Ini nenek Tatiana yang berani-beraninya menepuk diri ML-Maois sejati, ternyata TIDAK BELAJAR dengan baik! Tetap hidup dalam mimpi yang lepas dari kehidupan nyata ! Dimana setiap saat kalau berani mengaku sebagai pejuang harus pandai-pandai menetapkan musuh-pokok! Dan kesitulah tinju dipusatkan, ...

Sekalipun sudah genap lewat 50 tahun, 20 Mei 1970 yl. Metua Mao mengeluarkan pernyataan yang terkenal "SELURUH RAKYAT SEDUNIA BERSATU, melawan imperialisme Amerika dan cecunguknya!", saat itu, kita semua tahu ada 2 Superpower, Amerika dan Sovyet! Kenapa Ketua Mao memilih dan menentukan imperialisme AS musuh utama yang harus digempur dahulu! Sedang Sovyet, jangankan diserempet oleh ketua Mao, ... disebut pun tidak, ...!

Lalu, apakah sekarang ini, percaturan politik dunia sudah berubah dan RRT yang oleh Tatiana dituduh sudah menjadi imperialisme itu menjadi musuh pokok RAKYAT SEDUNIA? Bukan lagi imperialisme AS??? Kenapa?

Padahal, kenyataan imperialisme AS inilah yang sampai sekarang ini bikin gaduh, bikin kacau dimana-mana, tidak henti-hentinya menjatuhkan banyak korban jiwa rakyat tak berdosa, ... termasuk rakyat didalam negerinya sendiri. Akibat kedodoran mengatasi wabah Covid-19 yang merebak sudah lebih 90 ribu warga AS meninggal! Laluberusaha keras melempar tanggungjawab dan kesalahan pada RRT, ... mendesak sekutu-sekutu nya ikutan menyerang dan menyalahkan Tiongkok!

Menghadapi situasi politik dunia demikian, bagaimana mungkin yang menamakan diri pejuang rakyat justru ikutan imperialisme AS menghujat dan menghajar habis-habisan RRT yang justru selalu dan dimana saja mengutamakan kepentingan dan keselamatan rakyat! Perhatikan saja saat menghadapi Covid-19 kali ini, didunia ini hanya RRT yang berani korbankan ekonomi untuk mengutamakan keselamatan jiwa rakyatnya! Dengan drastis menutup kota Wuhan, menghentikan kerja dan mengharuskan setiap warga berdiam dirumah, tapi dalam waktu 70 hari berhasil mengendalikan dan menghentikan penyebaran wabah Covid-19 lebih lanjut, dengan korban jiwa 4634 orang.

Patut juga dicatat dan diketahui, sikap TEGAS PKT dalam menjalankan Perang RAKYAT Melawan Covid-19, disamping menunjukkan kecanggihan dan kerapian PKT mengorganisasi massa, tapi juga dalam SIKAP terhadap kader dan anggota nya: Antara lain yang terbaca oleh saya:

ada seorang pejabat-tinggi pensiunan kota Wuhan, positif terjangkit Covid-19 dianggap TIDAK disiplin menuruti perintah keharusan diisolasi masuk RS! Karena merasa sesuai tingkat kekaderannya, berhak mendapatkan fasilitas kamar seorang diri di RS! Tapi, dalam situasi darurat, bukan saja ranjang di RS TIDAK CUKUP, banyak pasien yang ditidurkan dilantai saja! Tanpa ranjang! Lalu pejabat pensiunan ini keluar RS dan pulang bersembunyi dirumah dengan tuntutan obat-obat yang diperlukan bisa dibawa pulang, … Pejabat tsb. Kemudian kena didisiplin masuk RS juga, tapi tetap dianggap MELANGGAR sikap pejabat komunis yang harus mendahulukan kepentingan rakyat! Dipinalti dengan turunkan setingkat uang pensiun yang bisa didapat!

Ada lagi seorang pejabat kota Wuhan, dicopot hanya karena saat Tahun Baru Imlek, tgl. 25 Januari lari pulang kampung menghadiri pesta Ulang Tahun ayahnya, padahal tgl. 23 Kota Wuhan sudah di TUTUP, setiap warga tidak boleh keluar!

Lalu, ada seorang pejabat Palang-Merah Wuhan juga kena dicopot, hanya karena kelalaian dan keterlambatan meneruskan sumbangan perlengkapan medis yang sudah diterima ke RS yang membutuhkan!


Tatiana Lukman [email protected] [GELORA45] 於 2020/5/19 下午 09:49 寫道:

Ini katak dalam tempurung yang sedang ngoceh, ya?? Tidak tahu sepak terjang China sendiri sudah lama menempelkan watak imperialisnya...saking piciknya dan penyembahan membutanya kepada China kapitalis, tidak tahu membedakan antara sosialisme dengan sosialimperialisme!!!Sudah tentu, dia tidak mau membaca wawancara prof. Jose Maria Sison di mana kita temukan kalimat ini :The Philippines has become far worse off than ever before after four years of misrule by Duterte. This has been characterized by treason and puppetry to both US and Chinese imperialism, mass murder and other gross human rights violations, systematic plunder, increased unemployment and mass poverty, aggravation of the drug problem under the Duterte drug empire, unabashed moral depravity and the accelerated deterioration of social and economic conditions.

Dan dibawah ini judul tulisan A. Thayer


  *Takeover Trap: Why Imperialist China Is Invading Africa*

China is in Africa not to advance Maoism, but to control its resources, people, and potential.

Sent from Mail <https://go.microsoft.com/fwlink/?LinkId=550986> for Windows 10

*From: *ChanCT [email protected] [GELORA45] <mailto:[email protected]>
*Sent: *Tuesday, 19 May 2020 14:12
*To: *Tatiana Lukman <mailto:[email protected]>; GELORA_In <mailto:[email protected]> *Subject: *Re: [GELORA45] Lantang Kritik Rezim Jokowi hingga Dipolisikan Luhut,Ini Rekam JejakSaid Didu

Hehehee, ... nenek yang satu ini jadi sudah MENGAKUI Tiongkok menjadi inperialisme nomor satu! Yang menggantikan imperialisme Amerika MUSUH Nomor wahid nya didunia!!! Jadi, boleh saja bersekutu dengan siapa saja, termasuk imperialisme AS untuk GEMPUR RRT, ... PANTAS lah selama ini yang dijadikan dasar pegangan suara yang keluar dari corong imperialisme AS, Falungong!

Dan, ... Said Didu dengan mudahnya dikategorikan pembela rakyat, yang berani dan jujur memikirkan kepentingan negeri, ... Siapa tahu kalau dibalik suarea manisnya itu hanyalah kepentingan modal imperialisme AS???!!! Bukankah kemarin ini ada pemberitaan video bagaimana kondisi masyarakat sekitar merasa DIUNTUNGKAN dengan kehadiran perusahaan Tiongkok di Morowali! Juga ada pembantahan HOAX dari aktivis Makasar yang secara khusus datang ke Morowali, ...

*Aktivis Makassar Bongkar Kebenaran Dibalik Hoaks TKA China di Marowali*


*https://seword..com/umum/viral-aktivis-makassar-bongkar-kebenaran-dibalik-aRjJZFnTiE <https://seword.com/umum/viral-aktivis-makassar-bongkar-kebenaran-dibalik-aRjJZFnTiE>*

Tatiana Lukman 於 2020/5/19 下午 06:57 寫道:

    Kalau betul apa yang diceritakan Kompas  tentang Said Didu ini,
    ketemulah kita dengan seroang pejabat yang berani, jujur dan masih
    memikirkan kepentingan negeri. Ya logislah, kalau dia jadi
    berhadapan dengan komprador china kapitalis-imperialis nomer satu.
    Sang komprador, disamping kaya raya,  kekuasaannya pun sangat
    besar, kelihatan dari propaganda yang dia gerakkan untuk
    melicinkan proyek di Morowali , meloloskan buruh China yang
    keahlian dan ketrampilannya dianggap “begitu tinggi” sehingga tak
    bias tercapai oleh buruh Indonesia yang dianggap goblok dan
    dungu!!!!Namanya juga komprador china, cium pantat tuannya pun
    akan dilakukannya demi proyek-proyek yang akan terus menggendutkan
    pundi-pundinya!!!

    Sent from Mail <https://go.microsoft.com/fwlink/?LinkId=550986>
    for Windows 10

    *From: *ChanCT [email protected] [GELORA45]
    <mailto:[email protected]>
    *Sent: *Saturday, 16 May 2020 15:13
    *To: *GELORA_In <mailto:[email protected]>
    *Subject: *[GELORA45] Lantang Kritik Rezim Jokowi hingga
    Dipolisikan Luhut, Ini Rekam JejakSaid Didu

    *Lantang Kritik Rezim Jokowi hingga Dipolisikan Luhut, *

    *Ini Rekam Jejak Said Didu *

    Kompas.com - 16/05/2020, 07:37 WIB BAGIKAN:

    Said Didu saat masih menjabat sebagai Sekretaris BUMN, 2006. Lihat
    Foto Said Didu saat masih menjabat sebagai Sekretaris BUMN, 2006.
    (KOMPAS/LUCKY PRANSISKA)

    Penulis Muhammad Idris | Editor Muhammad Idris

    JAKARTA, KOMPAS.com - Perseteruan mantan Sekretaris Kementerian
    BUMN Said Didu dengan Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar
    Panjaitan memasuki babak baru. Bermula dari kritiknya terhadap
    Luhut di sebuah kanal YouTube, Said Didu harus menjalani
    pemeriksaan di Bareskrim, Mabes Polri.

    Di sana, Said Didu diperiksa secara intensif selama hampir 12 jam.
    Dia mengaku perlu menjelaskan maksud pernyataannya yang
    dipermasalahkan Luhut, terkait komentarnya yang menilai Luhut
    lebih mengutamakan investasi daripada penanganan virus corona (
    kasus Said Didu).

    Dari rekam jejaknya, Said Didu memang terkenal sangat lantang
    mengkritik beberapa kebijakan rezim Presiden Joko Widodo ( Jokowi)
    yang kini sudah masuk periode keduanya.

    Sebelum vokal mengkritik Luhut, Said Didu juga beberapa kali
    melontarkan kritik tajam ke pemerintah, salah satunya yakni
    kebijakan akuisisi saham PT Freeport Indonesia (PTFI).

    Pembelian saham PTFI oleh pemerintah lewat PT Inalum (Persero) ini
    dianggap merugikan negara. Menurut Said, BUMN malah harus membayar
    mahal untuk membeli perusahaan yang masa konsesinya hampir habis
    dan cadangan emas maupun tembaganya sudah banyak terkuras.

    Baca juga: Jubir Luhut: Infonya Ada Purnawirawan yang Namanya
    Dicatut Dukung Said Didu

    Saat itu, Inalum harus merogoh uang 3,85 miliar dollar AS atau
    sekitar Rp 56,1 triliun untuk mengambil alih 51 persen saham PTFI
    dari Freeport McMoran dan Rio Tinto.

    Dalam kasus Jiwasraya, Said Didu pernah menyatakan adanya indikasi
    tindak pidana korupsi dalam kasus gagal bayar polis yang terjadi
    di PT Asuransi Jiwasraya (Persero).

    "Terjadi perampokan (di Jiwasraya). Perusahaan yang sangat sehat
    pada 2016-2017, lalu defisit puluhan triliun di tahun berikutnya,
    berarti ada penyedotan dana yang terjadi," kata dia.

    Said Didu juga tak melihat kemungkinan adanya masalah gagal bayar
    di Jiwasraya disebabkan oleh kesalahan dalam proses berbisnis.
    Said Didu bilang, kasus Jiwasraya merupakan perampokan uang negara.

    Baca juga: Kuasa Hukum Luhut Pertanyakan Said Didu yang Mangkir
    saat Dipanggil Bareskrim

    "Tidak mungkin kalau hanya risiko bisnis, karena ekonomi di 2018
    biasa-biasa saja kok, tidak seperti 1998. Enggak mungkin bocor
    sampai puluhan triliun, kalau risiko bisnis enggak sebesar itu,"
    kata dia.

    Tak berhenti sampai di situ, Said Didu juga sempat mengkritik
    Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang punya kebiasaan meresmikan
    jalan tol dan menganggapnya sebagai pencitraan.

    *Mantan PNS BPPT dan komisaris BUMN *

    Karir pria asal Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan ini banyak
    dihabiskan sebagai PNS di Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi
    (BPPT). Karir birokratnya dirintisnya dari bawah di BPPT sejak
    tahun 1987 mulai dari peneliti, merangkak karir sebagai pejabat
    eselon di badan riset tersebut.

    Namanya mulai lebih sering wara-wiri menghiasi media massa
    nasional sejak ditunjuk menjadi Sekretaris Kementerian BUMN. Dia
    juga pernah terpilih sebagai anggota MPR di tahun 1997.

    Sebagai petinggi di Kementerian BUMN, Said Didu juga diplot
    sebagai komisaris di beberapa perusahaan pelat merah di antaranya
    Komisaris PTPN IV (Persero) dan PT Bukit Asam Tbk (Persero).

    Jebolan Teknik Industri Institut Pertanian Bogor (IPB) ini juga
    sempat menduduki kursi komisaris PT Merpati Nusantara Airlines,
    Komisaris PT Asuransi Jiwa Inhealth Indonesia, dan Dewan Pengawas
    Rumah Sakit RSCM Jakarta.

    Baca juga: Luhut: Soal Said Didu, Itu Urusan Anak Buah Saya

    Di awal rezim periode pertama Presiden Joko Widodo (Jokowi), Said
    Didu ikut masuk dalam lingkaran pemerintahan tahun 2014-2016. Dia
    menjabat sebagai Staf Khusus Menteri ESDM saat itu, Sudirman Saaid.

    Di tahun 2018, Said Didu dicopot dari jabatannya sebagai komisaris
    di Bukit Asam dan digantikan oleh Jhoni Ginting. Pencopotannya
    dilakukan oleh Menteri BUMN Rini Soemarno dalam RUPSLB Bukit Asam.

    Kementerian BUMN saat ini beralasan, pencopotan dari kursi
    Komisaris Bukit Asam dilakukan karena Sidu Didu dianggap sudah
    tidak sejalan dengan pemegang saham.

    Said Didu sempat jadi sorotan saat dirinya memutuskan mundur
    sebagai PNS pada 13 Mei 2019. Alasan pengajuan pensiun dari BPPT
    agar dirinya bisa lebih leluasa mengkritik kebijakan publik yang
    dinilainya perlu diperbaiki.

    Baca juga: Tak Ada Permintaan Maaf, Luhut Ngotot Tuntut Said Didu
    ke Jalur Hukum

    Tercatat, dirinya sudah mengabdi sebagai ASN selama 32 tahun 11
    bulan. Langkah bersebrangan dengan rezim Jokowi juga pernah
    diambil Said Didu saat dirinya menerima tawaran dari Tim Kuasa
    Hukum Prabowo Subianto-Sandiaga Uno sebagai saksi di Mahkamah
    Konstitusi (MK) terkait hasil Pilpres.


    Artikel ini telah tayang di Kompas.com <http://kompas.com/> dengan
    judul "Lantang Kritik Rezim Jokowi hingga Dipolisikan Luhut, Ini
    Rekam Jejak Said Didu",

    
https://money.kompas.com/read/2020/05/16/073724426/lantang-kritik-rezim-jokowi-hingga-dipolisikan-luhut-ini-rekam-jejak-said-didu?page=all#page2.
    Penulis : Muhammad Idris
    Editor : Muhammad Idris


Kirim email ke