Saya tidak PERNAH bilang MUSUH POKOK rakyat dunia sekarang adalah imperialiasme 
 China!! Coba tunjukkan kata-kata saya yang bilang begitu!!! Yang saya 
tunjukkan dan buktikan adalah sifat negara China sekarang yang sudah menjadi 
IMPERIALIS!!! Saya tidak pernah membicarakan soal  kemana tinju harus 
dipusatkan!! Yang saya bicarakan dan belejeti selalu adalah watak negara China 
sekarang!! Sudah oportunis, masih mau memutar balik omongan orang!!! Musuh 
pokok rakyat satu negeri ditentukan oleh keadaan kongkrit negeri itu sendiri.. 
Nih, baru saya sekarang bicara soal musuh pokok...dulu waktu Indonesia 
menghadapi proyek Malaysia dari Inggris, maka imperialisme Inggrislah yang 
disasar oleh rakyat Indonesia... Tapi ketika rakyat menghadapi masalah Irian 
Barat, imperialisme Belanda lah yang menjadi sasaran rakyat Indonesia....Lihat 
nggah tuh matamu, sasaran bias berubah-ubah menurut situasi kongkrit.... 
Katanya pengikut Lenin dan masuk grup M-L... Sudah lupa ajaran Lenin, Analisa 
kongkrit atas situasi kongkrit!!! Ha...ha... dasar Go....

Sent from Mail for Windows 10

From: ChanCT [email protected] [GELORA45]
Sent: Saturday, 23 May 2020 15:56
To: [email protected]; Tatiana Lukman
Subject: Re: [GELORA45] Lantang Kritik Rezim Jokowi hingga Dipolisikan 
Luhut,Ini Rekam JejakSaid Didu

  
Ini nenek Tatiana yang berani-beraninya menepuk diri ML-Maois sejati, ternyata 
TIDAK BELAJAR dengan baik! Tetap hidup dalam mimpi yang lepas dari kehidupan 
nyata ! Dimana setiap saat kalau berani mengaku sebagai pejuang harus 
pandai-pandai menetapkan musuh-pokok! Dan kesitulah tinju dipusatkan, ...
Sekalipun sudah genap lewat 50 tahun, 20 Mei 1970 yl. Metua Mao mengeluarkan 
pernyataan yang terkenal "SELURUH RAKYAT SEDUNIA BERSATU, melawan imperialisme 
Amerika dan cecunguknya!", saat itu, kita semua tahu ada 2 Superpower, Amerika 
dan Sovyet! Kenapa Ketua Mao memilih dan menentukan imperialisme AS musuh utama 
yang harus digempur dahulu! Sedang Sovyet, jangankan diserempet oleh ketua Mao, 
... disebut pun tidak, ...!
Lalu, apakah sekarang ini, percaturan politik dunia sudah berubah dan RRT yang 
oleh Tatiana dituduh sudah menjadi imperialisme itu menjadi musuh pokok RAKYAT 
SEDUNIA? Bukan lagi imperialisme AS??? Kenapa?
Padahal, kenyataan imperialisme AS inilah yang sampai sekarang ini bikin gaduh, 
bikin kacau dimana-mana, tidak henti-hentinya menjatuhkan banyak korban jiwa 
rakyat tak berdosa, ... termasuk rakyat didalam negerinya sendiri. Akibat 
kedodoran mengatasi wabah Covid-19 yang merebak sudah lebih 90 ribu warga AS 
meninggal! Laluberusaha keras melempar tanggungjawab dan kesalahan pada RRT, 
... mendesak sekutu-sekutu nya ikutan menyerang dan menyalahkan Tiongkok! 
Menghadapi situasi politik dunia demikian, bagaimana mungkin yang menamakan 
diri pejuang rakyat justru ikutan imperialisme AS menghujat dan menghajar 
habis-habisan RRT yang justru selalu dan dimana saja mengutamakan kepentingan 
dan keselamatan rakyat! Perhatikan saja saat menghadapi Covid-19 kali ini, 
didunia ini hanya RRT yang berani korbankan ekonomi untuk mengutamakan 
keselamatan jiwa rakyatnya! Dengan drastis menutup kota Wuhan, menghentikan 
kerja dan mengharuskan setiap warga berdiam dirumah, tapi dalam waktu 70 hari 
berhasil mengendalikan dan menghentikan penyebaran wabah Covid-19 lebih lanjut, 
dengan korban jiwa 4634 orang.
Patut juga dicatat dan diketahui, sikap TEGAS PKT dalam menjalankan Perang 
RAKYAT Melawan Covid-19, disamping menunjukkan kecanggihan dan kerapian PKT 
mengorganisasi massa, tapi juga dalam SIKAP terhadap kader dan anggota nya: 
Antara lain yang terbaca oleh saya: 
ada seorang pejabat-tinggi pensiunan kota Wuhan, positif terjangkit Covid-19 
dianggap TIDAK disiplin menuruti perintah keharusan diisolasi masuk RS! Karena 
merasa sesuai tingkat kekaderannya, berhak mendapatkan fasilitas kamar seorang 
diri di RS! Tapi, dalam situasi darurat, bukan saja ranjang di RS TIDAK CUKUP, 
banyak pasien yang ditidurkan dilantai saja! Tanpa ranjang! Lalu pejabat 
pensiunan ini keluar RS dan pulang bersembunyi dirumah dengan tuntutan 
obat-obat yang diperlukan bisa dibawa pulang, … Pejabat tsb.. Kemudian kena 
didisiplin masuk RS juga, tapi tetap dianggap MELANGGAR sikap pejabat komunis 
yang harus mendahulukan kepentingan rakyat! Dipinalti dengan turunkan setingkat 
uang pensiun yang bisa didapat!
Ada lagi seorang pejabat kota Wuhan, dicopot hanya karena saat Tahun Baru 
Imlek, tgl. 25 Januari lari pulang kampung menghadiri pesta Ulang Tahun 
ayahnya, padahal tgl. 23 Kota Wuhan sudah di TUTUP, setiap warga tidak boleh 
keluar! 
Lalu, ada seorang pejabat Palang-Merah Wuhan juga kena dicopot, hanya karena 
kelalaian dan keterlambatan meneruskan sumbangan perlengkapan medis yang sudah 
diterima ke RS yang membutuhkan!


Tatiana Lukman [email protected] [GELORA45] 於 2020/5/19 下午 09:49 寫道:
  
Ini katak dalam tempurung yang sedang ngoceh, ya?? Tidak tahu sepak terjang 
China sendiri sudah lama menempelkan watak imperialisnya...saking piciknya dan 
penyembahan membutanya kepada China kapitalis, tidak tahu membedakan antara 
sosialisme dengan sosialimperialisme!!!Sudah tentu, dia tidak mau membaca 
wawancara prof. Jose Maria Sison di mana kita temukan kalimat ini : The 
Philippines has become far worse off than ever before after four years of 
misrule by Duterte. This has been characterized by treason and puppetry to both 
US and Chinese imperialism, mass murder and other gross human rights 
violations, systematic plunder, increased unemployment and mass poverty, 
aggravation of the drug problem under the Duterte drug empire, unabashed moral 
depravity and the accelerated deterioration of social and economic conditions.
Dan dibawah ini judul tulisan A. Thayer
Takeover Trap: Why Imperialist China Is Invading Africa
China is in Africa not to advance Maoism, but to control its resources, people, 
and potential.
 
 
Sent from Mail for Windows 10
 
From: ChanCT [email protected] [GELORA45]
Sent: Tuesday, 19 May 2020 14:12
To: Tatiana Lukman; GELORA_In
Subject: Re: [GELORA45] Lantang Kritik Rezim Jokowi hingga Dipolisikan 
Luhut,Ini Rekam JejakSaid Didu
 
  
Hehehee, ... nenek yang satu ini jadi sudah MENGAKUI Tiongkok menjadi 
inperialisme nomor satu! Yang menggantikan imperialisme Amerika MUSUH Nomor 
wahid nya didunia!!! Jadi, boleh saja bersekutu dengan siapa saja, termasuk 
imperialisme AS untuk GEMPUR RRT, ... PANTAS lah selama ini yang dijadikan 
dasar pegangan suara yang keluar dari corong imperialisme AS, Falungong! 
Dan, ... Said Didu dengan mudahnya dikategorikan pembela rakyat, yang berani 
dan jujur memikirkan kepentingan negeri, ... Siapa tahu kalau dibalik suarea 
manisnya itu hanyalah kepentingan modal imperialisme AS???!!! Bukankah kemarin 
ini ada pemberitaan video bagaimana kondisi masyarakat sekitar merasa 
DIUNTUNGKAN dengan kehadiran perusahaan Tiongkok di Morowali! Juga ada 
pembantahan HOAX dari aktivis Makasar yang secara khusus datang ke Morowali, ...
Aktivis Makassar Bongkar Kebenaran Dibalik Hoaks TKA China di Marowali

https://seword..com/umum/viral-aktivis-makassar-bongkar-kebenaran-dibalik-aRjJZFnTiE
 
 
Tatiana Lukman 於 2020/5/19 下午 06:57 寫道:
Kalau betul apa yang diceritakan Kompas  tentang Said Didu ini, ketemulah kita 
dengan seroang pejabat yang berani, jujur dan masih memikirkan kepentingan 
negeri. Ya logislah, kalau dia jadi berhadapan dengan komprador china 
kapitalis-imperialis nomer satu. Sang komprador, disamping kaya raya,  
kekuasaannya pun sangat besar, kelihatan dari propaganda yang dia gerakkan 
untuk melicinkan proyek di Morowali , meloloskan buruh China yang keahlian dan 
ketrampilannya dianggap “begitu tinggi” sehingga tak bias tercapai oleh buruh 
Indonesia yang dianggap goblok dan dungu!!!!Namanya juga komprador china, cium 
pantat tuannya pun akan dilakukannya demi proyek-proyek yang akan terus 
menggendutkan pundi-pundinya!!! 
 
Sent from Mail for Windows 10
 
From: ChanCT [email protected] [GELORA45]
Sent: Saturday, 16 May 2020 15:13
To: GELORA_In
Subject: [GELORA45] Lantang Kritik Rezim Jokowi hingga Dipolisikan Luhut, Ini 
Rekam JejakSaid Didu
 
  
Lantang Kritik Rezim Jokowi hingga Dipolisikan Luhut, 
Ini Rekam Jejak Said Didu 
Kompas.com - 16/05/2020, 07:37 WIB BAGIKAN: 
Lihat Foto Said Didu saat masih menjabat sebagai Sekretaris BUMN, 2006. 
(KOMPAS/LUCKY PRANSISKA) 
Penulis Muhammad Idris | Editor Muhammad Idris 
JAKARTA, KOMPAS.com - Perseteruan mantan Sekretaris Kementerian BUMN Said Didu 
dengan Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan memasuki babak 
baru. Bermula dari kritiknya terhadap Luhut di sebuah kanal YouTube, Said Didu 
harus menjalani pemeriksaan di Bareskrim, Mabes Polri. 
Di sana, Said Didu diperiksa secara intensif selama hampir 12 jam. Dia mengaku 
perlu menjelaskan maksud pernyataannya yang dipermasalahkan Luhut, terkait 
komentarnya yang menilai Luhut lebih mengutamakan investasi daripada penanganan 
virus corona ( kasus Said Didu). 
Dari rekam jejaknya, Said Didu memang terkenal sangat lantang mengkritik 
beberapa kebijakan rezim Presiden Joko Widodo ( Jokowi) yang kini sudah masuk 
periode keduanya. 
Sebelum vokal mengkritik Luhut, Said Didu juga beberapa kali melontarkan kritik 
tajam ke pemerintah, salah satunya yakni kebijakan akuisisi saham PT Freeport 
Indonesia (PTFI). 
Pembelian saham PTFI oleh pemerintah lewat PT Inalum (Persero) ini dianggap 
merugikan negara. Menurut Said, BUMN malah harus membayar mahal untuk membeli 
perusahaan yang masa konsesinya hampir habis dan cadangan emas maupun 
tembaganya sudah banyak terkuras. 
Baca juga: Jubir Luhut: Infonya Ada Purnawirawan yang Namanya Dicatut Dukung 
Said Didu 
Saat itu, Inalum harus merogoh uang 3,85 miliar dollar AS atau sekitar Rp 56,1 
triliun untuk mengambil alih 51 persen saham PTFI dari Freeport McMoran dan Rio 
Tinto. 
Dalam kasus Jiwasraya, Said Didu pernah menyatakan adanya indikasi tindak 
pidana korupsi dalam kasus gagal bayar polis yang terjadi di PT Asuransi 
Jiwasraya (Persero). 
"Terjadi perampokan (di Jiwasraya). Perusahaan yang sangat sehat pada 
2016-2017, lalu defisit puluhan triliun di tahun berikutnya, berarti ada 
penyedotan dana yang terjadi," kata dia. 
Said Didu juga tak melihat kemungkinan adanya masalah gagal bayar di Jiwasraya 
disebabkan oleh kesalahan dalam proses berbisnis. Said Didu bilang, kasus 
Jiwasraya merupakan perampokan uang negara. 
Baca juga: Kuasa Hukum Luhut Pertanyakan Said Didu yang Mangkir saat Dipanggil 
Bareskrim 
"Tidak mungkin kalau hanya risiko bisnis, karena ekonomi di 2018 biasa-biasa 
saja kok, tidak seperti 1998. Enggak mungkin bocor sampai puluhan triliun, 
kalau risiko bisnis enggak sebesar itu," kata dia. 
Tak berhenti sampai di situ, Said Didu juga sempat mengkritik Presiden Joko 
Widodo (Jokowi) yang punya kebiasaan meresmikan jalan tol dan menganggapnya 
sebagai pencitraan. 
Mantan PNS BPPT dan komisaris BUMN 
Karir pria asal Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan ini banyak dihabiskan 
sebagai PNS di Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Karir 
birokratnya dirintisnya dari bawah di BPPT sejak tahun 1987 mulai dari 
peneliti, merangkak karir sebagai pejabat eselon di badan riset tersebut.   
Namanya mulai lebih sering wara-wiri menghiasi media massa nasional sejak 
ditunjuk menjadi Sekretaris Kementerian BUMN. Dia juga pernah terpilih sebagai 
anggota MPR di tahun 1997. 
Sebagai petinggi di Kementerian BUMN, Said Didu juga diplot sebagai komisaris 
di beberapa perusahaan pelat merah di antaranya Komisaris PTPN IV (Persero) dan 
PT Bukit Asam Tbk (Persero). 
Jebolan Teknik Industri Institut Pertanian Bogor (IPB) ini juga sempat 
menduduki kursi komisaris PT Merpati Nusantara Airlines, Komisaris PT Asuransi 
Jiwa Inhealth Indonesia, dan Dewan Pengawas Rumah Sakit RSCM Jakarta. 
Baca juga: Luhut: Soal Said Didu, Itu Urusan Anak Buah Saya 
Di awal rezim periode pertama Presiden Joko Widodo (Jokowi), Said Didu ikut 
masuk dalam lingkaran pemerintahan tahun 2014-2016. Dia menjabat sebagai Staf 
Khusus Menteri ESDM saat itu, Sudirman Saaid. 
Di tahun 2018, Said Didu dicopot dari jabatannya sebagai komisaris di Bukit 
Asam dan digantikan oleh Jhoni Ginting. Pencopotannya dilakukan oleh Menteri 
BUMN Rini Soemarno dalam RUPSLB Bukit Asam. 
Kementerian BUMN saat ini beralasan, pencopotan dari kursi Komisaris Bukit Asam 
dilakukan karena Sidu Didu dianggap sudah tidak sejalan dengan pemegang saham. 
Said Didu sempat jadi sorotan saat dirinya memutuskan mundur sebagai PNS pada 
13 Mei 2019. Alasan pengajuan pensiun dari BPPT agar dirinya bisa lebih leluasa 
mengkritik kebijakan publik yang dinilainya perlu diperbaiki. 
Baca juga: Tak Ada Permintaan Maaf, Luhut Ngotot Tuntut Said Didu ke Jalur 
Hukum 
Tercatat, dirinya sudah mengabdi sebagai ASN selama 32 tahun 11 bulan. Langkah 
bersebrangan dengan rezim Jokowi juga pernah diambil Said Didu saat dirinya 
menerima tawaran dari Tim Kuasa Hukum Prabowo Subianto-Sandiaga Uno sebagai 
saksi di Mahkamah Konstitusi (MK) terkait hasil Pilpres.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Lantang Kritik Rezim 
Jokowi hingga Dipolisikan Luhut, Ini Rekam Jejak Said Didu",
 
https://money.kompas.com/read/2020/05/16/073724426/lantang-kritik-rezim-jokowi-hingga-dipolisikan-luhut-ini-rekam-jejak-said-didu?page=all#page2.
Penulis : Muhammad Idris
Editor : Muhammad Idris
 
 


Kirim email ke