadi di PT Asuransi Jiwasraya (Persero).

        "Terjadi perampokan (di Jiwasraya). Perusahaan yang sangat
        sehat pada 2016-2017, lalu defisit puluhan triliun di tahun
        berikutnya, berarti ada penyedotan dana yang terjadi," kata dia.

        Said Didu juga tak melihat kemungkinan adanya masalah gagal
        bayar di Jiwasraya disebabkan oleh kesalahan dalam proses
        berbisnis. Said Didu bilang, kasus Jiwasraya merupakan
        perampokan uang negara.

        Baca juga: Kuasa Hukum Luhut Pertanyakan Said Didu yang
        Mangkir saat Dipanggil Bareskrim

        "Tidak mungkin kalau hanya risiko bisnis, karena ekonomi di
        2018 biasa-biasa saja kok, tidak seperti 1998. Enggak mungkin
        bocor sampai puluhan triliun, kalau risiko bisnis enggak
        sebesar itu," kata dia.

        Tak berhenti sampai di situ, Said Didu juga sempat mengkritik
        Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang punya kebiasaan meresmikan
        jalan tol dan menganggapnya sebagai pencitraan.

        *Mantan PNS BPPT dan komisaris BUMN *

        Karir pria asal Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan ini banyak
        dihabiskan sebagai PNS di Badan Pengkajian dan Penerapan
        Teknologi (BPPT). Karir birokratnya dirintisnya dari bawah di
        BPPT sejak tahun 1987 mulai dari peneliti, merangkak karir
        sebagai pejabat eselon di badan riset tersebut.

        Namanya mulai lebih sering wara-wiri menghiasi media massa
        nasional sejak ditunjuk menjadi Sekretaris Kementerian BUMN.
        Dia juga pernah terpilih sebagai anggota MPR di tahun 1997.

        Sebagai petinggi di Kementerian BUMN, Said Didu juga diplot
        sebagai komisaris di beberapa perusahaan pelat merah di
        antaranya Komisaris PTPN IV (Persero) dan PT Bukit Asam Tbk
        (Persero).

        Jebolan Teknik Industri Institut Pertanian Bogor (IPB) ini
        juga sempat menduduki kursi komisaris PT Merpati Nusantara
        Airlines, Komisaris PT Asuransi Jiwa Inhealth Indonesia, dan
        Dewan Pengawas Rumah Sakit RSCM Jakarta.

        Baca juga: Luhut: Soal Said Didu, Itu Urusan Anak Buah Saya

        Di awal rezim periode pertama Presiden Joko Widodo (Jokowi),
        Said Didu ikut masuk dalam lingkaran pemerintahan tahun
        2014-2016. Dia menjabat sebagai Staf Khusus Menteri ESDM saat
        itu, Sudirman Saaid.

        Di tahun 2018, Said Didu dicopot dari jabatannya sebagai
        komisaris di Bukit Asam dan digantikan oleh Jhoni Ginting.
        Pencopotannya dilakukan oleh Menteri BUMN Rini Soemarno dalam
        RUPSLB Bukit Asam.

        Kementerian BUMN saat ini beralasan, pencopotan dari kursi
        Komisaris Bukit Asam dilakukan karena Sidu Didu dianggap sudah
        tidak sejalan dengan pemegang saham.

        Said Didu sempat jadi sorotan saat dirinya memutuskan mundur
        sebagai PNS pada 13 Mei 2019. Alasan pengajuan pensiun dari
        BPPT agar dirinya bisa lebih leluasa mengkritik kebijakan
        publik yang dinilainya perlu diperbaiki.

        Baca juga: Tak Ada Permintaan Maaf, Luhut Ngotot Tuntut Said
        Didu ke Jalur Hukum

        Tercatat, dirinya sudah mengabdi sebagai ASN selama 32 tahun
        11 bulan. Langkah bersebrangan dengan rezim Jokowi juga pernah
        diambil Said Didu saat dirinya menerima tawaran dari Tim Kuasa
        Hukum Prabowo Subianto-Sandiaga Uno sebagai saksi di Mahkamah
        Konstitusi (MK) terkait hasil Pilpres.


        Artikel ini telah tayang di Kompas.com
        <http://kompas.com/> dengan judul "Lantang Kritik Rezim Jokowi
        hingga Dipolisikan Luhut, Ini Rekam Jejak Said Didu",

        
https://money.kompas.com/read/2020/05/16/073724426/lantang-kritik-rezim-jokowi-hingga-dipolisikan-luhut-ini-rekam-jejak-said-didu?page=all#page2.
        Penulis : Muhammad Idris
        Editor : Muhammad Idris


Kirim email ke