Saudara yang menulis bila pula nak bertaubat dari dosa riba?

Riba itu memiliki 73 pintu. Yang paling ringan (dosanya) adalah seperti
seseorang yang mengawini ibunya. (HR al-Hakim dan al-Baihaqi).

 Hadis tadi bisa dimaknai bahwa dosa riba banyak macam dan tingkatannya.
Yang paling rendah adalah seperti dosa seseorang yang menzinai ibunya
sendiri. Bahkan Abdullah bin Hanzhalah menuturkan, bahwa Rasulullah saw.
pernah bersabda: satu dirham riba yang dimakan oleh seorang laki-laki,
sementara ia tahu, lebih berat (dosanya) daripada berzina dengan 36 pelacur
(HR Ahmad dan ath-Thabrani).

 Ibn Abbas juga menuturkan, bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda: Satu
dirham riba (dosanya) kepada Allah lebih berat daripada 36 kali berzina
dengan pelacur. (Ibn Abbas berkata) dan Beliau bersabda, "Siapa saja yang
dagingnya tumbuh dari yang haram maka neraka lebih layak untuknya." (HR
al-Baihaqi dan ath-Thabrani).

 Hal ini menunjukkan bahwa riba termasuk kemaksiatan yang paling berat.
Sebabnya, kemaksiatan yang menandingi bahkan lebih berat daripada
kemaksiatan zina, yang merupakan perbuatan yang sangat menjijikkan dan
sangat keji. Kemaksitan riba itu melampaui batas-batas ketercelaan.

 Dengan demikian, tidak diragukan lagi bahwa riba termasuk kemaksiatan yang
paling besar. Hal itu karena orang yang mengambil riba merupakan penghuni
neraka dan kekal di dalamnya. Kedua, meninggalkan (sisa) riba dinilai
sebagai bukti keimanan seseorang. Ketiga, orang yang tetap mengambil riba
diindikasikan sebagai seorang kaffâran atsîman; orang yang tetap dalam
kekufuran dan selalu berbuat dosa. Keempat, orang yang tetap mengambil riba
diancam akan diperangi oleh Allah dan Rasul-Nya. Kelima, dosa teringan
memakan riba adalah seperti berzina dengan ibu sendiri; dan lebih berat
daripada berzina dengan 36 pelacur.

 Hadis itu juga jelas mengisyaratkan bahwa riba akan menimbulkan kerusakan
di masyarakat yang lebih besar daripada kerusakan akibat zina. Ini karena
riba sejak dulu hingga kini merupakan alat perbudakan, penindasan,
eksploitasi, pemerasan, penghisapan darah dan penjajahan. Semua itu bukan
hanya terjadi pada tingkat individu, namun juga terjadi terhadap suatu
bangsa, umat dan negara.

 Jika riba telah tampak nyata di suatu kaum, maka kaum itu telah
menghalalkan diturunkannya azab Allah kepada mereka. Ibn Abbas menuturkan
bahwa Nabi saw. pernah bersabda: Jika telah tampak nyata zina dan riba di
suatu kampung maka sesungguhnya mereka telah menghalalkan sendiri (turunnya)
azab Allah (kepada mereka) (HR. al-Hakim).

 Jika kita telah mengetahui bahwa riba adalah kemaksiatan yang besar kepada
Allah, seharusnya kita menghindarkannya dari kehidupan kita. Bukan malah
menikmati riba itu karena menguntungkan secara materi. Untuk apa keuntungan
materi di dunia jika hanya mendapat azab Allah di akhirat?

2008/11/6 <MohdYaakub>

>   Pepatah Melayu ada menyatakan: "Sesal dahulu pendapatan, sesal kemudian
> tidak berguna lagi." Acapkali di dalam hidup seseorang insan dia akan
> menempuh situasi penyesalan setelah segala-galanya terlambat dan tidak mampu
> dirubah lagi. Namun begitu apa yang sepatutnya kita semua fikirkan secara
> mendalam adalah penyesalan pada hari penghitungan ketika berada di Padang
> Mahsyar di mana segala amalan semasa kita hidup di dunia akan dihisab dan
> kemudian ditentukan sama ada kita akan ke syurga mahupun neraka. Ya, apabila
> ditunjukkan kepada seseorang hamba ALLAH segala keburukan ketika di dunia
> dahlu, maka akan timbul penyesalan kerana takutkan balasan yang pedih di
> neraka, maka terdetik di hatinya agar dilewatkan ajalnya ataupun dia
> dihidupkan semula ke dunia supaya dapat dia bertaubat atas segala
> kesilapannya dahulu. Namun sayang seribu kali sayang, penyesalannya itu
> hanya sia-sia kerana ketika di Padang Mahsyar pintu taubat telah tertutup
> rapat. Maka akan
> timbul dibenak fikirannya alangkah baik sekiranya aku di dunia dahulu tidak
> melakukan segala dosa-dosa tersebut. Namun begitu tiada apa lagi yang mampu
> hendak dilakukan melainkan menanti sahaja hukuman serta azab ALLAH S.W.T.
> atas kesilapannya yang lalu. Senario sedemikian rupa telah dirakamkan di
> dalam al-Qur'an melalui firman-NYA:
>
> Dan belanjakanlah (dermakanlah) sebahagian dari rezeki yang KAMI berikan
> kepada kamu sebelum seseorang dari kamu sampai ajal maut kepadanya, (kalau
> tidak) maka dia (pada saat itu) akan merayu dengan katanya: " Wahai TUHANku!
> Alangkah baiknya kalau ENGKAU lambatkan kedatangan ajal matiku - ke suatu
> masa yang sedikit sahaja lagi, supaya aku dapat bersedekah dan dapat pula
> aku menjadi dari orang-orang yang soleh ". Dan (ingatlah), ALLAH tidak
> sekali-kali akan melambatkan kematian seseorang (atau sesuatu yang bernyawa)
> apabila sampai ajalnya; dan ALLAH Amat Mendalam Pengetahuan-NYA mengenai
> segala yang kamu kerjakan. – al-Munaafiquun [63] : 10-11
>
> Bagi seseorang manusia yang banyak melakukan dosa seboleh-bolehnya pasti
> akan meminta untuk dilewatkan ajalnya walaupun hanya seketika demi untuk
> bertaubat kepada ALLAH S.W.T. dan mengerjakan amal-amal soleh tatkala
> hadirnya Malaikat Maut untuk mencabut nyawanya. Namun begitu permintaan
> tersebut tentunya akan ditempelak oleh Malaikat Maut kerana waktu datangnya
> ajal itu telah ditetapkan oleh ALLAH S.W.T. tanpa awal mahupun lewat
> walaupun sesaat.
>
> APA ITU TAUBAT?
>
> APAKAH KEUTAMAAN BERTAUBAT?
>
> DOA YANG TERBAIK DALAM MEMOHON KEAMPUNAN?
>
> ADAKAH ALLAH AKAN MENERIMA TAUBAT HAMBANYA YANG BERGELUMANG DENGAN MAKSIAT?
>
> Untuk bacaan selanjutnya sila ke alamat
>
> http://akob73.blogspot.com/2008/11/mari-bertaubat.html
>
>  
>

Kirim email ke