Urun rembug tentang "kuli" dan "majikan" dalam dunia pertambangan

Saya teringat guyonannya Pak Rizal dosen Tambang ITB dalam suatu kesempatan
..
kesalahan kita hanya 2 buah ...
1. Tidak terlahir sebagai anak Presiden
2. Tidak menjadi menantu Presiden
Saya memandang guyonan Pak Rizal itu sebagai gambaran bagaimana tidak
mudahnya merubah diri dari "kuli" menjadi "majikan" kecuali bernasib seperti
2 kasus di atas ...

dalam dunia pertambangan ... sudah banyak rakyat maupun pejabat yang merubah
diri jadi "majikan" ... tak terhitung jumlahnya perusahaan-perusahaan kecil
sampai besar di Kalimantan yang bergerak dalam bidang batubara ... mulai
dari mendirikan koperasi sampai broker yang total besarnya penjualan lebih
besar dari KPC ..... belum lagi para gurandil di Pongkor dan para penadahnya
...

Saya mendukung gagasan Mas Andang bahwa sudah saatnya kita berperan serta
bermental sebagai "majikan" .. namun dalam prakteknya untuk mensukseskan hal
tersebut harus didukung oleh niat baik pemerintah (baik pusat maupun daerah)
untuk memberi kesempatan dalam suatu aturan yang jelas dan memihak
kepentingan bersama (jangan terlalu organik dan bertindak
sendiri-sendiri).... dan tanpa harus menjadi illegal, sudah banyak contoh
orang nasional yang sudah menjadi "majikan" dalam dunia pertambangan..

Sekali lagi mari kita sebarkan semangat untuk menjadi "majikan"

salam,
didik

 

-----Original Message-----
From: Sunjaya Saputra [mailto:[EMAIL PROTECTED]]
Sent: Friday, December 27, 2002 10:23 AM
To: '[EMAIL PROTECTED]'
Subject: RE: [iagi-net-l] Indonesia struggling to find new oil.
Importance: High


menarik mas andang, boleh kan belajar dari yang sudah memutuskan utk menjadi
majikan.. :)
kira2 untuk yang muda2 gimana mas andang biar ga jadi kuli terus?
sepertinya yang muda harus jadi kuli and penjaja dulu baru sekian belas
tahun kemudian jadi owner... kecuali bisa punya mertua yang owner... :)

regards
Ujay


> -----Original Message-----
> From: Andang Bachtiar [SMTP:[EMAIL PROTECTED]]
> Subject:      Re: [iagi-net-l] Indonesia struggling to find new oil.
> 
> Saya terusik oleh statement terakhir mas BPI tentang sumberdaya manusia.
> 
> Dalam perspektif organisasi (semacam IAGI), saya kurang sependapat kalau
> status kita yang masih jadi "kuli" setelah 117 tahun industri migas di
> Indonesia diakibatkan oleh kaburnya VISI dan PERAN yang diinginkan
> pemerintah dan lemahnya EMPOWERMENT terhadap kita (explorationist) dalam
> menjawab tantangan2 masa datang terhadap cadangan dsbnya.
> 
> Prinsip egalitarianisme yang disaratkan oleh berbagai ilmu (sains) yang
> kita
> pelajari mengajarkan bahwa justru "KITA"lah yang sebenarnya kabur dan
> bermental kuli. Bukan (hanya) pemerintah.
> 
> Saran saya buat rekan-rekan yang concern dengan masalah ini, berhentilah
> jadi kuli.
> 
> Mari berhenti sebagai kuli yang mengharapkan calon-calon majikan kita
> datang
> melahap semua 17 daerah yang kita tawarkan (bukan hanya 2). Mari berhenti
> jadi kuli yang menawar-nawarkan daerah kita yang masih kaya (66 basins
> dsb)
> dan menjajakan kemampuan teknis kita untuk mereka pakai beresiko menyedot
> kekayaan alam kita.
> 
> Sudah saatnya (117 tahun, man@!!) kita jadi majikan. (Paling tidak:
> bermental majikan-lah)
> 
> adb






Kirim email ke