Sampah!!! Tak ada gunanya menjawab agen remo pengkhianat.. Baca omong kosongnya 
sudah tak sudi lagi!!! 

Sent from Mail for Windows 10

From: ChanCT [email protected] [GELORA45]
Sent: Thursday, October 29, 2020 4:39 AM
To: Tatiana Lukman; GELORA_In
Subject: Re: [GELORA45] Komunisme Bukan Jalan Menuju Kemakmuran Rakyat

  
Yaaa, bagaimana mau menjawab, ... TENTU saja TIDAK BISA jawab!!! Hehehee, ....
Lha, ... jelas jemelas didunia ini BELUM ADA yang bisa menunjukkan jalan 
SOSIALISME yang paling TEPAT, jalan Lenin-Stalin yang menggulingkan kekuasaan 
Tsar Rusia dengan bentuk kekuasaan Diktatur Proletariat Soviet, tidak berhasil 
bersaing dengan negara kapitalis, mewujudkan masyarakat adil makmur yang 
dimimpikan itu dan, akhirnya roboh dengan sendirinya, ... Pasti ada KESALAHAN 
fatal! Itulah sebab Soviet roboh dan kembali jalankan sistem kapitalisme! Ada 
KESALAHAN-KESALAHAN yang harus dikoreksi, ... untuk maju dan membangun 
masyarakat sosialis lebih baik!
Sedang PKT dengan keberanian Deng mengoreksi KESALAHAN yang terjadi, meneruskan 
perjuangan Jalan Sosialisme berkarakter Tiongkok, dalam 40 tahun terakhir ini 
mencapai kemajuan dahsyat, membuat HARAPAN bagi pejuang sosialisme mewujudkan 
mimpinya, ... menyelesaikan target membebaskan 1,4 milyar rakyat Tiongkok dari 
kemiskinan, mencapai masyarakat sejahtera tepat waktu untuk menyambut 100 tahun 
berdiri PKT, 1 Juli 2021! Menurut data tahun 2019, GDP perkapita menerobos 
US$10 ribu, angka kemiskinan mutlak dari 5,7% ditahun 2015 menjadi 0,6% ditahun 
2019, sedangkan jumlah klas menengah sudah melebihi 400 juta orang, melebihi 
jumlah populasi AS!


Tatiana Lukman 於 2020/10/28 下午 11:09 寫道:
Tak perlu dijawab omong kosong agen revisionis!
 
Sent from Mail for Windows 10
 
From: ChanCT
Sent: Wednesday, October 28, 2020 4:07 PM
To: [email protected]; Tatiana Lukman
Subject: Re: [GELORA45] Komunisme Bukan Jalan Menuju Kemakmuran Rakyat
 
Lhoo, ... seseorang boleh saja tidak tahu komunisme, tapi setelah melihat 
beberapa negara yang mengaku "Negara Komunis", termasuk Soviet ternyata lebih 
miskin dan terbelakang dibanding negara barat yang dilihat, ... Apa salahnya 
dia menyatakan KOMUNISME Bukan jalan menuju kemakmuran rakyat! Hanya saja 
nampaknya dia BELUM melihat Tiongkok sekarang, ... atau mau bilang Tiongkok 
MAKMUR setelah menjadi kapitalis? Padahal AS terakhir justru begitu getolnya 
menuduh Tiongkok Komunis menjadi ANCAMAN berat hendak kangkangi dunia! Hehehee, 
...
 
 
Tatiana Lukman [email protected] [GELORA45] 於 2020/10/28 下午 04:44 寫道:
  
Orangnya sendiri sudah ngaku nggak tahu seluk beluk komunisme, tapi kok bisa 
bilang komunisme bukan jalan menuju kemakmuran rakyat???? Gombal!!!
 
Sent from Mail for Windows 10
 
From: ChanCT [email protected] [GELORA45]
Sent: Wednesday, October 28, 2020 2:11 AM
To: GELORA_In
Subject: [GELORA45] Komunisme Bukan Jalan Menuju Kemakmuran Rakyat
 
  
Komunisme Bukan Jalan Menuju Kemakmuran Rakyat
Selasa , 27 Oktober 2020 | 19:00
https://www.sinarharapan.co/opinidaneditorial/read/25750/komunisme_bukan_jalan_menuju_kemakmuran_rakyat




Sumber Foto RMOLJatim
Ilustrasi
 POPULER
Komunisme Bukan Jalan Menuju Kemakmuran RakyatAncaman Menjadi Peluang, Surat 
Hutang Obligasi Berkelanjutan
Listen to this
Oleh Taufik Darusman
Pada 1961, ketika saya berusia 12 tahun, ayah saya, seorang diplomat karir, 
ditugaskan di KBRI Beograd, (ketika itu) Yugoslavia. Di bawah tangan besi Josip 
Broz Tito, Yugoslavia menganut paham komunisme namun tidak berafiliasi kepada 
Uni Soviet maupun China. Posisi ini berarti negeri ini berada di luar apa yang 
dikenal sebagai Tirai Besi, dan memiliki cukup wibawa untuk memprakarsai, pada 
1961, Gerakan Non-Blok (GNB) bersama Presiden Soekarno dan beberapa pemimpin 
Asia dan Afrika.
Saya tidak berpretensi menguasai seluk-beluk komunisme sebagai sebuah paham.. 
Yang pasti, seperti saya sehari-hari saksikan sendiri di Yugoslavia dan 
kemudian hari di Uni Soviet, komunisme bukanlah jalan bagi suatu negara mana 
pun untuk mewujudkan kemakmuran bagi rakyatnya.
Selama enam tahun di Yugoslavia (1961-1967), setiap musim panas kami sekeluarga 
berlibur ke salah satu negara tetangga non-komunis, yaitu Austria, Italia dan 
Yunani. Saya menyaksikan sendiri betapa ketinggalannya Yugoslavia dari mereka – 
dalam segala bidang. Orang Yugoslavia tidak kalah cerdas, rajin maupun inovatif 
dibandingkan dengan para tetangganya. Yang menghambat kemajuan mereka, 
tampaknya, adalah sistem pemerintahannya yang berbasis komunisme – suatu sistem 
yang memasung kreatifitas dan kewirausahawan.
Tidak mengherankan bahwa tak lama setelah Tito wafat, pada usia 88 tahun 
(1980), rakyatnya memilih untuk pecah kongsi menjadi beberapa negara independen 
yang bebas dari komunisme. Cukup sudah, menurut anggapan mereka, hidup dengan 
sebuah ideologi yang tidak menghasilkan kesejahteraan yang berarti. 
Pada pertengahan 1970an ayah menjabat sebagai duta besar di Moskow (Uni Soviet) 
dan saya beberapa kali mengunjungi negara itu, bahkan sempat ke pusat 
teknologinya yang megah di Irkuts. (Letaknya demikian jauh di bagian timur 
sehingga koridor waktunya sama dengan Indonesia.) Ketika itu saya berkuliah dan 
bekerja di Negeri Belanda. Setiap musim panas saya terbang sekitar dua jam dari 
Schiphol (Amsterdam) dan mendarat di Moskow. Saya menyaksikan betapa tajamnya 
kontras tingkat kemakmuran antara kedua kota itu.
Pemandangan ibu-ibu, bahkan bapak-bapak, mengantri untuk membeli sembako, 
terutama roti, sangat jamak di Moskow. (Ini mengingatkan saya pada antrian 
minyak tanah di Indonesia pada awal 1960an.) Di jalan-jalan raya yang tampak 
hanya mobil-mobil buatan Soviet yang desiannya tidak menarik dan merek Fiat 
versi negara itu. Kalau ada merek lain, itu hanya milik kedutaan asing.
Tapi jangan salah, ayah mengingatkan saya, bangsa Soviet bukanlah tidak cerdas. 
Mereka adalah salah satu dari sedikit negara (ketika itu) yang memiliki bom 
atom, dan lebih dahulu dari AS dalam meluncurkan satelit dan mengorbitkan 
astronaut (atau kosmonaut, istilah Soviet) ke ruang angkasa. Dan tidak kalah 
penting, mungkin, negara itu memiliki grandmaster catur terbanyak di dunia. 
Kalau ada yang menganggap komunisme menghapus kelas masyarakat yang 
berbeda-beda, pikirlah kembali: di Uni Soviet, para pemimpin partai memiliki 
akses ke toko-toko khusus untuk membeli barang-barang luar negeri, dan beberapa 
ruas jalan di dalam kota hanya boleh dilewati elit penguasa. Mereka juga 
mendapatkan perawatan kesehatan yang jauh lebih baik ketimbang yang dinikmati 
warga biasa, dan memiliki vila-vila mewah (dacha) di luar Moskow.
Label
Sebagai catatan, Rusia, bahkan China pun secara praktis sudah mencampakkan 
komunisme. Dewasa ini kedua negara tersebut dapat dikatakan hanya berpura-pura 
menganutnya dan berbasa-basi saja menyanjung sistem tersebut. Kedua negara itu, 
demikian juga benteng-benteng komunisme kelas teri seperti Kuba dan Korea 
Utara, menggunakan komunisme sebagai suatu “label” atau identitas saja yang 
dianggap akan membedakan mereka dari apa yang dikenal sebagai negara-negara 
kapitalis seperti AS, Inggris atau Perancis.
Pada 1990, atas undangan kedubes Uni Soviet di Jakarta saya diundang ke Moskow 
dan Leningrad (dulu St. Peterburg dan kini kembali bernama itu) untuk 
menyaksikan hasil dari glasnost (keterbukaan) dan perestroika (restrukturisasi 
ekonomi), anjungan reformasi kembar yang diprakarsai Mikhail Gorbachev. Ketika 
itu komunisme masih merupakan identitas politik negara itu, namun peranan 
sektor swasta, sesuatu yang merupakan pantangan dalam sistem komunisme yang 
menekankan perencanaan pusat (central planning), mulai memegang peranan. Saya 
merasakan semangat dan gairah baru dalam jiwa orang Soviet – mereka tampak 
lebih gembira, sehat dan bergairah. 
20 Tahun kemudian, pada 2010, saya diajak Ketua DPD (ketika itu) Irman Gusman 
turut serta dalam rombongannya melakukan kunjungan resmi ke Moskow. (Ketika itu 
Uni Soviet sudah pecah menjadi beberapa negara independen dan berubah namanya 
menjadi Rusia.) Saya hampir tidak mengenali lagi Moskow. Hampir di setiap sudut 
kota itu terdapat gerai KFC dan McDonald’s, belum lagi mobil-mobil mewah yang 
parkir di hotel-hotel berbintang yang dikelola oleh Hilton dan Marriott.
Oligarki
Kita boleh  berdebat panjang-lebar apakah itu semua indikasi dari kemajuan 
suatu negara. Yang jelas, komunisme mengalami penolakan di Rusia dan telah 
menjadi formalisme semata. Yang  berlaku sekarang adalah sistem oligarki di 
mana para anggotanya terdiri atas miliarder dolar berkat privatisasi BUMN 
secara besar-besaran pada 1990an. Dan para fanatik sepakbola tentunya ingat 
bahwa klub ternama Inggris, Chelsea FC, dimiliki oleh Roman Abramovich, salah 
satu dari sekian banyak miliarder Rusia yang memiliki properti kelas wahid di 
London.
Maka ketika beberapa waktu lalu kita menyaksikan maraknya gonjang-ganjing 
mengenai bahaya Partai Komunis Indonesia (PKI) dengan ideologi komunismenya, 
saya menjadi terheran-heran. Apakah masyarakat kita dianggap sedemikian dungu 
sehingga dikuatirkanakan terdorong untuk merangkul suatu ideologi yang sudah 
bangkrut, usang dan diberangus oleh kita 50 tahun lalu? Ironisnya pula, 
dikatakan bahwa komunisme sudah menyusup di kalangan pemerintah, yang pada saat 
yang sama dituduh menganut paham neo-liberal.
Kepada mereka yang bermimpi komunisme membuat suatu masyarakat makmur dan 
sejahtera, tunjukkanlah negara mana yang masih benar-benar menganut paham 
tersebut. Semua negara komunis di Eropa Timur mencapai kemakmuran hanya setelah 
Tira Besi runtuh pada awal 1990an. Dan mereka yang berusaha menakut-nakuti 
masyarakat akan bahaya laten komunisme, ketahuilah bahwa kita kini sudah jauh 
lebih cerdas ketimbang beberapa dekade yang lalu. Mengangkat bahaya komunisme 
ke permukaan ibarat mengisahkan suatu lelucon politik yang menghina tingkat 
kecerdasan suatu bangsa.
Penulis adalah wartawan senior berkedudukan di Tangerang.
 
 


Kirim email ke