*~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~*
{ Sila lawat Laman Hizbi-Net - http://www.hizbi.net }
{ Hantarkan mesej anda ke: [EMAIL PROTECTED] }
{ Iklan barangan? Hantarkan ke [EMAIL PROTECTED] }
*~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~*
PAS : KE ARAH PEMERINTAHAN ISLAM YANG ADIL
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
HUKUM UPACARA PERINGATAN MALAM NISFU SYA'BAN
WASPADA TERHADAP BID'AH, Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz,
Penerjemah Farid Ahmad Oqbah, Riyadh: Ar-Raisah Al-'Ammah li-Idarati
Al-Buhuts Al-'Ilmiah wa Al-Ifta' wa Ad-Da'wah wa Al-Irsyad, 1413 H
Segala puji hanyalah bagi Allah yang telah menyempurnakan agama-Nya
bagi kita, dan mencukupkan nikmat-Nya kepada kita, semoga shalawat dan
salam selalu dilimpahkan kepada junjungan kita Nabi besar Muhammad
shalallahu 'alaihi wasallam pengajak ke pintu tobat dan pembawa
rahmat.
Amma ba'du: Sesungguhnya Allah telah berfirman:
"Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah
Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku dan telah Kuridhoi Islam sebagai agama
bagimu." (Al-Maidah:3)
"Apakah mereka mempunyai sesembahan-sesembahan selain Allah yang
mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diridhoi Allah? Sekirannya
tak ada ketetapan yang menentukan (dari Allah) tentulah mereka sudah
dibinasakan. Dan sesungguhnya orang-orang yang zhalim itu akan
memperoleh adzab yang pedih." (Asy-Syura':21)
Dari Aisyah radhiallahu 'anha dari Nabi Muhammad shalallahu 'alaihi
wasallam, bahwa beliau bersabda, "Barangsiapa mengada-adakan suatu
perkara (dalam agama) yang sebelumnya belum pernah ada, maka ia
tertolak."
Dalam lafazh Muslim: "Barangsiapa mengerjakan perbuatan yang tidak
kami perintahkan (dalam agama), maka ia tertolak."
Dalam Shahih Muslim dari Jabir radhiallahu 'anhu bahwasanya Nabi
pernah bersabda dalam khutbah Jum'at: Amma ba'du, sesungguhnya sebaik-
baik perkataan adalah Kitab Allah (Al-Qur'an), dan sebaik-baik
petunjuk adalah petunjuk Muhammad shalallahu 'alaihi wasallam, dan
sejahat-jahat perbuatan (dalam agama) ialah yang diada-adakan, dan
setiap bid'ah (yang diada-adakan) itu adalah sesat."
Masih banyak lagi hadits-hadits yang senada dengan hadits ini, hal
mana semuanya menunjukkan dengan jelas, bahwasanya Allah telah
menyempurnakan agama ini untuk umat-Nya. Dia telah mencukupkan nikmat-
Nya bagi mereka; Dia tidak mewafatkan Nabi Muhammad shalallahu 'alaihi
wasallam kecuali sesudah beliau menyelesaikan tugas penyampaian
risalahnya kepada umat dan menjelaskan kepada mereka seluruh syariat
Allah, baik melalui ucapan maupun pengamalan. Beliau menjelaskan
segala sesuatu yang akan diada-adakan oleh sekelompok manusia
sepeninggalnya dan dinisbahkan kepada ajaran Islam baik berupa ucapan
maupun perbuatan, semuanya itu bid'ah yang tertolak, meskipun niatnya
baik. Para shahabat dan ulama' mengetahui hal ini, maka mengingkari
perbuatan-perbuatan bid'ah dan memperingatkan kita darinya. Hal itu
disebutkan oleh mereka yang mengarang tentang pengagungan sunnah dan
pengingkaran bid'ah, seperti Ibnu Wadhdhoh Ath Tharthusyi dan Abu
Syaamah dan lain sebagainya.
Di antara bid'ah yang biasa dilakukan oleh banyak orang ialah bid'ah
mengadakan upacara peringatan malam Nisfu Sya'ban dan mengkhususkan
pada hari tersebut dengan puasa tertentu. Padahal tidak ada satupun
dalil yang dapat dijadikan sandaran, ada hadist-hadits tentang
fadhilah malam tersebut tetapi hadits-hadits tersebut dlaif sehingga
tidak dapat dijadikan landasan. Adapun hadits-hadits yang berkenaan
dengan keutamaan shalat pada hari itu adalah maudhu'.
Dalam hal ini, banyak di antara para 'ulama yang menyebutkan tentang
lemahnya hadits-hadits yang berkenaan dengan pengkhususan puasa dan
fadhilah shalat pada hari Nisfu Sya'ban, selanjutnya akan kami
sebutkan sebagian dari ucapan mereka. Pendapat para ahli Syam di
antaranya Hafizh Ibnu Rajab dalam bukunya "Lathaiful Ma'arif"
mengatakan bahwa perayaan malam Nisfu Sya'ban adalah bid'ah dan
hadits-hadits yang menerangkan keutamaannya lemah. Hadits-hadits lemah
bisa diamalkan dalam ibadah jika asalnya didukung oleh hadits-hadits
shahih, sedangkan upacara perayaan malam Nisfu Sya'ban tidak ada dasar
hadits yang shahih sehingga tidak bisa didukung dengan dalil hadits-
hadits dhaif.
Ibnu Taimiyah telah menyebutkan kaidah ini dan kami akan menukil
pendapat para ahli ilmu kepada sidang pembaca sehingga masalahnya
menjadi jelas; para ulama' telah bersepakat bahwa merupakan suatu
keharusan untuk mengembalikan segala apa yang diperselisihkan manusia
kepada Kitab Allah (Al-Qur'an) dan Sunnan Rasul (Al-Hadits), apa saja
yang telah digariskan hukumnya oleh keduanya atau salah satu
daripadanya, maka wajib diikuti dan apa saja yang bertentangan dengan
keduanya maka harus ditinggalkan, serta segala sesuatu amalan ibadah
yang belum pernah disebutkan adalah bid'ah; tidak boleh dikerjakan
apabila mengajak untuk mengerjakannya atau memujinya.
Allah berfirman dalam surat An-Nisaa':
"Hai orang-orang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya, dan
Ulil Amri (pemimpin-pemimpin) di antara kamu, maka jika kamu
berselisih pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah
(Al-Qur'an) dan Rasul (Sunnah) jika kamu benar-benar beriman kepada
Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan
lebih baik akibatnya." (An-Nisaa':59)
"Tentang sesuatu apapun kamu berselisih, maka keputusannya (terserah)
kepada Allah (yang mempunyai sifat-sifat demikian) itulah Tuhanku.
Kepada-Nyala aku bertawakkal dan kepada-Nyalah aku kembali." (Asy-
Syuraa: 10)
"Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga
mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka
perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa sesuatu keberatan dalam
hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima
sepenuhnya." (An-Nisaa':65)
Dan masih banyak lagi ayat-ayat Al-Qur'an yang semakna dengan ayat-
ayat di atas, ia merupakan nash atau ketentuan hukum yang mewajibkan
agar supaya masalah-masalah yang diperselisihkan itu dikembalikan
kepada Al-Qur'an dan Hadits, selain mewajibkan kita agar rela terhadap
hukum yang ditetapkan oleh keduanya (Al-Qur'an dan Hadits).
Demikianlah yang dikehendaki oleh Islam, dan merupakan perbuatan baik
bagi seorang hamba terhadap Tuhannya, baik di dunia atau di akherat
nanti, sehingga pastilah ia akan menerima balasan yang setimpal.
Dalam pembicaraan masalah malam Nisfu Sya'ban Ibnu Rajab berkata dalam
bukunya "Lathaiful Ma'arif",
"Para Tabi'in dari ahli Syam (Syiria, sekarang) seperti Khalid bin
Ma'daan, Makhul, Luqman dan lainnya pernah mengagung-agungkan dan
berijtihad melakukan ibadah pada malam Nisfu Sya'ban kemudian orang-
orang berikutnya mengambil keutamaan dan pengagungan itu dari mereka.
Dikatakan bahwa mereka melakukan perbuatan demikian itu karena adanya
cerita-cerita israiliyat, tatkala masalah itu tersebar ke penjuru
dunia, berselisihlah kaum muslimin; ada yang menerima dan
menyetujuinya ada juga yang mengingkarinya. Golongan yang menerima
adalah Ahli Bashrah dan lainyya seang golongan yang mengingkarinya
adalah mayoritas ulama Hijaz (Saudi Arabia, sekarang), seperti Atha'
dan Ibnu Abi Malikah dan dinukil oleh Abdurrahman bin Zaid bi Aslam
dari fuqaha' Madinah, yaitu ucapan Ashhabu Malik dan lain-lainnya.
Mereka mengatakan bahwa semua perbuatan itu bid'ah. Adapun pendapat
ulama' ahli Syam berbeda dalam pelaksanaannya dengan dua pendapat:
1 - Menghidup-hidupkan malam Nisfu Sya'ban dalam masjid dengan
berjamah adalah mustahab (disukai Allah).
Dahulu Khalid bin Ma'daan dan Luqman bin Amir memperingati malam
tersebut dengan memakai pakaian paling baru dan mewah, membakar
menyan, memakai celak dan mereka bangun malam menjalankan shalatul
lail di masjid. Ini disetujui oleh Ishaq bin Ruhwiyah, ia berkata:
"Menjalankan ibadah di masjid pada malam itu secara jamaah tidak
bid'ah." Hal ini dicuplik oleh Harbu Al-Kirmany.
2 - Berkumpulnya manusia pada malam Nisfu Sya'ban di masjid untuk
shalat, bercerita dan berdo'a adalah makruh hukumnya, tetapi boleh
jika menjalankan shalat khusus untuk dirinya sendiri. Ini pendapat
Auza'iy Imam Ahlu Syam, sebagai ahli fiqh dan cendekiawan mereka.
Insya Allah pendapat inilah yang mendekati kebenaran, sedangkan
pendapat Imam Ahmad tentang malam tentang malam Nisfu Sya'ban ini,
tidak diketahui."
Ada dua riwayat sebagai sebab cenderungnya diperingati malam Nisfu
Sya'ban, dari antara dua riwayat yang menerangkan tentang dua malam
hari raya (Idul Fitri dan Idul Adha). Dalam satu riwayat berpendapat
bahwa memperingati dua malam hari raya dengan berjamaah adalah tidak
disunnahkan, karena hal itu belum pernah dikerjakan oleh Nabi Muhammad
shalallahu 'alaihi wasallam dan para shahabatnya. Riwayat lain
berpendapat bahwa malam tersebut disunnahkan, karena Abdurrahman bin
Yazid bin Aswad pernah mengerjakannya, dan ia termasuk tabi'in, begitu
pula tentang malam Nisfu Sya'ban, Nabi belum pernah mengerjakannya
atau menetapkannya, termasuk juga para sahabat, itu hanya ketetapan
dari golongan tabi'in ahli fiqih Syam. Demikian maksud dari Al-Hafizh
Ibnu Rajab (semoga Allah melimpahkan rahmat kepadanya).
Ia mengomentari bahwa tidak ada suatu ketetapan pun tentang malam
Nisfu Sya'ban ini, baik itu dari Nabi maupun dari para shahabat.
Adapun pendapat Imam Auza'iy tentang bolehnya (istihbab) menjalankan
shalat pada malam hari itu secara individu dan penukilan Al-Hafizh
Ibnu Rajab dalam pendapatnya itu adalah gharib dan dhaif, karena
segala perbuatan syariah yang belum pernah ditetapkan oleh dalil-dalil
syar'iy, tidak boleh bagi seorang pun dari kaum muslimin mengada-
adakannya dalam Islam, baik itu dikerjakan secara individu ataupun
kolektif, baik itu dikerjakan secara sembunyi-sembunyi ataupun terang-
terangan, sebab keumuman hadits Nabi:
"Barangsiapa mengerjakan suatu amalan (dalam agama) yang tidak kami
perintahkan, maka ia tertolak."
Dan banyak lagi hadits-hadits yang mengingkari perbuatan bid'ah dan
memperingatkan agar dijauhi.
Imam Abubakar Ath-Thurthusyiy berkata dalam bukunya, "Al-Hawadits wal
Bida'", "Diriwayatkan oelh Wadhdhah dari Zaid bin Aslam berkata: kami
belum pernah melihat seorang pun dari sesepuh dan ahli fiqih kami yang
menghadiri perayaan malam Nisfu Sya'ban, tidak mengindahkan hadits
Makhul (dhaif) dan tidak pula memandang adanya keutamaan pada malam
tersebut terhadap malam-malam lainnya. Dikatakan kepada Ibnu Malikah
bahwasanya Ziad An Numairiy berkata: Pahala yang didapat (dari ibadah)
pada malam Nisfu Sya'ban menyamai pahala Lailatul Qadar. Ibnu Malikah
menjawab: Seandainya saya mendengarnya sedang di tangan saya ada
tongkat, pasti saya pukul. Ziad adalah seorang penceramah.
Al-'Allaamah Syaukani menulis dalam bukunya, Al-Fawaaidul Majmu'ah,
sebagai berikut: Hadits:
"Wahai Ali, barangsiapa melakukan shalat pada malam Nisfu Sya'ban
sebanyak 100 rakaat; ia membaca setiap rakaat Al-Fatihah dan Qul
Huwallahu Ahad sebanyak sepuluh kali, pasti Allah memenuhi segala
kebutuhannya... dan seterusnya."
Hadits ini adalah maudhu', pada lafazh-lafazhnya menerangkan tentang
pahala yang akan diterima oleh pelakunya adalah tidak diragukan
kelemahannya bagi orang berakal, sedangkan sanadnya majhul (tidak
dikenal). Hadits ini diriwayatkan dari jalan kedua dan ketiga,
kesemuanya maudhu' dan perawi-perawinya majhul.
Dalam kitab "Al Mukhtashar" Syaukani melanjutkan:
Hadits yang menerangkan shalat Nisfu Sya'ban adalah batil. Ibnu Hibban
meriwayatkan hadits dari Ali radhiallahu 'anhu: Jika datang malam
Nisfu Sya'ban bershalat malamlah dan berpuasalah pada siang harinya,
adalah dhaif. Dalam buku Allaali' diriwayatkan bahwa: Seratus rakaat
dengan tulus ikhlas pada malam Nisfu Sya'ban adalah pahalanya sepuluh
kali lipat. Hadits riwayat Ad Dailamiy, hadits ini maudhu' tetapi
mayoritas perawinya pada jalan ketiga majhul dan dhaif (leman). Imam
Syaukani berkata: Hadits yang menerangkan bahwa dua belas rakaat
dengan tulus ikhlas pahalanya adalah tiga puluh kali lipat, maudhu'.
Dan hadits empat belas rakaat ... dan seterusnya adalah maudhu' (tidak
bisa diamalkan dan harus ditinggalkan, pent).
Para fuqaha' banyak tertipu dengan hadits-hadits di atas, seperti
pengarang Ihya' Ulumuddin dan lainnya juga sebagian dari mufassirin.
Telah diriwayatkan bahwa, shalat pada malam ini, yakni malam Nisfu
Sya'ban yang telah tersebar ke seluruh pelosok dunia itu, semuanya
adalah bathil/tidak benar dan haditsnya adalah maudhu'.
Anggapan itu tidak bertentangan dengan riwayat Tirmidzi dari hadits
Aisyah bahwa Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam pergi ke Baqi' dan
Tuhan turun ke langit dunia pada malam Nisfu Sya'ban untuk mengampuni
dosa sebanyak jumlah bulu domba dan bulu kambing. Sesungguhnya
perkataan tersebut berkisar tentang shalat pada malam itu, tetapi
hadits Aisyah ini lemah dan sanadnya munqathi' (terputus) sebagaimana
hadits Ali yang telah disebutkan di atas mengenai malam Nisfu Sya'ban,
jadi dengan jelas bahwa shalat malam itu juga lemah dasarnya.
Al-Hafizh Al-Iraqi berkata: Hadits (yang menerangkan) tentang shalat
Nisfu Sya'ban maudhu' dan pembohongan atas diri Rasulullah shalallahu
'alaihi wasallam. Dalam kitab Al Majmu', Imam Nawawi berkata: Shalat
yang sering kita kenal dengan shalat Raghaib ada (berjumlah) dua belas
raka'at dikerjakan antara Maghrib dan Isya' pada malam Jum'at pertama
bulan Rajab; dan shalat seratus rakaat pada malam Nisfu Sya'ban. Dua
shalat itu adalah bid'ah dan mungkar. Tak boleh seseorang terpedaya
oleh kedua hadits itu hanya karena telah disebutkan di dalam buku
Quutul Quluub dan Ihya' Ulumuddin. Sebab pada dasarnya hadits-hadits
tersebut batil (tidak boleh diamalkan). Kita tidak boleh cepat
mempercayai orang-orang yang menyamarkan hukum bagi kedua hadits,
yaitu dari kalangan Aimmah yang kemudian mengarang lembaran-lembaran
untuk membolehkan pengamalan kedua hadits, dengan demikian berarti
salah kaprah.
Syaikh Imam Abu Muhammad Abdurrahman Ibnu Ismail al Muqadaasiy telah
mengarang sebuah buku yang berharga; Beliau menolak (menganggap batil)
kedua hadits (tentang malam Nisfu Sya'ban dan malam Jum'at pertama
pada bulan Rajab), ia bersikap (dalam mengungkapkan pendapatnya) dalam
buku tersebut, sebaik mungkin. Dalam hal ini telah banyak pengapat
para ahli ilmu; maka jika kita hendak memindahkan pendapat mereka itu,
akan memperpanjang pembicaraan kita. Semoga apa-apa yang telah kita
sebutkan tadi, cukup memuaskan bagi siapa saja yang berkeinginan untuk
mendapat sesuatu yang haq.
Dari penjelasan di atas tadi, seperti ayat-ayat Al-Qur'an dan beberapa
hadits serta pendapat para ulama, jelaslah bagi pencari kebenaran
(haq) bahwa peringatan malam Nisfu Sya'ban dengan pengkhususan shalat
atau lainnya, dan pengkhususan siang harinya dengan puasa; itu semua
adalah bid'ah dan mungkar tidak ada dasar sandarannya dalam syariat
ini (Islam), bahkan hanya merupakan pengada-adaan saja dalam Islam
setelah masa hidupnya para shahabat radhiallahu 'anhu. Marilah kita
hayati ayat Al-Qur'an di bawah:
"Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah
Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku dan telah Kuridhoi Islam sebagai agama
bagimu." (Al-Maidah:3)
Dan banyak lagi ayat-ayat lain yang semakna dengan ayat di atas.
Selanjutnya Nabi shalallahu 'alaihi wasallam bersabda:
"Barangsiapa mengada-adakan sesuatu perkara dalam agama
(sepeninggalku), yang sebelumnya belum pernah ada, maka ia tertolak."
Dari Abu Hurairah radhiallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah pernah
bersabda: "Janganlah kamu sekalian mengkhususkan malam Jum'at daripada
malam-malam lainnya dengan suatu shalat, dan janganlah kamu sekalian
mengkhususkan siang hariny autk berpuasa daripada hari-hari lainnya,
kecuali jika (sebelumnya) hari itu telah berpuasa seseorang di antara
kamu." (HR. Muslim)
Seandainya pengkhususan suatu malam dengan ibadah tertentu itu
dibolehkan oleh Allah, maka bukanlah malam Jum'at itu lebih baik
daripada malam-malam lainnya, karena pada hari itu adalah sebaik-baik
hari yang disinari matahari? Hal ini berdasarkan hadits-hadits
Rasulullah yang shahih.
Tatkala Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam melarang untuk
mengkhususkan shalat pada malam hari itu daripada malam lainnya, hal
itu menunjukkan bahwa pada malam lain pun lebih tidak boleh
dikhususkan dengan ibadah tertentu, kecuali jika ada dalil shahih yang
mengkhususkannya/menunjukkan atas kekhususannya. Menakala malam
Lailatul Qadar dan malam-malam blan puasa itu disyariatkan supaya
shalat dan bersungguh-sungguh dengan ibadah tertentu. Nabi
mengingatkan dan menganjurkan kepada umatnya agar supaya
melaksanakannya, beliau pun juga mengerjakannya. Sebagaimana
disebutkan dalam hadits shahih dari Nabi Muhammad shalallahu 'alaihi
wasallam, bahwasanya beliau bersabda:
"Barangsiapa berdiri (melakukan shalat) pada bulan Ramadhan dengan
penuh rasa iman dan harapan (pahala), niscaya Allah akan mengampuni
dosanya yang telah lewat. Dan barangsiapa berdiri (melakukan shalat)
pada malam Lailatul Qadar dengan penuh rasa iman dan harapan (pahala),
niscaya Allah akan mengampuni dosanya yang telah lewat." (Muttafaqun
'alaih)
Jika seandainya malam Nisfu Sya'ban, malam Jum'at pertama pada bulan
Rajab, serta malam Isra' Mi'raj diperintahkan untuk dikhususkan dengan
upacara atau ibadah tentang, pastilah Nabi Muhammad shalallahu 'alaihi
wasallam menunjukkan kepada umatnya atau beliau menjalankannya
sendiri. Jika memang hal itu pernah terjadi, niscaya telah disampaikan
oleh para shahabat kepada kita; mereka tidak akan menyembunyikannya,
karena mereka adalah sebaik-baik manusia dan yang paling banyak
memberi nasehat setelah para nabi.
Dari pendapat-pendapat ulama' tadi anda dapat menyimpulkan bahwasanya
tidak ada ketentuan apapun dari Rasulullah ataupun dari para shahabat
tentang keutamaan malam Nisfu Sya'ban dan malam Jum'at pertama pada
bulan Rajab. Dari sini kita tahu bahwa memperingati perayaan kedua
malam tersebut adalah bid'ah yang diada-adakan dalam Islam, begitu
pula pengkhususan dengan ibadah tentang adalah bid'ah mungkar; sama
halnya dengan malam 27 Rajab yang banyak diyakini orang sebagai malam
Isra' dan Mi'raj, begitu juga tidak boleh dikhususkan dengan ibadah-
ibadah tertentu selain tidak boleh dirayakan dengan ibadah-ibadah
tertentu selain tidak boleh dirayakan dengan upacara-upacara ritual,
berdasarkan dalil-dalil yang disebutkan tadi.
Demikianlah, maka jika anda sekalian sudah mengetahui, bagaimana
sekarang pendapat anda? Yang benar adalah pendapat para ulama' yang
menandaskan tidak diketahuinya malam Isra' dan Mi'raj secara tepat.
Omongan orang bahwa malam Isra dan Mi'raj itu jatuh pada tanggal 27
Rajab adalah batil, tidak berdasarkan pada hadits-hadits shahih. Maka
benar orang yang mengatakan;
"Dan sebaik-baik suatu perkara adalah yang telah dikerjakan oleh para
salaf, yang telah mendapat petunjuk. Dan sehina-hina perkara (dalam
agama), yaitu perkara yang diada-adakan berupa bid'ah-bid'ah."
Allahlah yang bertanggung jawab untuk melimpahkan taufiq-Nya kepada
kita dan kaum muslimin semua, taufiq untuk tetap berpegang teguh
dengan sunnah dan konsisten di atasnya, serta waspada terhadap hal-hal
yang bertentangan dengannya, karena hanya Allah yang terbaik dan
termulia.
Semoga shalawat dan salam selalu dilimpahkan kepada hamba-nya dan
Rasul-Nya Muhammad shalallahu 'alaihi wasallam begitu pula atas
keluarga dan para shahabat beliau. Amiin.
======================================================
Ruling on celebrating the middle of Sha�baan
Praise be to Allaah Who has perfected our religion for us, and has
completed His
Favour upon us. And blessings and peace be upon His Prophet and
Messenger
Muhammad, the Prophet of repentance and mercy.
Allaah says (interpretation of the meanings):
�This day, I have perfected your religion for you, completed My Favour
upon
you, and have chosen for you Islam as your religion [al-Maa�idah 5:3]
�Or have they partners with Allaah (false gods) who have instituted for
them a
religion which Allaah has not ordained? [al-Shooraa 42:21]
In al-Saheehayn it is reported from �Aa�ishah (may Allaah be pleased
with her)
that the Prophet [an error occurred while processing this directive]
(peace and
blessings of Allaah be upon him) said:
�Whoever innovates something in this matter of ours [Islam] that is not
part of it,
will have it rejected.�
In Saheeh Muslim it is narrated from Jaabir (may Allaah be pleased with
him) that
the Prophet [an error occurred while processing this directive] (peace
and blessings
of Allaah be upon him) used to say in his Friday khutbahs: �The best of
speech is
the Book of Allaah and the best of guidance is the guidance of Muhammad
[an
error occurred while processing this directive] (peace and blessings of
Allaah be
upon him). The most evil of things are those which are newly-invented,
and every
innovation (bid�ah) is a going-astray.�
And there are many aayaat and ahaadeeth which say similar things.
This clearly indicates that Allaah has perfected the religion of this
ummah, and
completed His favour upon them. He did not take the soul of His Prophet
[an error
occurred while processing this directive] (peace and blessings of Allaah
be upon
him) until he had conveyed the Message clearly and explained to the
ummah
everything that Allaah had prescribed for it of words and deeds. He [an
error
occurred while processing this directive] (peace and blessings of Allaah
be upon
him) explained that everything that people would innovate after he was
gone, all the
words and deeds that they would attribute to Islam, all of that would be
thrown
back on the one who invented it, even if his intention was good. The
companions
of the Messenger of Allaah [an error occurred while processing this
directive]
(peace and blessings of Allaah be upon him) knew this matter, as did the
scholars of
Islam after them. They denounced bid�ah and warned against it, as has
been stated
by all those who wrote books praising the Sunnah and denouncing bid�ah,
such as
Ibn Waddaah, al-Tartooshi, Ibn Shaamah and others.
Among the bid�ahs that have been invented by some people is celebrating
the
middle of Sha�baan (Laylat al-Nusf min Sha�baan), and singling out that
day for
fasting. There is no evidence (daleel) for that which can be regarded as
reliable.
Some da�eef (weak) ahaadeeth have been narrated concerning its virtues,
but we
cannot regard them as reliable. The reports which have been narrated
concerning
the virtues of prayer on this occasion are all mawdoo� (fabricated), as
has been
pointed out by many of the scholars. We will quote some of their
comments below,
in sha Allaah.
Some reports have also been narrated on this matter from some of the
salaf in
Syria, and others. What the majority of scholars say is that celebrating
this occasion
is bid�ah, and that the ahaadeeth concerning the virtues of this
occasion are all
da�eef (weak), and some of them are mawdoo� (fabricated) Among those who
pointed this out was al-Haafiz Ibn Rajab, in his book Lataa�if
al-Ma�aarif, and
others. The da�eef ahaadeeth concerning acts of worship can only be
acted upon in
the case of acts of worship which are proven by saheeh evidence. There
is no
saheeh basis for celebrating the middle of Sha�baan, so we cannot follow
the da�eef
ahaadeeth either.
This important principle was mentioned by Imaam Abu�l-�Abbaas Shaykh
al-Islam
Ibn Taymiyah (may Allaah have mercy on him).
The scholars (may Allaah have mercy on them) were agreed that it is
obligatory to
refer matters concerning which the people dispute to the Book of Allaah
and the
Sunnah of the Messenger of Allaah [an error occurred while processing
this
directive] (peace and blessings of Allaah be upon him). Whatever ruling
both or one
of them give is the sharee�ah which must be followed, and whatever goes
against
them must be rejected. Any acts of worship which are not mentioned in
them are
therefore bid�ah and it is not permissible to do them, let alone call
others to do them
or approve of them. As Allaah says (interpretation of the meaning):
�O you who believe! Obey Allaah and obey the Messenger (Muhammad), and
those of you (Muslims) who are in authority. (And) if you differ in
anything
amongst yourselves, refer it to Allaah and His Messenger, if you believe
in Allaah
and in the Last Day. That is better and more suitable for final
determination
[al-Nisaa� 4:59]
�And in whatsoever you differ, the decision thereof is with Allaah (He
is the
ruling Judge)�
[al-Shooraa 42:10]
�Say (O Muhammad to mankind): �If you (really) love Allaah, then follow
me
(i.e. accept Islamic Monotheism, follow the Qur�aan and the Sunnah),
Allaah will
love you and forgive you your sins [Aal �Imraan 3:31]
�But no, by your Lord, they can have no Faith, until they make you (O
Muhammad) judge in all disputes between them, and find in themselves no
resistance against your decisions, and accept (them) with full
submission�
[al-Nisaa� 4:65]
And there are many similar aayaat which clearly state that matters of
dispute are to
be referred to the Qur�aan and Sunnah, and that their ruling is to be
accepted. This
is the requirement of faith and this is what is best for people in this
world and in the
next: �That is better and more suitable for final determination�
[al-Nisaa� 4:59 �
interpretation of the meaning] means, in the Hereafter.
Al-Haafiz Ibn Rajab (may Allaah have mercy on him) said in his book
Lataa�if
al-Ma�aarif concerning this matter � after previously discussing it �
�Laylat al-Nusf
min Sha�baan (the middle of Sha�baan) was venerated by the Taabi�een
among the
people of al-Shaam, such as Khaalid ibn Mi�daan, Makhool, Luqmaan ibn
�Aamir
and others, who used to strive in worship on this night. The people took
the idea of
the virtue of this night and of venerating it from them. It was said
that they heard of
Israa�eeli reports (reports from Jewish sources) concerning that. Most
of the
scholars of the Hijaaz denounced that, including �Ataa� and Ibn Abi
Maleekah.
�Abd al-Rahmaan ibn Zayd ibn Aslam narrated that view from the fuqahaa�
of
Madeenah, and this was the view of the companions of Maalik and others.
They
said: this is all bid�ah� No comment from Imaam Ahmad concerning Laylat
al-Nusf min Sha�baan is known of� Concerning spending the night of the
middle
of Sha�baan in prayer, there is no sound report from the Prophet [an
error occurred
while processing this directive] (peace and blessings of Allaah be upon
him) or from
his companions��
This is what was said by al-Haafiz Ibn Rajab (may Allaah be pleased with
him). He
clearly states that there is no sound report from the Prophet [an error
occurred
while processing this directive] (peace and blessings of Allaah be upon
him) or from
his companions (may Allaah be pleased with them) about Laylat al-Nusf
min
Sha�baan (the middle of Sha�baan).
In every case where there is no sound shar�i evidence that a thing is
prescribed in
Islam, it is not permissible for the Muslim to innovate things in the
religion of
Allaah, whether these are individual acts or communal acts, whether he
does them
in secret or openly, because of the general meaning of the hadeeth of
the Prophet
[an error occurred while processing this directive] (peace and blessings
of Allaah be
upon him): �Whoever does any action that is not a part of this matter of
ours
[Islam], will have it rejected.� And there are other daleels (evidence)
which indicate
that bid�ah is to be denounced and which warn against it.
Imaam Abu Bakr al-Tartooshi (may Allaah have mercy on him) said, in his
book
al-Hawaadith wa�l-Bida�: �Ibn Waddaah narrated that Zayd ibn Aslam said:
We
never met anyone among our shaykhs and fuqahaa� who paid any attention
to
Laylat al-Nusf min Sha�baan, or who paid any attention to the hadeeth of
Makhool,
or who thought that this night was any more special than other nights.
It was said to
Ibn Abi Maleekah that Ziyaad al-Numayri was saying that the reward of
Laylat
al-Nusf min Sha�baan was like the reward of Laylat al-Qadr. He said, If
I heard
him say that and I had a stick in my hand, I would hit him. Ziyaad was a
story-teller.�
Al-�Allaamah al-Shawkaani (may Allaah have mercy on him) said in
al-Fawaa�id
al-Majmoo�ah:
�The hadeeth: �O �Ali, whoever prays one hundred rak�ahs on Laylat
al-Nusf min
Sha�baan, reciting in each rak�ah the Opening of the Book [Soorat
al-Faatihah]
and Qul Huwa Allaahu Ahad ten times, Allaah will meet all his needs��
This is
mawdoo� (fabricated) [i.e., it is falsely attributed to the Prophet [an
error occurred
while processing this directive] (peace and blessings of Allaah be upon
him]. Its
wording clearly states the reward that the person who does this will
attain, and no
man who has any common sense can doubt that this is fabricated. Also,
the men of
its isnaad are majhool (unknown). It was also narrated via another
isnaad, all of
which is mawdoo� (fabricated) and all of whose narrators are majhool
(unknown).
In al-Mukhtasar he said: The hadeeth about the salaah for the middle of
Sha�baan
is false, and the hadeeth of �Ali narrated by Ibn Hibbaan � � When it is
the night of
the middle of Sha�baan, spend that night in prayer and fast that day� �
is da�eef
(weak).
In al-La�aali� he said, �One hundred rak�ahs in the middle of Sha�baan,
reciting
(Soorat) al-Ikhaas ten times in each� (this is) mawdoo� (fabricated),
and all its
narrators in its three isnaads are majhool (unknown) and da�eef (weak).
He said:
and twelve rak�ahs, reciting al-Ikhlaas thirty times in each, this is
mawdoo�; and
fourteen (rak�ahs), this is mawdoo�.
A group of fuqahaa� were deceived by this hadeeth, such as the author of
al-Ihyaa�
and others, as were some of the mufassireen. The prayer of this night �
the middle
of Sha�baan � was described in different ways, all of which are false
and
fabricated.�
Al-Haafiz al-�Iraaqi said: �The hadeeth about the prayer during the
night of the
middle of Sha�baan is fabricated and is falsely attributed to the
Messenger of Allaah
[an error occurred while processing this directive] (peace and blessings
of Allaah be
upon him).�
Imaam al-Nawawi said in his book al-Majmoo�: �The prayer that is known
as
salaat al-raghaa�ib, which is twelve rak�ahs between Maghrib and �Ishaa�
on the
night of the first Friday in Rajab, and the prayer of Laylat al-Nusf min
Sha�baan, of
one hundred rak�ahs � these two prayers are reprehensible bid�ahs. No
one should
be deceived by the fact that they are mentioned in the books Qoot
al-Quloob and
Ihyaa� �Uloom al-Deen, or by the hadeeth which is mentioned in these two
books.
All of that is false. Nor should they be deceived by the fact that some
of the
imaams were confused about this matter and wrote a few pages stating
that these
prayers are mustahabb, for they were mistaken in that.�
Shaykh al-Imaam Abu Muhammad �Abd al-Rahmaan ibn Ismaa�eel al-Maqdisi
wrote a very valuable book proving that these (reports) are false, and
he did a very
good job. The scholars spoke at length about this matter, and if we were
to quote
all that we have read of what they have said about this matter, it would
take far too
long. Perhaps what we have already mentioned is sufficient to convince
the seeker
of truth.
>From the aayahs, ahaadeeth and scholarly opinions quoted above, it is
clear to the
seeker of truth that celebrating the middle of Sha�baan by praying on
that night or
in any other way, or by singling out that day for fasting, is a bid�ah
which is
denounced by most of the scholars. It has no basis in the pure
sharee�ah; rather it is
one of the things that was innovated in Islam after the time of the
Sahaabah (may
Allaah be pleased with them). It is sufficient for the seeker of truth,
in this case and
in others, to know the words of Allaah (interpretation of the meaning):
�This day, I have perfected your religion for you��[al-Maa�idah 5:3]
and other similar aayaat; and the words of the Prophet [an error
occurred while
processing this directive] (peace and blessings of Allaah be upon him):
�Whoever innovates something in this matter of ours [Islam] that is not
part of it,
will have it rejected�
and other similar ahaadeeth.
In Saheeh Muslim it is narrated that Abu Hurayrah (may Allaah be pleased
with
him) said: �The Messenger of Allaah [an error occurred while processing
this
directive] (peace and blessings of Allaah be upon him) said: �Do not
single out the
night of Jumu�ah for praying qiyaam and do not single out the day of
Jumu�ah for
fasting, unless is it part of the ongoing regular fast of any one of
you.��
If it were permissible to single out any night for special acts of
worship, the night of
Jumu�ah would be the most appropriate, because the day of Jumu�ah
(Friday) is the
best day upon which the sun rises, as is stated in the saheeh hadeeth
narrated from
the Messenger of Allaah [an error occurred while processing this
directive] (peace
and blessings of Allaah be upon him). Since the Prophet [an error
occurred while
processing this directive] (peace and blessings of Allaah be upon him)
warned
against singling out that night for praying qiyaam, that indicates that
it is even more
prohibited to single out any other night for acts of worship, except
where there is
saheeh evidence to indicate that a particular night is to be singled
out.
Because it is prescribed to spend the nights of Laylat al-Qadr and the
other nights
of Ramadaan in prayer, the Prophet [an error occurred while processing
this
directive] (peace and blessings of Allaah be upon him) drew attention to
that and
urged his ummah to pray qiyaam during those nights. He also did that
himself, as is
indicated in al-Saheehayn, where it says that the Prophet [an error
occurred while
processing this directive] (peace and blessings of Allaah be upon him)
said:
�Whoever prays qiyaam in Ramadaan out of faith and seeking reward,
Allaah will
forgive him his previous sins� and �Whoever spends the night of Laylat
al-Qadr in
prayer out of faith and seeking reward, Allaah will forgive him his
previous sins.�
But if it were prescribed to single out the night of the middle of
Sha�baan, or the
night of the first Friday in Rajab, or the night of the Israa� and
Mi�raaj, for
celebration or for any special acts of worship, then the Prophet [an
error occurred
while processing this directive] (peace and blessings of Allaah be upon
him) would
have taught his ummah to do that, and he would have done it himself. If
anything
of the sort had happened, his companions (may Allaah be pleased with
them) would
have transmitted it to the ummah; they would not have concealed it from
them, for
they are the best of people and the most sincere, after the Prophets,
may blessings
and peace be upon them, and may Allaah be pleased with all the
companions of the
Messenger of Allaah [an error occurred while processing this directive]
(peace and
blessings of Allaah be upon him).
Now we know from the words of the scholars quoted above that there is no
report
from the Messenger of Allaah [an error occurred while processing this
directive]
(peace and blessings of Allaah be upon him) or from his companions (may
Allaah
be pleased with them) concerning the virtue of the first night of
Jumu�ah in Rajab,
or the night of the middle of Sha�baan. So we know that celebrating
these occasions
is an innovation that has been introduced into Islam, and that singling
out these
occasions for acts of worship is a reprehensible bid�ah. The same
applies to the
twenty-seventh night of Rajab, which some people believe is the night of
the Israa�
and Mi�raaj; it is not permissible to single this date out for acts of
worship, or to
celebrate this occasion, on the basis of the evidence (daleel) quoted
above. This is
the case if the exact date (of the Israa� and Mi�raaj) is known, so how
about the
fact that the correct scholarly view is that its date is not known! The
view that it is
the night of the twenty-seventh of Rajab is a false view which has no
basis in the
saheeh ahaadeeth. He indeed spoke well who said: �The best of matters
are those
which follow the guided way of the salaf, and the most evil of matters
are those
which are newly-innovated.�
We ask Allaah to help us and all the Muslims adhere firmly to the Sunnah
and to
beware of everything that goes against it, for He is the Most Generous,
Most Kind.
May Allaah bless His slave and Messenger, our Prophet Muhammad, and all
his
family and companions.
Adapted from Majmoo� Fataawa Samaahat al-Shaykh �Abd al-�Azeez ibn Baaz,
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
( Melanggan ? To : [EMAIL PROTECTED] pada body : SUBSCRIBE HIZB)
( Berhenti ? To : [EMAIL PROTECTED] pada body: UNSUBSCRIBE HIZB)
( Segala pendapat yang dikemukakan tidak menggambarkan )
( pandangan rasmi & bukan tanggungjawab HIZBI-Net )
( Bermasalah? Sila hubungi [EMAIL PROTECTED] )
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Pengirim: "Mohd Yaakub Mohd Yunus" <[EMAIL PROTECTED]>