Sekadar minta penjelasan.
1) Bagaimana dgn sistem bank konvensional yang meletakkan kadar faedah samada 
tabungan mahupun pinjaman?
    Pastinya itu juga jenis Riba - Bagaimana mengatasinya?
2) Bila beralih kepada perbankan islam ianya seperti nampak bersih. Namun saya 
masih berwasangka ia seperti diadaptasi
   dari sistem sedia ada ( konvesional) dan seolah olah hanya di re-brand 
kepada nama islamic banking. Kerana dapat dikira
   semula apabila pihak bank mengenakan caj perkhidmatan yang mana bila dikira 
jumlah kumulatifnya perbezaan yg tak ketara
   dgn konvesional.
3) Adakah dengan bertukar kepada sistem perbankan islam kita dapat merubah 
rejim kewangan konvesional yg selama ini
   ramai antara kita terikat dengannya dan dapat menghapuskan sistem riba 
konvesional?

Walau bagaimanapun jika ia masih pesimis dgn cara konvesional namun adalah 
lebih elok ada dari tiada.
*Mohon pandangan dari rakan2 yg dibidang ini.

________________________________
From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of roslan h
Sent: Tuesday, November 11, 2008 3:58 PM
To: Ikhwanul Muslimun
Subject: Re: Help Palestine [hidayahnet] KENAPA TIDAK MAHU BERTAUBAT


Saudara yang menulis bila pula nak bertaubat dari dosa riba?

Riba itu memiliki 73 pintu. Yang paling ringan (dosanya) adalah seperti 
seseorang yang mengawini ibunya. (HR al-Hakim dan al-Baihaqi).
Hadis tadi bisa dimaknai bahwa dosa riba banyak macam dan tingkatannya. Yang 
paling rendah adalah seperti dosa seseorang yang menzinai ibunya sendiri. 
Bahkan Abdullah bin Hanzhalah menuturkan, bahwa Rasulullah saw. pernah 
bersabda: satu dirham riba yang dimakan oleh seorang laki-laki, sementara ia 
tahu, lebih berat (dosanya) daripada berzina dengan 36 pelacur (HR Ahmad dan 
ath-Thabrani).
Ibn Abbas juga menuturkan, bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda: Satu dirham 
riba (dosanya) kepada Allah lebih berat daripada 36 kali berzina dengan 
pelacur. (Ibn Abbas berkata) dan Beliau bersabda, "Siapa saja yang dagingnya 
tumbuh dari yang haram maka neraka lebih layak untuknya." (HR al-Baihaqi dan 
ath-Thabrani).
Hal ini menunjukkan bahwa riba termasuk kemaksiatan yang paling berat. 
Sebabnya, kemaksiatan yang menandingi bahkan lebih berat daripada kemaksiatan 
zina, yang merupakan perbuatan yang sangat menjijikkan dan sangat keji. 
Kemaksitan riba itu melampaui batas-batas ketercelaan.
Dengan demikian, tidak diragukan lagi bahwa riba termasuk kemaksiatan yang 
paling besar. Hal itu karena orang yang mengambil riba merupakan penghuni 
neraka dan kekal di dalamnya. Kedua, meninggalkan (sisa) riba dinilai sebagai 
bukti keimanan seseorang. Ketiga, orang yang tetap mengambil riba diindikasikan 
sebagai seorang kaffâran atsîman; orang yang tetap dalam kekufuran dan selalu 
berbuat dosa. Keempat, orang yang tetap mengambil riba diancam akan diperangi 
oleh Allah dan Rasul-Nya. Kelima, dosa teringan memakan riba adalah seperti 
berzina dengan ibu sendiri; dan lebih berat daripada berzina dengan 36 pelacur.
Hadis itu juga jelas mengisyaratkan bahwa riba akan menimbulkan kerusakan di 
masyarakat yang lebih besar daripada kerusakan akibat zina. Ini karena riba 
sejak dulu hingga kini merupakan alat perbudakan, penindasan, eksploitasi, 
pemerasan, penghisapan darah dan penjajahan. Semua itu bukan hanya terjadi pada 
tingkat individu, namun juga terjadi terhadap suatu bangsa, umat dan negara.
Jika riba telah tampak nyata di suatu kaum, maka kaum itu telah menghalalkan 
diturunkannya azab Allah kepada mereka. Ibn Abbas menuturkan bahwa Nabi saw. 
pernah bersabda: Jika telah tampak nyata zina dan riba di suatu kampung maka 
sesungguhnya mereka telah menghalalkan sendiri (turunnya) azab Allah (kepada 
mereka) (HR. al-Hakim).
Jika kita telah mengetahui bahwa riba adalah kemaksiatan yang besar kepada 
Allah, seharusnya kita menghindarkannya dari kehidupan kita. Bukan malah 
menikmati riba itu karena menguntungkan secara materi. Untuk apa keuntungan 
materi di dunia jika hanya mendapat azab Allah di akhirat?

2008/11/6 <MohdYaakub>

Pepatah Melayu ada menyatakan: "Sesal dahulu pendapatan, sesal kemudian tidak 
berguna lagi." Acapkali di dalam hidup seseorang insan dia akan menempuh 
situasi penyesalan setelah segala-galanya terlambat dan tidak mampu dirubah 
lagi. Namun begitu apa yang sepatutnya kita semua fikirkan secara mendalam 
adalah penyesalan pada hari penghitungan ketika berada di Padang Mahsyar di 
mana segala amalan semasa kita hidup di dunia akan dihisab dan kemudian 
ditentukan sama ada kita akan ke syurga mahupun neraka. Ya, apabila ditunjukkan 
kepada seseorang hamba ALLAH segala keburukan ketika di dunia dahlu, maka akan 
timbul penyesalan kerana takutkan balasan yang pedih di neraka, maka terdetik 
di hatinya agar dilewatkan ajalnya ataupun dia dihidupkan semula ke dunia 
supaya dapat dia bertaubat atas segala kesilapannya dahulu. Namun sayang seribu 
kali sayang, penyesalannya itu hanya sia-sia kerana ketika di Padang Mahsyar 
pintu taubat telah tertutup rapat. Maka akan
timbul dibenak fikirannya alangkah baik sekiranya aku di dunia dahulu tidak 
melakukan segala dosa-dosa tersebut. Namun begitu tiada apa lagi yang mampu 
hendak dilakukan melainkan menanti sahaja hukuman serta azab ALLAH S.W.T. atas 
kesilapannya yang lalu. Senario sedemikian rupa telah dirakamkan di dalam 
al-Qur'an melalui firman-NYA:

Dan belanjakanlah (dermakanlah) sebahagian dari rezeki yang KAMI berikan kepada 
kamu sebelum seseorang dari kamu sampai ajal maut kepadanya, (kalau tidak) maka 
dia (pada saat itu) akan merayu dengan katanya: " Wahai TUHANku! Alangkah 
baiknya kalau ENGKAU lambatkan kedatangan ajal matiku - ke suatu masa yang 
sedikit sahaja lagi, supaya aku dapat bersedekah dan dapat pula aku menjadi 
dari orang-orang yang soleh ". Dan (ingatlah), ALLAH tidak sekali-kali akan 
melambatkan kematian seseorang (atau sesuatu yang bernyawa) apabila sampai 
ajalnya; dan ALLAH Amat Mendalam Pengetahuan-NYA mengenai segala yang kamu 
kerjakan. - al-Munaafiquun [63] : 10-11

Bagi seseorang manusia yang banyak melakukan dosa seboleh-bolehnya pasti akan 
meminta untuk dilewatkan ajalnya walaupun hanya seketika demi untuk bertaubat 
kepada ALLAH S.W.T. dan mengerjakan amal-amal soleh tatkala hadirnya Malaikat 
Maut untuk mencabut nyawanya. Namun begitu permintaan tersebut tentunya akan 
ditempelak oleh Malaikat Maut kerana waktu datangnya ajal itu telah ditetapkan 
oleh ALLAH S.W.T. tanpa awal mahupun lewat walaupun sesaat.

APA ITU TAUBAT?

APAKAH KEUTAMAAN BERTAUBAT?

DOA YANG TERBAIK DALAM MEMOHON KEAMPUNAN?

ADAKAH ALLAH AKAN MENERIMA TAUBAT HAMBANYA YANG BERGELUMANG DENGAN MAKSIAT?

Untuk bacaan selanjutnya sila ke alamat

http://akob73.blogspot.com/2008/11/mari-bertaubat.html




________________________________
Beiersdorf Aktiengesellschaft, Hamburg, Registergericht Hamburg, HRB1787.
__________________________________.
This electronic transmission is strictly confidential and intended
solely for the addressee. It may contain information which is covered
by legal, professional or other privilege. If you are not the intended
addressee, you must not disclose, copy or take any action in reliance
of this transmission. If you have received this transmission in error,
please notify us and delete the received data as soon as possible.

This footnote also confirms that this email message has been swept
for the presence of computer viruses.

Kirim email ke