Tak perlu dijawab omong kosong agen revisionis!
Sent from Mail <https://go.microsoft.com/fwlink/?LinkId=550986> for
Windows 10
*From: *ChanCT <mailto:[email protected]>
*Sent: *Wednesday, October 28, 2020 4:07 PM
*To: *[email protected] <mailto:[email protected]>;
Tatiana Lukman <mailto:[email protected]>
*Subject: *Re: [GELORA45] Komunisme Bukan Jalan Menuju Kemakmuran Rakyat
Lhoo, ... seseorang boleh saja tidak tahu komunisme, tapi setelah
melihat beberapa negara yang mengaku "Negara Komunis", termasuk Soviet
ternyata lebih miskin dan terbelakang dibanding negara barat yang
dilihat, ... Apa salahnya dia menyatakan KOMUNISME Bukan jalan menuju
kemakmuran rakyat! Hanya saja nampaknya dia BELUM melihat Tiongkok
sekarang, ... atau mau bilang Tiongkok MAKMUR setelah menjadi
kapitalis? Padahal AS terakhir justru begitu getolnya menuduh Tiongkok
Komunis menjadi ANCAMAN berat hendak kangkangi dunia! Hehehee, ...
Tatiana Lukman [email protected]
<mailto:[email protected]> [GELORA45] 於2020/10/28 下午04:44 寫道:
Orangnya sendiri sudah ngaku nggak tahu seluk beluk komunisme,
tapi kok bisa bilang komunisme bukan jalan menuju kemakmuran
rakyat???? Gombal!!!
Sent from Mail <https://go.microsoft.com/fwlink/?LinkId=550986>
for Windows 10
*From: *ChanCT [email protected] [GELORA45]
<mailto:[email protected]>
*Sent: *Wednesday, October 28, 2020 2:11 AM
*To: *GELORA_In <mailto:[email protected]>
*Subject: *[GELORA45] Komunisme Bukan Jalan Menuju Kemakmuran Rakyat
Komunisme Bukan Jalan Menuju Kemakmuran Rakyat
Selasa , 27 Oktober 2020 | 19:00
https://www.sinarharapan.co/opinidaneditorial/read/25750/komunisme_bukan_jalan_menuju_kemakmuran_rakyat
Komunisme Bukan Jalan Menuju Kemakmuran Rakyat
Sumber Foto RMOLJatim
Ilustrasi
* POPULER*
*Komunisme Bukan Jalan Menuju Kemakmuran Rakyat*
<https://www.sinarharapan.co/opinidaneditorial/read/25750/komunisme_bukan_jalan_menuju_kemakmuran_rakyat>*Ancaman
Menjadi Peluang, Surat Hutang Obligasi Berkelanjutan*
<https://www.sinarharapan.co/opinidaneditorial/read/25739/ancaman_menjadi_peluang__surat_hutang_obligasi_berkelanjutan>
Listen to this
*Oleh Taufik Darusman*
Pada 1961, ketika saya berusia 12 tahun, ayah saya, seorang
diplomat karir, ditugaskan di KBRI Beograd, (ketika itu)
Yugoslavia. Di bawah tangan besi Josip Broz Tito, Yugoslavia
menganut paham komunisme namun tidak berafiliasi kepada Uni Soviet
maupun China. Posisi ini berarti negeri ini berada di luar apa
yang dikenal sebagai Tirai Besi, dan memiliki cukup wibawa untuk
memprakarsai, pada 1961, Gerakan Non-Blok (GNB) bersama Presiden
Soekarno dan beberapa pemimpin Asia dan Afrika.
Saya tidak berpretensi menguasai seluk-beluk komunisme sebagai
sebuah paham. Yang pasti, seperti saya sehari-hari saksikan
sendiri di Yugoslavia dan kemudian hari di Uni Soviet, komunisme
bukanlah jalan bagi suatu negara mana pun untuk mewujudkan
kemakmuran bagi rakyatnya.
Selama enam tahun di Yugoslavia (1961-1967), setiap musim panas
kami sekeluarga berlibur ke salah satu negara tetangga
non-komunis, yaitu Austria, Italia dan Yunani. Saya menyaksikan
sendiri betapa ketinggalannya Yugoslavia dari mereka – dalam
segala bidang. Orang Yugoslavia tidak kalah cerdas, rajin maupun
inovatif dibandingkan dengan para tetangganya. Yang menghambat
kemajuan mereka, tampaknya, adalah sistem pemerintahannya yang
berbasis komunisme – suatu sistem yang memasung kreatifitas dan
kewirausahawan.
Tidak mengherankan bahwa tak lama setelah Tito wafat, pada usia 88
tahun (1980), rakyatnya memilih untuk pecah kongsi menjadi
beberapa negara independen yang bebas dari komunisme. Cukup sudah,
menurut anggapan mereka, hidup dengan sebuah ideologi yang tidak
menghasilkan kesejahteraan yang berarti.
Pada pertengahan 1970an ayah menjabat sebagai duta besar di Moskow
(Uni Soviet) dan saya beberapa kali mengunjungi negara itu, bahkan
sempat ke pusat teknologinya yang megah di Irkuts. (Letaknya
demikian jauh di bagian timur sehingga koridor waktunya sama
dengan Indonesia.) Ketika itu saya berkuliah dan bekerja di Negeri
Belanda. Setiap musim panas saya terbang sekitar dua jam dari
Schiphol (Amsterdam) dan mendarat di Moskow. Saya menyaksikan
betapa tajamnya kontras tingkat kemakmuran antara kedua kota itu.
Pemandangan ibu-ibu, bahkan bapak-bapak, mengantri untuk membeli
sembako, terutama roti, sangat jamak di Moskow. (Ini mengingatkan
saya pada antrian minyak tanah di Indonesia pada awal 1960an.) Di
jalan-jalan raya yang tampak hanya mobil-mobil buatan Soviet yang
desiannya tidak menarik dan merek Fiat versi negara itu. Kalau ada
merek lain, itu hanya milik kedutaan asing.
Tapi jangan salah, ayah mengingatkan saya, bangsa Soviet bukanlah
tidak cerdas. Mereka adalah salah satu dari sedikit negara (ketika
itu) yang memiliki bom atom, dan lebih dahulu dari AS dalam
meluncurkan satelit dan mengorbitkan astronaut (atau kosmonaut,
istilah Soviet) ke ruang angkasa. Dan tidak kalah penting,
mungkin, negara itu memiliki grandmaster catur terbanyak di dunia.
Kalau ada yang menganggap komunisme menghapus kelas masyarakat
yang berbeda-beda, pikirlah kembali: di Uni Soviet, para pemimpin
partai memiliki akses ke toko-toko khusus untuk membeli
barang-barang luar negeri, dan beberapa ruas jalan di dalam kota
hanya boleh dilewati elit penguasa. Mereka juga mendapatkan
perawatan kesehatan yang jauh lebih baik ketimbang yang dinikmati
warga biasa, dan memiliki vila-vila mewah (/dacha/) di luar Moskow.
*Label*
Sebagai catatan, Rusia, bahkan China pun secara praktis sudah
mencampakkan komunisme. Dewasa ini kedua negara tersebut dapat
dikatakan hanya berpura-pura menganutnya dan berbasa-basi saja
menyanjung sistem tersebut. Kedua negara itu, demikian juga
benteng-benteng komunisme kelas teri seperti Kuba dan Korea Utara,
menggunakan komunisme sebagai suatu “label” atau identitas saja
yang dianggap akan membedakan mereka dari apa yang dikenal sebagai
negara-negara kapitalis seperti AS, Inggris atau Perancis.
Pada 1990, atas undangan kedubes Uni Soviet di Jakarta saya
diundang ke Moskow dan Leningrad (dulu St. Peterburg dan kini
kembali bernama itu) untuk menyaksikan hasil dari
/glasnost/ (keterbukaan) dan /perestroika/ (restrukturisasi
ekonomi), anjungan reformasi kembar yang diprakarsai Mikhail
Gorbachev. Ketika itu komunisme masih merupakan identitas politik
negara itu, namun peranan sektor swasta, sesuatu yang merupakan
pantangan dalam sistem komunisme yang menekankan perencanaan pusat
(/central planning/), mulai memegang peranan. Saya merasakan
semangat dan gairah baru dalam jiwa orang Soviet – mereka tampak
lebih gembira, sehat dan bergairah.
20 Tahun kemudian, pada 2010, saya diajak Ketua DPD (ketika itu)
Irman Gusman turut serta dalam rombongannya melakukan kunjungan
resmi ke Moskow. (Ketika itu Uni Soviet sudah pecah menjadi
beberapa negara independen dan berubah namanya menjadi Rusia.)
Saya hampir tidak mengenali lagi Moskow. Hampir di setiap sudut
kota itu terdapat gerai KFC dan McDonald’s, belum lagi mobil-mobil
mewah yang parkir di hotel-hotel berbintang yang dikelola oleh
Hilton dan Marriott.
*Oligarki*
Kita boleh berdebat panjang-lebar apakah itu semua indikasi dari
kemajuan suatu negara. Yang jelas, komunisme mengalami penolakan
di Rusia dan telah menjadi formalisme semata. Yang berlaku
sekarang adalah sistem oligarki di mana para anggotanya terdiri
atas miliarder dolar berkat privatisasi BUMN secara besar-besaran
pada 1990an. Dan para fanatik sepakbola tentunya ingat bahwa klub
ternama Inggris, Chelsea FC, dimiliki oleh Roman Abramovich, salah
satu dari sekian banyak miliarder Rusia yang memiliki properti
kelas wahid di London.
Maka ketika beberapa waktu lalu kita menyaksikan maraknya
gonjang-ganjing mengenai bahaya Partai Komunis Indonesia (PKI)
dengan ideologi komunismenya, saya menjadi terheran-heran. Apakah
masyarakat kita dianggap sedemikian dungu sehingga dikuatirkanakan
terdorong untuk merangkul suatu ideologi yang sudah bangkrut,
usang dan diberangus oleh kita 50 tahun lalu? Ironisnya pula,
dikatakan bahwa komunisme sudah menyusup di kalangan pemerintah,
yang pada saat yang sama dituduh menganut paham neo-liberal.
Kepada mereka yang bermimpi komunisme membuat suatu masyarakat
makmur dan sejahtera, tunjukkanlah negara mana yang masih
benar-benar menganut paham tersebut. Semua negara komunis di Eropa
Timur mencapai kemakmuran hanya setelah Tira Besi runtuh pada awal
1990an. Dan mereka yang berusaha menakut-nakuti masyarakat akan
bahaya laten komunisme, ketahuilah bahwa kita kini sudah jauh
lebih cerdas ketimbang beberapa dekade yang lalu. Mengangkat
bahaya komunisme ke permukaan ibarat mengisahkan suatu lelucon
politik yang menghina tingkat kecerdasan suatu bangsa.
/Penulis adalah wartawan senior berkedudukan di Tangerang./