Aku hanya sedikit urun berpikir ... kira-kira seperti apa yg dimaksud ber-"mental majikan" ...
Dalam benakku ini majikan adalah orang yang memberikan pekerjaan ke orang lain dan menggajinya, .... mmm okelah secara arti mudahnya barangkali emang gitu. Tapi .... apakah semua yang punya perusahaan sendiri berarti seorang yg sudah ber-"mental majikan" ? ... Naah, apakah kita yg menjadi pekerja (pegawai/employee) bukan tergolong ber-"mental majikan" karena masih digaji orang lain ? .... Nah aku perluas saja cakupan term "mental majikan" ..... Mental majikan dalam benakku kira-kira seseorang yang bekerja sesuai dengan apa yang diingankannya, menyukai pekerjaannya ... tidak diperbudak oleh pekerjaannya, tidak diperbudak oleh lingkungan ... apalagi diperbudak orang lain. Jadi seseorang yang ber-"mental majikan" semestinya tidak mudah mengeluh karena kesulitan yang dihadapinya. Jadi, ...seorang yg bermental majikan semestinya : - Selalu berusaha keluar dari kesulitannya dengan usaha keras karena ngga mau dipengaruhi oleh lingkungannya yang pada saat tertentu kurang mendukungnya ... - Bagi pekerja tidak mengeluh karena ngga dibantu mengembangkan diri oleh perusahaan ... - Sehingga pengembangan diri (developement) merupakan tanggungjawab kita sendiri ... - Bagi seorang pengusaha tidak mengeluh karena ngga ada bantuan pemerintah ... - Tidak menunggu pekerjaan yg diberikan oleh orang lain ... Dengan demikian menurutku ber-"mental majikan" bukan hanya berarti harus menjadi pengusaha dan mempunyai perusahaan sendiri yang digerakkan sendiri ... namun sebagai pekerjapun anda dapat menjadi "majikan" .... Bahkan menurutku masih banyak pengusaha yang bermental kuli, karena masih dapat 'digerakkan' oleh sesuatu diluar dirinya (bisa saja materi, uang, kekuasaan, jabatan dll) yang menjadi 'majikan'nya ... Mental majikan tentunya juga tidak ditentukan oleh posisi di dalam jenjang struktur (perusahaan, organisasi, umur, pengalaman, ataupun struktur sosial) ... yang masih mudapun dapat bermental majikan ... tidak harus menunggu belasan tahun untuk menjadi "majikan"... :-) Buat temen-temen yang masih sebagai pekerja aku yakin ada "mental majikan" dalam diri anda .... sehingga : -> Karena majikan harus memberikan pekerjaan ke orang yg digajinya ... maka seorang pekerja ber-"mental majikan" akan mencarikan pekerjaan untuk bawahannya dimana gajinya ditentukan atau dipengaruhi olehnya ... misalnya Jr. Geologist bekerja keras supaya para tehnical assitennya tetap bekerja .... Chief geologist bekerja keras mencari proyek serta peluang untuk dikerjakan oleh geologist anak buahnya ... Dan CEO/Director bekerja keras mencari lahan baru untuk dikerjakan pegawai-pegawainya ... -> Karena majikan harus mengembangkan usahanya dan terus berkembang supaya kulinya juga berkembang dan tetap bekerja maka ... seorang pekerja bermental majikan juga harus mengembangkan dirinya dan ikut mengembangkan anak buahnya atau bawahannya. -> Karena majikan mendapatkan sesuatu (keuntungan) setelah bekerja maka ... seorang pekerja bermental "majikan" tidak akan minta gajinya naik sebelum memberikan hasil kerjanya. -> Karena majikan harus mencari peluangnya sendiri supaya bisa bertahan (survive) ... maka kalau sebagai pekerja merasa ngga bisa mengembangkan dirinya di lingkungannya ya keluar dan pindah saja secara baik-baik ... cari tempat dimana merasa akan dapat mengembangkan dirinya .... bisa saja ganti perusahaan, ganti profesi, menjadi konsultan atau bener-bener mempunyai usaha sendiri membuka lahan pekerjaan bagi orang lain ... --> ..... nah ... silahkan menambahkan apa yg musti dilakukan seorang ber-"mental majikan" ... Nah kalao begitu, siapapun dapat menjadi "majikan", paling tidak majikan bagi dirinya sendiri ... kita bisa saja menjadi dosen bermental majikan ... pegawai bermental majikan ... atau pengusaha yang bermental majikan ... Well ... met taon baru 2003 ... semoga kita menjadi "the real majikan" ditahun 2003 ... salam RDP ----- Original Message ----- From: <[EMAIL PROTECTED]> To: <[EMAIL PROTECTED]> Sent: Sunday, December 29, 2002 3:10 PM Subject: [iagi-net-l] Indonesia struggling for mining company. > Urun rembug tentang "kuli" dan "majikan" dalam dunia pertambangan > > Saya teringat guyonannya Pak Rizal dosen Tambang ITB dalam suatu kesempatan > .. > kesalahan kita hanya 2 buah ... > 1. Tidak terlahir sebagai anak Presiden > 2. Tidak menjadi menantu Presiden > Saya memandang guyonan Pak Rizal itu sebagai gambaran bagaimana tidak > mudahnya merubah diri dari "kuli" menjadi "majikan" kecuali bernasib seperti > 2 kasus di atas ... > > dalam dunia pertambangan ... sudah banyak rakyat maupun pejabat yang merubah > diri jadi "majikan" ... tak terhitung jumlahnya perusahaan-perusahaan kecil > sampai besar di Kalimantan yang bergerak dalam bidang batubara ... mulai > dari mendirikan koperasi sampai broker yang total besarnya penjualan lebih > besar dari KPC ..... belum lagi para gurandil di Pongkor dan para penadahnya > ... > > Saya mendukung gagasan Mas Andang bahwa sudah saatnya kita berperan serta > bermental sebagai "majikan" .. namun dalam prakteknya untuk mensukseskan hal > tersebut harus didukung oleh niat baik pemerintah (baik pusat maupun daerah) > untuk memberi kesempatan dalam suatu aturan yang jelas dan memihak > kepentingan bersama (jangan terlalu organik dan bertindak > sendiri-sendiri).... dan tanpa harus menjadi illegal, sudah banyak contoh > orang nasional yang sudah menjadi "majikan" dalam dunia pertambangan.. > > Sekali lagi mari kita sebarkan semangat untuk menjadi "majikan" > > salam, > didik > > > > -----Original Message----- > From: Sunjaya Saputra [mailto:[EMAIL PROTECTED]] > Sent: Friday, December 27, 2002 10:23 AM > To: '[EMAIL PROTECTED]' > Subject: RE: [iagi-net-l] Indonesia struggling to find new oil. > Importance: High > > > menarik mas andang, boleh kan belajar dari yang sudah memutuskan utk menjadi > majikan.. :) > kira2 untuk yang muda2 gimana mas andang biar ga jadi kuli terus? > sepertinya yang muda harus jadi kuli and penjaja dulu baru sekian belas > tahun kemudian jadi owner... kecuali bisa punya mertua yang owner... :) > > regards > Ujay > > > > -----Original Message----- > > From: Andang Bachtiar [SMTP:[EMAIL PROTECTED]] > > Subject: Re: [iagi-net-l] Indonesia struggling to find new oil. > > > > Saya terusik oleh statement terakhir mas BPI tentang sumberdaya manusia. > > > > Dalam perspektif organisasi (semacam IAGI), saya kurang sependapat kalau > > status kita yang masih jadi "kuli" setelah 117 tahun industri migas di > > Indonesia diakibatkan oleh kaburnya VISI dan PERAN yang diinginkan > > pemerintah dan lemahnya EMPOWERMENT terhadap kita (explorationist) dalam > > menjawab tantangan2 masa datang terhadap cadangan dsbnya. > > > > Prinsip egalitarianisme yang disaratkan oleh berbagai ilmu (sains) yang > > kita > > pelajari mengajarkan bahwa justru "KITA"lah yang sebenarnya kabur dan > > bermental kuli. Bukan (hanya) pemerintah. > > > > Saran saya buat rekan-rekan yang concern dengan masalah ini, berhentilah > > jadi kuli. > > > > Mari berhenti sebagai kuli yang mengharapkan calon-calon majikan kita > > datang > > melahap semua 17 daerah yang kita tawarkan (bukan hanya 2). Mari berhenti > > jadi kuli yang menawar-nawarkan daerah kita yang masih kaya (66 basins > > dsb) > > dan menjajakan kemampuan teknis kita untuk mereka pakai beresiko menyedot > > kekayaan alam kita. > > > > Sudah saatnya (117 tahun, man@!!) kita jadi majikan. (Paling tidak: > > bermental majikan-lah) > > > > adb > > > > > > > --------------------------------------------------------------------- To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED] Visit IAGI Website: http://iagi.or.id IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi Komisi Sedimentologi (FOSI) : F. Hasan Sidi([EMAIL PROTECTED])-http://fosi.iagi.or.id Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi([EMAIL PROTECTED]) Komisi Karst : Hanang Samodra([EMAIL PROTECTED]) Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo([EMAIL PROTECTED]) Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin([EMAIL PROTECTED] atau [EMAIL PROTECTED]), Arif Zardi Dahlius([EMAIL PROTECTED]) Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono([EMAIL PROTECTED]) ---------------------------------------------------------------------

